KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 137: PENGADILAN


__ADS_3

    Setelah makan malam, sengaja Yayan mengajak istrinya dan dua mertuanya itu duduk bersama di ruang keluarga. Tidak untuk menyaksikan siaran televisi maupun berkaraoke, tetapi ingin membahas masalah yang sedang dihadapi oleh ayahnya. Tentu, Yayan yang akan menjadi juru bicara.


    "Mamah, Papah ..., sebaiknya kita bicara jika ada masalah yang sedang dihadapi. Jangan hanya diam atau marah-marah. Tetapi harus dibicarakan secara bijak. Jangan ada yang menuntut kemenangan, dan juga jangan berkeinginan untuk mengalahkan yang lain. Kita ini manusia, yang tak luput dari salah dan khilaf. Jadi, kita harus saling memaklumi. Tentu agar hidup kita tenteram. Keluarga kita harmonis." kata Yayan yang ingin keluarga mertuanya tetap utuh dan harmonis.


    "Tapi, Mas Yayan .... Papah kamu ini keterlaluan!" kata Rini yang langsung menyela, tentu karena rasa jengkelnya yang masih mendongkol di dalam dada.


    "Iya, Mah .... Tapi sebaik-baik kita, adalah jika kita mau memaafkan kesalahan orang lain." kata Yayan lagi yang mencoba menyadarkan ibu mertuanya.


    "Tapi Papah kamu itu tidak pernah mengakui kesalahannya ...!" sergah Rini.


    "Mah .... Papah minta maaf .... Papah khilaf ...." kata Hamdan yang merajuk pada istrinya.


    "Khilaf ..., khilaf .... Dasar laki-laki mata keranjang, baru lihat pantat bahenol langsung ngiler ...!" bentak Rini.


    "Tapi, Mah ..., itu terjadi di luar kesadaran saya .... Saya benar-benar tidak tahu ...." kata Hamdan lagi.


    "Tidak tahu kok kok bisa foto-foto mesra .... Huh .... Dasar!" sahut Rini lagi.


    "Betul, Mah ..., saya benar-benar tidak sadar kalau ada foto-foto itu .... Yakin, Mah ...." Hamdan masih mengelak.


    "Sekarang mana HP Papah ..., biar dilihat bukti-bukti yang lain!" kata Rini yang meminta HP suaminya.


    Hamdan mulai khawatir. Jangan-jangan di HP-nya juga ada foto-foto mesra. Karena memang saat di Jerman, HP-nya sering dibawa oleh Lina, wanita yang saat itu menjadi kepercayaannya.


    "Mana ...?!" bentak Rini.


    "Tapi, Mah ...." Hamdan ragu-ragu.


    "Iya, mana Pah ...! Mana HP Papah ...?!" Silvy juga ikut meminta.


    Rini langsung merogoh HP suaminya yang ada di saku. Tentu dengan rasa gemas dan jengkel.


    "Papah itu payah .... Masak anak sendiri telepon saja harus ribut dengan pelakor. Istri telepon tidak pernah diangkat. Pesan WA juga tidak pernah dibalas. Kalau misalnya terjadi apa-apa, terus gimana tanggung jawab seorang Papah, seorang suami?!" umpat Silvy pada papahnya.


    "Bukan maksud Papah seperti itu, Sayang .... Papah di sana sibuk ...." sahut Hamdan.


    "Sibuk?! Sibuk pacaran ...?! Sibuk bermesraan dengan pelakor itu ...?!" sahut Rini yang tentu dengan emosi.


    "Mana HP-nya, Mah ..., biar Silvy lihat isinya ...." kata Silvy yang meminta HP ayahnya yang sudah dipegang ibunya.


    "Nih ...." kata Rini sambil menyerahkan HP suaminya kepada anaknya.


    "Tapi ...." Hamdan berusaha meminta HP-nya yang sudah mulai dibuka oleh Silvy.


    "Tapi ..., tapi ..., apa ...?! Takut kebongkar rahasianya ..., iya ...?!" sergah Rini membentak suaminya.


    Silvy membuka HP ayahnya. Ia mulai membuka WA.

__ADS_1


    "Ya ampun ..., Mah .... Papah WA-nan dengan perempuan pelakor itu dengan bahasa gila, Mah .... Lihat ini Mah ...!" kata Silvy yang langsung menunjukkan WA kepada ibunya.


    "Ya ampun ..., Pah ...!! Papah itu di Jerman kerja apa pacaran ...?! WA kayak gini ini Papah masih mau selak, masih tidak mangakui ...?! Hah ...?!! Nyebut, Pah ...!! Papah sudah tua, sudah mau pensiun ..., kelakuannya kayak anak kecil saja!!" Bentak Rini pada suaminya, yang tentu kaget setelah tahu WA mesra yang ada di HP suaminya.


    "Masyaallah, Pah .... Bener-bener, deh .... Saya malu punya Papah kayak gini ...." timpal Silvy yang juga geregetan.


    "Tolong di-screenshot, terus kirim ke HP Mamah ..., biar jadi bukti." kata Rini menyuruh anaknya.


    "Iya, Mah .... Betul ...." sahut Silvy, yang tentu langsung me-screenshot WA di layar HP papahnya.


    "Ya ampun, Mah ..., Silvy .... Papah minta maaf ..., saya janji tidak akan mengulangi .... Sumpah ...." Hamdan merengek agar diampuni.


    "Huh ...!! Enak saja ...!" sahut Rini yang semakin jengkel membaca WA mesra suaminya, tentu dengan wanita pelakor itu.


    "Sudah Silvy screenshot semua, Mah ..., obrolan WA Papah dengan pelakor itu .... Ya ampun, Mah ..., saya screenshot sampai puluhan halaman, Mah .... Ngeri sekali, papahku yang ternyata playboy ...." kata Silvy pada ibunya.


    "Bukan playboy ..., buaya darat kelaparan ...!! Lihat pantat bahenol langsung ditubruk!" sahut Rini yang menjatuhkan suaminya.


    "Ya ampun, Mah ..., Papah tidak sejelek itu, ya ...." elak Hamdan.


    "Sekarang kamu buka galerinya, Silvy .... Pasti lebih syur ...." kata Rini meminta anaknya untuk membuka foto-foto yang ada dalam HP ayahnya.


    Silvy langsung menurut ibunya. Ia langsung membuka galeri. Dan ....


    "Ya ampun, Mah ...!!! Saya tidak mau buka ...! Mamah saja yang buka. Jijik saya, Mah ...!" kata Silvy yang langsung memberikan HP ke mamahnya.


    "Ya ampun, Pah ...!!! Ini apa-apaan ...?!! sungguh keterlaluan kamu, Pah ...!!!" teriak Rini, yang tentu langsung memukuli suaminya.


    Hamdan tidak bisa mengelak. Lagi-lagi, bukti sudah nyata. Tidak ada alasan lagi untuk mengatakan khilaf. Ini pasti dilakukan dengan kesadaran. Sadar melakukan perselingkuhan. Bercinta dengan pelakor. Hamdan hanya pasrah dipukuli istrinya.


    "Mah ..., maafkan saya ya, Mah .... Saya minta maaf, saya sudah gelap mata ...." kata Hamdan meminta maaf pada istrinya.


    "Tidak bisa .... Saya jijik melihat Papah .... HP ini saya sita, tidak akan saya berikan. Ini sebagai bukti!" kata Rini yang langsung menggenggam HP suaminya untuk disita.


    Pasti Rini sangat jengkel mengetahui kelakuan suaminya seperti itu. Bagaimana tidak, kalau HP suaminya itu ternyata penuh dengan foto-foto mesra antara suaminya dengan wanita pelakor yang diajaknya ke Jerman. Tidak hanya foto-foto saja, malah ada video segala. Tentu video-video mesra. Wanita mana yang tidak jengkel melihat suaminya seperti itu? Istri mana yang rela suaminya selingkuh dengan wanita lain?


    "Ampun Mah ..., saya minta ampun, Mah .... Saya minta maaf, saya kapok, Mah ...." Hamdan terus merajuk pada istrinya. Tentu sambil menangis, dan berusaha meminta kembali HP-nya.


    "Papah kok cengeng ...?! Gitu saja nangis ...!" kata Silvy yang juga jengkel melihat ayahnya.


    "Lhah, kalau HP Papah disita, terus nanti bagaimana?" sahut Hamdan.


    "Mau ngubungi siapa ...?! Wanita pelakor selingkuhanmu itu ...?! Nanti kalau telepon biar saya yang jawab, mau saya marahi .... Perempuan sundel kurang ajar!!" sahut Rini yang masih memendang amarah.


    "Kalau ditelepon kantor ..., Mah ...." sahut Hamdan.


    "Kantor sudah tidak bakal telepon Papah .... Kami tahu, Papah sudah dipecat oleh perusahaan ...!!" tegas Rini yang langsung menohok suaminya.

__ADS_1


    "Kok Mamah tahu ...?" tanya Hamdan.


    "Ya tahu, lah .... Tadi Papah di sidang ..., melanggar kode etik, mencemarkan nama perusahaan, sudah tidak layak menjadi pimpinan .... Payah ...!!!" kembali Rini menohok suaminya.


    Hamdan terdiam. Bisu seribu bahasa. Tidak bisa berkata-kata lagi. Apa yang dikatakan oleh istrinya adalah benar. Dirinya sudah diberhentikan oleh perusahaan.


    "Benar begitu, Pah ...?!" tanya Silvy yang pasti kaget mendengar ayahnya dipecat.


    "Iya .... Papah dipensiunkan dini." jawab ayahnya sedih.


    "Ya ampun, Pah .... Ini pasti gara-gara wanita pelakor itu, kan .... Awas nanti ...!!" ancam Silvy, yang tentu tidak terima dengan hukuman yang diberikan kepada ayahnya.


    "Sudah Sayang ..., harus diterima. Kita harus bisa menerima kenyataan .... Jangan emosi." kata Yayan berusaha menenangkan istrinya.


    "Tapi ini keterlaluan, Mas!" bantah Silvy.


    "Sayang ..., ini adalah bagian dari akibat .... Kalau tidak ada sebab, pasti tidak akan terjadi akibat. Penyebabnya muncul dari dua belah pihak, antara Papah dan wanita itu ..., yang menerima akibatnya tentu, ya mereka berdua, Papah dan wanita itu." kata Yayan lagi.


    "Tapi penyebab utamanya pasti wanita pelakor itu ...!!" bantah Silvy lagi.


    "Kalau Papah tidak tergoda, mestinya tidak ada sesuatu yang terjadi .... Jadi, Papah juga salah. Buktinya, HP Papah full gambar .... Iya khan?!" jelas Yayan meberikan logika.


    "Iya juga, ya .... Ah, Papah memang payah ...!!!" bentak Silvy pada ayahnya.


    "Maafkan Papah, Sayang .... Papah benar-benar mata gelap .... Maafkan Papah, ya ...." kata Hamdan meminta maaf pada anaknya.


    "Sudahlah ..., sekarang kita jangan saling menyalahkan .... Yang penting sekarang Papah sadar, Papah bisa kembali ke keluarga, Papah tidak mengulangi, Papah kembali membina keluarga yang sakinah, keluarga yang mawardah dan mendapat rahmat ..., dan tentu tidak tergoda lagi oleh wanita itu." kata Yayan memberi wawasan.


    "Terima kasih, Mas Yayan .... Doakan semoga Papah selalu ingat keluarga, dan tentu melakukan hal-hal yang terbaik untuk keluarga. Kuatkan saya, ingatkan saya, beritahu saya jika nanti ada langkah saya yang keliru." kata Hamdan mulai tenang.


    "Huh .... Awas kalau nanti macam-macam lagi ...." Rini masih mengancam suaminya.


    "Terus, Papah berarti sudah diputus hubungan kerja dengan perusahaan?!" tanya Silvy.


    "Iya .... Pensiun Papah dipercepat. Mestinya dua bulan lagi, tapi tadi dalam sidang komisaris, Papah langsung dihentikan." jawab Hamdan pada anaknya.


    "Bersyukur, Pah .... Itu masih baik Papah dapat pensiun. Artinya masih dapat penghargaan. Mestinya, kalau perusahaan itu tegas, Papah pasti langsung dipecat tanpa mendapat apa-apa. Disyukuri, Pah ...." kata Yayan yang masih senang mendengar berita mertuanya dipensiun.


    "Sangsi itu harus diterima .... Kalau pun tidak dipensiun, saya akan minta Papah dihentikan, agar tidak kumpul lagi dengan wanita ****** itu." kata Rini yang justru senang mendengar berita suaminya dipensiunkan.


    "Kok gitu sih, Mamah ...?" tentu Hamdan sedikit protes.


    "Ya iya, lah .... Ini hukuman yang setimpal. Pas. Saya setuju." tegas Rini.


    :Ya, betul .... Papah harus berpisah dengan wanita itu. Kalau masih ketemu, pasti gitu-gitu lagi, Mah ...!" timpal Silvy.


    "Apapun sangsi yang diberikan, Papah harus menerima. Imbal hikmah baiknya. Pasti ada berkah dibalik musibah." Yayan menimpali lagi.

__ADS_1


    Ya, dari kasus hubungan Hamdan dengan karyawatinya itu, perusahaan langsung memberi sangsi pensiun lebih awal kepada Hamdan, yang mestinya masih kurang dua bulan lagi. Itulah akibat yang harus diterima.


__ADS_2