KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 35: PERCAKAPAN KELUARGA


__ADS_3

    Lima hari Rini berbaring di rumah sakit. Kondisinya kini sudah terlihat segar. Hanya nafasnya yang masih kurang lega. Hamdan, suaminya, benar-benar maklum dengan keadaan isterinya. Tentu demi pemulihan kesehatan isterinya. Kini di rumah, Rini menjadi wanita yang paling manja. Apa-apa serba minta, dan suaminya senantiasa memenuhi permintaan isterinya tersebut. Wah, enak juga rasanya menjadi orang sakit seperti Rini. Eh, tidak. Rini bukan wanita seperti itu. Walau isteri orang kaya yang bergelimang harta benda, Rini tidak pernah memanfaatkan jabatan, kedudukan, maupun harta kekayaan suaminya. Ia tetap wanita yang baik, wanita yang berkarakter, wanita yang peduli dengan kondisi sosial, depudi dengan orang-orang kecil. Itu didikan Hamdan suaminya. Maka tidak heran, jika anaknya, Silvy, setelah lulus sarjana ekonomi pembangunan, ia pun tidak mau bekerja di kantor Papahnya. Ia ingin mencari tantangan, dengan bekerja di tempat orang lain yang tidak dikenal sebelumnya. Demikian juga suami Silvy. Meski pernah dipaksa untuk tinggal di rumah mertuanya yang besar seperti istana, ia lebih memilih tinggal di rumah baru yang masih mengangsur melalui kredit pemilikan rumah. Ia tidak mau dibantu mertuanya. Katanya ingin belajar mandiri, nanti kalau sudah tidak sanggup baru meminta bantuan.


    Yah, itulah didikan dari keluarga yang baik, didikan keluarga yang berkarakter, didikan keluarga yang menghargai keringat saat bekerja. Bukan didikan anak yang melenceng dari norma, bukan didikan anak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kesuksesan. Walau Silvy hanya anak angkat, tetapi Rini membekali budi pekerti anaknya dengan kebaikan. Demikian juga Hamdan, mendidik putrinya dengan tatanan norma kebaikan dan kebenaran. Hamdan tidak pernah dan tidak mau memberi makan kepada keluarganya dari uang yang tidak jelas, tidak mau memberi sesuatu kepada keluarganya dengan uang hasil korupsi. Hamdan mengajarkan keluarganya untuk mengeluarkan keringat, sebelum mendapatkan uang. Termasuk saat Silvy menikah, meski anak-anaknya tidak mau tinggal di rumah besarnya, Hamdan tetap berpesan, cari rejeki yang halal, jangan kotori darah daging kita dengan makan dan minum yang tidak berkah.


    Kini, setelah Rini kembali dari rumah sakit, Silvy dengan suaminya mau tidak mau harus tinggal sementara di rumah keluarga Hamdan, menunggui mamahnya. Walau meskipun Silvy dan suaminya tidak menunggui mamahnya pun tidak masalah. Toh sudah ada banyak karyawan yang tinggal di rumah itu, termasuk Mak Mun yang selalu siap jika diminta untuk menyajikan berbagai makanan. Tetapi bagi Silvy dan suaminya, menunggui mamahnya yang sedang sakit adalah obat, bisa menjadi penyemangat mamahnya, motivasi agar mamahnya cepat sehat.


    Malam itu, di ruang keluarga, Rini, Hamdan, Silvy dan suaminya ramai berbincang. Berbagai cerita saling diungkap. Mulai dari cerita-cerita lucu, hingga obrolan serius. Suami Silvy itu lucu. Banyak pengalaman yang sebenarnya biasa, tetapi ketika diceritakan menjadi lucu. Dasar bawaannya orang lucu. Rini bisa tertawa lepas, riang gembira. Tentu ini akan memberikan imun yang baik bagi kesehatannya. Silvy juga tertawa. Bapak mertuanya juga tertawa terbahak-bahak, sampai memegangi perutnya.


    "Eh, Pah, Mamah bilang katanya Papah mau inves hotel di Jogja. Bener Pah?" tanya Silvy tiba-tiba.


    Rini terkejut. Ia terdiam. Takut untuk menyahut. Kembali ia dibayangi wajah Yudi.


    "Ah, belum .... Ya, itu ..., gara-gara Papah meminta Mamah bantu ke Jogja, akhirnya begini ini, Mamah kamu sakit." jawab Hamdan.


    "Papah sih, kenapa suruh Mamah? Kalau suruh Silvy yang ke Jogja, pasti gak masalah, Pah." kata Silvy.


    "Memang Silvy mau kalau Papah minta ngurusi usaha di Jogja?" tanya Hamdan pada Silvy.


    "Ya mau lah, Pah .... Jogja gitu loh .... Hehe ...." jawab Silvy dengan nada riang.


    "Sini, coba kalian lihat. Gambar rancangan ini .... Nih, lihat ...." kata Hamdan menunjukkan gambar-gambar kepada anak dan menantunya.


    "Wao ..., bagus sekali, Pah ...." Silvy dan suaminya berdecak kagum.


    "Nih .... Nih .... Nih ...." Hamdan menggeser gambar-gambar, dipamerkan kepada anak dan menantunya.


    "Wah ..., keren semua, Pah .... Proyek Papah yang mana?" tanya Silvy.

__ADS_1


    "Belum .... Yang bawa proyek saja sedang sakit, kok." jawab papahnya.


    "Iya, Mah .... Bagaimana, Mah? Rencana Mamah pilih yang bikin motel apa homesty?" tanya Silvy pada Mamahnya.


    "Silvy .... Kamu itu mirip Papahmu. Selalu menggebu-gebu jika punya mau." sahut Rini.


    "Ya, iya lah .... Namanya juga anaknya. Kan ada pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya .... Hehe ...." ledek Silvy pada mamahnya.


    "Coba kamu ambil map yang ada di koper Mamah. Itu rancangan yang ditawarkan. Serahkan ke Papah kamu." Rini meminta Silvy untuk mengabilkan gambar dari Yudi.


    Tentu hati Rini kembali berdebar. Setiap kali ingin melupakan nama Yudi, ada saja yang selalu mengingatkan, ada saja yang selalu kembali menyingkap tabir.


    "Ini, Mah?!" tanya Silvy yang sudah mengambil map plastik.


    "Iya ..., bawa kemari, serahkan ke Papah." sahut Rini.


    "Wao ..., keren, Pah." kata Silvy.


    "Ini gambar desain orang hebat. Pasti yang membuat ini punya jiwa seni yang sangat tinggi." kata suami Silvy.


    "Kok tahu?" tanya Silvy pada suaminya.


    "Ya .... Ini sangat detail sekali. Ini yang bikin orangnya serius. Tidak main-main. Kalau di negara maju, orang-orang seperti ini dicari pengusaha kaya." kata suami Silvy lagi.


    "Wao .... Yang bikin siapa sih, Pah?" tanya Silvy.


    "Temannya Mamah, namanya Mas Yudi .... Dia memang orang hebat. Pernah presentasi di depan Papah. Papah tahu presis kepandaiannya. Papah kagum. Hanya sayang, dia hidup di Jogja. JIka mau pergi ke Jerman, pasti jadi rebutan." jawab Hamdan.

__ADS_1


    "Dia tidak sekedar hebat, Pah .... Orang ini punya jiwa seni yang sangat tinggi. Kalau jadi seniman, pasti dia hebat dan terkenal." kata suami Silvy lagi.


    "Masak sih, Mas?" tanya Silvy pada suaminya.


    "O, iya .... Orang ini sangat naturalis, memotret fakta dan realita. Orang ini kalau diminta melukis wajah kamu, sampai lubang pori-pori yang ada di pipi saja bisa dilukis. Betul!" sahut suami Silvy yang meyakinkan.


    "Bener, Papah sudah pernah ke rumahnya. Benar-benar orang yang hebat, luar biasa, karyanya sangat fenomenal. Silvy besok harus lihat ke Jogja. Pasti kamu nggak mau pulang." kata Hamdan mengiming-imingi anaknya.


    "Ah, Papah ..., jadi pengin lho ...." sahut Silvy.


    "Gak papa, Mamah kan masih sakit, besok kamu sama suamimu yang ke Jogja. Ngurus rencana proyeknya. Bila perlu, nanti kalian yang mengelola." kata sang papah.


    "Yakin nih, Pah?" tanya Silvy yang mulai melendot ke papahnya.


    "Ya, iya lah .... Tapi tunggu, Papah memilih proyeknya dulu." kata Hamdan.


    "Asyiiik .... Mas, kita besok bisa jalan-jalan ke Jogja .... Jangan lama-lama lho, Pah." Silvy sudah senang dulauan.


    "Ya sabar, lah .... Kan harus menghitung biayanya juga. Nanti Papah pilih, biar Mas Yudi yang bantu." kata Hamdan.


    "Pah, saya masuk ke kamar dulu, ya .... Pengin merebahkan punggung." Rini berpamitan masuk kamar.


    "Eh, iya, Mah." Silvy menyahut, langsung berdiri memapah mamahnya masuk ke kamar.


    "Ya, Mah .... Hati-hati ya .... Saya tak lihat-lihat gambar dari teman Mamah." sahut Hamdan, suaminya.


    Rini merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya. Matanya menerawang ke atas, memandang langit-langit. Tetapi pikirannya jauh melayang ke Kota Jogja. Percakapan suami, anak dan menantunya, kembali mengingatkan dirinya pada laki-laki yang bernama Yudi. Apalagi sanjungan dari menantunya tentang orang yang membuat desain yang mereka lihat, sungguh terlalu menantu itu. Ia belum kenal Yudi. Belum pernah ketemu. Belum pernah melihat karyanya, tetapi sudah menyanjung terlalu tinggi. Kembali angan Rini teringat pada lukisan-lukisan yang tergantung di dinding kamar Yudi. Lukisan tentang dirinya, yang benar-benar sangat detil. Bahkan butiran pasir yang menempel di kaki saja, terlukis di sana.

__ADS_1


    "Ach .... Yudi, kenapa diriku tergila-gila padamu. Bahkan menantuku yang belum ketemu, atau anak perempuanku, juga suamiku ..., semuanya memuji dirimu? Ada apa denganmu, Yudi? Disaat-saat diriku ingin menjauh darimu, manakala hatiku ingin menutup cerita tentang kamu, tatkala aku sudah tidak mau lagi membaca chatingan WA kamu, ketika aku enggan untuk mengangkat panggilan teleponmu, ada saja orang-orang yang sengaja memaksa memasukkan bayang-bayang dirimu ke dalam sanubariku. Apakah Tuhan memang meminta anganku agar tidak melupakanmu? Ataukah Tuhan melarang aku menjauhi dirimu? Yudi .... Hari ini anganku linglung. Aku tidak tahu harus memilih dan menentukan sikap. Yudi, jika kelak ada rencana Tuhan yang lebih baik untuk kita berdua, biarlah hari ini aku menjalani kehidupan normalku." gumam Rini dalam lamunannya.


__ADS_2