
"Anata wa hontōni watashi no ryōshindesu ka?" Yunadi menanyakan apakah benar Yudi itu orang tuanya. Tentu Yunadi tidak bisa begitu saja mempercayai orang yang mengaku sebagai orang tuanya. Selama di kuil, ia tidak pernah mengenal orang tuanya. Dan kehidupan kuil, bukanlah kehidupan duniawi yang masih memikirkan keluarga, ayah, ibu atau anak. Sehingga kehidupan Yunadi sudah terbentuk sebagai bocah yang tidak memikirkan masalah-masalah duniawi.
Yudi menarik napas. Lantas melepaskannya perlahan. Terlihat sekali kalau Yudi sangat ingin melepas beban dalam hatinya. Belum lepas rasa sedihnya saat melihat lukisan Yunadi yang menggambarkan kondisi Yuna sangat menyedihkan dan mengenaskan.
"Ada apa, Sayang ...?" Rini mengelus punggung suaminya. Tentu merasa kasihan kepada Yudi, yang harus meyakinkan tentang anaknya.
"Dia tidak percaya kalau aku ayahnya ...." kata Yudi menjelaskan pada istrinya.
"Kenapa ...?" tanya Rini yang juga ikut bingung.
"Yah .... Memang hidup di kuil itu orang tidak membutuhkan keluarga. Hidup di kuil hanya berkonsentrasi di kehidupan yang akan datang, kehidupan kelanggengan di nirwana. Pasti Yunadi sudah tidak memikirkan ayah atau ibunya. Maka wajar kalau dia tidak percaya dengan apa yang kita katakan." jelas Yudi.
"Terus ..., kita bagaimana?" tanya Rini pada suaminya.
"Watashi to kite ...." Yudi mengajak Yunadi ke Yudi's Gallery, langsung naik ke lantai dua.
Yunadi mengikuti langkah kaki Yudi. Demikian juga Yuni, yang sudah menganggap Yunadi sebagai kakaknya, yang oleh ibunya maupun kakak-kakaknya diceritakan masalah Yunadi yang hilang di Jepang. Yuni menggandeng tangan Yunadi. Mereka melangkah bersama. Tentu Yuni sangat gembira bisa berjalan bersama kakak barunya itu.
Rini mengiringi anak anaknya. Tentu Rini juga sudah merasa bisa menerima kenyataan tentang Yunadi. Rasa kasihannya yang selalu menempel dalam sanubarinya. Kasihan pada anak yang tidak punya atau tidak pernah melihat ayah ibu. Kasihan menyaksikan anak yang menderita sejak lahir.
Yudi mengajak anak-anaknya serta Rini, masuk ke ruang khusus di galeri yang hanya bisa dibuka oleh Yudi. Tentu, Yudi ingin menunjukkan gambar raksasa karyanya kepada Yunadi. Di lukisan itu, wajah Yuna terpampang di berbagai tempat. Harapannya, Yunadi bisa mengingat wajah ibunya. Beruntung Yudi tidak melepas lukisan itu saat akan dibeli oleh kolektor dengan harga seratus ribu Euro. Ya, tentu saja Yudi tidak akan menjual lukisan kenangan yang menyimpan memori itu.
"Mitekudasai ...." kata Yudi yang menyuruh Yunadi untuk melihat lukisan raksasa itu.
"Watashinohahadesu ...! Huk ..., huk ..., huk ...." Yunadi berteriak, langsung menubruk lukisan itu, menempelkan tubuhnya di lukisan ibunya. Ia langsung menangis sejadi jadinya.
Rini tidak kuasa menahan air matanya. Ia pun ikut menangis, sedih menyaksikan Yunadi yang histeris menciumi lukisan ibunya.
__ADS_1
"Apakah dia ibu kamu?" tanya Yuni kepada Yunadi, sambil memeluk pundak Yunadi yang terisak di lukisan raksasa itu.
"Kanojo wa anata no okāsandesu ka?" Yudi menerjemahkan pertanyaan Yuni kepada Yunadi.
Anak itu tidak menoleh, hanya menganggukkan kepala, tanda mengiyakan.
Tangan Yudi langsung membalik tubuh Yunadi, lantas memeluk erat tubuh anak itu. Lalu katanya, "Anata wa watashi no musukodesu ...." Yunadi adalah anak Yudi.
Yunadi balas memeluk Yudi. Kini ia baru yakin dan percaya kalau Yudi adalah ayahnya.
Rini beranjak menuju anak dan ayah yang sedang berpelukan itu. Lantas Rini mengelus kepala Yunadi, dengan belaian penuh kasih sayang.
"Sekarang, akulah ibu kamu ..., Yunadi ...." kata Rini sambil mencium kening Yunadi dengan penuh kasih sayang.
"Yunadi ..., ima, anata wa Rini fujin no kodomodesu .... Watashitachiha hitotsu no kazokudesu, Yuni wa anata no imōtodesu ...." Yudi menyampaikan kepada Yunadi, kini mereka menjadi satu keluarga. Rini adalah ibu Yunadi juga, sebagai pengganti Yuna, dan Yuni adalah adik Yunadi.
"Dahulu, jauh sebelum Papah bertemu kembali dengan Mamah Rini saat reuni SMA di Jogja, saya sudah kenal gadis Jepang yang bernama Yuna. Ia seorang arsitek dan ahli desain yang sangat pintar. Banyak karya yang dihasilkan oleh Yuna .... Gambar yang paling ujung itu, adalah pertemuan pertama Papah dengan Mamah Yuna. Itu di Kyoto, di Taman Nasional Kyoto. Kala itu Yuna mengenakan kimono, pakaian adat Jepang. Itu sudah sangat lama, hanya karena Papah harus membuatkan desain untuk sebuah bangunan. Kebetulan, pada akhir tahun ada reuni SMA. Sebenarnya Papah sudah tidak mau ikut acara-acara kayak gitu. Bagi Papah, acara reuni itu hanya hura-hura. Tapi teman-teman memaksa. Akhirnya Papah ketemu lagi dengan Mamah Rini, setelah tiga puluh tahun tidak berjumpa dan tidak tahu kabarnya. Akhirnya Papah akrab lagi dengan Mamah Rini. Mamah Rini inilah yang berjasa menyemangati Papah untuk membangun Taman Awang-awang. Meski gagal mencari donatur atau sponsor dari Indonesia, akhirnya Papah ke Jepang, mencoba mencari dana dari yayasan amal di Jepang. Papah minta bantuan kepada Mamah Yuna, dan akhirnya dapat bantuan. Itu lukisan pertemuan ke dua antara Papah sama Mamah Yuna ...." kata Yudi sambil menunjukkan lukisannya, yaitu yang menggambarkan tentang Yudi dan Yuna yang juga berada di Kyoto. Tentu Yudi juga bicara dalam bahasa Jepang, agar Yunadi paham dengan yang diceritakan. Karena sebenarnya, Yudi ingin menjelaskan tentang Yuna kepada anaknya itu.
"Terus ..., Papah Yudi menikah dengan Mamah Yuna?" tanya Yuni yang tentu ingin tahu.
"Belum, sayang .... Waktu itu, Papah masih jatuh cinta sama Mamah Rini ...." jawab Yudi, yang tentu membuat Rini tersenyum merasa dicintai oleh Yudi.
"Lhah, kok terus ada Kakak Yunadi yang lahir dari Mamah Yuna ...?" kejar Yuni.
"Cerita itu belum selesai .... Cobalah lihat lukisan itu .... Di sana, Papah sama Mamah Yuna membangun Taman Awang-awang, yang sekarang jadi ikon objek wisata utama Kampung Nirwana." kata Yudi sambil menunjukkan lukisan Yudi yang bersama Yuna di Taman Awang-awang."
"Terus ..., itu gambar orang cantik yang pakai mahkota dan selendang, siapa ...?" tanya Yuni lagi.
__ADS_1
"Itu adalah Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul .... Waktu itu, Mamah Yuna sempat menanyakan tentang segala hal. Dan oleh Kanjeng Ratu, Mamah Yuna diberi cincin. Cincin inilah yang diberikan ke Mamah Yuna. Satu cincin dikenakan Mamah Yuna dan yang satu lagi di pakai Papah, ini .... Yang punya Mamah Yuna, ya ini, yang diberikan kepada Yunadi, di kalungnya itu." Kata Yudi sambil menunjukkan cincin yang dikenakan di jemari tangannya, dan juga menunjukkan cincin yang ada di kalung Yunadi.
"Terus ...?" tanya Yuni yang ingin tahu lanjutan ceritanya.
"Kala itu, Mamah Rini menyuruh Papah menikah dengan Mamah Yuna .... Akhirnya, kami menikah. Namun malapetaka datang tiba-tiba. Mamah Yuna dibawa orang kembali ke Jepang. Papah sudah mencari, tetapi tidak berhasil. Dan Papah juga dikejar oleh orang-orang yang menculik Mamah Yuna. Hingga Papah disembunyikan di Kuil. Tempat menyembunyikan Kakak Yunadi." kenang Yudi kala mencari istrinya.
"Naze Papa wa saikon shita nodesu ka?" Yunadi menanyakan kenapa ayahnya menikah lagi.
"Terus ..., kenapa Papah bisa menikah dengan Mamah Rini?" tanya Yuni menegaskan pertanyaan Yunadi yang tentu membuat penasaran.
"Papah frustrasi karena tidak sanggup menemukan Mamah Yuna. Mamah Rini yang menolong Papah. Akhirnya masyarakat di Kampung Nirwana meminta Papah sama Mamah Rini agar menikah. Tentu agar Papah bersemangat lagi untuk membangun Kampung Nirwana ini." jawab Rini yang mendahului Yudi untuk menjelaskan kepada anak-anaknya.
"Iya .... Papah memang lemah .... Papah frustrasi." sahut Yudi.
"Kenapa menikah dengan Mamah Rini?" tanya Yuni lagi.
"Kami sahabat lama, Sayang .... Mamah Rini ditinggal meninggal oleh suaminya, papahnya Kak Silvy. Tentu Papah juga merasa kasihan sama Mamah Rini yang hidup sendirian. Bahkan saat pertama kali bikin kebun anggrek, itu Mamah Rini tidur di rumah itu sendirian .... Kan kasihan ...." kata Yudi yang sok merasa kasihan pada Rini.
"Ih ..., Papah kamu itu sangat cinta sama Mamah, ya .... Makanya, begitu kehilangan Mamah Yuna, terus cari ganti Mamah Rini ...." kata Rini yang tentu mulai bisa menyenangkan hati anak-anaknya.
"Kalian tidak perlu khawatir, Papah mencintai kalian semuanya, Papa wa anata o aishite iru, Yunadi ...." kata Yudi yang memeluk kedua anaknya. Lantas mencium Yuni dan Yunadi.
Melihat kemesraan itu, pasti Rini juga ingin dicium. Maka Rini ikut mendekat dan memasangkan pipinya agar dicium oleh Yudi.
Yudi pun langsung mencium Rini, tentu dengan penuh kemesraan.
"Mamah Yuna maupun Mamah Rini ..., itu Mamah kalian semua .... Mamah sayang sama kalian. Papah Yudi, juga Papah kalian semua .... Kita ini keluarga, mesti saling sayang ...." kata Rini yang akhirnya memeluk tiga orang yang sudah berpelukan tersebut.
__ADS_1