KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 236: PIKNIK


__ADS_3

    Seperti janji Yudi pada anak dan istrinya, untuk refresing dan melepas pikiran yang selalu disibukkan oleh rutinitas di galeri maupun ngurus anggrek, mereka berpiknik. Menyewa mobil wisata, lengkap dengan sopirnya. Tentu Yudi tidak ingin anak-anaknya capai Tujuannya adalah Bali, pulau dewata yang pernah jadi impian Yudi untuk tinggal sebagai tempat melukis.


    "Asyik ..., kita ke Bali ...." kata Silvy yang tentu juga jenuh setiap hari hanya melihat anggrek terus.


    Pagi hari, setelah sarapan pagi, Yudi bersama keluarganya bersiap untuk berangkat wisata. Di halaman parkir Taman Anggrek Nirwana sudah terparkir mobil mini bus Elf warna hijau muda dengan garis merah di di dindingnya. Mesinnya masih menyala. Kata sang sopir, mobil solar kalau hanya berhenti sebentar sebaiknya mesin tidak usah dimatikan. Sang sopir tidak mau diajak sarapan, katanya sudah sarapan di rumahnya. Ia menunggu di teras pendopo.


    Silvy mengenakan kaos putih yang dimasukkan dalam celana jeans biru. Kembar dengan suaminya. Sepatu ket yang dikenakan Silvy dan Yayan juga sama. Hanya saja, sepatu Silvy berwarna ping, sedangkan punya Yayan berwarna abu-abu. Di pundak Yayan tergantung dua jaket, miliknya dan milik istrinya. Nanti kalau kedinginan baru akan dipakai. Silvy dan Yayan sudah mendorong koper pakaian miliknya sendiri dan milik orang tuanya. Selain mendorong koper, Yayan juga mencangklong tas kamera. Tentu nanti untuk memotret segala objek yang ditemuinya. Demikian juga Silvy yang mencangklong tas kecil. Pastinya berisi HP dan dompet.


    Rini mengenakan celana jean warna abu-abu, dengan atasan semacam blazer. Tentu biar lebih hangat. Rini tidak mengenakan sepatu, hanya memakai sandal selop, tetapi kakinya mengenakan kaus kaki. Tentu agar tidak kedinginan. Tidak lupa, Rini mengenakan kaca mata hitam. Ia membawa box plastik berisi makanan kecil. Ada juga tas kresek, yang juga berisi makanan-makanan kecil. Nanti untuk camilan saat perjalanan. Ia juga sama seperti Silvy, mencangklong tas kecil, berisi HP dan dompet.


    Yudi memakai celana jean, baju kotak-kotak lengan panjang, serta jaket jean. Tentu seusia Yudi yang sudah menginjak hampir enam puluh tahun, sudah rentan dengan masuk angin. Di pinggangnya terdapat tas pinggang dari kulit, buatan pengrajin Desa Manding Jogja. Di tas pinggang itu ada HP dan yang pasti sejumlah uang. Dompetnya dimasukkan di saku celana bagian belakang. Kepalanya mengenakan topi laken dari kulit, juga buatan pengrajin Manding. Sedangkan kakinya memakai sepatu King, model jungle. Tentu tidak ketinggalan juga mengenakan kaca mata hitam.


    Yang paling akhir adalah Yuni. Dia juga mengenakan celana jean dan kaos t-shirt. Kaosnya warna jambon, celananya warna merah tua. Sepatunya sangat bagus, sepatu cewek masa kini dengan warna merah menyala. Rambuntnya yang sepundak itu dikucir dan diikat pita jambon. Sweaternya diikatkan di pinggang. Sangat terlihat cantik untuk anak berusia belum genap sembilan tahun, yang tinggi badannya sudah mencapai seratus lima puluh senti, dengan perawakan langsing. Tangan kiri Yuni menyeret tas rodanya, tentu berisi berbagai bekal, termasuk ada beberapa kaos yang bisa diambil sewaktu-waktu untuk ganti. Rencananya Yuni ingin berfoto di objek wisata dengan pakaian yang berbeda-beda. Sedangkan tangan kanan Yuni memegang HP, tentu sambil jalan sambil menyereti layar HP. Makanya ia berada paling belakang.


    "Yuni .... Ayo cepat ...." kata Silvy memanggil adiknya.


    "Iya, Kak ...." sahut Yuni yang kemudian berlari kecil menyusul kakak-kakaknya.


    Di halaman Parkir, sang sopir sudah membuka pintu bagasi belakang. Tentu untuk menaruh barang-barang bawaan. Sopir itu sudah menunggu di belakang mini bus, untuk membantu memasukkan barang-barang bawaan.


    Yayan sudah memasukkan koper yang tadi ia bawa dan dibawa istrinya. Lantas Yayan menaruh jaket dan tas kamera di jok. Lantas ia kembali mengambil dus minuman, dan di taruh di lantai mobil belakang sopir.


    "Pintunya sudah dikunci semua, Kak Yayan ...?" tanya Yudi kepada Yayan yang keluar paling akhir dari rumah.


    "Sudah, Pah .... Tinggal pamitan dan mesan ke Mas Trimo." jawab Yayan.


    "Mas Trimo ...!" Rini memanggil Trimo.


    "Nggih, Ibu ...." jawab Trimo yang langsung menghadap ke Rini, tentu ia akan dipesan berbagai macam.


    "Kami mau liburan, Mas Trimo yang jaga rumah. Kalau takut berdua, ajak anak istri nginap di sini. Kalau mau makan atau buat minuman, cari sendiri di kulkas dapur. Jangan lupa menyiram semua tanaman. Kalau ada pembeli yang rewel, tidak usah digubris. Paling-paling tidak punya uang." kata Rini memberi penjelasan kepada Mas Trimo.


    "Ya, Ibu .... Yang di laboratorium bagaimana, Bu ...?" tanya Mas Trimo yang tentu juga khawatir.


    "Laboratorium tidak usah dibuka. Tidak masalah, tidak butuh apa-apa. Lab jangan dibuka. Khawatir nanti kalau ada pengunjung yang main-main dengan bahan kimia, bisa bahaya." kata Yayan memesan.


    "Oh, iya Mas Yayan .... Nanti saya kunci saja." sahut Trimo.


    "Ya, sudah ..., kalau begitu kami berangkat dulu .... Ini uang nanti kalau perlu apa-apa .... Hati-hati di rumah, ya ...." kata Rini yang berpesan, dan tentu memberikan uang untuk jaga-jaga kepada Trimo.


    "Nggih, Bu .... Terima kasih ..., hati-hati di jalan ...." sahut Trimo sambil menerima uang pemberian Rini.


    "Dada ..., Mas Trimo ...." kata Yuni yang tentu sambil melambaikan tangan.


    Mereka langsung masuk ke mobil mini bus. Silvy sudah duduk di jok belakang sopir.


    "Papah di depan saja ...." Kata Yayan meminta ayahnya duduk di dekat sopir.


    "Yayan saja yang menemani Pak Sopir .... Papah mau duduk di belakang .... Mau tidur. Hehe ...." jawab Yudi yang sudah membuka pintu belakang.


    Rini duduk bersama Yudi, di jok belakang. Sedangkan Yuni duduk bersama kakaknya, Silvy, yang berada di belakang sopir.


    Ya, mini bus itu lumayan besar. mestinya bisa diisi dua belas penumpang. Tetapi kali ini hanya diisi lima penumpang. Tentu sangat longgar. Sehingga penumpangnya sangat leluasa dengan tempat duduk yang sangat luas itu. Apalagi waktu memasan, Yudi meminta agar jok tempat duduknya dilepas satu deret. Maka terlihat lebar dan nyaman untuk duduk, bahkan tidur.


    Sang sopir sudah melajukan mini bus tersebut, meninggalkan Taman Anggrek Nirwana. Mini bus sudah melewati Yudi's Gallery, sudah juga melintasi Pasar Rakyat. Selanjutnya meninggalkan kota Bantul, melintas di jalur lingkar selatan, menuju ke arah timur, meninggalkan kota Yogjakarta. Terus ke arah timur, melintas kota Klaten, melintas Kota Solo, dan terus melaju.


    Sopir yang handal, mobilnya pun masih baru. Suspensi empuk, tidak terasa getarannya. Ditambah Benar-benar nyaman. Maka baru sampai Solo, Yudi sudah bersaing dengan sang sopir. Kalau sopir nge-gas mobilnya agar bisa melaju kencang, Yudi juga nge-gas tidurnya ..., alias ngorok. Tidak lama kemudian, Rini yang duduk bersanding dengan Yudi, juga sudah menyusul tidur.


    Yayan yang duduk depan, sudah memasang kameranya. Ia memotret setiap objek yang dia rasa pantas untuk dipotret. Kamera otomatis yang mempunyai kecepatan tinggi, dengan lensa tele zoom sangat tajam hingga mampu memperbesar sudut pemotretan hingga sampai tempat yang sangat jauh. Tentu Yayan akan leluasa memotret obyek-obyek yang tidak jelas dari pandangannya. Kamera ini juga mampu mengambil gambar sebanyak sepuluh kali dalam satu detik tekan.

__ADS_1


    Di belakang sopir, Silvy sibuk menggeser layar HP. Tentu browsing dan upload berbagai macam gambar serta chating dengan teman-temannya. Yang pasti, Silvy sudah punya marketplace di media sosialnya. Makanya meski berwisata, ia masih sibuk dengan jual beli secara maya. Nantinya semua pesanan akan ditangani oleh Mas Trimo, untuk mengepak pesanan para pembeli, sedangkan yang mengantarkan ke jasa pengiriman adalah Mas Bagas.


    Yuni memang usil. Begitu tahu kalau ayah ibunya tidur mendengkur, ia mengambil HP. Tanpa menoleh ke belakang, HP diangkat, diarahkan persis pada ayah ibunya, lantas direkam. Tentu Yuni merekam sambil tertawa, merasa geli pada orang tuanya. Dasar anak-anak, tidak punya rasa kasihan pada orang tuanya yang kelelahan.


    Rini yang mendengar suara tawa anak gadisnya, terbangun. Ia merasa pasti dikerjain oleh anaknya yang usil itu.


    "Yuni ..., kamu ngapain, ya ...?" tanya ibunya pada Yuni.


    "Nggak papa, Mah .... Hikhihhik ...." Yuni tidak mengaku.


    "Mamah sama Papah direkam oleh Yuni ...." sahut Silvy yang membuka rahasia.


    "Iiih .... Anak Mamah ini memang usil ...." kata Rini yang langsung merebahkan kepala lagi, menyandar di bahu suaminya.


    Sang sopir yang bisa melihat dari kaca spion atas, tentu tersenyum menyaksikan tingkah lucu Yuni. Tentu nyopir dengan hati yang senang, akan menghasilkan kenikmatan dalam menyetir. Apalagi saat mobil sudah masuk tol, maka terus saja sang sopir mengendarai mini bus tersebut dengan santainya. Walau terasa santai, namun tahu-tahu mobil itu sudah keluar dari tol Probolinggo. Hari sudah kelewat siang.


    "Kita makan dahulu, Mas ...?" tanya sang sopir kepada Yayan yang duduk di sampingnya.


    "Ee .... Ini sudah keluar tol, ya ...?" tanya Yayan yang tentu ragu-ragu untuk menjawab.


    "Betul, Mas .... Kita keluar Probolinggo, nanti lewat jalur pantura, hingga sampai Banyuwangi." jawab sang sopir.


    Begitu keluar tol, tentu jalannya sudah tidak halus lagi. Roda mobil yang mulai menginjak jalan tidak rata, terasa oleh Rini dan Yudi. Makanya dua orang tua itu terbangun.


    "Eh, sampai mana ini?" tanya Yudi yang sudah terbangun.


    "Kita keluar tol Probolinggo, Pah .... Mampir ke rumah makan sekarang, Pah ...?" kata Yayan kepada ayahnya, yang tentu langsung menyinggung rumah makan.


    "Iya .... Kita makan siang dahulu .... Walah, ini klewat makan siang .... Berarti Papah tidur sepanjang jalan ini ...." kata Yudi yang tentu sudah hilang ngantuknya.


    "Pak sopir ..., kita makan siang dahulu ya ...." kata Rini pada sopir mini bus itu.


    "Iya, Bu .... Ada rekomendasi rumah makan yang biasa dipakai?" tanya sang sopir.


    "Baik, Pak .... Kita makan di langganan travel kami, ya ...." kata sang sopir tersebut, yang selanjutnya membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang terdapat di pinggir pantai, di kawasan Pantai Bentar. Cukup besar dan megah. Di halaman parkir sudah banyak mobil pribadi maupun travel yang berhenti di situ. Pasti mereka juga sedang makan siang.


    Yudi dan Rini yang turun duluan langsung menuju restoran itu, untuk mencari tempat duduk. Sedangkan Yayan, Silvy dan Yuni, langsung berlari ke pinggir pantai. Pasti foto-foto dahulu. Yudi juga mengajak sopirnya untuk makan siang. Tetapi ternyata sopir itu dapat menu gratis dari restoran. Sudah biasa, itu adalah bonus untuk sopir travel. Tempatnya ada di ruang belakang.


    Setelah puas foto-foto, Yayan, Silvy dan Yuni, langsung menuju meja yang sudah dipesan oleh ayah dan ibunya. Mereka pun menikmati makan siang dengan menu seafood. Menu andalan restoran pinggir pantai tersebut. Enak dan tidak terlalu mahal.


    Sang sopir sudah menuju mini bus, sudah menghidupkan kembali mesin mobilnya. Silvy minta pindah duduk di belakang. Yuni ikut kakaknya. Yudi dan Rini terpaksa pindah ke depan. Yayan masih menemani Pak Sopir.


    Setelah mobil berjalan, gantian Silvy dan Yuni yang tertidur. Sedangkan di belakang sopir, Yudi dan Rini ikut mengamati pemandangan di sekitarnya yang dilewati mobil wisata itu. Terkadang juga ngobrol dengan sopir. Tentu menemani sopir agar tidak mengantuk.


    Di samping sopir, Yayan yang dari pagi asyik memotret setiap objek yang ia lihat, kini Yayan pun sudah tertidur. Tentu karena kekenyangan dan capai perjalaian, maka anak-anaknya sudah pada tidur semua.


    Hari sudah mulai petang, saat mini bus yang ditumpangi Yudi dan keluarganya itu sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Yayan kaget, karena jalanan sangat ramai. Yuni dan Silvy juga terbangun.


    "Hah ..., kok sudah gelap ...?!" Yuni kaget, karena di luar sudah gelap.


    "Sudah malam, Sayang ...." kata Rini menyahut anaknya.


    "Sampai mana?" tanya Silvy.


    "Ini kita mau masuk Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi. Sebentar lagi kita akan naik kapal menyeberang Selat Bali ...." jelas Rini lagi pada anak-anaknya.


    Sopir mini bus itu langsung masuk pintu pelabuhan. Tentu sekaligus membeli karcis untuk mobil dan para penumpangnya. Selanjutnya mengantri untuk masuk ke kapal penyeberangan. Kebetulan agak ramai, makanya antrian juga agak panjang.


    Jam tujuh malam, mini bus yang ditumpangi Yudi dengan keluarganya baru bisa masuk ke kapal ferry. Yudi, Rini dan anak-anaknya, langsung naik ke bagian atas, di mana para penumpang bisa duduk sambil melihat pemandangan laut. Tentu mereka tidak melepas kesempatan untuk menyaksikan indahnya Selat Bali di malam hari.

__ADS_1


    "Sayang ..., lihatlah ke bawah ...." kata Yudi yang langsung menunjuk ke arah laut di bawah kapal.


    "Ada apa, Pah ...?" tanya anak-anaknya.


    "Itu .... Anak-anak yang pandai menyelam, untuk menangkap koin-koin uang yang dilempar para penumpang kapal." Yudi masih menunjukkan atraksi yang tentu sangat langka. Ya, memang di Pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang, merupakan pelabuhan penyeberangan yang memiliki keunikan atraksi anak-anak laut yang pandai menyelam tersebut.


    "Wao .... Mereka bisa mencari uang logam yang dilempar dari atas kapal ini ya, Pah .... Keren banget ...." kata anak-anaknya.


    "Minta uang koin ke Mamah, lalu lemparkan ke sekitar mereka. Nanti mereka akan berebut untuk menyelam, guna mendapatkan uang koin itu. Kalau mereka sudah menemukan, nanti akan ditunjukkan kepada kita, bahwa mereka berhasil menemukannya. Cobalah ...." kata Yudi pada anak-anaknya.


    Rini memberi beberapa uang koin yang ada di dompetnya, kepada anak-anaknya. Lantas Yayan yang mencoba pertama melemparkan koin uang itu. Benar, beberapa anak telanjang dada itu langsung menyelam, menuju tempat uang koin itu jatuh. Sebentar kemudian salah seorang anak menunjukkan tangannya yang sudah menemukan uang itu.


    Silvy juga ikut melemparkan uang koin dari tangannya. Yuni juga ikut melempar. Berkali-kali Silvy dan Yuni melemparkan koin. Faktanya, anak-anak itu berhasil menemukan semua uang koin yang dilemparkannya. Hingga koin mereka habis.


    Tentu Yayan tidak melewatkan atraksi anak-anak laut itu. Yayan yang sudah memegang kamera, langsung ceprat-cepret mengambil gambar anak-anak laut yang pandai menyelam dan menemukan uang koin yang dilempar oleh para penumpang kapal. Hingga akhirnya, saat kapal ferry itu mulai berjalan meninggalkan pelabuhan, Yudi melemparkan uang kertas sepuluhan ribu cukup banyak. Anak-anak laut yang tahu kalau ada uang kertas yang dilemparkan, tentu mereka langsung berenang berebut untuk mendapatkannya. Bagi Yudi itu hanyalah hadiah untuk anak-anak yang sudah melakukan atraksi menyelam.


    Malam itu, kapal ferry penyeberangan dari Pelabuhan Ketapang yang ada di ujung timur Pulau Jawa menuju Pelabuhan Gili Manuk di Pulau Bali, mengarungi Selat Bali yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Yudi sengaja mengajak istri dan anaknya untuk duduk di geladak belakang, sambil menyaksikan langit malam hari. Yudi pun memesan mi instan dalam kemasan, dimakan bersama anak dan istrinya. Rini yang lupa membawa makanan kecil, akhirnya membeli jajanan di kantin kapal. Ada gorengan serta jajan-jajan kemasan.


    Bagaimana dengan sang sopir? Tentunya, sopir mini bus yang mereka sewa, sudah tidur sejak masuk ke dalam kapal. Ya, seperti itulah kondisi sopir. Ia akan tidur saat mobilnya berhenti atau istirahat. Lumayan, bisa beristirahat sekitar dua jam lebih. Menyeberangnya sih sebentar, yang lama adalah antri dan menata barang dalam kapal.


    Sekitar satu jam, kapal ferry itu menyeberangi Selat Bali. Akhirnya, kapal itu merapat di pelabuhan Gili Manuk di Pulau Bali. Di tengah malam, mereka sudah memasuki Pulau Bali. Yudi bersama istri dan anak-anaknya segera naik mobil wisatanya, saat sudah turun dan antri keluar pelabuhan.


    Sang sopir yang tentu sudah segar kembali setelah tidur selama di penyeberangan, ia pun melajukan mobilnya lagi, menyusuri jalan pinggir pantai selatan Pulau Bali, menuju objek wisata yang pertama, yaitu Tanah Lot. Namun bagi penumpangnya, karena perjalanan tengah malam, maka semua penumpang itu terlelap dalam mimpinya.     Mobil itu berjalan tidak terlalu cepat. Tentu sang sopir sudah memperkirakan waktunya, sehingga mereka akan sampai di Tanah Lot pagi hari sebelum matahari terbit.Diharapkan nanti, para wisatawan akan menyaksikan pagi hari di Tanah Lot. Dan benar, sekitar jam setengah lima pagi waktu Indonesia bagian tengah, mini bus wisata yang dicarter oleh Yudi itu sudah sampai di Tanah Lot. Parkiran masih sepi. Baru ada dua bus besar. Biasanya itu bus wisata yang datang dari Jawa. Sang sopir memarkirkan mobilnya, dekat dengan dua bus itu.


    "Sudah sampai .... Monggo, silakan menyaksikan pemandangan indahnya Tanah Lot ...." kata sang sopir itu yang tentunya membangungkan penumpangnya.


    "Hah ..., sudah sampai ...? Ayo bangun ...." kata Rini yang membangunkan anak-anaknya.


    "Bangun-bangun ...." sambung Yudi yang sudah membuka pintu, turun dan menggeliat.


    Anak-anaknya pun pada bangun dan bergegas turun. Yang dicari pertama kali adalah kamar mandi. Tentu mereka akan ke kamar kecil setelah semalaman tidur di dalam mobil. Lantas mereka pada berlari ke kamar kecil. Beruntung masih sepi, sehingga tidak harus antri.


    Selanjutnya, mereka menikmati indahnya pemandangan di Tanah Lot. Sebuah pemandangan alam yang sangat indah, dengan sisa-sisa abrasi. Pura di tengah laut yang menawan, serta lautan yang senantiasa menghamburkan gelombangnya.


    Yuni sangat senang menyaksikan keindahan alam itu. Maka ia lari ke sana dan kemari, untuk menikmati indahnya tebing-tebing karang yang tergerus ombak. Tak lupa, ia selfi dengan berbagai gaya.


    Yayan yang mencangklong kamera, langsung ceprat-cepret. Memotret istrinya, ayahnya, ibunya, maupun adiknya. Bahkan ia juga minta tolong kepada salah seorang pengunjung, untuk mengambilkan foto satu keluarga. Mereka semuanya bermain hingga puas. Bahkan Yuni juga menyaksikan ramainya para pedagang souvenir di sepanjang jalan masuk ke pantai. Sungguh menyenangkan.


    Setelah mandi dan sarapan pagi di Pantai Tanah Lot, yang tentunya bersama sopir yang dibangunkan dari tidurnya, sang sopir melanjutkan perjalanan. Kali ini menuju daerah Batu Bulan. Lama perjalanan sekitar satu jam. Mereka akan menyaksikan tari barong. Ya, sebuah atraksi kesenian yang terkenal di Bali. Jika berwisata ke Bali belum menyaksikan tari barong, itu sangat disayangkan. Makanya, Yudi dan keluarganya langsung menonton tari barong. Tempat pentasnya seperti gedung teater di aeropa, tetapi terbuat dari bambu dan kayu. Kalau naik tangga harus hati-hati. Namun setelah tarian itu mulai pentas, para penonton senang dan bersorak. Sebuah tarian yang unik dan penuh magis.


    Setelah menyaksikan tarian barong, hari sudah siang. Yudi meminta kepada sopir untuk menuju hotel. Mereka akan menginap lebih dahulu, dan tentunya makan siang. Sang sopir juga dipesankan penginapan. Tentu agar tidak ngantuk. Maka siang itu semuanya tidur. Sore hari Yudi sudah janji, akan mengajak istri dan anaknya untuk menyaksikan Garuda Wisnu Kencana.


    Hingga dua hari, Yudi bersama istri dan anaknya berkeliling di Bali. Mulai dari Pantai Kuta, Pasar Seni Sukowati, Danau Bedugul, Pura Besakih, Uluwatu, Nusa Penida, semua sudah dikunjungi. Tinggal pulang. Namun ada tempat yang ingin Yudi tunjukkan kepada Yuni, yaitu Ubud. Kampungnya para pelukis.


    "Pak Sopir, kita ke Ubud dahulu, ya ...." pinta Yudi pada sang sopir.


    "Baik, Pak .... Tapi saya belum pernah ke sana, mohon ditunjukkan jalannya." kata sang sopir.


    "Siap .... Kan ada Maps ...." kata Yayan yang masih duduk di depan mendampingi sopir. Selanjutnya, Yayan sudah memandu jalan menuju Ubud. Dan akhirnya sampai di kampung para pelukis tersebut.


    Ya, Ubud merupakan kampung para pelukis Bali. Namun kebanyakan yang menjadi pelukis, justru bule-bule dari Eropa dan Amerika, seperti Don Antonio Blanco, Jose Miguel Covarrubias, Rudolf Bonnet. Sedangkan pelukis yang asli dari Bali adalah Cokorda Gede Agung Sukawati, yang namanya kini diabadikan menjadi Pasar Seni Sukowati. Dulunya, pasar ini digunakan untuk menjual lukisan-lukisan dari para seniman di Bali.


    Yuni sangat takjub ketika diajak masuk ke musium lukis Ubud. Ia terkesima. Nama-nama pelukis terkenal yang pernah ia baca, ada di situ. Tentu di situ banyak terpampang lukisan-lukisan kelas dunia.


    Yudi pun mengatakan, "Ini galeri lukis kelas dunia ..., dahulu Papah pernah punya keinginan untuk tinggal di sini. Sekarang tidak perlu lagi, karena Papah sudah membangun galeri kelas dunia di Jogja."


    Sepulang dari Ubud, Yudi meminta sang sopir untuk mampir di Denpasar lewat Sanur. Ia akan mengajak anak dan istrinya ke Bali Orchid Garden. Taman anggrek terindah di Bali. Tentu Yudi ingin menunjukkan kepada Yayan dan Silvy, sebuah taman anggrek terbesar di Bali.


    "Wao .... Wao .... Keren banget Pah .... Aku suka yang seperti ini ...." tentu Yayan dan Silvy takjub menyaksikan indahnya Bali Orchid Garden. Setidaknya, taman anggrek yang sangat besar ini bisa memberi inspirasi kepada anaknya dalam mengembangkan kebun anggrek di rumahnya.

__ADS_1


    Tentu, Silvy dan Yayan memilih bibit-bibit anggrek yang belum ada koleksinya di rumah. Pastinya, mereka memilih abggrek yang langka. Yayan dan Silvy langsung memborong. Satu dus stereofoam penuh botol-botol bibit anggrek.


    Puas hati Yudi bisa mengajak istri dan anak-anaknya berpiknik. Tentunya piknik yang bermanfaat, bagi Yuni maupun Yayan dan Silvy. Pembelajaran yang sangat berharga adalah ketika anak-anak ditunjukkan langsung pada faktual yang ada. Yudi tersenyum puas. Tentu karena menyaksikan Yuni yang terbuka wawasannya saat melihat pelukis-pelukis Ubud, menyaksikan Yayan dan Silvy yang tahu kebun anggrek yang benar-benar luar biasa. Itulah hikmah mendidik anak.


__ADS_2