
Malam Minggu, pendopo rumah Yudi dipenuhi banyak orang. Mulai dari Kepala Desa yang didampingi para perangkat, perwakilan kelompok para sopir wisata, perwakilan kelompok pengrajin, perwakilan kelompok penjual jajanan dan makanan tradisionil, kelompok pedagang soufenir, kelompok pekerja seni, serta beberapa remaja yang biasa terlibat dalam aktivitas di Kampung Nirwana. Teristimewa, hadir secara khusus pimpinan pariwisata. Malam itu mereka akan mendengarkan paparan dari Yudi dan Yuna, terkait rencana pengembangan wisata di Kampung Nirwana.
Yuna sebagai pemapar utama. Karena Yuna adalah perwakilan dari calon penyandang dana. Sedangkan Yudi hanya menjelaskan apa yang disampaikan Yuna, karena banyak bahasa yang digunakan oleh Yuna kurang dimengerti oleh peserta rapat. Maklum, Yuna masih kurang menguasai bahasa Indonesia, maka ia sering memakai istilah dengan bahasa Inggris maupun bahasa Jepang.
Paparan pun dimulai dengan pemutaran gambar 3D rancangan obyek Taman Awang-awang. Dalam rancangan itu terlihat berbagai spot obyek serta bangunan sarana pendukung. Termasuk ditampilkannya berbagai bentuk permainan tradisional yang akan dibangun dengan sistem digital. Dan yang lebih menarik adalah keluarnya gambar rancangan dapur tradisional yang menampilkan memasak dengan menggunakan tungku dan kayu bakar. Semua yang hadir terkesima.
Selanjutnya, Yuna memaparkan gambar-gambar, dimulai dari spot swafoto dengan berbagai latar, seperti saat pagi hari orang-orang bisa berswafoto dengan latar terbitnya matahari, saat siang hari para wisatawan bisa berswafoto dengan latar belakang gelombang samudera yang terlihat garang, pada sore hari orang bisa berswafoto dengan latar matahari terbenam, sedangkan pada malam hari sebagai andalan para turis bisa menyaksikan keindahan langit malam yang ditaburi bulan dan bintang-bintang.
"Jadi ..., obyek wisata ini hidup selama dua puluh empat jam. All day. Sepanjang hari. Morning, afternoon, evening and night. Setiap waktu, turis bisa menyaksikan keindahan alam. This tourist attraction is very charming." jelas Yuna yang meyakinkan.
Tentu semua yang hadir kagum dengan Yuna. Bukan sekedar senang karena paparannya yang menarik, tetapi juga terkesima dengan kecantikan orang yang menyampaikan rancangan itu. Pintar dan cantik.
"Bapak ibu yang dihormati, saya mohon izin menyampaikan ini." Yuna melanjutkan paparannya, kali ini ia menampilkan foto Gua Jepang.
Orang-orang yang hadir di pendopo paham persis, bahwa foto yang ditampilkan oleh Yuna adalah Gua Jepang. Mereka kembali memperhatikan wanita yang bicara di depannya, dengan penuh tanda tanya, akan diapakan Gua Jepang itu.
"Bapak ibu, ini adalah Gua Jepang. Gua yang memiliki misteri bagi bangsa kami. Saya mohon masyarakat di sini menjaga kelestariannya. Saya akan masukkan obyek wisata ini sebagai obyek religi bagi bangsa kami. Sacred place for Japanese people. Kami akan agendakan obyek wisata Gua Jepang untuk dikunjungi oleh warga Jepang dalam acara peringatan kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Nanti setiap awal bulan Agustus, penduduk Jepang berziarah ke tempat ini. Come on a pilgrimage to this sites." jelas Yuna, yang tentu akan membangun Gua Jepang menjadi lebih tertata.
Semua orang menganggukkan kepala, tanda sangat kagum. Bahkan merasa haru ketika menyebut Gua Jepang itu akan dijadikan tempat ziarah bagi bangsanya. Sungguh sangat memegang nilai-nilai riligi yang kuat. Tidak sekadar maju dalam teknologi, tetapi juga sangat menghormati para pahlawannya.
Yudi yang mendampingi Yuna, ikut senang. Terutama saat berdiskusi. Pak Lurah sudah setuju. Dan tentu senang saat nanti kampungnya menjadi maju dan terkenal. Tentu kehidupan masyarakatnya juga akan lebih sejahtera. Demikian juga orang-orang yang mewakili kelompoknya. Senang karena akan terangkat usahanya. Terutama yang paling senang adalah kelompok penjaja makanan tradisional. Jika usahanya akan diekspos secara internasional, pasti hasilnya akan meningkat. Demikian juga para sopir wisata, mereka justru senang ketika sarana transportasi akan terkoneksi ke berbagai obyek. Tentu itu akan menambah penghasilan. Mereka yang hadir di pendopo rumah Yudi, malam itu benar-benar penuh harap, agar proyek ini segera terwujud.
"Terima kasih, Mas Yudi dan Mbak Yuna .... Rancangan ini sangat bagus. Kami merasa tersanjung dengan adanya obyek wisata yang direncanakan di kampung kami akan berkelas internasional. Oleh sebab itu kami berharap, proyek ini bisa segera terlaksana." begitu sambutan dari Kepala Desa.
"Setujuuuu ...!!" semua yang hadir berteriak.
*******
Yudi senang masyarakat Kampung Nirwana bisa menerima rancangan yang dipaparkan Yuna. Kini tinggal menunggu Yuna untuk menyampaikan program ini kepada tim panyandang dana. Tentu yang diharapkan adalah Sukses.
Tepat satu bulan Yuna berada di Kampung Nirwana. Meskipun tinggal di rumah Yudi, tetapi pekerjaannya mencakup seluruh wilayah di Kampung Nirwana. Sudah banyak dibantu masyarakat kampung, terutama Bagas yang selalu mengantar keliling kampung. Apalagi ibu-ibu penjual makanan tradisional yang dengan senang dan tulus ikhlas memberikan nasi pecel, lotek, jenang candil dan lain sebagainya kepada Yuna. Walau gadis Jepang itu terkadang merasa kepedasan. Justru itulah yang disenangi oleh para pedagang. Kelucuan Yuna saat berekspresi karena pedas. Yuna akrab pada siapa saja. Tidak membedakan orang.
__ADS_1
Maka kini Yuna tinggal mempersiapkan diri untuk kembali ke Jepang, menyampaikan laporan dan proposal pemberdayaan masyarakat Kampung Nirwana. Mulai pagi hingga sore, Yuna sibuk menata barangnya. Terutama peralatan teknik yang riskan. Satu koper besar penuh.
"Yudi, besok saya balik ke Tokyo. Tomorrow I will go back to Japan. Doakan rancangan kita bisa lolos seratus persen." kata Yuna saat makan malam bersama Yudi.
"Thank's Yuna. Yuna sudah kerja keras, membantu kami dengan sangat luar biasa. Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih. Semoga rancangan kita akan berhasil dan sukses." ungkap Yudi, yang tentu mulai merasakan sedih akan ditinggal oleh Yuna.
Lantas mereka berdua duduk di gasebo belakang, tempat yang biasa digunakan Yuna untuk bekerja. Yudi menyelonjorkan kakinya. Sedangkan Yuna, langsung menempelkan kepalanya di bahu Yudi.
"Yudi, saya merasa berat untuk meninggalkan tempat ini. My heart has mingled with the people in this village. Especially with you." kata Yuna.
"Saya juga, Yuna .... Dirimu akan pergi saat hatiku bahagia, saat cinta dalam hatiku akan berbunga. Saya takut kehilangan dirimu. I'm afraid to lose my love." sahut Yudi yang mulai kelihatan sedih.
"Wait a minute, please." kata Yuna minta ijin sebentar.
Lantas Yuna berdiri melangkah, mengambil gitar yang biasa digunakan anak-anak bernyanyi. Lantas menyerahkan gitar itu kepada Yudi.
"Yudi, saya pengin bernyanyi. Let's sing a song. Bernyanyi bersamamu, Yudi. Ayo, mainkan gitar ini." kata Yuna.
Yudi menerima gitar itu. Lantas mencoba memainkan. Rasanya malam itu sangat berat untuk tidak bersama Yuna.
"Kokoro No Tomo. Lagu jaman saya masih remaja. Dulu sangat ngetren di Jepang. Hampir setiap orang menyanyikan lagu ini. Yudi tahu lagu itu?" sahut Yuna.
"Ya .... Dulu aku suka lagu ini. Fall in love song." kata Yudi.
Lantas Yudi mulai memetik gitar. Memainkan intro lagu Kokoro no tomo yang pernah ngehit dinyanyikan oleh Mayumi Itsuwa. Yuna pun lantas menyanyi dengan nada agak sedih. Tentu sambil melendot di bahu Yudi.
"Anata kara kurushimi o ubaeta sono toki
Watashi nimo ikiteyuku yuuki ga waite kuru
Anata to deau made wa kodoku na sasurai-bito
__ADS_1
Sono te no nukumori o kanji sasete ....
Ai wa itsumo rarabai .... Tabi ni tsukareta toki
Tada kokoro no tomo to .... Watashi o yonde
Shinjiau koto sae dokoka ni wasurete
Hito wa naze sugita hi no shiawase oikakeru
Shizuka ni mabuta tojite kokoro no doa o hiraki
Watashi o tsukandara namida fuite ....
Ai wa itsumo rarabai .... Anata ga yowai toki
Tada kokoro no tomo to .... Watashi o yonde ....
Ai wa itsumo rarabai .... Tabi ni tsukareta toki
Tada kokoro no tomo to .... Watashi o yonde ...." Yuna menyanyi dengan penuh perasaan.
Demikian juga Yudi, yang memainkan gitar. Perasaannya terbawa, hanyut dalam lagi yang dinyanyikan oleh gadis cantik yang secara perlahan mulai mengubah arti keteguhan cinta dalam hidupya. Menggoreskan kata-kata cinta di relung hatinya.
"Yuna ..., kenapa Yuna menyanyikan lagu ini?" tanya Yudi yang membisik di telinga Yuna.
"Yudi, di Tokyo saya tidak mau punya suami. Saya ingin hidup sngle. Tetapi entah kenapa, di kampung Yudi, hatiku berubah. Di Kampung Nirwana, mampu kulepaskan semua kepedihan. Semangat hidupku bergelora untuk menapak di jalan hidup ini bersama seseorang, Yudi. Sebelum diriku bertemu denganmu, hidupku berkelana dalam kesepian. Sendiri dan sunyi. Kini kurasakan hangatnya jemarimu, yang perkasa memelukku. Yudi .... Cinta sudah merubah segalanya. Besok saya harus pulang ke Tokyo, tunggu aku di sini, aku akan kembali membawa cintamu. Seperti cinta yang kamu pesan. Dirimu sudah menjadi pengisi hatiku. Raih tanganku dan usap air matamu ...." kata Yuna yang penuh harap pada cinta Yudi.
"Terima kasih Yuna .... Dirimu bagaikan pelita yang menerangiku saat kegelapan. Dirimu bagaikan tongkat yang menuntunku menunjukkan jalan. Saya berharap, malam ini adalah awal kebersamaan kita. Meski besok Yuna akan berangkat ke Jepang, tapi itu hanyalah proses untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Aku menunggumu, Yuna. Menunggu cintamu di sini." kata Yudi yang memeluk erat tubuh Yuna. Seakan tidak mau kehilangan.
"Please kiss me, Yudi .... I need romance tonight. The love of us." kata Yuna yang sudah menyerahkan tubuhnya untuk Yudi.
__ADS_1
Malam itu pun menjadi milik mereka berdua. Malam yang panjang untuk sebuah pamitan perpisahan.
"Kokoro no tomo ...."