KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 59: TELEPON SANDIWARA


__ADS_3

    Seperti yang dipesankan oleh Yudi, sepulang kerja Silvy langsung menuju rumah mamah papahnya. Yaitu rumah keluarga Hamdan. Rumah Silvy sejak lahir hingga akhirnya diajak suaminya untuk menempati rumah sederhana hasil keringat mereka berdua.


    Silvy sudah mengirim pesan kepada suaminya, untuk tidak menjemput ke kantor, tetapi langsung ke rumah orang tuanya. Alasannya, Silvy ingin menjenguk mamahnya. Tentu suaminya sangat paham, karena ibu mertuanya memang baru saja sakit. Bahkan dalam seminggu masuk rumah sakit dua kali. Maka nanti sepulang kerja, ia juga akan ke rumah mertuanya. Menjemput istrinya, sekaligus menjenguk mertuanya.


    Tidak masalah. Walau Silvy bersama suaminya waktu pertama kali jadi pengantin baru, sempat bersitegang untuk pindah ke rumah baru, tetapi Hamdan, mertua laki-lakinya, memahami sikap menantunya yang ingin mandiri. Demikian pula Rini, yang merasa kesepian saat ditinggal Silvy, tetapi ia harus rela jika anaknya itu tetap mau ikut suaminya. Toh lama-kelamaan, kesepian itu juga menjadi biasa.


    Kala pertama Silvy pindah ke rumah baru bersama suaminya, hampir setiap pulang kerja Silvy selalu mampir ke rumah orang tuanya. Demikian juga suami Silvy, setiap pulang kerja, terlebih dahulu menjemput istrinya di rumah mertuanya. Bahkan sering makan malam di rumah mertuanya. Ya, hitung-hitung bisa berhemat tidak keluar uang untuk makan malam. Lumayan ngirit.


    Dan kini, saat ibunya sakit kemarin, Silvy maupun suaminya hampir setiap hari mampir untuk menengok keadaan ibunya. Bahkan sesaat sepulang ibunya dari rumah sakit, Silvy maupun suaminya lebih banyak tidur di rumah orang tuanya. Toh kamar Silvy masih utuh tidak ada yang menempati. Hamdan sendiri, ayahnya Silvy, tetap meminta Mak Mun membersihkan kamar Silvy, sewaktu-waktu dipakai oleh anak perempuannya maupun suaminya. Yah, kamar itu adalah kamar malam pertama Silvy bersama suaminya.


    "Selamat sore, Mamah ...." salam Silvy pada ibunya saat sampai di rumah orang tuanya.


    "Hai ..., Neng Silvy .... Baru pulang, Neng?" tanya Mak Mun yang mendengar suara Silvy.


    "Iya, Mak Mun." sahut Silvy.


    "Hai Silvy, sayang .... Ke kamar dulu, bersihkan badan, ganti pakaian. Bila perlu mandi sekalian." kata ibunya yang sejak zaman Silvy masih kecil, kebiasaan itu masih sama tidak pernah berubah.


    Ya tentu, orang tua yang baik selalu mendidik anaknya begitu, cuci tangan, cuci kaki, cuci muka setiap datang dari bepergian ataupun bermain. Karena ibarat orang tua zaman dahulu, orang yang dari bepergian itu membawa banyak kuman penyakit. Maka setidaknya harus cuci tangan, cuci kaki, cuci muka untuk membersihkan kuman-kuman yang dibawa.


    Tentu Silvy menurut orang tuanya. Karena itu demi kebaikan bersama. Apalagi saat Silvy masih balita, saat-saat anak menggemaskan, jika ayahnya pulang kantor dan ingin segera mencium atau menggendong anaknya, pasti Rini melarang sebelum ayahnya itu mandi dahulu. Alasannya, nanti virus dan kumannya bisa menempel ke anaknya. Itulah kebiasaan baik yang harus ditanamkan pada anak cucu.


    Setelah mandi dan berganti daster, Silvy langsung menemui mamahnya yang sudah duduk di ruang keluarga sambil menonton siaran televisi. Silvy mampir dahulu ke meja makan, membuka tudung saji, melihat menu yang tersedia di sana. Tidak ada yang menarik untuk diambil. Lantas menutupkan kembali tudung saji.


    "Gimana, Mah? Sudah sehat kan?" tanya Silvy pada ibunya di ruang keluarga.


    "Alhamdulillah .... Kemarin hari Minggu pagi diajak Papah ke GBK. Asyik, Silvy." jawab ibunya.


    "Kok Silvy nggak diajak sih, Mah?" sahut Silvy.


    "Papah kamu yang ngajak tiba-tiba. Katanya sekali-sekali refresing." jawab ibunya.


    "Ow .... Papah sudah bilang tentang rencana pesana homestay ke Papah Yudi?" tanya Silvy pada ibunya, untuk memulai rencananya.


    "Belum ...." sahut ibunya kalem.


    Silvy mengamati perubahan sikap mamahnya. Tetapi tidak terlihat adanya perubahan pada raut muka mamahnya. Semua biasa-biasa saja.


    "Nanti kalau sudah jadi, bilangin ke Papah, Silvy yang mau bawa berkasnya ke Jogja ya, Mah." kata Silvy lagi.

__ADS_1


    "Iya .... Kita berempat ke Jogja semua juga gak papa, sekalian mau lihat lukisan Mamah ...." jawab mamahnya.


    Belum juga ada perubahan pada raut wajah ibunya. Silvy penasaran. Kok malah ibunya mau ikut berangkat ke Jogja berempat. Sebenarnya apa yang dialami oleh Papah Yudi terkait ibunya yang katanya marah-marah.


    "Eh, Mah ..., Silvy mau telepon Papah Yudi dahulu.... Silvy kok kangen ya, Mah." kata Silvy kembali memancing.


    "Iya .... Kalau kangen jangan dipendam. Kata guru Mamah dulu, kalau suka memendam rasa kangen itu nanti jadi jerawat. Hehe ...." kata ibunya yang justru meledek anaknya.


    Silvy jadi bingung. Ia sudah mencoba bermain di luar skenario yang direncanakan Yudi, agar ia juga tahu ekspresi mamahnya saat menyebut nama Yudi, tetapi kok tidak ada reaksi apa-apa. Ada apa sih sebenarnya? Lantas Silvy mengangkat HP-nya dan menelepon Papah Yudi kesayangannya, seperti yang telah dipesankan papah kesayangannya tadi siang.


    "Halo Papah Yudi ...." sapa Silvy di telepon.


    "Hai Silvy .... Bagaimana kabarmu?" sahut Yudi dari telepon.


    Silvy sengaja menekan loudspeaker, agar mamahnya ikut mendengar percakapannya.


    "Baik, Pah .... Papah Yudi bagaimana kabarnya?" tanya Silvy, tentu sambil mengamati perubahan sikap mamahnya.


    "Baik dan sehat. Bagaimana kabar Mamah Rini? Sehat, kan?" tanya Yudi.


    "Saya sehat, Yudi .... Sudah segar." dari tempat duduknya yang dekat dengan Silvy, Rini langsung menyahut.     Karena di loudspeaker, maka Yudi juga mendengar jawaban Rini. Silvy kaget, mamahnya langsung menyahut dengan nada biasa-biasa saja. Tidak ada perubahan nada suara. Demikian juga Yudi yang mendengar jawaban itu, jauh sangat berbeda ketika tadi pagi marah-marah mengata-ngatai Yudi yang tidak karuan. Kok ini sangat berbeda dengan tadi pagi? Apa Rini sudah sadar tentang kesalahannya?


    "Syukurlah ...." sahut Yudi yang jadi bingung. Skenario sandiwaranya gagal.


    "Yudi, kamu jangan begadang terus ya .... Jaga kesehatan. Umur Yudi sudah tua, tidak baik banyak kena angin malam." sahut Rini, yang mendekatkan bicaranya di HP Silvy.


    Tentu melihat hal ini, Silvy tanggap, ibunya sudah tidak marah kepada Yudi. Lantas Silvy memberikan HP ke mamahnya. Rini menerima HP dan memegangi sendiri, walau masih di-loudspeaker.


    "Terima kasih nasehatnya, Rini. Doakan saya selalu sehat." jawab Yudi.


    "Iya, Yud .... Doakan juga kami sekeluarga, agar selalu sehat." balas Rini.


    Silvy mendengarkan dan mengamati percakapan ibunya dengan Yudi. Tidak ada hal yang mencurigakan. Semua biasa saja. Bahkan baik-baik adanya. Ada apa sih, sebenarnya semua ini. Silvy jadi semakin penasaran. Sangat beda sekali dengan yang disampaikan papah angkatnya. Apa jangan-jangan tadi siang mamahnya sudah menelepon Yudi untuk meminta maaf. Ah, entahlah .... Biar diselesaikan dulu teleponnya.


    "Eh, Yudi ..., ngomong-ngomong bagaimana kabarnya rencana proyek yang akan dibangun di Taman Awang-awang itu?" tanya Rini pada Yudi.


    "Doakan segera terealisasikan anggarannya ya, Rin .... Kemarin Tim Visitor dari penyandang dana sudah melakukan visitasi dan cek lapangan. Kelihatannya mereka senang. Bahkan juga mengatakan semoga dana bantuannya segera terealisasi. Begitu yang disampaikan. Kebetulan saya dan Pak Lurah yang langsung mengantar Tim Visitor ke lapangan." jawab Yudi ke Rini.


    "Syukurlah ...." sahut Rini.

__ADS_1


    "Ini sudah dimulai membangun dua unit homestay pesanan paguyuban di kampung. Semoga nanti segera jadi, biar kampung wisatanya semakin ramai." jelas Yudi lagi.


    "Eh, Papah Yudi ..., berarti nanti kalau proyeknya dimulai, Mis Yuna balik ke Jogja lagi, ya?" tanya Silvy yang nimbrung pembicaraan ibunya.


    "Oh, iya tentu, Silvy ...." jawab Yudi.


    "Lhah, Mis Yuna sekarang kabarnya bagaimana, Yud?" tanya Rini.


    "Saya belum tahu, Rin. Saya tidak berani tanya, takut mengganggu pekerjaannya." jawab Yudi.


    "Ih, Papah Yudi kok gitu sama Mis Yuna? Ditelepon, dong ...!" sahut Silvy menanya.


    "Silvy .... Orang Jepang itu kalau sudah bekerja tidak mau diganggu. Tidak seperti kita, ngakunya kerja tapi malah main HP melulu." kata Rini yang memberi tahu anaknya.


    "Masak cuman telepon sebentar saja tidak berani ...?!" bantah Silvy.


    "Maaf, Silvy .... Di Jepang disiplinnya sangat kuat. Kita mestinya yang meniru karakter mereka." sahut Yudi.


    "Iya, Yudi .... Tapi masak sekedar kirim pesan di WA saja tidak berani?!" kata Rini yang masih penasaran.


    "Maaf, Rini .... Mungkin saya yang salah, tidak seperti teman-teman di Indonesia lainnya, mungkin karena saya sering bergaul dengan teman-teman asing, sehingga saya terbiasa mengikuti aturan teman-teman di negara maju. Jadi dengan orang asing, khususnya teman-teman dari negara maju, saya tidak berani sembarangan berkomunikasi. Takut yang kita sampaikan keliru, takut yang kita tanyakan itu tidak tepat atau mengganggu privasi mereka. Bahkan di sana, yang namanya HAM atau rasis itu sangat sensitif. Maka saya terus terang tidak berani mengganggu privasi. Posisi saya sekarang ini hanya menunggu berita. Sabar saja lah. Yah, kita ambil hikmah baiknya saja." jelas Yudi, kali ini tentu kepada Rini dan Silvy, mantan calon dan anak angkat.


    "Memangnya, Papah Yudi tidak kangen sama Mis Yuna?" tanya Silvy, yang tentu Rini ikut tersenyum mendengar pertanyaan anaknya.


    "Silvy ..., hubungan kami ini sebagai partner kerja. Jangan dinodai. Bisa berbahaya." jawab Yudi.


    Mendengar ini Rini tersenyum. Memang Yudi itu orang yang teguh dengan cintanya. Rini jadi teringat masa-masa lalu saat bersama Yudi. Ingat masa SMA yang selalu menculik Yudi ke rumahnya. Yudi memang pendiam dan sangat baik.


    "Ah, Yudi ..., Yudi .... Kamu memang orang yang terlalu baik." puji Rini pada Yudi.


    Silvy yang tadinya melakukan telepon untuk bersandiwara di depan mamahnya, kini justru mamahnya yang memegang HP Silvy, dan ngobrol sama orang yang menyusun skenario. Skenario sandiwara yang direnacnakan jadi gatot alias gagal total.


    Tapi Silvy senang. Setidaknya mamahnya tidak marah lagi seperti yang diceritakan papah angkatnya. Justru kini mamahnya terlihat ceria dan senang, walau sesekali berebut HP dengan anaknya untuk ngobrol dengan laki-laki pujaan ibu dan anak itu.


    Sebenarnya sejak tadi pagi, sesaat setelah telepon dimatikan oleh Yudi, sejak Mak Mun mengatakan, "Yang sabar ya, Ibuk .... Sabar itu bisa memperpanjang usia ...." Rini menjadi sadar jika dirinya sudah keliru. Dan setelah Rini kembali mencermati obrolan teman-temannya di WA grup alumni SMA, dibaca kembali dengan pikiran yang jernih, dengan hati yang tidak emosi, kelihatannya itu hanyalah reka-reka dari Yayuk. Bisa jadi Yayuk memanas-manasi teman-temannya. Atau kalaupun Yayuk datang ke rumah Yudi, pasti tidak ditanggapi oleh Yudi. Yudi pasti juga sudah tahu siapa Yayuk itu. Pasti sama dengan yang dinilai oleh Rini. Sama-sama wanita, Rini pun tidak senang dengan kehidupan Yayuk. Saat SMA sering gonta-ganti pacar. Bahkan menurut informasi, saat ini Yayuk sudah berkali-kali ganti suami. Dan yang terakhir ia ditinggalkan suaminya tanpa kabar berita. Tidak mungkin Yudi tertarik sama Yayuk.


    Itulah yang membuat Rini tersadar jika dirinya sudah kelitu menilai Yudi, sudah salah memarahi Yudi. Tetapi jika ia minta maaf pada Yudi saat ada Silvy, bahkan menggunakan HP anaknya, tentu itu akan menjatuhkan kredibilitasnya. Bagaimanapun juga, Rini harus menjaga kehormatannya.


    Rini tidak tahu kalau Silvy melakukan telepon itu hanya sebuah sandiwara, yang sudah dirancang bersama Yudi.  Tetapi Silvy juga bingung saat sandiwaranya gagal, karena ibunya tampak baik-baik saja saat melihat anaknya berteleponan dengan Yudi. Justru ikut menimbrung telepon.

__ADS_1


    Yah, itulah perasaan seorang wanita yang sering diselimuti rasa cemburu. Seperti halnya Rini, yang cemburu terhadap Yayuk.


__ADS_2