
Rini hanya bisa pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Bagas ikut bersedih ketika menyaksikan Rini menangisi Yudi yang hilang. Bagaimanapun juga, Bagas tahu jika Rini diam-diam mencintai Yudi. Bukan sekadar teman, tetapi sudah lebih dari rasa kasih sayang. Tidak hanya mendengar cerita dari Yudi, tetapi dari tingkah dan perilaku Rini sangat jelas terlihat. Jika Rini mesti menangisi Yudi, itu hal yang wajar. Apalagi anak dan menantunya yang memanggil Yudi dengan sebutan 'papah' siapa lagi kalau bukan Rini yang menghendaki. Begitu penilaian Bagas pada Rini.
"Mas Bagas, apa di sini belum dipasangi CCTV?" tanya Yayan pada Bagas.
"Belum, Mas .... Maklum, bangunan masih baru, dan berada di pedesaan, masyarakat belum menganggap penting." jawab Bagas.
"Tapi sebaiknya ada CCTV, Mas .... Kalau ada kejadian seperti ini bisa dilacak melalui rekaman CCTV." kata Yayan yang berpengalaman dengan sistem keamanan di kota metropolitan seperti Jakarta.
"Iya, Mas .... Nanti akan saya usulkan ke Mas Yudi." jawab Bagas.
"Nah, Mas Yudi-nya saja belum ketemu, kok ...." sahut Yayan yang tentu masih bingung mencari Yudi.
Rini masih menyandarkan dirinya di pagar besi pembatas tebing jurang. Masih dengan linangan air mata. Demikian juga Silvy, yang menemani mamahnya di pagar pengaman itu, memeluk mamahnya dengan rasa sedih. Berkali-kali Silvy mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Yayan yang juga berada dekat dengan istri dan mertuanya, masih penasaran dengan hilangnya Yudi dan Yuna. Tetapi ia lebih tabah. Setidaknya tidak ikut-ikutan menangis. Malu jika dilihat para pelancong yang banyak berada di pagar tebing untuk menyaksikan keindahan alunan gelombang.
Sambil menunggui istri dan mertuanya, Yayan mencoba melihat-lihat dinding tebing yang ada di bawahnya. Juga menyaksikan alunan ombak samudera yang terus bergulung. Ia melepas pandangan ke segala arah. Mengamati semua yang bisa dilihat. Sejauh mata memandang, Yayan memerhatikan secara saksama. Hingga pandangannya terganggu oleh onggokan sampah yang mengambang di pantai. Tetapi Yayan tidak melepas pandangannya dari onggokan sampah tersebut, karena dirasa ada yang aneh.
"Yah, saya yakin itu bukan sampah ...." gumam Yayan yang penasaran dengan onggokan batang perdu dan belukar yang mengambang di pantai tersebut.
Lantas Yayan bergeser ke arah sisi timur tebing, agar bisa melihat lebih jelas tentang apa yang dilihatnya, benda-benda yang terapung di perairan pantai sisi timur tersebut. Dan setelah cukup lama mengamati, barulah Yayan bisa menyimpulkan, jika benda-benda yang terapung-apung itu bukanlah onggokan sampah, tetapi sengaja dibuat dan diapungkan.
"Ya, itu adalah tanda. Pertanda ada seseorang di sana. Bisa jadi Papah Yudi yang berada di bawah tebing sana." begitu gumam Yayan yang langsung berlari menemui istri dan ibu mertuanya.
"Silvy ...! Mamah ...! Coba lihat ke bawah tebing sebelah timur .... Lihat itu ...!" kata Yayan yang menunjukkan onggokan dedaunan dan rumput yang mengapung di perairan.
"Mana, Mas ...?!" Bagas ikut menimbrung untuk menyaksikan yang ditunjukkan oleh Yayan.
"Itu .... Coba lihat itu. Ayo dari sebelah timur, akan lebih jelas terlihat." kata Yayan yang selanjutnya mengajak mendekat.
"O, iya ..., Mas .... Itu pertanda. Ya, sebuah pertanda. Kelihatannya itu semacam tulisan." kata Silvy meyakinkan yang ia lihat.
"Benar, itu rerumputan yang diikat untuk membuat huruf. Coba kita amati saat air laut tenang, pasti bisa dibaca." sahut Rini.
Mereka berempat, mengamati terus .... Dan akhirnya, saat gelombang tenang, saat air di pantai tidak terlalu beriak, terlihatlah sempurna bentuk benda yang mengapung tersebut. Ya, ikatan-ikatan rumput serta batang-batang pisang tersebut membentuk sebuah susunan huruf yang berbunyi 'HELP' yang artinya minta tolong. Pasti itu sebuah tanda seseorang minta pertolongan. Bisa jadi, itu adalah Yudi yang minta pertolongan.
Bagas langsung berlari memanggil karyawan-karyawan yang bekerja di Taman Awang-awang.
"Ayo-ayo .... Ke sini semua, ayo kita tolong Mas Yudi ...!!" teriak Bagas yang menyuruh para karyawan berkumpul.
"Mas Yudi kenapa?!" tanya beberapa karyawan.
"Ada apa, Mas Yudi?!"
"Di mana?!"
Para karyawan sudah berkumpul di sisi timur, mununggu komando dari Bagas. Bersiap untuk menolong Yudi.
"Mas Yudi ada di bawah tebing. Mungkin kemarin terpelesat dan jatuh. Kita akan membantunya." kata Bagas yang sudah bersiap dengan pasukan karyawan.
"Di mana?" tanya salah satu karyawan.
"Ada di tebing sisi timur. Itu ada tandanya minta tolong yang mengapung di perairan, bawah tebing bagian timur." kata Bagas yang menjelaskan sambil menunjukkan tanda tulisan minta tolong.
"O, iya-iya .... Ayo kita tolong ...." kata beberapa karyawan.
__ADS_1
"Caranya bagaimana?" tanya salah seorang.
"Kita turun lewat tebing sisi timur." kata karyawan yang lain.
"Bawa tali tambang, untuk berjaga-jaga." kata yang lain.
"Iya ..., ya .... Siap ...." jawab para karyawan.
Rini dan Silvy terus menangis. Sangat khawatir dengan kondisi Yudi.
Sementara Yayan, mencoba turun ke tebing sisi timur. Menuruni bukit, yang rimbun dengan tumbuhan tersebut. Hingga akhirnya, Yayan melihat ada bekas semak yang rusak. "Kemungkinan ini tempat Papah Yudi terpeleset dan jatuh." begitu pikir Yayan.
"Ooee ...!! Di sini, lewat sini! Ini bekasnya tempat terjatuh!" Teriak Yayan kepada orang-orang yang ada di atas.
"Ya ..., ya .... Siap ...!" Orang-orang berteriak menjawab.
Para karyawan yang akan memberikan pertolongan itu langsung bergerak turun, menyusuri lereng bukit sisi timur. Ada sekitar 5 orang laki-laki yang turun. Ada yang membawa tali tambang. Ada pula yang membawa sabit untuk memotong dan membersihkan belukar yang menghalangi jalan.
"Awas, hati-hati!" teriak seseorang yang melihat temannya terpeleset.
Yang memegang sabit berada paling depan, untuk membabat belukar, membuka jalan bagi teman-temannya.
"Benar ini bekasnya. Berarti Mas Yudi kemarin terpeleset dan meluncur lewat sini. Ini bekas rumput yang dibuat meluncur Mas Yudi." kata salah seorang berlogika saat melihat rumput yang rusak bekas dilalui orang.
"Wah, kalau ini tidak cuma terinjak. Pasti Mas Yudi berusaha pegangan. Buktinya ini, ada semak-semak yang tertarik dan daunnya habis, seperti dirampas daunnya dan dicabut secara paksa." kata yang lain berkomentar.
"Iya, Benar .... Berarti Mas Yudi terpeleset dari atas, dan berusaha untuk berhenti, tetapi tidak bisa berhenti." kata yang lain.
"Iya, karena ini tebingnya terlalu curam. Dan yang bagian bawah, tidak ada lerengnya, langsung terpotong menjadi jurang, bawahnya sudah samudera. Berarti betul, Mas Yudi ada di bawah tebing dan tidak bisa naik." kata yang lain lagi.
"Wah, Mas Yudi memang cerdas untuk hal-hal yang sulit seperti ini." sahut yang lain.
"Waduh, lha terus Mas Yudi di bawah jurang bagaimana? Pasti dia tidak bisa apa-apa ...." yang lain mencoba tanya.
"Ya sudah, ayo cepat kita bantu, biar Mas Yudi bisa naik." jawab yang lain agar temannya lebih cepat.
Ya, mereka para karyawan, beserta Yayan dan Bagas, bergegas untuk sampai di lereng bagian bawah. Dan ternyata benar, pada lereng bagian bawah merupakan tebing jurang yang lumayan tinggi, ada sekitar enam meter. Sangat dalam.
"Waduh ..., lha kita turunnya bagaimana?" tanya salah seorang.
"Kamu berani terjun, nggak?" sahut yang lain.
"Jangan .... Jangan terjun, bahaya!" Bagas melarang rekannya yang akan terjun ke samudera.
"Kita ikat dengan tali, Mas Bagas .... Nanti kita tarik bareng-bareng ...." usul salah seorang.
"Ya, mana talinya?" tanya Bagas.
"Ini ...." orang yang membawa tali tambang langsung menyerahkan tali yang dibawanya.
"Ujungnya diikatkan pada pohon, biar kuat." kata Bagas.
"Siap ...!" seseorang langsung berlari, mengikatkan salah satu ujung tali ke pohon.
"Lhah, yang mau diikat untuk turun siapa?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa .... Saya siap untuk turun menjemput Papah Yudi." kata Yayan yang benar-benar ingin menyelamatkan papah angkatnya tersebut.
"Yakin berani, Mas?" tanya Bagas pada Yayan.
"Siap .... Saya berani. Saya yang turun lebih dahulu, nanti bagaimana kondisinya akan saya beritahu. Termasuk apa saja yang dibutuhkan untuk naik lagi." kata Yayan.
"Baiklah, akan kami ikat bagian pinggang Mas Yayan." kata Bagas yang kemudian mengikat pinggang Yayan dengan tali tambang.
"Ada air mineral? Minta satu botol untuk memberi minum yang kita tolong." kata Yayan yang minta air untuk dibawa turun.
"O, ya ..., ada .... Bawa dua. Dimasukkan plastik kresek diikatkan pada ikat pinggang." sahut yang membawa bekal minum, lantas mengikatkan bekal botol air mineral.
Setelah tubuh Yayan diikat, perlahan ia melangkah menuju bibir jurang. Lima orang memegang erat-erat tambang yang sudah terikat dengan pinggang Yayan. Bagas berada di pinggir jurang memberi aba-aba.
Perlahan Yayan mulai turun. Kakinya melangkah pelan. Tangannya memegang tali yang ke atas, yang sudah terikat dengan pinggangnya.
"Turunkan perlahan ...!" teriak Yayan.
"Turun perlahan ...." Bagas memberi aba-aba kepada yang memegang tali.
Lima orang yang memegang tali di pohon, lantas mengendurkan tali tambangnya, agar Yayan bisa turun.
"Maju lagi perlahan ...." Bagas memberi aba-aba lagi.
Yah, mereka bahu membahu membantu Yayan untuk menuruni tebing terjal. Perlahan, namun terus berjalan secara pasti. Hingga akhirnya, Yayan bisa mencapai dasar tebing.
"Sudah sampai bawah ...!" teriak Yayan dari dasar jurang.
"Iya .... Segera kabari kami." kata Bagas menyahut dari atas.
Setelah sampai di dasar jurang, Yayan menoleh ke kanan kiri, tentu untuk mencari Papah Yudi. Tetapi belum ketemu. Karena yang diinjak oleh Yayan hanyalah air dari gelombang Laut Selatan yang selalu menyapu dasar jurang.
"Tolong tambangnya dikendurkan, saya akan melangkah mencari. Di sini belum ketemu. Hanya genangan air." teriak Yayan dari bawah.
"Tambangnya diulur .... Biar Mas Yayan bisa berjalan mencari Mas Yudi." kata Bagas menyuruh mengendurkan tambang.
Yayan sudah bisa berjalan di tepi jurang, tentu berkali-kali tubuhnya disapu gelombang yang menghantam tebing jurang. Sudah lumayan agak jauh melangkah tetapi belum juga menemukan orang yang dicari.
"Bagaimana, Mas?!" teriak Bagas menanyakan lagi.
"Belum ketemu ...!!" jawab Yayan.
"Waduh ...!" Bagas mulai khawatir.
"Bagaimana, Mas Bagas ...? Sudah ketemu?" tanya orang-orang yang masih memegangi tali tambang.
"Belum ketemu ...." jawab Bagas dengan nada sedih.
"Apa saya ikut nyusul turun ke bawah, Mas ...?!" kata salah seorang yang memegang tali.
"Kita tunggu sebentar berita dari Mas Yayan. Mungkin saja Mas Yudi juga masih mencari jalan. Semoga langsung bisa bertemu." jawab Bagas yang menenangkan para karyawan yang ikut membantu. Ya, tentu mereka pada kecewa.
"Papah Yudi ...!! Papah Yudi ...!! Papah Yudi ...!! Papah Yudi ...!!" Yayan berteriak-teriak memanggil Yudi, papah angkatnya itu. Sudah berkali-kali Yayan berteriak, namun belum juga mendengar ada suara yang menjawab. Hanya gema dari dinding-dinding tebing yang memantulkan teriakan Yayan, yang berbaur dengan gemuruh debur omabk yang menghantam batu-batu karang.
Yudi belum ditemukan.
__ADS_1