
Hari-hari terus berlalu. Yudi tidak lagi ingat, sudah berapa lama ia tinggal di Kuil Shinto Kifune. Yudi hanya tahu jika dirinya sudah akrab dengan para pembantu pendeta dan juga para miko. Tentu keakraban tersebut terbentuk karena Yudi memang orang yang baik, tidak egois dan tidak sombong. Yudi senang bergaul dengan para pekerja yang ada di kuil itu. Makanya, para pekerja, para pendeta dan para miko juga senang dengan Yudi.
Hingga suatu hari, Yudi didekati oleh salah seorang wanita miko, dan miko itu berkata kepada Yudi, kalau ia tidak boleh terlalu memikirkan istrinya, yaitu Yuna.
"Jibun o gomon shinaide kudasai." kata si wanita miko tersebut yang melarang Yudi menyiksa diri. Hidup itu bukan untuk bersedih. Hidup bukanlah untuk berprihatin yang berkepanjangan. Hidup bukanlah untuk memikirkan hal yang terlalu sulit untuk dijangkau. Jangan berangan-angan yang di luar nalar kemampuan dan kehendak sang dewa. Hidup itu untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, dengan segala konsekuaensinya.
Yudi sadar dengan perkataan Sang Miko tersebut. Banyak orang percaya, jika miko mempunyai kekuatan magis, termasuk bisa mengerti nasib seseorang. Tetapi itu jika tubuh atau raga Sang Miko sedang dirasuki oleh dewa. Namun setidaknya, Yudi percaya jika ada miko yang menasihatinya, pasti nasehat yang baik. Bahkan bukan hanya nasihat dari miko saja, tetapi semua pendeta maupun para pekerja di Kuil Kifune itu, bahkan siapa saja yang menasihati, Yudi tetap menganggap bahwa nasihat-nasihat yang diberikan itu baik adanya. Bahkan selama ini, Yudi sudah banyak menerima nasihat serta bimbingan dari para pendeta yang ia temui.
Namun mendengar kata-kata dari miko, jika ia dilarang menyiksa diri, Yudi masih bingung. Menyiksa diri yang seperti apa yang dimaksud oleh miko tersebut.
Sebenarnya, Yudi ingin berbincang dengan miko yang memberi nasihat agar ia tidak menyiksa diri. Namun, di kuil tidak pantas untuk berbicara banyak atau berbincang. Apalagi miko adalah seorang wanita, tentu tidak pantas bagi Yudi untuk berbincang dengan wanita. Kata-kata Sang Miko itulah yang kini justru menjadi pemikiran Yudi.
Siang dan malam Yudi memikirkan makna dari kata "jangan menyiksa diri sendiri". Di siang hari, saat ia membersihkan halaman kuil, atau melakukan pekerjaan lain, tidak luput dari kesalahan yang selalu ia alami. Mulai dari hal yang sepele, saat menyapu, masih saja ada daun yang tertinggal karena terlewatkan dari sapunya. Meski tidak ada yang menegur, tetapi setelah Yudi meletakkan sapu dan alat kebersihan lain, ia kembali mengambil sapu, untuk membersihkan ulang halaman yang masih ada kotorannya.
__ADS_1
Ya, di kuil memang tidak ada orang yang menyalahkan orang lain. Pendeta tidak pernah menyalahkan pekerja maupun miko. Jadi dalam kuil itu, tidak ada orang yang dimarahi karena sebuah kesalahan. Hanya diri orang itu sendiri yang tahu bahwa dirinya salah. Hanya ia pribadi yang tahu kalau ia keliru. Itulah kekhasan kehidupan di Kuil Shinto Kifune.
Namun kehidupan Yudi yang sudah lebih dari dua bulan di Kuil Shinto Kifune, ia sudah terlatih dengan teladan-teladan yang diberikan oleh para pendeta. Contoh hidup dalam kebenaran tanpa dipamer-pemerkan, contoh berbuat baik yang tidak perlu diomongkan kepada setiap orang. Sebaliknya, ketika orang-orang ini melakukan pekerjaan ada kekurangannya, maka sesegera mungkin ia memperbaiki, secepat mungkin untuk menyelesaikan, tanpa diketahui oleh orang lain.
Meski tidak ada teguran, meski tidak dimarahi,Yudi langsung mengambil sapunya kembali, untuk membersihkan ulang. Jika ada sampah yang terlihat masuk ke dalam sungai, Yudi segera berlari mengambil alat serok, untuk mengangkat sampah itu dari sungai. Hal seperti itu pun selalu dilakukan oleh para pekerja kuil yang lain. Makanya sungai dalam kuil itu benar-benar bersih dan jernih. Sehingga, ikan-ikan koi yang penuh warna-warni terlihat indah dan menarik. Tidak hanya itu, jika ada orang yang mendekat, entah itu pendeta maupun pekerja kuil serta para tamu yang mau melakukan pemujaan, ikan-ikan koi tersebut seakan datang menyambat dengan keramahannya.
Hanya gara-gara perkataan miko tentang menyiksa diri, kini setiap malam, Yudi tidak dapat tidur, ia merenung, memikirkan makna menyiksa diri. Padahal Yudi sudah bisa mengendalikan emosinya, sudah sanggup meninggalkan berbagai hal yang terkait dengan kehidupan duniawi. Yudi tidak pernah menyakiti dirinya sendiri. Apa yang dia lakukan sehingga tergolong perilaku yang menyiksa diri? Masih ada salah apa lagi yang ia perbuat, sehingga tergolong perbuatan yang menyiksa diri?
Akibat dari terlalu memikirkan kata-kata miko tentang menyiksa diri, berdapmpak pada Yudi yang kurang makan dan kurang tidur. Akibatnya, Yudi jatuh sakit.
Kannushi Negeri Jiran yang sudah akrab dengan Yudi, mencoba membuka pintu ruangannya. Kannushi itu melihat tubuh Yudi yang masih berselimut di atas tikar tatami, nampak menggigil. Kannushi itu segera memegang tubuh Yudi, yang ternyata demam. Maka Kannushi Negeri Jiran itu pun segera meminta bantuan dari pekerja yang lain untuk menolong Yudi yang sakit demam.
"Sugu ni atsukaimashou. Yudi wa byokidesu." kata pendeta muda dari Jiran tersebut kepada para pekerja yang datang di ruang Yudi, memberi tahu bahwa Yudi sedang sakit, butuh untuk segera ditolong.
__ADS_1
Maka para pekerja itu pun segera mengangkat tubuh Yudi, dibawa ke ruang pengobatan tabib. Di ruang itu, Yudi direbahkan di atas tikar tatami. Seorang pendeta agak tua, bersimpuh di dekat tubuh Yudi. Lantas menempelkan kain pada dahinya, seperti layaknya anak kecil yang dikompres. Lantas pendeta tersebut menengadah, berdoa memohon petunjuk dari Dewa Kesembuhan. Lantas tangan Sang Pendeta tersebut memegang telapak kaki Yudi.
Yudi yang disentuh telapak kakinya, terlihat menggerakkan tubuhnya seakan protes jika kaki yang dipijit terasa sangat sakit. Yudi terlihat meronta. Sebenarnya ada rasa ingin menolak. Tetapi ia tak kuasa. Yudi tak sanggup berkata apa-apa. Akhirnya ia pun pasrah pada apa yang dilakukan oleh Sang Pendeta yang mengobatinya.
Hanya dalam beberapa sentuhan, Yudi sudah tidak memberontak lagi. Kini ia sudah merasakan adanya kehangatan. Energi panas dari pendeta itu sudah mengalir melalui peredaran darah ke seluruh tubuh Yudi. Kini Yudi sudah terlihat tidak menggigil lagi. Lantas Yudi duduk di atas tatami.
Seorang pendeta muda yang lain, yang mungkin juga ahli pengobatan, datang membawa secangkir ramuan obat dalam bentuk minuman. Di Indonesia ramuan obat ini disebut jamu. Lantas memberikan kepada Yudi untuk diminum. Yudi meminumnya. Sudah biasa seperti minum jamu bikinan Simbok.
Tubuh Yudi sudah menjadi segar. Demam yang dialami sudah hilang.
"Fuhitsuyona kangae de jibun o gōmon shinaide kudasai." kata pendeta itu, yang meminta agar Yudi tidak menyiksa diri dengan pikiran yang tidak perlu. Yudi tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikir. Hidup itu manis, jika seseorang tidak berfikir yang pahit. Hidup itu indah, jika orang tidak berfikir yang jelek. Jalanilah hidup tanpa memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikir. Menyiksa diri itu jika kita melakukan hal-hal yang tidak ada faedahnya untuk kehidupan. Jadi, lakukanlah semua perbuatan yang bermanfaat, agar dirimu tidak tersiksa.
Lantas Yudi mencontohkan, seorang penari kuda lumping yang bisa memakan beling. Untuk apa mereka makan beling? Apa manfaatnya ia bisa memakan beling? Dan apa pula manfaat bagi orang lain setelah kuda lumping itu makan beling? Apa belingnya bermanfaat dan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup?
__ADS_1
Yudi mulai terbuka. Ia mulai mendapatkan jawaban, apa itu menyiksa diri. Bukan sekadar bunuh diri, bukan sebatas menyakiti diri sendiri, tetapi juga termasuk memikirkan hal yang tidak perlu dipikir, seperti dirinya yang memikirkan kata-kata si miko.
"Ah ..., keterlaluan si miko .... Gara-gara perkataannya, diriku jadi memikirkan, dan akhirnya jatuh sakit. Kenapa juga saya memikirkan perkataan orang?" gumam Yudi yang sudah mulai merasa hangat tubuhnya.