
BERITA Rini pingsan, sudah tersebar ke teman-temannya. Maklum, saat Yudi menerima kabar dari ibunya, ia berpamitan kepada Handoyo dan Alex, akan menolong Rini yang pingsan di rumahnya. Tentu teman-temannya banyak yang bingung. Terutama Anik, yang paling dekat dengan Rini, dan bahkan memaksa Rini untuk hadir di acara reuni.
"Waduh, bagaimana ini, Han?" tanya Anik pada Handoyo.
"Tidak usah terlalu khawatir, Yudi sudah menolong." jawab Handoyo santai.
"Halah ..., paling-paling itu modus ...." sergah Jojon yang memang lucu orangnya.
"Jangan berpikiran negatif. Tadi ibunya Yudi yang telpon, beliau kebingungan. Makanya Yudi disuruh pulang." kata Handoyo yang bijak.
"Coba, Yudi ditelpon, keadaan Rini bagaimana .... Nanti kalau Yudi tidak sanggup, Handoyo, yang dokter ke sana untuk mengobati!" perintah Anik pada sang dokter.
"Iya ...." sahut Handoyo yang langsung mengangkat HP.
"Tadi kok ya nggak diajak kesini sekalian itu lho...." kata Anik yang menyalahkan temannya.
"Halo, Yud .... Gimana?" tanya Handoyo pada Yudi melalui telpon. Panggilan langsung di loudspeaker, biar didengar teman-temannya.
"Ya, Han .... Ndak papa, hanya kecapaian dan kurang tidur." jawab Yudi.
"Perlu dokter, ngak, Yud?!" Anik menimbrung bicara.
"Hahaha .... Gak perlu. Teman-teman lanjutin saja. Gak usah khawatir." jawab Yudi untuk meyakinkan teman-temannya.
"Sudah ada dokter pribadi, ya .... Hahaha ...." ledek Jojon.
"Kasih minum air hangat, jika ada dikasih madu dan jeruk lemon ditambahi garam sedikit." kata sang dokter memberi instruksi.
"Siap, dok!" jawab Yudi.
"Suruh tidur dulu. Gak usah nyusul ke Parang Tritis." kata Alex.
"Siap, Ndan .... Mohon ijin sekalian, saya nunggui Rini sampai sehat." kata Yudi.
"Rini jangan dinakali,ya, Yud!" seloroh Anik.
"Oke. Salam buat ibu bapak kamu. Semoga Rini lekas pulih." kata Handoyo.
"Amin, terimakasih semuanya." sahut Yudi.
*******
Di ruang makan, Yudi bersama Rini, ibu dan bapaknya, menikmati makan malam bersama. Masakan ibunya Yudi kali ini tidak pedas, untuk menjaga perut Rini agar tidak sakit. Mereka menikmati rawon dengan lauk dendeng ragi. Selain itu juga tersedia telor asin yang ditaruh di piring.
"Ayo, Nak Rini ..., makan yang banyak, biar cepat sehat." kata ibunya Yudi pada Rini.
"Iya, Ibu .... Ini sudah banyak, kok." jawab Rini sambil menunjukkan piringnya.
"Tidak usah malu-malu, di sini temannya Yudi, semua sudah pada biasa, kalau makan pasti banyak. Anggap rumah sendiri." kata bapaknya Yudi.
"Iya, Bapak." jawab Rini yang lemah lembut, masih malu-malu.
"Nak Rini ini, rumahnya di mana?" tanya bapaknya Yudi lagi.
"Jakarta, Bapak." jawab Rini.
"Nak Rini, bapak sama ibu pengin, kamu malam ini tidur di sini. Buat teman bapak dan ibu." pinta ibunya Yudi.
"Ehg ....!" Yudi tersedak. Kaget mendengar kata-kata ibunya.
"Biar sehat dulu .... Biar pulih kekuatannya." timpal bapaknya.
"Iya ..., Ibu, Bapak .... Terimakasih, Ibu dan Bapak sudah sangat baik kepada saya." jawab Rini.
"Besok kami pulang ke Magelang, jadi biarlah malam ini kita bisa bersama di rumah Yudi." timpal Ibunya.
"Lha, tapi teman-teman di hotel nanti mencari kami, Bu!" sergah Yudi yang tidak ingin kalau Rini tidur di rumahnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa .... Kan bisa telpon." sahut bapaknya.
"Iya, Bapak, Ibu .... saya senang kalau diijinkan tidur di sini." jawab Rini sambil tersenyum. Hati Rini sangat senang bisa diterima oleh orang tua Yudi.
"Kami juga senang, kok. Sudah lama kami mendambakan menantu .... Apalagi seperti Nak Rini, cantik, baik, pinter ...." kata bapaknya Yudi.
"Lah, pakaiannya, gantinya, salin, bagaimana?" sergah Yudi.
"Gampang .... nanti beli di toko." sahut ibunya.
Rini menoleh Yudi sambil tersenyum. Senyum mengejek. Tanda kemenangan.
Tetapi Yudi terlihat sedih, khawatir tidak akan bisa tidur semalaman lagi.
"Bapak dulu seniman, ya?" tanya Rini pada bapaknya Yudi.
"Oo, iya .... Seniman tobong. Pemain wayang orang, Peran saya dulu Dursasana, musuhnya Werkudara. Waktu bapak masih muda, lincah dan wasis." jawab bapaknya Yudi.
"Makanya, Bapak ini kalau kemari, yang ditonton mesti teaternya anak-anak." timpal sang ibu.
"Hehe ..., pantas putranya pandai melukis. Punya keturunan darah seni." kata Rini.
Yudi menoleh ke Rini sambil memoncongkan bibirnya. Ingin memarahi Rini, tetapi tidak enak ada orang tuanya.
"Oo, iya ...! Yudi itu sejak kecil sudah ikut saya nggambar-nggambar di tonil panggung, itu gambar geber wayang orang." jelas ayahnya Yudi.
"Pantesan pinter nglukis cewek-cewek .... Hihihi ...." ledek Rini sambil menertawai Yudi.
Yudi yang tahu maksudnya Rini, ia menunduk. Ingin marah tetapi takut ada ayah ibunya. Maka ia hanya memendam kejengkelannya itu di dalam dada.
"Acara makan malam di sini begini ini terus ya, Bu?" tanya Rini pada ibunya Yudi.
"Ya, kalau kami pas di sini, ya begini." jawab sang ibu tersebut.
"Lah, kalau Bapak dan Ibu tidak di sini, siapa yang nemani Yudi?" tanya Rini lagi penuh selidik.
"Ya, itulah .... Nyari temannya yang belum ketemu. Makanya Nak Rini di sini saja, biar suasananya ramai, bisa menemani makan." kata sang ibu.
Yudi menundukkan kepala. Tidak berani bilang apa-apa. Kalaupun bicara, pasti salah.
Acara makan malam yang dirasa sangat berkesan bagi Rini. Bisa menikmati kebersamaan bersama keluarga, dengan canda tawa dan cerita-cerita sederhana. Di rumahnya, ia jarang makan malam bersama suaminya, apalagi bersenda gurau dan bercerita macam-macam. Suaminya sering pulang malam, sibuk dengan pekerjaannya. Makan pagi juga begitu, kayak dikejar waktu, selalu tergesa-gesa. Tetapi di rumah Yudi, entah ada apa bisa membuat hati Rini jadi senang dan tenteram. Padahal makanannya juga sederhana. Itulah hati, yang menentukan perasaan seseorang.
Malam terus merambat. Bapaknya Yudi berpamitan tidur. Demikian juga ibunya. Seperti biasa, Yudi membereskan piring dan gelas kotor, mencuci di wastafel.
"Aku bantu ya, Yud ...." kata Rini yang beranjak dari kursinya.
"Eit, jangan .... Tidak usah. Permaisuri duduk saja, nanti tanganmu kotor dan kasar." sergah Yudi yang melarang Rini.
"Yakin, nih ..., aku mau dijadikan permaisuri?" ledek Rini.
"Iya ..., kamu permaisurinya Mas Hamdan, aku kasimnya. Bagian bersih-bersih." tukas Yudi membelokkan arah pikiran Rini.
"Uh, gak mau. Aku maunya jadi permaisuri di rumah ini. Lihat bangunan rumahmu sudah mirip istana kerajaan jaman kuno. Harus ada permaisurinya yang ngurusi." Rini tidak kalah pintar untuk berdalih.
"Iya, iya .... Kalau dengan perempuan harus mengalah. Ngotot pun aku tidak bakal menang." kata Yudi pasrah.
Selesai membereskan ruang makan, Yudi meminta Rini istirahat.
"Monggo, Permaisuri, silakan istirahat dulu, biar kesehatannya cepat pulih." kata Yudi sambil meledek, tubuhnya membungkuk, tangannya mengacungkan jempol, layaknya ponggawa keraton mempersilakan bendoronya. Ia membukakan pintu kamar Rini.
"Aku gak mau tidur di sini." kata Rini yang tidak mau masuk ke kamarnya.
"Mau diantar ke hotel?" tanya Yudi.
"Nggak. Gak mau tidur di hotel." jawab Rini yang sudah memegang tangan dan melendot ke tubuh Yudi.
"Lah, terus?" tanya Yudi.
__ADS_1
"Aku mau tidur di kamar ujung itu." jawab Rini.
"Hah ...?! Ya sudah, silakan tidur di sana. Aku tidur di kamar ini." sahut Yudi yang berusaha masuk ke kamar yang disediakan untuk Rini.
"Enggak ..., kita di kamar itu berdua ...." Rini menyeret tangan Yudi.
Yudi pasrah, mengikuti kemauan Rini untuk masuk ke kamarnya. Mereka berdua akhirnya masuk ke kamar Yudi. Rini langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tidak lupa, tangannya menyeret Yudi. Yudi yang diseret spontan mendekat ke tubuh Rini, lantas Rini mencium pipi Yudi. Yudi yang berusaha mengelak, akhirnya kena juga.
"Yud, kenapa ya, kok aku merasa sangat nyaman sekali berada di kamar ini?" tanya Rini.
"Itu hanya perasaanmu saja." jawab Yudi yang duduk di kursi petarangan, yaitu kursi besar dari anyaman penjalin yang pada bagian pantat dibuat dalam dan besar seperti petarangan ayam. Kursi itu berada di samping kasur, dekat dengan bantal tempat kepala Rini. Tentu mereka nyaman berbincang.
"Nggak, Yud. Justru perasaanku, diriku akan tinggal di rumah ini selamanya." kata Rini yang tetap memandangi Yudi dari bantal tempat kepalanya.
"Sssttt ...!" Yudi mendekat ke wajah Rini, telunjuk tangan Yudi menutup mulut Rini.
"Kenapa?" tanya Rini.
"Pamali. Tidak boleh berkata seperti itu. Gak ilok." sahut Yudi.
"Yud, kamu pernah punya mimpi-mimpi untuk meraih bintang?" tanya Rini.
"Yah, yang namanya cita-cita itu harus dimiliki seseorang, untuk memotivasi dalam menggapai mimpinya. Ya tentu punya lah, Rin ...."
"Apa semua mimpi-mimpimu sudah terwujud? Yudi bisa menggapai bintang-bintang itu?" tanya Rini menelisik.
"Asal kita yakin, pasti bisa." jawab Yudi meyakinkan.
"Ada nggak, bintang yang tidak dapat kamu gapai?" tanya Rini lagi.
"Rini .... Dengar ya sayang ..., bintang di langit itu jumlahnya jutaan, bahkan milyaran. Mana mungkin bisa kita bawa semua? Pilih satu atau dua bintang, raih hingga tergapai, lalu bawa ke rumahmu, taruh di dalam kamar, biarkan bintang itu tetap bersinar dan memberikan cahaya kemilau dalam hidupmu." kata Yudi.
"Iiihh .... Pakai sayang-sayang segala, pamali tahu!" kata Rini sambil mencolek hidung Yudi.
"Membalas, ya ...." kata Yudi yang juga ikut mencolek hidung Rini.
"Mana bintangmu yang sudah tergapai?" tanya Rini.
"Ada, banyak .... Tuh, lihat .... Setiap hari bintang-bintang kecil berdatangan di rumah ini. Bahkan saking banyaknya bintang-bintang yang aku gapai, bintang-bintang itu aku sebar ke seluruh kampung. Kampung ini mimpiku, Rin." jawab Yudi sambil menunjukkan kampung tempat tinggalnya.
"Jadi .... Indahnya Kampung Nirwana ini hasil usahamu?" Rini terkagum.
"Aku hanya memberi motivasi, kepada masyarakat. Untung mereka menerimaku. Belum semuanya, masih banyak bintang yang aku mimpikan, belum dapat kugapai semuanya." sahut Yudi.
"Seorang Yudi sudah membangun keindahan sebanyak ini, masih belum selesai untuk menggapai mimpi?!" Rini benar-benar takjub dengan sikap laki-laki ganteng yang pernah ia kagumi, bahkan sampai sekarang pun Rini masih mengagumi.
"Butuh proses dan harus sabar." kata Yudi.
"Bisakah aku membantu untuk menggapai bintangmu, Yud?" tanya Rini.
"Dengan senang hati. Pasti aku berterimakasih padamu, Rin." jawab Yudi.
"Yudi .... Kalau diriku, termasuk salah satu bintang yang kau impikan, gak?" tanya Rini menggelitik.
"Rini .... Kamu lihat lukisan-lukisan itu? Ketika aku tidak sanggup menggapai bintang, cukuplah bagiku untuk melukis bintang-bintang itu dan menempelkan di setiap dinding kamarku, agar selalu dekat denganku, untuk menemani lamunanku, menemani tidurku, bahkan memberi inspirasi kepadaku. Itulah bintang-bintangku." jawab Yudi sambil menunjuk lukisan-lukisan yang terpajang di dinding kamarnya, tentu semua lukisan tentang Rini.
"Iiihh ...! Teganya kamu, Yud!" kata Rini yang tak lupa mencolek hidung mancung Yudi.
"Lah, kan bintangnya sudah diambil orang." sahut Yudi.
"Tapi seandainya bintang yang ada di kamarmu ini bukan sekedar lukisan, melainkan bintang yang sesungguhnya, bintang yang hidup, bintang yang bisa bernyanyi dan menari, apakah kamu akan memajangnya juga?" tanya Rini.
"Tidak cuman aku tempelkan di dinding kamar, melainkan akan aku tempel di sudut-sudut kampung, untuk memberikan cahayanya yang berkilau kepada seluruh masyarakat Kampung Nirwana, bahkan kepada setiap orang yang datang ke kampung ini." jawab Yudi.
"Iiihh ..., jahat ...! Berarti kamu akan mengobral diriku?!" tukas Rini yang langsung memukuli dada Yudi.
"Kilauan cahayamu, Rin .... Pemikiran-pemikiran, ide-ide, kreasi-kreasi, amalan-amalan, budi baik, sumbangsih ...." jelas Yudi.
__ADS_1
"Ooo .... Aku kira .... Ya, udah ..., besok kita gapai bintang-bintang itu bersama-sama." kata Rini yang rupanya sudah mengantuk. Tak lupa, kepalanya mendongak, langsung mencium Yudi. Selanjutnya menutup tubuhnya dengan selimut, memejamkan mata.
Yudi pun meraih bantal dan menaruhnya di kursi untuk mengganjal kepalanya. Mereka berdua tidur pulas. Bermimpi menggapai bintang bersama-sama.