
Mendengar berita Rini masuk rumah sakit lagi, Yudi bergegas menuju Jakarta. Walaupun Yudi sudah berusaha melupakan Rini, meski hatinya mulai terisi dengan kata-kata cinta dari Yuna, tetapi perasaan Yudi tidak bisa dibohongi, bahwa nama Rini itu sudah melekat erat dalam sanubarinya. Apalagi saat Silvy yang sudah menganggap dirinya sebagai papahnya, menelepon dengan isak tangis, mengharap kehadiran Yudi untuk menjenguk mamahnya. Meski dengan berat hati, akhirnya Yudi melangkah juga untuk menjenguk Rini yang masih terbaring di rumah sakit.
Dengan naik kereta malam dari Stasiun Tugu Yogyakarta, Yudi berangkat menuju Stasiun Gambir Jakarta Pusat. Naik Kereta Argo Dwipangga, berangkat dari Jogja hampir jam sembilam malam, sampai di Jakarta hampir jam setengah lima pagi. Setelah turun di Stasiun Gambir, Yudi istirahat sejenak untuk mencuci muka dan membersihkan tubuhnya. Selanjutnya naik taksi menuju rumah sakit tempat Rini dirawat. Sekitar tiga puluh menit, Yudi sampai tempat yang dituju.
Tepat jam enam pagi Yudi sampai di rumah sakit. Dengan menyangklong tas punggung yang berisi pakaian ganti, tangan kanan Yudi membawa dus berisi buah tangan, sedangkan tangan kiri Yudi menenteng barang yang dibungkus kertas coklat, semacam kado. Ya, isinya adalah lukisan Silvy. Hadiah untuk anak kesayangan. Yudi langsung menuju pintu masuk, dan bertanya pada petugas rumah sakit untuk ditunjukkan ke ruang VVIP atas nama pasien Rini.
Setelah ditunjukkan dan diantar oleh petugas, Yudi langsung mengetuk pintu, lantas menarik handel membuka pintu dan masuk.
"Selamat pagi Rini ...." salam dari Yudi saat masuk ruangan.
"Yudi ...!! Benarkah ini Yudi ...?!" Rini terkejut melihat orang yang datang.
Maklum, di kamar rawat inap itu Rini sendirian. Tidak ada orang yang menjaga. Maka dengan kehadiran Yudi di pagi yang masih sepi itu, Rini kaget. Seakan tidak percaya dengan orang yang masuk ke ruangnya.
"Benar, Rini .... Ini yang datang adaah Yudi." jawab Yudi sambil tersenyum, langsung menghampiri Rini yang terbaring di tempat tidur pasien.
"Ya ampun Yudi .... Siapa yang kasih tahu kamu? Kenapa kamu repot datang kemari?" tanya Rini yang masih keheranan dengan kehadiran Yudi.
"Kemarin Silvy meneleponku. Aku sangat khawatir, Rini. Sengaja aku sempatkan menjengukmu, Rini. Ingin menjadi tabib untuk mengusir penyakitmu, menyembuhkan sang permaisuri yang sedang tergeletak sakit." kata Yudi yang benar-benar membuat angan Rini kembali melambung.
"Ya ampun, Yudi .... Dirimu ..., oh .... Yudi .... Aku ..., oh .... Yudi ...." Rini berusaha meraih kepala Yudi, lantas mencium laki-laki itu sambil menangis sesenggukan.
"Sudah, Rini ..., jangan banyak gerak dulu. Ayo berbaring. Aku akan menunggui dirimu di sini." kata Yudi mesra, yang kemudian mengambil kursi, duduk tepat di depan tatapan Rini.
Rini kembali merebahkan kepalanya di bantal. Menuruti kata-kata Yudi. Air matanya masih menetes. Tangan Yudi dengan lembut menyeka air mata tersebut. Kasihan sekali melihat tubuh cantik yang pernah dia kagumi saat SMA, kini tergolek lemas di bed rumah sakit.
Tangan Rini memegang tangan Yudi yang menempel di pipi. Ada kehangatan dari telapak tangan laki-laki yang diam-diam ia kagumi.
"Kok sepi? Tidak ada yang jaga?" tanya Yudi mengalihkan lamunan Rini.
"Mas Hamdan baru saja pulang, nanti langsung ke kantor. Biasanya Silvy bersama suaminya, sebelum ke kantor mampir jenguk mamahnya dulu. Paling sebentar lagi datang." jawab Rini.
Dan benar yang dikatakan Rini. Tak berselang lama, pintu diketuk, ada yang masuk. Silvy bersama suaminya.
Yudi menoleh ke arah pintu. Melihat orang yang datang.
"Hah ...?! Papah Yudi ...!!" Silvy berteriak gembira.
Spontan Silvy menubruk dan memeluk Yudi. Suaminya hanya bisa memandangi isterinya yang kelewat gembiranya.
"Papah .... Silvy kangen, Pah ...." kata Silvy yang memanja ke Yudi.
"Silvy ..., kok begitu sih, sikapmu .... Kayak anak kecil saja. Ayo lepasin. Gak baik, Silvy." kata Rini yang mengingatkan sikap Silvy yang berlebihan pada Yudi.
"Gak papa, Mah .... Silvy kangen .... Eh, Pah ..., kenalin, ini suami Silvy. Cakep kan, Pah." kata Silvy yang mengenalkan suaminya pada Yudi.
Selanjutnya Yudi bersalaman dengan suami Silvy. Mas, ini Pak Yudi yang saya ceritakan. Dia hebat, Mas ...." kata Silvy pada suaminya.
"Papah nyampai kapan?" tanya Silvy pada Yudi.
"Baru saja. Sekitar lima menit yang lalu." jawab Yudi.
"Mis Yuna mana, Pah? Ikut kemari nggak?" tanya Silvy pada Yudi yang merasa kangen dengan Yuna.
"Tidak, Silvy .... Mis Yuna kan sudah balik ke Jepang." jawab Yudi.
Tentu jawaban itu membuat kecewa bagi Silvy, tetapi bagi Rini ..., kepulangan Yuna ke Jepang akan membuat hatinya menjadi tenteram. Ya, gadis yang menyaingi dirinya sudah jauh dari Yudi.
"Papah Yudi naik apa, ke Jakartanya?" tanya Silvy lagi.
__ADS_1
"Naik kereta. Biar bisa tidur. Oh ya, Silvy ..., ini saya bawa oleh-oleh." kata Yudi menunjukkan dos isi oleh-oleh.
"Asyiik .... Ada bakpianya, nggak?" tanya Silvy.
"Tentu ada .... Oleh-oleh khas Jogja. Tapi yang gudeg, khusus buat mamah ya ...." kata Yudi.
"Iih .... Spesial, nie yee ...." ledek Silvy.
"Kesukaan mamah kamu, kalau tidak saya bawakan gudeg khawatir nanti ngambek. Oh ya, ini ..., hadiah khusus untuk Silvy." Yudi mengambil bungkusan kertas coklat, menyerahkan kepada Silvy.
"Hah ...?! Apa ini, Pah ...?" tanya Silvy.
"Dibuka saja. Coba lihat isinya." sahut Yudi.
Lantas Silvy membuka kertas pembungkusnya. Ingin segera melihat isi barang yang ada dalam kardus, hadiah dari papah angkatnya.
"Wao .... Wao ..., wao ..., wao .... Indah sekali, Pah .... Mas, akhirnya aku dilukis, Mas .... Ayo, Mas, dinilai .... seperti yang dulu waktu Mas menilai orang sebelum tahu lukisannya. Ayo Mas, sekarang ada orang yang melukis dan ada hasil lukisannya. Bagaimana, Mas?" kata Silvy yang memberikan lukisan itu pada suaminya.
Suaminya menerima lukisan yang diberikan oleh Silvy. Lantas laki-laki muda itu mengamati secara saksama. Bahkan menaruh likisan itu di kursi, lantas berkali-kali geser ke kanan dan ke kiri, miring kanan miring kiri, mengamati lukisan istrinya itu. Ia terkagum dan takjub.
"Mona Lisa .... Leonardo da Vinci" gumam suami Silvy saat mengamati lukisan itu.
Lukisan itu betul-betul seperti wajah istrinya yang menempel di kanvas. Bahkan dari kejauhan tampak seperti mengajak tersenyum. Lukisan itu benar-benar hidup.
"Waktu dilukis, Silvy ada di sana sebagai model, tidak?" tanya suaminya sambil mengamati lukisan istrinya.
"Tidak ...." jawab Silvy.
"Silvy berikan foto pada Papah Yudi untuk dilukis?" tanya suaminya yang juga ikut-ikutan memanggil Papah kepada Yudi.
"Tidak ...." jawab Silvy.
"Saya tidak tahu. Coba tanyakan langsung ke Papah Yudi, Mas." sahut Silvy yang memang merasa tidak pernah tahu saat dilukis.
"Papah Yudi melukis Silvy hanya dengan mengingat saat melihatnya saja? Dan itu hanya dalam waktu sebentar?" tanya suami Silvy kepada Yudi.
"Hhhm ...." Yudi hanya melebarkan bibir, tersenyum manis.
"Ya ampun, Silvy .... Saya harus berguru pada Papah Yudi. Pah, boleh saya belajar sama Papah Yudi?" kata suami Silvy.
Yudi tidak menjawab. Hanya menganggukkan kepala dan senyuman yang menyenangkan.
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Silvy yang justru bingung dengan sikap suaminya.
"Hanya orang-orang dengan ketenangan tinggi, yang sanggup melukis tanpa melihat obyek yang dilukisnya. Di muka bumi ini tidak banyak yang bisa seperti ini. Dari buku yang saya baca, hanya Raden Saleh yang sanggup melukis dalam emosional tinggi." jelas suami Silvy.
"Tidak hanya Raden Saleh, Mas .... Masih ada banyak pelukis yang hebat. Jangan bandingkan saya dengan mereka. Saya ini hanya orang biasa, kebetulan senang melukis. Lukisan saya tidak ada apa-apanya dengan lukisan mereka. Jangan sanjung terlalu tinggi, nanti saya jadi takabur." sahut Yudi sambil menepuk pundak suami Silvy.
"Benar penilaianku waktu itu, kan .... Orang ini hebat, Silvy. Papah Yudi ini teguh dalam mempertahankan kesetiaannya. Kamu mesti bangga, Silvy, bisa dekat dengan Papah Yudi. Pokoknya besok saya mau berguru pada Papah Yudi." kata suami Silvy yang menggebu-gebu.
"Berarti Silvy nggak salah kan, kalau membanggakan Papah Yudi." sahut istrinya.
"Sudah siang, Silvy .... Mau berangkat kerja apa tidak, nanti terlambat." kata-kata Rini memudarkan keributan suami istri muda itu.
"Eh, iya .... Ayo, Mas .... Kita terlambat ke kantor. Papah Yudi di sini dulu. Jangan pulang dulu. Pokoknya nanti kita ngobrol lagi." kata Silvy yang terburu berangkat kerja.
Lantas Silvy mendekat ke mamahnya. Bersalaman dan mencium tangan mamahnya. Rini menyempatkan mencium kening anaknya. Demikian juga suaminya, menyalami ibu mertuanya dan mencium tangan. Dua orang suami istri ini juga menyalami Yudi. Terutama Silvy, justru memeluk tubuh Yudi. Lantas mereka berangkat menuju kantor.
Yudi kembali duduk di kursi, yang sengaja diletakkan dekat wajah Rini. Tujuannya Yudi bisa leluasa bicara dengan Rini.
__ADS_1
"Ach .... Yudi ..., Yudi .... Ada magnet apa sih dalam dirimu? Kemarin anakku, sekarang menantuku. Semuanya tergila-gila padamu, Yudi ...." kata Rini yang dalam hatinya memuji kehebatan Yudi.
"Jangankan anak dan menantunya tidak tergila-gila padaku ..., mamahnya saja lebih tergila-gila .... Hehe ...." sahut Yudi yang meledek Rini.
"Iih .... Ge er ...." kata Rini yang tidak mau diejek.
"Kamu sakit apa, Rin?" tanya Yudi yang mengelus rambut Rini.
"Tidak tahu, Yud .... Kata dokter detak jantungku kurang stabil. Katanya karena kecapaian." jawab Rini pasrah.
"Jangan-jangan ...." kata Yudi terhenti.
"Jangan-jangan apa, Yud? tanya Rini penasaran.
"Rini, maafkan diriku. Mungkin karena diriku, Rini jadi terbeban memikirkan yang tidak karuan. Jangan hiraukan aku. Diriku sangat enjoi dengan keadaanku saat ini. Jadi, Rini jangan terlalu memikirkan diriku." kata Yudi mencoba memberi pengertian kepada Rini.
Tangan Rini menggenggam erat tangan Yudi. Tidak ingin dilepaskan. Perlahan air mata kembali menetes membasahi hidung dan pipi Rini.
Yudi kembali menyeka air mata itu dengan jemari tangannya. Lembut dan mesra.
"Tapi, Yud .... Aku tidak tega melihatmu menderita karena diriku." kata Rini menyesal.
"Rini ..., aku tidak apa-apa .... Yakin. Seperti hidupku sebelum kembali bertemu dengan dirimu saat reuni. Apakah Rini tahu kehidupanku waktu itu, tidak kan? Aku enjoi, Rin. Banyak yang bisa aku kerjakan, banyak yang bisa aku sumbangkan untuk masyarakat di kampungku." kata Yudi lagi.
"Tapi hidupmu sepi, Yud. Rumahmu yang besar seperti istana juga kosong. Masak raja kok tidak punya permaisuri ...." kata Rini.
"Rini mau ramai yang seperti apa? Keramaian anak-anak? Setiap hari di rumahku penuh anak-anak. Saudara? Orang-orang sekampung semuanya menganggap saudara pada diriku. Jadi, Rini jangan khawatirkan diriku." tambah Yudi.
"Iya, Yudi .... Tapi apapun keadaanmu, aku tetap merasa bersalah." sahut Rini.
"Rini .... Saya tahu penyakitmu. Rini sakit karena memikirkan diriku. Padahal saya sendiri tidak ngapa-ngapa. Jadi Rini sudah keliru, Rini menyakiti diri sendiri. Rini pengin sembuh?" lanjut Yudi.
"Iya, Yud ...." sahut Rini.
"Jika Rini ingin sembuh, berfikirlah positif. Jangan memandang negatif tentang saya. Ayo, semangat!!" kata Yudi yang memberi semangat pada Rini.
Terdengar suara pintu diketuk. Ada perawat yang masuk.
"Selamat pagi, Ibu Rini .... Sarapan ya, Bu ...." kata perawat yang mengantar makan pagi.
"Iya, Suster .... Terima kasih." jawab Rini.
"Mau disuapi, Ibu Rini?" tanya perawat itu.
"Tidak usah, Suster .... Biar saya yang nyuapi. Terima kasih." Yudi menyahut.
"Baik ..., terima kasih, selamat makan." kata suster itu yang langsung meninggalkan ruangan.
Yudi langsung mengambil piring berisi nasi agak lembek, seperti bubur. Ada sayur ca sawi, ada lauk ayam bumbu kecap dan telor mata sapi.
"Ayo, Rini ..., saya suapi. Biar energimu pulih." kata Yudi yang sudah mengarahkan sendok berisi makan ke mulut Rini.
Berkali-kali sendok itu masuk ke mulut Rini. Yudi senang orang yang disuapi mau makan dengan lahap.
Rini merasa terharu. Baru kali ini ia merasakan kemesraan yang amat sangat dirindukan. Kemesraan disuapi makan oleh Yudi.
"Yudi ..., kamu terlalu baik untukku. Terima kasih untuk segalanya. Doakan saya lekas sembuh ya, Yud ...." kata Rini pada Yudi, dengan penuh harap.
Mungkin Yudi inilah, dokter cinta yang bisa memberikan obat mujarab bagi kesembuhan sakitnya Rini. Tabib asmara yang akan mengusir penyakit cinta. Semoga saja sang permaisuri cepat sembuh, agar sang raja kembali tersenyum.
__ADS_1