KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 168: MIMI LAN MINTUNO


__ADS_3

    "Wah ..., Mas Yudi dan Mbak Yuna ini seperti mimi lan mintuno." kata salah seorang ibu-ibu yang sedang belanja di warung sayur.


    "Iya ..., runtang-runtung berduaan terus ...." sahut ibu yang lain.


    "Walah ..., yang jalan-jalan ..., enaknya jadi pengantin baru ...." sahut yang lain pula.


    "Ke barat ..., bareng .... Ke timur ..., bareng .... Ke utara ..., juga bareng. Ke selatan ya pasti bareng. Wis, pokoknya asyik lah ...." sahut yang lain lagi.


    "Ya ini ..., yang namanya mimi lan mintuno." kata sang bakul.


    "Jangan pada ngiri .... Sampeyan dulu waktu manten anyar juga begini, kan?" Yudi menyahut sambil tersenyum.


    "Halah, Mas Yudi .... Boro-boro .... Saya itu habis mantenan malah ditinggal mengembara sama bapaknya. Pulang-pulang, si genduk sudah gede, sudah bisa mbrangkang." sahut si bakul sayur.


    "Sama dengan saya, Yu .... Lha wong nikahan belum rampung, bapakne itu sudah ditunggu temannya, diajak berangkat kerja ke Kalimantan. Sampai sekarang tidak pulang. Untung aku belum gitu-gituan, jadi ya tidak ditinggali anak. Hehe ...." sahut lainnya.


    "Hahaha ...." semua orang yang ada di situ tertawa mendengar ceritanya.


    "Beruntung, Mbak Yuna .... Bisa jalan-jalan bareng sama Mas Yudi." kata ibu-ibu yang ada di warung itu.


    "Ya ..., saya bersyukur bisa bepergian bareng .... Terima kasih, ya .... Kami mau jalan-jalan lagi. Monggo ...." kata Yudi.


    "Ya, Mas Yudi ..., Mbak Yuna .... Silakan ...." sahut ibu-ibu yang ada di warung itu.


    Baru selangkah berjalan, ada bapak-bapak yang bertemu di jalan. Lalu sang bapak itu bilang, "Mas Yudi ...! Mbak Yuna ...! Jalan-jalan, ya ...?"


    "Iya, Pak Lik ...." jawab Yudi.


    "Waah .... Seperti mimi lan mintuno ...." kata si bapak yang ketemu di jalan itu.


    "Hehehe .... Nggih, Pak Lik .... Ini Pak Lik mau ke mana?" Yudi ganti bertanya.


    "Halah ..., ini lho mau mengambil kelapa di kebun." jawab si bapak yang terus berjalan itu.


    "Hati-hati, Pak Lik ...." kata Yudi melepas kepergian bapak-bapak itu.

__ADS_1


    Yudi dan Yuna pun melanjutkan langkah kakinya. Melewati rumah para tetangga. Yang tentunya masih bergandengan tangan.


    "Monggo, Mbah ...." kata Yudi saat melihat seorang nenek yang sedang menyapu halaman rumah.


    "We alah ..., Mas Yudi to ini .... Ini Mbak Yuna, ya .... Walah, seperti mimi lan mintuno ...." sahut si nenek tersebut.


    "Walah, Simbah Putri itu lho .... Cuma jalan-jalan, Mbah ...." jawab Yudi.


    "Mampir dahulu .... Monggo pinarak ...." kata si nenek menyuruh Yudi dan Yuna untuk mampir ke rumahnya.


    "Terima kasih, Mbah ...." sahut Yuna yang terus melangkah, berjalan bersama suaminya.


    "Monggo, Mbah ...." tambah Yudi.


    "Yo ...." balas si nenek yang terus mengawasi kepergian dua orang itu, yang dianggapnya seperti mimi lan mintuno.


    Setiap ketemu orang yang dijumpai di jalan, Yudi dan Yuna selalu dikatakan seperti mimi lan mintuno. Bagi Yudi, itu sudah biasa didengar. Tetapi bagi Yuna, itu kata-kata asing yang baru didengarnya. Tentu memunculkan rasa ingin tahu baginya.


    "Mimi lan mintuno itu apa, Yudi ...? Kok setiap orang yang bertemu kita selalu mengatakan kata-kata itu." tanya Yuna saat meninggalkan sang nenek yang juga mengatakan kata mimi lan mintuno, seperti halnya yang dikatakan oleh orang-orang yang ditemui sebelumnya.


    "Ooh ..., itu .... Mimi lan mintuno itu nama hewan jenis ketam. Dalam bahasa Indonesia nama hewan ini adalah belangkas. Dalam bahasa Inggris disebut horseshoe crabs atau ketam ladam. Diberi nama horseshoe crabs karena bentuknya yang mirip sepatu tapal kuda. Orang Jawa memberi sebutan 'mimi' untuk belangkas berjenis kelamin betina, dan 'mintuno' untuk yang berjenis kelamin jantan. Hewan ini hidup di perairan dangkal daerah pantai, pada daerah payau dan di kawasan hutan mangrove. Yang paling unik pada hewan mimi dan mintuno ini, dua hewan berlainan jenis ini selalu berjalan beriringan bersama-sama, yang betina di depan dan yang jantan di belakang, tidak mau terpisahkan. Hewan ini monogamis, satu betina satu jantan, tidak mau berganti-ganti pasangan. Bahkan dikatakan hewan ini punya daya tahan hidup yang sangat lama, asalkan mereka tidak dipisahkan dari pasangannya. Bahkan sudah ada penelitian yang menyebutkan, kalau hewan ini dimasak, maka harus dimasak secara bersamaan atau sepasang, agar bisa dimakan. Tetapi kalau dimasak terpisah dengan pasangannya, hewan ini akan mengeluarkan racun. Bisa mematikan bagi yang memakannya. Jadi ..., kalau kita berjalan berduaan sambil bergandengan begini ini, itu yang mereka katakan kita ini seperti mimi dan mintuno." jelas Yudi pada Yuna.


    "Iya .... Pasangan yang setia sampai mati." sahut Yudi.


    "Benarkah ...?!" tanya Yuna.


    "Benar. Aku akan menjaga kamu sampai akhir hayatku. Jika kelak kita terpisahkan, maka aku tidak akan menikah lagi. Itu sumpahku." kata Yudi meyakinkan cintanya pada Yuna.


    "Rayuan gombal ...." sahut Yuna yang mengejek suaminya.


    "Iih .... Benar, Sayang ...." kata Yudi yang langsung mencolek hidung istrinya.


    Itulah gambaran mimi lan mintuno yang diungkapkan oleh orang-orang Kampung Nirwana kepada Yudi dan Yuna. Yuna dan Yudi kini selalu bersama saat bepergian. Berjalan berkeliling kampung, menyapa para tetangga, mengelus kepala anak-anak, dan yang paling sering menemui para simbok bakul untuk menggoda mereka. Dan akhirnya, simbok-simbok penjual jajanan itu memberikan makanannya kepada Yuna. Dan yang tidak kalah ketinggalan, Yuna dan Yudi bersama-sama mengawasi Taman Awang-awang, maupun keliling kampung mengamati tempat-tempat untuk kegiatan anak-anak maupun remaja dan karang taruna.


    Waktu terus berjalan. Hari pun mulai sore. Yuna mengajak Yudi duduk di tepi selatan Taman Awang-awang. Di pinggir samudera. Tempat yang sejak zaman pertama kali membangun Taman Awang-awang, Yuna selalu menyaksikan keindahan Laut Selatan yang seakan mengajak dirinya berbicara.

__ADS_1


    "Yudi .... Kamu ingat tempat ini? Dahulu waktu kita membangun tempat ini, setiap sore aku menunggu Yudi di sini." kata Yuna pada Yudi.


    "Iya .... Saya ingat itu. Dan Yuna selalu bermanja di pundakku." jawab Yudi.


    "Kamu ingat cincin yang kita kenakan ini?" tanya Yuna lagi.


    "Iya .... Waktu itu, kita meminta restu dari Ratu Pantai Selatan, untuk memberikan jawaban tentang cinta kita. Meski orang lain menganggap itu hanya mitos, tapi faktanya, Yuna sudah mendapat jawaban. Tubuhmu diguyur dengan air oleh Kanjeng Ratu. Seluruh tubuh Yuna basah. Bahkan Yuna tidak berdaya. Lantas saya bopong ke mobil dan saya buka seluruh pakaian Yuna yang basah, lantas saya tutupi tubuh kamu dengan kain seadanya. Dan sore hari berikutnya, kita menemukan cincin ini dalam genangan air laut yang membasahi tubuh kamu." kenang Yudi pada peristiwa kala itu, di saat-saat pertama membangun Taman Awang-awang.


    "Yudi, setiap kali saya duduk di sini, di tempat ini ..., saat saya menatap samudera biru, menyaksikan ombak-ombak yang berkejaran, saya merasakan ada yang aneh tentang laut ini. Saya paham, tetapi asing. Tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata." kata Yuna pada suaminya.


    "Itu hanya perasaan Yuna ...." sahut Yudi.


    "Iya, Yudi .... Tetapi setiap kali saya menyaksikan laut lepas, di cakrawala selatan, seolah ada bala tentara yang akan mendatangi saya, dan hendak mengajak saya pergi ...." kata Yuna yang mengisahkan penglihatan batinnya.


    "Ah, jangan mengkhayal seperti itu, Sayang ...." kata Yudi pada istrinya.


    "Iya, Yudi ...." sahut Yuna yang kemudian merebahkan kepalanya di pundak suaminya. Persis sama saat setiap sore dahulu, ketika mereka berdua mengamati ombak Pantai Selatan.


    Yudi mengelus rambut istrinya. Mesra sekali. Mereka berdua memandang keindahan gelombang samudera biru. Walaupun angan mereka sudah melayang ke khayalan Yuna.


    "Yudi ..., benarkah kita ini seperti mimi dan mintuno?" tanya Yuna tiba-tiba.


    "Semoga saja begitu. Cinta kita tidak terpisahkan untuk selamanya." sahut Yudi.


    "Yudi, benarkah kalau mimi dan mintuno itu dipisahkan antara yang jantan dan betina, lantas dia akan mati?" tanya Yuna lagi.


    "Iya .... Mungkin nyawa dari pasangan mimi dan mintuno ini sudah saling menyatu dengan rasa kesetiaan. Atau setidaknya, jika salah satu pasangan dari mereka hilang, yang satunya akan mengalami stres berat, yang akhirnya akan cepat mati." kata Yudi yang melogika. Karena hal ini memang belum ada penelitiannya.


    "Yudi, perasaanku tentang cincin yang kita pakai, adalah ikatan nyawa bagi kita. Seperti mimi dan mintuno itu. Kita sudah diikat oleh Kanjeng Ratu Laut Selatan. Agar kita menjadi mimi dan mintuno." kata Yuna yang mulai senang dengan cerita mistis tentang Ratu Laut Selatan.


    "Mungkin juga seperti itu, Sayang. Tapi meskipun ini tidak ada hubungannya antara cincin dengan mimi dan mintuno itu, yakinlah, bahwa aku akan setia mendampingi Yuna." kata Yudi yang lagi-lagi meyakinkan.


    "Terima kasih, Sayang ...." kata Yuna yang semakin erat mendekap pinggang suaminya.


    "Mimi lan mintuno .... Benarkah cincin ini ikatan dari Kanjeng Ratu Laut Selatan, untuk menciptakan mimi lan mintono pada diriku dan Yuna ...?" pikiran Yudi penuh tanda tanya.

__ADS_1


    Sore mulai menurun. Matahari sudah mendekati cakrawala barat. Sebentar lagi akan datang malam. Gelombang samudera semakin meninggi, pengaruh dari gravitasi bulan purnama.


    Yudi dan Yuna masih duduk di tempat kesayangannya. Menyaksikan indahnya ombak yang bergulung-gulung. Lantas hempasan gelombang yang sangat tinggi, datang memercikkan air, membasahi mimi lan mintuno.


__ADS_2