
Pesta pernikahan Yudi dan Yuna belum berakhir, meski jam dua siang rombongan pengantin bersama keluarga sudah meninggalkan panggung, untuk berganti busana. Dalam istilah pengantin Jogja, acara ini disebut dengan lukar busana keprabon. Yaitu melepas pakaian kebesaran pengantin yang berupa pakaian raja dan ratu bagi pengantin. Di mana Yudi yang mengenakan pakaian adat raja Jawa, sedangkan Yuna mengenakan pakaian adat dari Jepang. Kemudian, dua pengantin tersebut akan berganti dengan pakaian santai yang tidak terlalu menyusahkan. YUdi mengenakan baju batik lengan panjang. Sedangkan Yuna mengenakan rok dan baju batik yang sama dengan yang dikenakan oleh Yudi. Demikian juga orang tua Yudi maupun keluarga Yuna. Mereka mengenakan baju batik yang seragam. Sama dengan baju yang dipakai pengantin.
Meski pengantin sudah tidak berada di panggung, tamu masih belum beranjak dari tempat duduk. Mereka asyik menyaksikan kethoprak. Apalagi warga Kampung Nirwana, yang sudah lama tidak menyaksikan hiburan kethoprak. Maka begitu ada tanggapan kethoprak, maka seluruh warga, tua muda, laki perempuan, remaja maupun anak-anak, semua berdatangan ke lapangan, di tempat pernikahan Yudi dan Yuna, untuk menyaksikan hiburan tersebut. Apalagi kelompok kethoprak Wargo Budoyo, siang itu melakonkan Warok Suro Menggolo, lakon kethoprak yang penuh intrik persaingan antara orang-orang sakti di kalangan para warok. Apalagi pementasannya ditambahi dengan kelucuan-kelucuan dari pelawaknya, tentu akan membuat gelak tawa para penonton. Tentu mereka menjadi betah untuk tetap menonton. Hingga sore, lapangan tempat pesta pernikahan itu ramai, sampai berakhirnya cerita kethoprak.
Malam hari, mestinya Yudi dan Yuna akan menikmati malam pertama. Namun di lapangan, malam itu ada pertunjukkan wayang kulit. Yang tentu tidak kalah seru dengan wayang orang maupun kethoprak. Seluruh penduduk berdatangan menyaksikan wayang kulit. Tentu di situ sudah disediakan makanan-makanan yang bisa dinikmati oleh para penonton. Tentu tidak hanya warga Kampung Nirwana saja yang menyaksikan pertunjukan wayang. Teman alumni Yudi, maupun para seniman, masih banyak yang menyaksikan wayang kulit. Pak Profesor juga ikut hadir menyaksikan. Termasuk ada turis-turis asing yang berdatangan, yang tentu ingin mengabadikan tontonan yang tidak ada di negerinya.
Demikian juga Yuna, yang tidak mau ketinggalan untuk tahu seperti apa pertunjukkan wayang kulit, yang merupakan kesenian tradisional khas Jawa dan sudah masuk dalam warisan kebudayaan dunia dan dicatat oleh UNESCO. Tidak hanya Yuna, ayah dan ibu serta paman Yuna, juga ingin menyaksikan pertunjukan wayang kulit tersebut. Dan tentu, tidak ketinggalan, ayah dan ibunya Yudi. Walaupun mereka berasal dari Magelang, orang Jawa asli, dan bahkan ayah Yudi adalah seniman tobong yang sangat lekat dengan budaya Jawa, tetapi malam itu, mereka tetap akan menyaksikan pertunjukan wayang kulit tersebut. Apalagi, malam itu dalangnya adalah Warseno Sleng, dalang kontemporer yang sangat terkenal. Malam itu, ki dalang Warseno Sleng melakonkan ceritera 'Dewa Ruci'. Sebuah lakon wayang yang menceritakan kisah Bima yang bertemu dengan seorang dewa di tengah samudera.
Para orang tua, ayah dan ibu Yudi, serta keluarga Yuna, duduk berjejer di kursi yang tadi siang dijadikan sebagai panggung pengantin. Mereka saling tertawa, walau bahasa yang dikatakan antara orang tua Yudi dan keluarga Yuna, tidak saling mengerti artinya.
Sedangkan Yudi dan Yuna, juga duduk di kursi pengantin, tetapi kursi itu sudah digeser maju ke depan, lebih dekat dengan panggung pertunjukan wayang. Tentu Yuna ingin menyaksikan secara dekat, agar lebih jelas untuk melihat perwujudan wayang. Di situ pula, teman-teman Yudi yang menyaksikan wayang, ikut duduk mendampingi pengantin.
Yuna tentu ingin tahu banyak tentang cerita wayang kulit yang baru kali ini ia saksikan. Di Jepang tidak ada wayang kulit.
"Jleng ..., jleng ..., jleng ...."
Musik gamelan yang dipadukan dengan alat musik modern, sudah dipukul dan menghasilkan harmonisasi yang menggelegar. Bersamaan dengan suara musik kontemporer itu, cahaya lampu aneka warna menyala berpadu padan, menghasilkan keindahan yang luar biasa menarik para penonton.
Tepuk tangan dan sorak sorai dari para penonton, mengapresiasi bagusnya pertunjukan yang ditampilkan oleh Ki Dalang Warseno bersama grupnya.
"Wao ..., keren sekali, Yudi .... Ini pertunjukan yang menarik." kata Yuna pada Yudi, yang memuji bagusnya pertunjukan wayang kulit.
"Jleng ..., jleng ..., jleng ...." kembali suara musik menghentak.
__ADS_1
Sang dalang memegang dua gunungan, kemudian diangkat dan diputar-putar. Naik, lalu turun. Lantas, dua gunungan itu secara berhimpitan menancap di tengah-tengan layar pakeliran.
"Huuung .... Hoong ..., wilaheng sekaring bawono langgeng ...." sang dalang mulai bersuluk. Pertanda pagelaran wayang dimulai.
"Ini baru dimulai ...." bisik Yudi pada Yuna.
"Jleng ..., jleng .... Duer ..., duer .... Tung kling .... pung .... pung ...." kembali musik gamelan yang berpadu dengan drum dan jidur terus berkumandang.
Sang dalang mengangkat dua gunungan dari tengah layar, muncul diantara dua gunungan itu seorang tokoh pewayangan tinggi besar dan gagah. Dialah Bima. Putra Pandawa yang gagah perkasa.
"Dikisahkan dalam cerita ..., Bima mendapat tugas dari gurunya, untuk mencari air suci prawitasari, yaitu air penghidupan, air yang dapat digunakan untuk menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang yang sudah mati, bahkan siapa yang meminum air penghidupan ini, ia akan hidup kekal selamanya. Air suci prawitasari itu terdapat di hutan Tikbrasara, di lereng Gunung Reksamuka. Tikbrasara artinya laku prihatin untuk mencapai suatu keberhasilan. Sedangkan Reksamuka berarti memelihara muka atau wajah, yang dimaksud adalah menjaga nama baik. Mendapat perintah itu, berangkatlah Bima. Segala rintangan ia lalui. Gunung tinggi ia taklukkan, hutan belantara ia lintasi, samudera luas ia seberangi. Pantang pulang sebelum memperoleh air penghidupan, air suci prawitasari." cerita sang dalang.
"Jleng ..., jleng ..., jleng .... Dok ..., dok ..., dok .... Jleng ...." kembali musik pengiring yang kompak, mengisi jeda interlut cerita si dalang.
"Ini cerita filosifi, yang mengajarkan kepada kita tentang kehidupan benar salah, baik dan buruk. Ini ajaran kejawen." jelas Yudi pada istrinya.
"Apakah air suci prawitasari ini benar-benar ada?" tanya Yuna lagi, yang tentu sangat penasaran dengan ceritanya.
"Ini filosofi .... Ada ajaran yang harus kita lakukan agar hidup kita bisa menjadi baik dengan kebenaran-kebenaran, sehingga nama kita yang kelak akan kekal dikenang oleh orang selamanya. Bukan jasadnya, tetapi nama kita." jelas Yudi.
Cerita wayang berlanjut. Bima mencari air suci. Mulai menyibak hutan lebat yang penuh dengan rintangan. Terutama serangan dari raksasa, jin, gendruwo, memedi dan setan gentayangan yang mengganggu perjalanan Bima. Perang tanding pun terjadi. Bima dikeroyok berbagai makhluk yang menyeramkan. Dan tentu, makhluk-makhluk itu bukan musuh yang mudah ditaklukkan.
Di tengah hutan, Bima digoda dan diserang dua raksasa kakak beradik, yaitu Rukmuka dan Rukmala. Rukmuka dan Rukmala berarti makanan enak atau kemewahan, kamukten atau jabatan, emas atau harta benda. Ini artinya Bima digoda oleh bahaya dan rintangan yang berasal dari kemewahan, jabatan dan harta benda yang biasanya mudah menjatuhkan keteguhan hati seseorang. Dalam pertempurannya, Bima dapat membunuh dua raksasa tersebut. Artinya Bima tidak silau dengan kemewahan duniawi, pangkat jabatan, serta harta benda. Karena itu semua adalah fana, yang akan ditinggalkan kelak dan tidak akan dibawa saat mati.
__ADS_1
Setelah melintas hutan dan gunung, sampailah Bima di samudera. Ia harus menyeberang lautan luas tersebut. Saat masuk ke dalam samudera, Bima bertemu dengan ular besar penunggu samudera, yang sudah meresahkan kehidupan dalam samudera, karena ular raksasa tersebut memakan ikan-ikan yang ada di dalam lautan. Akhirnya, terjadilah peperangan antara Bima melawan ular raksasa tersebut di dalam lautan. Dan Bima, dengan kuku pancanaka, mampu mengalahkan ular raksasa tersebut.
Ular adalah simbol kejahatan. Kejahatan selalu ada di sekitar kita. Untuk mendapatkan air suci, dalam pencariannya tidaklah cukup hanya dengan mengesampingkan kamukten dan kamulyan, namun juga harus menyingkirkan kejahatan-kejahatan yang tumbuh di dalam hati, seperti rasa iri, dengki, srei, sombong, angkuh, adigang, adigung, adiguno. Untuk itu seseorang harus mempunyai sifat rilo, yaitu ikhlas, tidak bersedih, tidak iri kepada orang lain. Kemudian legowo, yaitu selalu bersikap baik dan benar. Selanjutnya narimo, bersyukur bisa menerima apa adanya. Bisa anurogo, yaitu rendah hati, jika ada orang yang berbuat jahat tidak akan membalas dan berusaha tetap sabar. Hidupnya sentosa, yaitu selalu di jalan yang benar, tidak pernah berhenti berbuat benar, selalu waspada dan menghindari perbuatan jahat. Selanjutnya, marsudi ing kawruh, yaitu selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar untuk diamalkan. Kemudian tindak ngurang-ngurangi, yaitu makan dan minum secukupnya, hanya ketika telah lapar dan haus, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak, demikian juga tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak harus tidur di kasur yang tebal dan nyaman, kemudian lagi tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah. Itulah beberapa laku yang harus dijalani untuk mengalahkan kejahatan dalam hati kita.
Setelah mengalahkan ular raksasa, di tengah samudera, Bima bertemu dengan dewa bertubuh kecil yang berambut panjang. Dewa ini seperti anak kecil yang sedang bermain-main di atas lautan. Inilah Dewa Ruci. Lantas kata Sang Dewa Ruci, "Hai Bima ..., apa kerjamu, apa tujuanmu, tinggal di laut tidak ada yang bisa dimakan, tidak ada makanan dan tidak ada pakaian. Hanya ada daun kering yang tertiup angin, jatuh di depanku, hanya itulah yang saya makan.”
"Huuung .... Hoong ..., wilaheng sekaring bawono langgeng ...." sang dalang kembali bersuluk.
"Jleng ..., jleng .... Duer ..., duer .... Tung kling .... pung .... pung ...." kembali musik gamelan yang berpadu dengan drum dan jidur. Lampu sorot kembali memainkan peran menambah keindahan layar pakeliran. Sinden mendendangkan lagu gembira. Bahkan ada seorang laki-laki yang didandani seperti wayang wong, berdiri di dekat panggung, di depan para sinden, ia berjoget dengan gerakan yang lucu. Ya, dialah si Gareng pelawak.
Sementara di layar depan dalang, sudah ada dua tokoh wayang perempuan, yang satu bertubuh gemuk, dan yang satunya lagi bertubuh kurus. Itulah tokoh Limbuk dan Cangik. Pertunjukan yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar wayang, karena pada adegan Limbuk - Cangik ini, banyak hal lucu yang ditampilkan. Tentu kolaborasi antara Limbuk - Cangik dengan Gareng pelawak.
Gelak tawa sampai mengocok perut para penonton. Tingkah lucu wayang-wayang ini membuat para penonton ger-geran, tertawa terpingkal-pingkal. Tentu, ki dalang memberi guyonan atau candaan yang ada muatan nasehat kepada para penonton. Dalam pewayangan disebut dengan istilah guyon maton, bercanda tetapi mengena, penuh syarat dengan kritikan yang membangun.
"Jleng ..., jleng .... Jder ..., jder ...." kembali musik gamelan menggelora. Ki dalang melanjutkan cerita.
"Hai Bima ...." kata Dewa Ruci.
"Ya ..., Sang Dewa .... Saya mohon petunjuk dari Sang Dewa, untuk mendapatkan air suci penghidupan." kata Bima untuk menerima pelajaran penting dalam hidupnya.
"Bima, ketahuilah bahwa air penghidupan itu ada di dalam dirimu sendiri. Yaitu di lubuk hatimu yang terdalam. Lubuk hati yang suci tidak ternodai. Untuk mencapai air penghidupan yang terdapat dalam lubuk hati yang suci, kamu harus bisa mencapai kasunyatan sejati. Yaitu laku spiritual. Seseorang harus bisa memahmi arti 'mati dalam hidup' dan 'hidup dalam mati'. Seseorang harus bisa merasakan bagaimana kelak ia akan mati, maka ia harus mempersiapkan kematiannya itu pada saat masih hidup. Kenakanlah kain jarik batik poleng. Yaitu kain batik yang memiliki empat warna, yaitu merah, hitam, kuning dan putih. Ini merupakan simbol nafsu manusia, yaitu amarah, aluamah, supiah dan mutmainnah. Nafsu amarah dilambangkan dengan warna merah, yaitu sifat manusia yang selalu menginginkan dan mengajak manusia yang cenderung sombong, merasa pandai, suka marah dan tidak mau dikalahkan orang lain. Nafsu aluamah dilambangkan dengan warna hitam, adalah sifat manusia yang bisa berbuat kejam dan ingin berontak. Nafsu supiah dilambangkan dengan warna kuning, yang mempunyai arti pemujaan terhadap kemegahan dan kemewahan harta dan benda duniawi. Nafsu mutmainah dilambangkan dengan warna putih, artinya keinginan manusia yang selalu mengajak dan mengutamakan kemauan ibadah kepada Tuhan yang Maha Esa. Jadi, untuk mendapatkan air suci penghidupan, seseorang harus bisa mengendalikan empat nafsu sebagai landasan hati murni, dalam mencapai ilmu sejati. Seseorang yang sudah mencapai ilmu sejati melambangkan bahwa ia telah arti hidup dalam kehidupan hakiki." Dewa Ruci memberikan pengajaran kepada Bima untuk menggapai air suci yang dicari.
"Huuung .... Hoong ..., wilaheng sekaring bawono langgeng ...." sang dalang kembali bersuluk.
__ADS_1
Waktu terus berdentang. Gamelan ditabuh bergelontang. Wayang terus berkumandang. Ki dalang memberi wejang. Yang datang, yang memandang, yang menyandang, dialah yang bakal gamblang untuk mendapatkan air suci penghidupan.