KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 20: MENAWARKAN ASA


__ADS_3

    HAMDAN menyampaikan niatnya kepada Rini untuk mencoba berivestasi di bidang pariwisata. Tentu Rini sangat senang mendengar berita itu. Ya, tentunya ia akan sering berada di Yogyakarta, seperti yang ia harapkan.


    "Mah, coba sampaikan ke teman Mamah, siapa itu, yang menawarkan proyek pemngembangan obyek wisata di Jogja." kata Hamdan kepada Rini saat sarapan pagi di ruang makan.


    "Yudi. Yang ingin membangun Taman Awang-awang di Jogja itu, kan?" kata Rini.


    "Iya. Siapa tahu dapat di-cover dalam rancangan program anak-anak di perusahaan." sahut Hamdan.


    "Ya, coba, Pah, nanti saya hubungi Yudi. Apa saja yang perlu disiapkan, Pah?" tanya Rini.


    "Suruh buat proposal, biar besok dipaparkan di depan evaluator, untuk dinilai kelayakannya." jawab Hamdan.


    "Ya, Pah .... Berarti kita akan sering ke Jogja, ya?" tanya Rini lagi.


    "Ya belum tentu .... Tunggu hasil kelayakannya." jawab Hamdan.


    "Pasti layak, Pah ...." sahut Rini.


    "Untuk menilai layak atau tidak sebuah proyek itu kan banyak indikatornya, Mah .... Bukan sekedar suka atau tidak suka, tapi harus dilihat dari berbagai sisi, termasuk ekologinya, biar nanti tidak mendapat sanksi dari pemerintah." jelas Hamdan pada istrinya.


    "Iya, iya .... Papah yang lebih tahu." jawab Rini.


    "Ya, udah, Papah berangkat dulu." Hamdan berpamitan.


    "Mak Mun, meja makan tolong diberesi, ya." kata Rini pada Mak Mun.


    Tentu, Mak Mun yang disuruh langsung membereskan ruang makan tuannya.


    Rini membawakan tas kerja suaminya menuju teras depan garasi, menyerahkan tas itu pada Mas Jo, sopir suaminya. Rini menyalami suaminya. Hamdan masuk ke mobil, yang kemudian melaju keluar rumah, berbelok dan menghilang dari pandangan Rini yang melepas keberangkatan suaminya.


    Sepeninggal suaminya berangkat ke kantor, tentu Rini langsung mengambil HP. Bersemangat untuk menelepon Yudi. Tidak sabar untuk menyampaikan berita dari suaminya. Tentu berita yang sangat menyenangkan.


    "Halo, Yudi ...." ucap Rini yang menempelkan telepon di telinganya.


    "Pagi, Rin .... Ada apa?" jawab Yudi dalam telpon.


    "Ih, kok ada apa?! Ya bilang sayang, bilang kangen, bilang rindu, bilang cinta, gitu kek, kan bisa!" sahut Rini.


    Yudi maklum. Rini sedang mengalami masa-masa jatuh cinta. Tentu jatuh cinta pada dirinya. Maka segalanya pasti sensitif. Dan Yudi yakin, pasti suaminya sudah tidak ada di rumah, makanya berani berkata seperti itu. Coba kalau ada suaminya, pasti dia terdiam, tidak berani berkata apa-apa. Jangankan telepon, WA saja tidak berani. Begitulah wanita.


    "Iya, sayang ...." sahut Yudi.


    "Nah, begitu dong ...." kata Rini yang puas mendengar kata sayang dari Yudi.


    "Nanti malam aku telepon sambil bilang sayang-sayang, gitu ya .... Hehe ...." goda Yudi.


    "Eit ...! Jangan, ya .... Awas kalau berani menghancurkan hati Mas Hamdan!" ancam Rini.


    "Habisnya, Rini itu aneh .... Hehe ...."


    "Eit ...! Berani bilang gitu?! Aku putus!" Ancam Rini lagi.

__ADS_1


    "Ya, udah, kalau mau putus .... Aku matiin HP-nya." Yudi ganti menggoda mengancam.


    "Eee .... Jangan. Ini ada yang penting mau aku sampaikan." cegah Rini.


    "Nah, kan ..., jangan dimatiin Yud, aku masih rindu, aku masih pengin ngobrol, aku masih mau curhat .... Hehehe ...." ledek Yudi.


    "Ich .... Kamu itu lho, Yud ..., bikin gemes." kata Rini yang tentu kalau dekat dengan Yudi pasti mencubit pinggangnya.


    "Eit, jangan nyubit ...! Itu yang ada di sampingmu cuman kursi, bukan diriku ...! Haha ...." ledek Yudi lagi.


    "Tahu, aja ...." kata Rini.


    "Iya, ada apa, sayang ...?" tanya Yudi.


    "Eh, Yud ..., ini tadi Mas Hamdan meminta saya menghubungi kamu, mau bahas proyek Yudi tentang kampung wisata itu." kata Rini.


    "Ah, yang benar, Rin?!" Yudi setengah kaget mendengarnya.


    "Bener, Yud .... Makanya saya langsung telepon kamu." kata Rini.


    "Lantas apa yang harus aku siapkan?" tanya Yudi.


    "Mas Hamdan minta, Yudi ajukan proposal, lantas buat paparan untuk dipresentasikan ke tim evaluator yang akan menilai kelayakannya." jelas Rini yang menyampaikan kata-kata suaminya.


    "Okey, siap, Rin. Akan segera aku siapkan. Doakan semoga berhasil, ya ...." kata Yudi dengan perasaan senang.


    "Pasti, sayang .... Biar bintang yang ada di kampungmu lebih bersinar terang." kata Rini meyakinkan.


    Pikiran Rini langsung melayang, tahu orang yang disayangi gembira.


*******


    Seminggu Yudi menyiapkan proposal dan paparan untuk disampaikan di hadapan tim evaluator di perusahaan Hamdan. Sesuai kesepakatan, hari yang ditentukan, Yudi sampai di Jakarta, di kantor perusahaan Hamdan, suami Rini, wanita yang sudah berusaha menyalakan kembali lentera yang sudah meredup di hati Yudi.


    Setelan jas abu-abu, baju biru muda, dengan dasi abu-abu tua kehitaman, membuat penampilan Yudi yang memiliki tinggi badan seratus tujuh puluh centi itu tampak gagah dan perlente. Rambutnya yang disisir rapi, dengan sentuhan pomade, memberikan kesan orang kantoran betul. Tidak terlihat sebagai pekerja seni yang biasa kotor degan cat minyak. Dia sangat menghargai orang yang memberi kesempatan. Tidak ingin mengecewakan Direktur Hamdan, suami Rini, yang selama ini sudah berusaha membantu.


    Di ruang meeting dengan meja oval, Yudi harus menyampaikan paparan proyeknya. Hamdan ikut hadir, bahkan menjadi ketua tim. Ada tiga orang lain yang jadi evaluator. Dua orang ada di sisi kanan Yudi, dua orang di sisi kiri. Yudi berada di meja depan, menghadapi laptop. Ada satu perempuan muda, sebagai notulen, berada di sebrang Yudi.


    "Selamat siang, Bapak-bapak dan Ibu tim evaluator. Perkenalkan nama saya Yudi Satriya, dari Kampung Nirwana Yogyakarta. Mohon ijin untuk mempresentasikan proposal pengembangan kawasan wisata Taman Awang-awang." kata pembuka Yudi di hadapan tim evaluator.


    "Silakan, Pak Yudi." kata salah satu tim evaluator yang bertubuh gemuk.


    "Terimakasih, Bapak. Berikut adalah gambaran umum Kampung Nirwana." kata Yudi.


    Selanjutnya Yudi menampilkan video Kampung Nirwana, sebagai destinasi wisata kerajinan rakyat. Gambar diawali memperlihatkan Daerah Istimewa Yogyakarta secara keseluruhan tampak vertikal dari angkasa, dengan iringan suara jidur bertalu-talu. Kemudian perlahan musik berganti menjadi klonengan musik tradisional khas Jawa. Gambar memfokus, menyorot kawasan Kampung Nirwana. Masih terlihat vertikal dari atas, tampak atap-atap bangunan yang tersembul dalam rimbunan tanaman. Kemudian gambar mulai menurun, memperlihatkan bangunan-bangunan secara horizontal. Dimulai dari lapangan yang terdapat banyak mobil VW kuno, kemudian berjalan masuk ke perkampungan dengan keindahan bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur jaman kuno, serta tempat-tempat studi wisata, seperti panggung teater, kesenian-kesenian tradisional, tempat belajar membatik, tempat-tempat pembuatan souvenir, serta rumah-rumah perbelanjaan hasil kerajinan, semacam pasar rakyat. Video itu sangat menarik.


    Tim penilai terkesima menyaksikan tayangan yang ditampilkan Yudi.


    Selanjutnya Yudi membuka paparan yang kedua, gambar 3D rancangan pengembangan Taman Awang-awang. Mulai dari grand desain, rancangan yang diharapkan dapat dibangun sebagai obyek wisata. Dalam video yang memperlihatkan daerah yang direncanakan akan dibangun obyek Taman Awang-awang tampak dari atas, tampak daerah pegunugan yang berada di tepi pantai, berbatasan dengan Samudera Hindia. Lantas gambar video mulai miring, lantas mendatar, memperlihatkan kawasan indah di puncak perbukitan yang masih perawan. Pengambilan gambar yang semula pelan, tiba-tiba menjadi cepat, musik yang semula pelan, tiba-tiba berubah jadi keras. Dan ....


    "Dreuuuung .... Glueeer ...."

__ADS_1


    "Haah ...!"


    Tim evaluator terkejut. Video yang semula berjalan pelan, tahu-tahu cepat, dan tanah yang diinjak habis, berubah menjadi samudera dengan gelombang yang besar. Seakan orang yang menyaksikan ikut terjatuh dari puncak bukit dan masuk ke dasar samudera, digulung ombak besar laut selatan.


    "Bapak-bapak, kami punya lahan lima puluh hektar. Rancangan kami membangun Taman Awang-awang, ingin menyuguhkan pemandangan alam kepada para wisatawan, untuk menyaksikan keindahan Samudera Hindia dari puncak bukit. Selain menyaksikan deburan ombak, pada pagi hari wisatawan bisa menyaksikan sunrise, dan pada sore hari bisa menyaksikan sunset. Sedangkan pada malam hari, kami ingin menyuguhkan pemandangan langit yang bertabur bintang-bintang, serta keindahan gemerlaplampu Kota Jogja." jelas Yudi mengawali rancangan proyeknya.


    Dalam paparannya, terlihat gambar pemandangan yang menawan, saat matahari terbit, matahari terbenam, deburan ombak yang setinggi rumah, serta suasana langit terang di malam hari yang dipenuhi bintang-bintang maupun cahaya lampu Kota Jogja di malam hari. Sangat pas diberi nama Taman Awang-awang, sebuah ruang indah yang berada di langit.


    "Silakan dilanjutkan, Saudara Yudi." kata salah seorang evaluator, setelah berbisik-bisik dengan Hamdan.


    "Terimakasih, Bapak. Seperti dalam gambar 3D yang saya paparkan, rancangan kami ingin membangun sebuah kawasan wisata yang terkoneksi dengan berbagai fasilitas. Mulai dari kampung wisata, tempat perbelanjaan yang modern, food court yang mengadaptasi semua selera makanan, serta pemanjaan mata wisatawan dengan penyajian pemandangan-pemandangan yang menawan. Maklum, hari ini wisatawan sangat senang dengan berswafoto di kawasan-kawasan yang indah. Semua itu kami ingin integrasikan dengan keterampilan yang ada di masyarakat. Termasuk penggunaan sarana transportasi yang sudah kami rintis dengan mobil-mobil kuno yang antik."


    Yudi menampilkan rancangannya yang sudah digambar dengan bagus. Mulai dari rancangan kawasan berswafoto, rancangan food court, serta gasebo-gasebo dan tempat-tempat pertemuan. Sangat menarik. Bahkan para evaluator terkesima. Termasuk Hamdan yang terkagum-kagum dengan pemaparan teman istrinya itu. Maklum, Yudi adalah seniman lulusan ASRI, maka selera paparan yang dipresentasikan juga sangat indah dari segi estetik.


    Para evaluator berbisik-bisik. Tentu membicarakan apa yang dipaparkan oleh Yudi.


    "Sangat bagus. Presentasi Anda luar biasa." kata salah satu evaluator.


    "Boleh saya lanjutkan?" tanya Yudi pada tim evaluator.


    "Silakan." jawab evaluator.


    "Terimakasih. Terus terang, untuk pengembangan obyek wisata Taman awang-awang ini kami butuh biaya besar. Saat ini yang sudah kami bangun hanya sekedar tanah lapang tempat wisata dan satu pendopo untuk rumah makan. Di tempat itu, wisatawan menikmati pemandangan dan makanan tradisional, masih sangat sederhana. Mohon maaf, sampai hari ini kami hanya mengandalkan ekonomi rakyat kecil. Jadi, jalannya pembangunan hanya semampu kami. Kami tidak punya modal. Jika punya uang, maka kami bangun sekuat kemampuan uang kami. Jika uang habis, maka berhenti pembangunannya. Bagi kami yang terpenting, ekonomi masyarakat di Kampung Nirwana bisa tercukupi." jelas Yudi dalam memaparkan proyeknya.


    "Bagaimana kalau lahan lima puluh hektar itu kami beli?" tanya salah seorang evaluator.


    "Maaf, Bapak, ini wisata kerakyatan. Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Saya kira masyarakat di Kampung Nirwana tidak akan melapas obyek Taman Awang-awang ini kepada pihak lain." jawab Yudi.


    "Lah, kalau tidak boleh dibeli, posisi kami sebagai investor ada di mana?" tanya sang evaluator lagi.


    "Sebut saja kami pinjam modal atau berhutang. Kami akan mengembalikan investasi Bapak." jawab Yudi.


    "Kalau pinjam atau hutang, jangan kepada perusahaan kami. Saudara keliru. Silakan mengajukan kredit ke bank. Membangun obyek wisata seperti itu butuh modal besar, tidak sedikit. Perusahaan kami bukan lembaga simpan pinjam uang." sergah evaluator yang gemuk.


    "Kalau memang Anda ingin bekerja sama dengan kami, mengajak kami berinvestasi, mestinya kami mendapat aset di sana. Setidaknya, modal itu milik perusahaan kami." kata evaluator yang lain.


    "Maaf, Bapak-bapak .... Saya tidak bisa melepaskan aset itu. Lahan itu milik kampung, milik masyarakat, tidak bisa diperjual-belikan. Kami hanya ingin, kampung wisata yang kami bangun itu bisa mensejahterakan masyarakat." jelas Yudi.


    "Kalau sistemnya seperti itu, keuntungan kami apa?" tanya evaluator yang satu lagi.


    Yudi terdiam. Tidak bisa menjawab. Ia sadar, bahwa dirinya sudah salah, sudah keliru dalam mengajukan proposal. Ia mulai sadar bahwa ia tidak berada di panti sosial, yang memberikan santunan begitu saja, ia tidak berada di yayasan penyandang dana. Ia sadar sudah salah masuk.


    "Saudara Yudi, usaha itu mencari sesuatu. Perusahaan itu mencari keuntungan. Demikian juga kehidupan, mencari sesuatu yang menguntungkan. Saya tahu, niat Saudara Yudi untuk membangun Kampung Wisata dengan tujuan mensejahterakan rakyatnya, itu bagus. Namun Anda keliru. Anda sudah menjerumuskan masyarakat menjadi orang yang rendah daya saingnya. Coba Anda lihat, di laur negeri, di negara-negara maju, semua orang berlomba untuk mengembangkan penemuan-penemuan baru, bersaing untuk berinovasi, semantara Anda tidak mau merubah pola pikir untuk mengajak masyarakat menjadi maju. Ingat Saudara Yudi, saat ini, kita ini bersaing secara global. Maka kita harus membangun pola pikir masyarakat agar mampu menghadapi tantangan global. Perubahan sosial di luar sana sangat cepat. Bukan malah melemahkan dengan nilai-nilai tradisional yang menghambat kemajuan. Jaman sudah berubah, Saudara Yudi. Kami bisa besar, kami bisa berkembang, itu semua dari usaha yang sungguh-sungguh, bukan sekedar rasa kemanusiaan atau rasa kasihan. Kalau Anda terus berkutat dengan kata-kata demi masyarakat, Anda tidak akan maju. Bahkan suatu saat, Anda akan digugat oleh orang-orang yang Anda katakan masyarakat itu. Anda Harus paham itu. Kita butuh uang, kita butuh makan, kita butuh pakaian, kita butuh rumah, butuh mobil, butuh segala macam, itu fakta. Tidak bisa kita pungkiri. Hati-hati Saudara Yudi, nanti Anda akan terjebak oleh orang-orang yang Anda perjuangkan." Hamdan, suami Rini memberi ceramah kepada Yudi.


    Bagaikan ditampar pipi kanan dan pipi kirinya, panas dan menyakitkan. Yudi tertunduk, tidak bisa berkomentar apa-apa. Diam mematung.


    "Maaf, Saudara Yudi, perusahaan kami belum bisa menerima proposal Anda, dengan alasan kriteria yang kami butuhkan belum memenuhi syarat. Proyek Anda belum layak kami kerjakan. Terimakasih sudah bisa mempresentasikan programnya kepada kami, semoga nanti ada orang yang minat dengan rancangan proyek Anda." kata evaluator yang gemuk, sebagai pemimpin tim penilai.


    "Baik, Bapak-bapak, terimakasih sudah memberi kesempatan kepada kami. Semoga budi baik Bapak diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kami mohon ijin undur diri untuk kembali ke Jogja." kata pamitan Yudi.


    Walau remuk isi hatinya, Yudi masih terlihat tegar dan gagah, dengan kata-kata yang bijaksana. Yudi menguatkan diri untuk berpamitan pulang.

__ADS_1


__ADS_2