
Siang itu ada mobil sedan mewah Toyota Camry warna hitam dengan menggunakan plat nomor kendaraan seri CC-49, berhenti di lapangan parkir Kampung Nirwana. Ini adalah seri kendaraan milik Corp Consulat dari Jepang. Sopir keluar dari mobil, lantas membuka pintu belakang, bagian penumpang. Demikian juga penumpang perempuan yang ada di samping sopir, ia keluar lantas membuka pintu penumpang bagian belakang. Ada dua laki-laki dewasa yang duduk di belakang. Semuanya mengenakan setelan jas, lengkap dengan dasi. Rambut dengan minyak pomade, disisir ke samping. Sangat rapi. Menunjukkan orang penting. Atau mungkin seorang pejabat. Begitu turun dari mobil, langsung membetulkan kancing jas yang dikenakan. Lantas mengangkat tas kulit yang dicangking dengan tangan kirinya. Sedangkan wanita yang duduk di samping sopir tadi, masih muda dan cantik, mengenakan setelan rok dan jas wanita. Terlihat sangat anggun. Demikian juga sang sopir, yang mengenakan pakaian setelan model safari.
Dari wajahnya, ketiga orang ini adalah asli orang Jepang. Diantaranya adalah orang yang bekerja di konsulat, dan yang satu lagi adalah orang yang ditugaskan dari Jepang, sebagai visitor dari Yayasan Penyandang Dana, yang akan melakukan visitasi di Kampung Nirwana. Sedangkan yang perempuan cantik itu bekerja sebagai penerjemah, untuk membantu komunikasi antara petugas visitasi dengan masyarakat yang nanti akan diwawancarai. Untuk sopirnya, bukan orang Jepang, melainkan orang Indonesia, tentu agar tahu dan paham jalan-jalan atau daerah yang akan dilewati.
Begitu melihat ada orang asing yang datang, beberapa orang sopir mobil wisata datang menghampiri. Setidaknya ingin tahu, apa yang mereka lakukan di kampungnya. Syukur kalau mereka akan berwisata, pasti uangnya banyak. Bisa diajak keliling ke seluruh kampung. Tapi ada juga yang mulai menebak-tebak, kemungkinan orang-orang ini adalah tim dari Jepang yang akan membantu pembangunan objek wisata di kampungnya.
"Ada yang bisa kami bantu?" salah seorang sopir wisata bertanya kepada sopir mobil mewah itu.
"Oh, iya .... Sebentar." kata sopir itu yang lantas menyampaikan ke wanita penerjemah itu.
Setelah bicara sebentar, antara sopir dan wanita penerjemah itu, lantas si wanita cantik menemui sopir wisata.
"Selamat siang, bapak-bapak .... Mohon ijin untuk bertanya, apakah daerah ini benar Kampung Nirwana?" tanya wanita cantik itu pada sang sopir wisata.
"Betul. Ada perlu apa, ya? Apa mau berwisata? Kami siap mengantar keliling kampung." jawab sang sopir wisata itu.
"Maaf, jika kami mau ke Kantor Kepala Desa, apakah bisa dibantu?" tanya wanita yang cantik itu.
"Maaf, kalau boleh tahu ada perlu apa, ya?" tanya salah seorang sopir wisata yang ingin tahu tujuannya.
"Oh, iya ..., ini kami mengantar petugas dari Jepang, untuk melakukan visitasi di Kampung Nirwana, terkait rencana pemeberian bantuan untuk pemberdayaan masyarakat sini." jawab si penerjemah.
"Wah, terima kasih atas bantuannya, ya .... Kami senang sekali. Terima kasih." kata sopir wisata itu, lantas membungkuk-bungkukkan badannya, tanda berterima kasih.
Dua orang laki-laki dari Jepang yang dekat dengan wanita penerjemah itu ikut-ikutan membungkukkan badan. Tapi sebagai tanda menghormat. Maklum, dua orang ini belum tahu arti yang dibicarakan orang-orang itu.
"Wah, ini Mas Yudi yang tahu .... Bro, panggil Mas Yudi, biar dibantu Mas Yudi!" kata salah seorang sopir wisata.
"Siap, tak telepon Mas Yudi." jawab temannya, yang lantas mengeluarkan HP menelepon Yudi.
"Bagaimana? Apakah kami bisa diantar ke Kantor Kepala Desa?" tanya sang penerjemah lagi.
"O, tentu bisa. Apakah menghendaki naik mobil wisata, atau memakai mobil sendiri?" kata sopir wisata.
Setelah berbincang sebentar dengan dua laki-laki dari Jepang, si perempuan akhirnya mengatakan untuk diantar dengan naik mobil wisata.
"Kami bertiga ingin naik mobil wisata Anda." kata perempuan penerjemah itu.
"Siap ...!" sang sopir wisata langsung menyiapkan mobil VW Kodok yang dicat dengan warna kuning menyala.
__ADS_1
Setelah dibukakan pintu, tiga orang itu duduk. Salah satu penumpang yang laki-laki minta duduk di depan. Sedangkan yang satunya lagi, bersama dengan yang perempuan penerjemah, duduk di belakang.
Tentu sang visitor berniat untuk naik mobil wisata, dengan harapan bisa menanyai sang sopir, sebagai bahan visitasinya. Maka baru saja mobil VW wisata itu berjalan, laki-laki yang duduk di depan sudah mengajukan pertanyaan. Tentu dengan menggunakan bahasa Jepang. Lantas wanita penerjemah itu melanjutkan pertanyaan kepada sang sopir.
"Apakah Bapak Sopir ini sudah lama menjadi sopir mobil antik untuk wisata di Kampung Nirwana?" tanya wanita penerjemah tersebut.
"Sudah lima tahunan. Sejak Kampung Nirwana ini dikembangkan oleh Mas Yudi." jawab sopir itu.
Lantas si penerjemah tersebut bicara dengan laki-laki yang duduk di depannya. Tentu menerjemahkan jawaban sang sopir.
"Apa Anda merasa senang bekerja sebagai sopir wisata di kampung ini?" tanya si wanita penerjemah lagi.
"Sangat senang, karena kami bisa mendapatkan penghasilan, bisa menghidupi keluarga, bisa menyekolahkan anak." jawab sang sopir.
"Apa cukup penghasilan Anda untuk memenuhi semua kebutuhan hidup?" tanya visitor lagi yang diterjemahkan oleh wanita cantik itu.
"Setidaknya hidup kami lebih sejahtera bila dibandingkan dahulu sebelum ada obyek wisata." jawab sang sopir.
"Apakah Anda senang jika objek Taman Awang-awang dibangun untuk pemberdayaan masyarakat sini?" tanya mereka lagi.
"Wah, sangat senang .... Terima kasih ..., terima kasih." jawab sang sopir itu sangat senang.
"Nah, kita sudah sampai. Ini kantornya Pak Lurah." kata sopir itu yang lantas turun dan membukakan pintu mobilnya.
Lantas ketiga tamu dari Jepang itu turun dan masuk ke Kantor Kepala Desa. Demikian pula sang sopir wisata, ikut masuk dan menyampaikan kalau ada tamu dari Jepang yang ingin ketemu Pak Lurah.
"Selamat siang, Pak Lurah ..., ini ada tamu dari Jepang yang akan membangun Taman Awang-awang, Pak. Monggo Pak Lurah yang menjelaskan." kata sang sopir wisata itu kepada Pak Lurah.
"Weh, iya .... Monggo-monggo, silakan duduk di dalam." kata Pak Lurah yang begitu melihat tamunya, langsung membungkukkan badan, tanda menghormat.
Begitu pula tiga orang tamu dari Jepang itu, juga membalas membungkukkan badan. Lasntas mereka duduk dikursi ruangan Pak Lurah.
Pak Lurah menyuruh perangkatnya untuk membuatkan minuman dan menyediakan suguhan untuk tamunya. Lantas perangkat yang disuruh lurahnya itu langsung berboncengan mencari jajanan ke warung, untuk memberi suguhan kepada tamunya.
Di ruang Kepala Desa itu, tiga orang tamu dari Jepang bersama Pak Lurah, berbincang tanya jawab. Tentu terkait pengembangan wisata yang akan dibangun di Kampung Nirwana. Tentu dengan bantuan wanita cantik yang menjadi penerjemah tadi. Pak Lurah merasa senang dan menyambut gembira dengan kedatangan tim visitasi ke kampungnya. Setidaknya nanti proyek itu akan segera terealisasikan, dan tentu Kampung Nirwana akan semakin ramai.
Sementara itu, di lapangan parkir, salah satu sopir wisata sudah menghubungi Mas Yudi.
"Halo, Mas Yudi ...." kata yang menelepon.
__ADS_1
"Iya, ada apa, Bos?" tanya Yudi dalam telepon.
"Mas Yudi, ini ada orang Jepang datang ke kampung kita. Tadi tanya-tanya. Sekarang menemui Pak Lurah. Kalau bisa Mas Yudi ke sini dulu, menemui orang yang dari Jepang itu, agar bisa menjelaskan secara gamblang." kata yang menelepon.
"O, ya ..., ya ..., ya .... Saya segera ke sana." Yudi menjawab tergesa.
"Langsung ke Kantor Desa, Mas Yudi." sahut yang telepon.
"Siaap ...." Yudi menjawab dan langsung berangkat.
Tentu Yudi merasa senang. Dengan adanya tim dari jepang yang akan menilai kelayakan, tentu usulannya akan disetujui. Yudi menyetir kendaraannya dengan cepat. Ingin segera ketemu tim dari Jepang, seperti yang diteleponkan teman-temannya sopir wisata. Dalam sekejap, Yudi sudah sampai di Kantor Desa.
"Selamat siang, Mbak ...." ucap Yudi saat masuk Kantor Desa.
"Eeh ..., Mas Yudi ...." sahut pegawai kelurahan.
"Mbak, petugas yang dari Jepang masih di sini?" tanya Yudi.
"Masih. Itu di dalam sama Pak Lurah. Sana, Mas, langsung masuk." sahut wanita pegawai kelurahan itu.
Yudi langsung mengetuk pintu ruang Pak Lurah, dan masuk.
"We ..., Mas Yudi .... Sini Mas, ini ada pejabat-pejabat dari Jepang yang akan bertanya tentang rencana proyek Taman Awang-awang." kata Pak Lurah saat ada Yudi masuk.
"Iya, terima kasih, Pak Lurah. Kon'nichiwa mama to papa. Genkidesu ka?" kata Yudi sambil membungkukkan badannya, tanda menghormat.
"Kon'nichiwa, yoi nyusu." balas petugas dari Jepang itu, sambil menganggukkan kepalanya.
"Nah, dia namanya Mas Yudi .... Dulu yang membantu Mbak Yuna waktu di kampung ini. Mas Yudi ini yang tahu benyak tentang rencana pengembangan wisata din sini. Silakan ke lokasi, nanti biar dipandu semuanya oleh Mas Yudi." kata Pak Lurah. Yang tentu langsung diterjemahkan oleh wanita cantik itu.
Setelah selesai menanyakan beberapa hal terkait rencana pemberdayaan masyarakat, selanjutnya mereka bertiga diajak Yudi untuk survei lapangan, melihat rencana Taman Awang-awang dan Gua Jepang. Harapan Yudi, tentu usulannya akan diterima dan segera direalisasi.
Yudi dengan detail menjelaskan semua obyek yang akan dikembangkan. Bahkan dijelaskan secara detail. Sehingga tiga orang tamu dari Jepang itu benar-benar terkagum mendengarkan penjelasan dari Yudi. Tiga orang itu sangat senang. Apalagi saat menyaksikan Gua Jepang, dan dijelaskan bahwa tempat itu disakralkan oleh masyarakat sekitar. Namun karena kondisi lingkungan yang belum dibangun, sehingga terlihat kurang terawat.
"Kami sangat berharap, bantuan dari Bapak Ibu bisa terealisasi untuk mengembangkan kawasan ini menjadi lebih baik. Arigato gozaimasu." kata Yudi yang penuh harap akan terealisasinya bantuan dari Jepang.
Laki-laki yang dari Jepang itu menyampaikan terima kasih sudah diantar dan dijelaskan secara detail. Tentu kemudian diterjemahkan oleh wanita cantik yang menyertai.
"Terima kasih Tuan Yudi. Kami sangat senang bisa sampai di tempat ini. Sudah diantar dan dijelaskan secara rinci dan sangat menarik. Dan tentu, kami akan merekomendasikan agar nanti segera direlisasikan anggarannya. Terutama untuk penataan kawasan Gua Jepang. Kami sangat menghormati masyarakat sini yang merawat peninggalan bersejarah itu. Terima kasih sekali. Domo arigato gozaimashita." kata wanita penerjemah tersebut.
__ADS_1
Tentu, Yudi sangat senang. Setidaknya tamu dari Jepang itu sudah memberi harapan. Harapan untuk mewujudkan mimpi-mimpi dalam menggapai bintang. Terlebih lagi, Yuna akan kembali untuk mengisi keheningan hidupnya.