KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 223: KETAHUAN


__ADS_3

    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” HP Rini berbunyi.


    Rini membuka matanya, bangun dari pelukan Yudi. Rasanya baru saja ia memejamkan mata, tetapi ternyata hari sudah terlalu terang. Rini melepas tangan Yudi yang memeluknya, lantas turun, menuju meja untuk mengambil HP. Silvy yang meneleponnya.


    "Halo, Silvy .... Ada apa?" tanya Rini yang tentu dengan suara masih parau.


    "Ih, suara Mamah kok aneh ...? Baru bangun, ya ...? Hayo .... Mamah semalam ngapain saja ...?" tanya anaknya yang langsung menggoda.


    "Silvy ..., kamu yang nakal .... Masak masih pagi segini sudah telepon-telepon .... Mengganggu Mamah, tahu ...." sahut Rini yang tidak mau dikalahkan.


    "Pasti Papah Yudi juga belum bangun .... Waah ..., Mamah sama Papah Yudi kerja lembur ya, semalaman ...." ledek Silvy lagi.


    "Ada apa ...? Ngapain sih, mengganggu pengantin baru ...?" Rini tidak mau kalah di telepon.


    "Ini, Mah ..., mau mengantar sarapan pagi .... Sekalian mau nengok Mamah dan Papah Yudi .... Mau lihat Mamah dan Papah yang sedang bahagia .... Hehe ...." sahut Silvy yang tentu masih meledek ibunya.


    "Iya ..., cepetan kemari .... Mamah sudah lapar, nih ...." sahut Rini yang meminta anaknya segera datang.


    "Siapa, Rin ...?" tanya Yudi yang sudah duduk di pinggiran kasur.


    "Silvy .... Mau ngantar sarapan ...." sahut Rini.


    "Oo .... Ya, sudah sana, Rini mandi dahulu .... Biar bersih dan tidak bau ...." kata Yudi menyuruh Rini.


    Tanpa menjawab, Rini langsung bergegas masuk kamar mandi. Rini mandi keramas, mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat. Menikmati semburan air dari shower. Segar.


    Setelah istrinya selesai, gantian Yudi yang juga cepat-cepat mandi. Tentu karena anaknya akan datang untuk mengantar sarapan. Setidaknya jika Silvy sudah sampai di rumahnya, mereka sudah terlihat bersih dan segar.


    Dan benar, tidak berapa lama, Silvy datang mengantar makanan. Namun sebelumnya, Simbok dan Bapak, orang tua Yudi juga sudah siap menata sarapan di meja makan.


    "Silvy sama siapa?" tanya ibunya.


    "Tadi diantar Mas Trimo." jawab Silvy.


    "Lha, Mas Trimo-nya, mana ...?" tanya Yudi.


    "Sudah kembali ke kebun anggrek ...." sahut Silvy.


    "Ya sudah, kita sarapan bareng ...." kata Rini yang langsung menata piring.


    "Simbok ...! Bapak ...! Monggo sarapan ...." kata Yudi memanggil orang tuanya untuk diajak sarapan bersama.


    "E, iya ..., Le ...." sahut Simbok dari dalam kamar, yang kemudian keluar bersama Bapak.


    "Monggo, Simbok ..., Bapak .... Kita sarapan bersama ...." kata Rini yang langsung membagikan nasi ke piring-piring.


    "Simbok tadi masak, to ...?" tanya Yudi.


    "Hanya ngliwet sama memanasi lauk .... Sayang lauk masih banyak kalau tidak dipanasi." jawab Simbok.


    "Ini ada semur tahu, Mbok ...." kata Rini yang menawarkan sayur semur tahu yang dibawa oleh Silvy.


    "Walah ..., ini kesukaan Simbok .... Enak banget .... Siapa yang memasak?" tanya Simbok.


    "Silvy, Mbok ...." jawab Silvy sambil tersenyum.


    "Kok, Mbok .... Sekarang kalau manggil saya harus Nenek .... Silvy jadi cucunya Nenek .... Manggil Bapak jadi Kakek .... Hehehe ...." kata Simbok yang memberitahu Silvy.


    "Oh, iya ..., ya .... Ya, Nenek ..., ya, Kakek ...." sahut Silvy memperbaiki cara memanggilnya.


    Mereka pun lahap menikmati sarapan pagi. Apalagi Yudi dan Rini, setelah semalaman bekerja keras sampai menjelang pagi, pasti kelaparan dan butuh asupan gizi yang banyak.


    "Yudi ..., Rini .... Nanti siang Simbok sama Bapak mau pulang ke Magelang." kata Simbok sambil makan.


    "Kok tergesa, Mbok ...?" tanya Rini.


    "Bapak mertua kamu ..., tidak nyenyak meninggalkan rumah. Katanya, para tetangga pada mencari-cari. Sama ayamnya tidak ada yang memberi makan." sahut Simbok.


    "Lha, yang ngantar siapa?" tanya Yudi.


    "Biar diantar Bagas .... Kamu tidak boleh keluar rumah dahulu .... Jangan seperti waktu dengan Yuna, belum sepasar sudah jalan-jalan keliling kampung. Ora ilok, Le ...." kata Simbok yang mengingatkan Yudi.


    "Iya, Mbok ...." sahut Yudi menurut.

__ADS_1


    "Kalau yang mengantar saya sama Mas Yayan, boleh tidak, Nek ...?" tiba-tiba Silvy usul.


    "Boleh .... Tapi tempatnya jauh, lho ...." jawab Simbok.


    "Tidak apa-apa .... Sekalian jalan-jalan, Vy .... Ajak Yayan ngantar Nenek, biar tahu rumah Nenek yang di Magelang. Tempatnya asri, pasti Yayan senang ...." kata Rini yang menyuruh anaknya.


    "Ya, Mah .... Terus, ini saya pulangnya bagaimana?" kata Silvy yang tentu meminta bantuan untuk pulang.


    "Telepeon Bagas ..., biar nanti diantar Bagas." kata Yudi meminta Rini untuk menelepon Bagas.


    "Ya, saya telepon dahulu." kata Rini yang langsung mengambil teleponnya. Lantas Rini menelepon Bagas, "Halo, Mas Bagas ...."


    "Iya, Ibu Rini ...." sahut Bagas menjawab telepon Rini.


    "Bisa minta tolong ke rumah Yudi ...? Ini di minta tolong untuk mengantar Silvy pulang ke kebun anggrek.


    "Oh, njih ..., Ibu Rini .... Saya langsung ke situ ...." jawab Bagas yang langsung siap berangkat.


    Sambil menunggu datangnya Bagas, Rini dan Silvy membersihkan tempat makan, mencuci piring, gelas serta sendok garpu.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” HP Rini yang masih berada di meja makan berbunyi.


    "Mah ..., HP-nya bunyi ...." kata Silvy pada ibunya yang berbarengan mencuci piring.


    Yudi yang masih duduk di kursi makan, melihat panggilan pada HP Rini. Terbaca nama Alex yang memanggil.


    "Rini ..., ada panggilan dari Alex ...." kata Yudi pada istrinya.


    "Tolong diangkat dahulu ...." kata Rini yang masih tanggung mencuci piring.


    Yudi menuruti kata istrinya, lantas mengangkat panggilan telepon itu.


    "Halo .... Selamat pagi, Alex ...." kata Yudi menjawab telepon dari Alex, sahabatnya kala SMA.


    "Halo ..., ini Yudi, ya ...?" tanya Alex yang mendengar jawaban telepon Rini dengan suara laki-laki.


    "Betul .... Bagaimana kabarnya, Lex ...?" kata Yudi yang langsung menanyakan kabar sahabatnya itu.


    "Setan belang makan lawang ...! Dasar teman lupa sama persahabatan ...! Yudi ..., kamu menikah sama Rini, ya ...?!" tanya Alex yang tentu marah-marah.


    "Saya melihat status anaknya Rini .... Silvy pasang status penikahan kalian. Dasar teman tak tahu kawan .... Mosok menikah sahabat dengan sahabat, sahabatnya tidak ada yang dikasih tahu .... Payah kamu, Yud ...!" kata Alex yang masih marah pada Yudi.


    "Maafkan, saya ..., Lex .... Ini cuman ijab kabul saja. Kami sudah tua, Lex .... Tidak pantas ramai-ramai. Yang penting sah. Maklum, pernikahan janda dan duda ...." kata Yudi yang tentu berusaha mencari alasan.


    "Ya ..., ampun, Yudi .... Kalian benar-benar keterlaluan, deh .... Pokoknya, besok hari Minggu kami mau ke rumah kamu. Kami mau melihat kalian jadi suami istri ...." kata Alex yang tentu akan datang ke rumah Yudi.


    "Ya, silakan saja .... Kami tunggu kedatangan kalian. Tidak usah khawatir, kita makan-makan bersama ...." sahut Yudi yang sepakat dengan rencana Alex.


    "Gimana, Yud ...? Ada apa ...?" tanya Rini yang sudah selesai membereskan tempat makan.


    "Alex tahu kalau kita menikah ...." jawab Yudi.


    "Dari mana dia tahu ...?" tanya Rini.


    "Status Silvy ...." jawab Yudi.


    "Hah ...?! Silvy pasang status pernikahan Mamah, ya ...?" tanya Rini pada Silvy.


    "Iya, Mah ...." jawab Silvy santai.


    "Ya ampun, Silvy .... Ini teman-teman Mamah pada tahu ...." kata Rini yang agak kecewa dengan anaknya.


    "Sudah ..., tidak apa-apa .... Toh besok mereka juga akan tahu. Justru yang penting sekarang bagaimana besok Minggu menyambut kedatangan mereka. Karena rencananya teman-teman akan pada kemari." kata Yudi menenangkan istrinya.


    "Kita ajak saja ke Taman Awang-awang. Makan di sana, sekalian memberi rezeki kepada para penjual makanan." usul Rini.


    "Iya .... Saya setuju. Tidak usah ribet, tidak bingung, tidak mengotori dapur kita." Yudi pun setuju dengan usulan Rini.


    "Kalau begitu, nanti sekalian memesan Bagas untuk menyampaikan kepada para pedagang kuliner di Taman Awang-awang, agar disiapkan sejumlah makanan dan sekalian ditatakan tempatnya." kata Rini lagi.


    "Ya, biar Bagas nanti yang mengaturnya. Kita tinggal kasih uang pada Bagas." sahut Yudi menandaskan.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” HP Rini kembali berbunyi.

__ADS_1


    "Nih, ada panggilan dari Anik ...." kata Yudi menunjukkan HP Rini yang ada panggilan.


    Rini langsung mengangkat HP, menjawab panggilan dari temannya.


    "Halo, Nik ...." kata Rini saat menjawab panggilan telepon.


    "Waah ..., pengantin baru, sombongnya .... Teman-teman dilupakan, tidak dikasih tahu .... Payah kamu, Rin ...." Anik langsung mengomeli Rini.


    "Ya ampun, Nik .... Ini acara diam-diam .... Yudi tidak mau ramai-ramai, pengantin tua, kok ...." jawab Rini yang tentu ingin beralasan.


    "Tega-teganya, kamu ..., Rini .... Masak yang ngebet sama Yudi itu Yayuk, kok malah kamu yang nemu. Ternyata kamu diam-diam juga naksir Yudi, ya ...." kata Anik memprotes.


    "Hehehe .... Siapa cepat dia dapat, Nik .... Kok kamu tahu, sih ...?!" sahut Rini yang tentu heran sampai Anik tahu pernikahannya dengan Yudi.


    "Buka WA grup alumni SMA .... Berita Rini dan Yudi sudah heboh di situ ...." sahut Anik pada Rini.


    "Ya ampun ..., heboh gimana, sih? Coba saya buka WA grup terlebih dahulu, ya ...." kata Rini yang lengsung menutup telepon Anik, bergegas membuka WA grup alumni.


    "Ya ampun ..., Yudi .... Berita kita heboh di WA grup. Coba lihat ini ...." kata Rini pada Yudi, sambil menunjukkan obrolan WA di HP-nya.


    "Apaan ...?" tanya Yudi.


    "Ini .... Berita pernikahan kita ramai dibicarakan teman-teman di WA grup." kata Rini sambil menyeret layar HP.


    "Syukurlah, teman-teman bisa tahu semuanya. Artinya kita tidak usah menyebar berita, mereka sudah pada tahu." sahut Yudi santai.


    "Tapi ada satu yang komen kurang nyaman ...." kata Rini.


    "Siapa ...? Bagaimana ...?" tanya Yudi.


    "Yayuk .... Dia tidak percaya kalau kita menikah .... Nih, lihat ...." jawab Rini sambil menunjukkan chat dari Yayuk.


    "Tidak apa-apa .... Setiap orang boleh berprasangka, boleh percaya, juga boleh tidak percaya .... Itu biasa. Yang penting kita selalu berpikir positif, selalu berprasangka baik." sahut Yudi yang meneduhkan hati Rini. Termasuk anaknya, Silvy yang mendengarkan kata-kata Papah angkat yang sekarang menjadi Papah yang sebenarnya.


    "Yudi .... Itu yang aku suka darimu .... Kamu orang yang terlalu baik ...." kata Rini yang tentu sambil memanja di pelukan Yudi.


    "Ih, Mamah .... Jangan manja gitu dong .... Ada Silvy, Mah .... Malu, tauk ...!" kata Silvy mengingatkan ibunya yang bermanjaan di depan anaknya.


    "Maaf ..., Sayang ...." kata Rini yang langsung mencium anaknya.


    Bersamaan dengan itu, Bagas datang, masuk ke ruang makan.


    "Hai, Silvy ..., Mas Yudi ..., Ibu Rini ...." kata Bagas menyebut orang-orang yang masih duduk di tempat makan.


    "Mas Bagas .... Sarapan dahulu ...." kata Rini yang langsung menawari sarapan.


    "Sudah, Bu .... Tadi sarapan di rumah sama anak-anak." sahut Bagas yang sudah menyeret kursi untuk duduk.


    "Mas Bagas, mau minta tolong antar Silvy ke Taman Anggrek. Naik motor saja. Ini rencananya Silvy sama Yayan mau ngantar Nenek sama Kakek pulang ke Magelang." Rini menjelaskan kepada Bagas.


    "Iya, Ibu Rini .... Lhah, kok tidak saya saja yang mengantar Simbok?" kata Bagas yang menanyakan soal mengantar Simbok ke Magelang.


    "Silvy sama Yayan pengin tahu rumah Simbok. Simbok juga pengin ngajak cucunya ke rumahnya ...." sahut Rini agar Bagas tidak tersinggung.


    "Oo ..., begitu, ya .... Bagus itu .... Pasti kalau sampai sana, Neng Silvy tidak mau pulang ...." kata Bagas membombong.


    "Masak, sih ..., Mas Bagas?" tanya Silvy.


    "Wis, to .... Alam pedesaan yang benar-benar masih asli." kata Bagas yang pamer.


    "Ya, pulang lah, Mas Bagas .... Kalau nginep di rumah Nenek, siapa yang ngurusi anggreknya?" sahut Rini.


    "Mas Trimo to, Bu ...." sahut Bagas lantang.


    "Mas Trimo itu kalau ada pembeli yang menawar, tidak berani menurunkan harga .... Takut kalau keliru." kata Rini menjelaskan.


    "Oo ..., gitu, ya ...." Bagas hanya bisa membayangkan orang jual anggrek.


    "Sudah, sana .... Segera antar Silvy, nanti keburu siang." kata Rini yang langsung memerintahkan Bagas berangkat.


    "Siap, Ibu Rini ...." sahut Bagas yang langsung berangkat mengantarkan Silvy pulang ke Taman Anggrek.


    "Pelan-pelan, Mas Bagas ...." kata Silvy pada Bagas.

__ADS_1


    "Tenang, Neng Silvy ...." kata Bagas menjawab santai.


    Motor bebek milik Bagas, langsung meninggalkan rumah Yudi, mengantarkan Silvy menuju Taman Anggrek. Perlahan Bagas menyetir motor yang sudah cukup tua tersebut. Tetapi motor yang diboncengi Silvy itu masih angler, enak dan nyaman dinaiki.


__ADS_2