
Sementara itu, di Jepang, setelah disuruh pulang oleh mertuanya, Yudi segera meninggalkan rumah mertuanya, jauh sebelum pagi tiba. Maklum, kala itu di Jepang sudah masuk musim gugur. Matahari terbitnya terlambat. Malam hari lebih panjang dari siang hari.
Dari stasiun bus di Sakai, Yudi menuju Kyoto. Setelah bus berhenti di stasiun Kyoto, Yudi turun. Keluar dari stasiun, Yudi tidak kembali ke apartemen Yuna. Tetapi ia melangkahkan kaki menuju tempat lain. Yudi berjalan ke arah Okazaki, sebuah perkampungan yang ada di Sakyo Ward, Kyoto. Hanya berjalan kaki. Jaraknya tidak jauh dari stasiun bus di Kyoto, hanya sekitar satu setengah kilometer. Ibarat sambil olah raga di pagi hari. Tentu bukan hanya Yudi yang berjalan menuju kawasan itu, karena di Okazaki terdapat taman yang menjadi tujuan orang-orang berolahraga dan refresing. Di dekatnya Okazaki Park, juga terdapat obyek wisata kebun binatang Kyoto City Zoo. Tentu ramai oleh para pengunjung.
Yudi tidak berolahraga di Okazaki Park, atau pergi berpiknik ke kebun binatang Kyoto. Tetapi ia melanjutkan jalan kakinya, menuju Higashiyama. Daerah ini sangat menarik dengan bangunan-bangunan tradisional yang sudah sangat kuno. Bahkan tempat ini masuk dalam kota budaya yang dilestarikan oleh UNESCO. Ibarat kata dapat disebut sebagai kota lama di Kyoto.
Yudi berjalan kaki melewati beberapa kuil kuno yang mempunyai nilai sejarah bagi orang-orang di Kyoto. Yudi terus menyusuri jalan yang hanya boleh dilalui oleh pejalan kaki. Mobil tidak boleh melewati tempat wisata religi ini. Di kanan kiri jalan, banyak berdiri bangunan kuil kuna, seperti Pagoda Yasaka , Kuil Yasaka, Kuil Kodaiji, dan Kuil Kiyomizudera.
Akhirnya, Yudi singgah di Kuil Shinto Yasaka-jinja, yang merupakan salah satu tempat keagamaan paling agung di Kyoto. Kuil ini dianggap sebagai pusat keyakinan Shinto. Shinto sendiri adalah ajaran atau agama di Jepang yang menganut paham memuja para dewa. Kuil Shinto Yasaka-jinja ini setiap hari selalu dipenuhi orang yang datang berbondong-bondong untuk bersembahyang. Dipercaya oleh masyarakat Jepang, Kuil Shinto Yasaka-jinja ini memiliki energi yang sangat kuat, yang sanggup memberikan pencerahan jiwa bagi orang yang sedang bersedih. Energi keberuntungan itu terpancar dari aura dalam kuil tersebut.
Setelah masuk melintasi gerbang berwarna merah yang menjulang tinggi, Yudi terus masuk menuju pelataran utama kuil. Setelah berhenti sejenak mengamati kanan kiri, melihat sekeliling pelataran, Yudi kembali melangkahkan kaki. Ia langsung masuk menuju aula persembahan yang sungguh sangat mengesankan. Di altar persembahan terdapat aneka buah dan makanan untuk persembahan.
Yudi berdiri diam di depan tempat persembahan tersebut. Banyak orang berlalu lalang yang berdoa memohon berkah di depan tempat persembahan itu. Yudi tidak mengikuti orang-orang yang berdoa, tetapi hanya diam memandangi tempat yang dijadikan sembahyangan penganut Shinto tersebut.
Tiba-tiba ada seorang pendeta atau biksu datang menghampiri Yudi. Pendeta itu mengenakan pakaian semacam baju kimono dari kain putih yang cukup besar, serta kepalanya mengenakan tutup kepala semacam kupluk atau peci khas pendeta Shinto. Pendeta itu menepuk pundak Yudi.
"Nanika otetsudai dekiru koto wa arimasu ka?" kata pendeta itu kepada Yudi yang menanyakan apakah ada yang bisa dibantu.
"Gomen'nasai, bokushi .... Watashi no kokoro wa kanashī." jawab Yudi yang meminta maaf dan mengatakan kalau dirinya sedang bersedih.
"Kanashimanaide kudasai .... Anata ga kanashimi no naka ni iru dakenara, jinsei no imi wa nandesuka. Watashitachi to issho ni kite kudasai." Biksu pendeta itu menasehati Yudi agar jangan bersedih, lantas meminta Yudi untuk ikut masuk ke dalam.
__ADS_1
Yudi melangkah mengikuti sang biksu, masuk ke ruang dalam dari bangunan kuil tersebut. Ada panggung di tengah-tengah yang dihiasi dengan aneka lampion. Jika malam hari, pasti pelataran yang di tengah kuil itu sangat indah dan menarik. Sepintas menyaksikan tempat tersebut, Yudi langsung teringat kepada istrinya yang pernah menunjukkan foto dirinya di tempat tersebut.
"Koko ni kite ...." kata pendeta itu yang minta agar Yudi tetap mengikutinya.
Yudi pun kembali melangkah, mengikuti langkah kaki pendeta itu, yang terus berjalan masuk.
Hingga akhirnya, pendeta itu berhenti di sebuah altar. Pendeta itu duduk bersila di altar, tempat yang agak tinggi, tidak begitu besar, hanya cukup untuk bersila sang pendeta. Tempat ini kalau di rumah Yudi semacam gazebo.
"Achira ni suwatte ..." kata pendeta itu meminta Yudi untuk duduk dekat dengan sang pendeta, di bawah gazebo yang didudukinya.
Lantas Yudi duduk di depan pendeta itu, tepat di bawah duduknya sang pendeta.
"Sorehanandesuka?" pendeta itu bertanya kepada Yudi, menanyakan masalah apa yang dihadapi.
"A, Indoneshia hito?" tanya sang pendeta yang meyakinkan kalau Yudi berasal dari Indonesia.
"Migi .... Shikashi ima, watashi no tsuma wa yukue fumeidesu." kata Yudi yang menceritakan kalau istrinya saat ini hilang.
"Ushinatta? Hanashi wa dodesu ka?" Pendeta itu menanyakan bagaimana cerita istri Yudi bisa hilang.
"Watashi wa shiranai. Watashi no tsuma wa watashitoisshoni Indoneshia ni sunde imasu. Watashi no tsuma wa watashitoisshoni Indoneshia ni sunde imasu. Darekaga kanojo o Nihon ni tsuremodosu tame ni kita to iu hito mo imasu." Yudi menceritakan, kalau istrinya yang tinggal di Indonesia, didatangi oleh orang dari Jepang, dan dipaksa untuk kembali ke Jepang. Namun kenyataannya, setelah dicari ke rumahnya maupun ke rumah orang tuanya, Yuna tidak ditemukan.
__ADS_1
Pendeta itu diam. Lantas memejamkan mata. Dua telapak tangannya ditemukan, terkatup di depan dada, seperti orang menyembah. Mungkin inilah yang dinamakan meditasi ala pendeta Shinto.
Yudi juga ikut diam. Memerhatikan pendeta yang sedang meditasi tersebut. Meski tidak bisa khusuk, Yudi ikut mengheningkan pikir. Pasti memikirkan istrinya. Meski berbeda keyakinan, bahkan adat tradisi, antara Jawa dan Jepang, namun secara universal, mengheningkan cipta itu sama. Saat orang ingin mengetahui sesuatu yang di luar jangkauan nalar manusia, saat seseorang butuh bantuan dari Yang Maha Kuasa, maka yang sama dilakukan adalah menenangkan jiwa, memenapkan pikiran. Lantas, menuju satu titik, fokus menghadap Sang Maha Tahu.
Yudi paham dengan yang dilakukan oleh Pendeta Shinto tersebut. Pasti dia sedang memohon petunjuk dari dewanya. Meminta bantuan untuk mengetahui di mana Yuna kini berada, melalui doa-doa menurut kepercayaannya.
Cukup lama Sang Pendeta Shinto itu berdoa. Cukup lama pula Yudi ikut terdiam menunggu Sang Pendeta. Hingga akhirnya, Sang Pendeta tersebut membuka mata, melepas dua tangannya yang menempel pada dada, lantas meletakkan telapak tangan itu pada lututnya yang masih bersila. Sang Pendeta sudah mengakhiri meditasinya.
Yudi penasaran untuk mendengar kata-kata yang akan disampaikan oleh Sang Pendeta. Pasti ada hal penting yang dibisikkan oleh dewanya, terkait keberadaan istrinya.
"Yudi kyodai, shibaraku koko ni iru yo ni onegaishimasu. Anata wa kiken ni sarasa rete imasu." kata sang pendeta tersebut, yang menyampaikan kalau Yudi justru dalam bahaya. Yudi disuruh menginap di kuil tersebut untuk sementara waktu.
Yudi langsung menunduk. Ada masalah baru bagi dirinya. Pasti yang dikatakan oleh pendeta itu ada benarnya. Karena semalam, mertuanya juga mengatakan kalau orang yang membawa Yuna pasti juga mencari Yudi. Lemas seluruh tubuh Yudi. Ia semakin khawatir. Pasti ada masalah yang sangat penting terkait dengan diri Yuna. Dan pasti, ini masalah yang dirahasiakan.
"Watashi no tsuma wa dodesu ka?" kata Yudi yang menanyakan nasib istrinya.
"Shinpai suru na. Anata no tsuma wa genkidesu." Sang Pendeta mengatakan Yudi tidak perlu khawatir, karena istrinya baik-baik saja.
Yudi diam, tidak bisa berkata apa-apa. Tetapi satu hal, bahwa Yudi tidak bisa menghilangkan rasa khawatir yang selalu menyelimuti hatinya. Tentu tetap merasa khawatir dengan keadaan istrinya.
Namun, Yudi tetap pasrah. Apalagi saat menatap wajah Sang pendeta itu, ada hawa sejuk yang terpancar, seperti halnya angin musim gugur yang membawa berita kalau sebentar lagi di kuil tersebut akan menyambut musim dingin.
__ADS_1
Semoga benar yang dikatakan Sang Pendeta, kalau Yuna dalam keadaan baik. Namun masih ada satu hal yang justru lebih dikhawatirkan oleh Yudi, yaitu dirinya sendiri. Pasti untuk saat ini, ia tidak bisa keluar dari bandara. Bahkan ia juga yakin, saat ini sudah ada orang yang datang ke rumah mertuanya untuk mencari dirinya.
Benar yang dikatakan oleh Sang Pendeta, saat ini Yudi dalam bahaya.