KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 201: KEMBALINYA YUDI


__ADS_3

    Yudi bersama laki-laki tua dan istrinya, diantar oleh sopir dengan menaiki mobil mewah Toyota Century ke Bandar Udara Kyoto. Dari Kyoto, mereka bertiga akan terbang ke Bandar Udara Internasional Tokyo. Dan dari Tokyo mereka akan menuju Bandar Udara Internasional Jakarta Indonesia. Setelah sampai di Jakarta, mereka bertiga akan menuju Bandar Udara Yogyakarta International Airport. Tentu perjalanan yang sangat panjang.


    Entah apa jabatan laki-laki tua itu. Yang jelas, dari mobil yang dinaiki, serta pakaian yang dikenakan oleh sopir yang mengendarai mobil itu, menunjukkan kalau laki-laki itu adalah orang kaya. Bahkan saat dijemput oleh sopir, dan dibawa ke rumah laki-laki tua itu, baru masuk ke halaman rumah saja Yudi sudah berdecak kagum. Rumah yang sangat besar dan megah dengan halaman serta taman yang cukup luas. Hanya orang kaya yang bisa memiliki rumah seperti itu di Kyoto. Apalagi, saat masuk ke dalam rumahnya, meski hanya di ruang tamu, Yudi langsung terperangah oleh kemewahan ruang tamu tersebut. Tidak hanya besar, tetapi juga penuh dengan perabot-perabot mahal.


    Saat berada di ruang tamu itulah, Yudi melihat ada lukisan sepasang laki-laki dan perempuan dewasa yang terpajang di dinding. Yudi tidak lupa, lukisan itu hasil karyanya. Ya, lukisan suami istri di pinggir Sungai Kibune dekat Kuil Kifune. Sore itu, sepasang suami istri dengan usia hampir enam puluh tahun, setelah sembahyang di kuil, tiba-tiba menghampiri Yudi dan meminta untuk dilukis. Yudi pun melukisnya. Dan ternyata, lukisan itu sudah terpajang di rumah mewah.


    Namun, laki-laki yang meminta tolong diantar ke Indonesia ini bukan yang ada dalam lukisan. Lantas, siapa mereka?


    Ach ..., Yudi tidak mau pusing. Seperti pesan Pendeta Agung, tidak usah memikirkan yang tidak perlu dipikirkan. Yang terpenting baginya saat ini adalah bisa pulang ke Indonesia.


    Baru sebentar Yudi duduk di ruang tamu itu, seorang perempuan dengan pakaian layaknya asisten rumah tangga orang kaya, mendatangi Yudi dengan membawa gantungan sarung plastik wadah pakaian. Lantas wanita itu menyerahkan sarung plastik yang masih ada gantungan baju, sebagai wadah pakaian tersebut kepada Yudi, dan menyuruh Yudi untuk berganti pakaian. Wanita itu menunjukkan ruangan untuk berganti. Ternyata sebuah kamar, ruang tidur untuk tamu mestinya.


    Yudi membuka sarung plastik pakaian tersebut. Ternyata berisi setelan baju dan jas. Lantas Yudi mngenakannya. Ia tahu, bahwa kali ini dirinya akan bepergian bersama orang kaya. Maka Yudi harus menuruti dan menghormati orang yang memberikan pakaian tersebut. Ia pun mengenakan setelan yang sudah disiapkan untuk dirinya.


    Keren dan ganteng. Yudi yang sudah berganti pakaian dan mengenakan jas, terlihat sangat gagah. Setidaknya terlihat seperti orang kaya. Pasti setelan pakaian beserta jas yang dikenakan itu harganya sangat mahal. Yudi menuruti semua yang diminta oleh tuan rumah, tentu karena Yudi sangat berharap bisa dibawa oleh orang tersebut kembali ke negaranya. Jadi, apapun yang disuruh, kali ini ia menurut saja. Yang penting bukan hal-hal yang melanggar hukum atau merugikan orang lain. Toh kalau diberi pakaian setelan jas seperti itu, dirinya terlihat perlente. Seperti layaknya orang kaya atau pegawai pejabat penting.


    Setelah berganti pakaian, Yudi langsung diajak berangkat menuju bandara. Karena butuh waktu cukup lama, maka mereka pun terlihat agak tergesa, agar tidak terlambat. Sang sopir yang sudah siap di samping mobil, membukakan pintu tengah, yang bisa ditempati oleh suami istri yang sudah tua itu, serta Yudi yang berhadapan dengan suami istri itu, layaknya duduk di ruang tamu. Mereka sambil mengobrol banyak hal. Dan mobil terus melaju menuju Bandar Udara Kyoto.


    Mobil berhenti di depan pintu masuk bandara. Sopir dengan pakaian jas rapi itu turun dan membuka pintu tengah. Dua penumpang tua turun dari sisi kiri. Sedangkan Yudi turun dari pintu samping kanan. Barang-barang, dua koper besar koper dan tas pakaian milik Yudi, langsung diusung oleh petugas dari bandara menuju tempat cek in. Lantas mereka bertiga, Yudi bersama dua orang tua itu menuju ke pintu masuk.


    "Mama .... Papa ...." dua orang, sepasang suami istri, menemui dua orang tua itu. Mereka memeluk erat.


    Yudi ingat, laki-laki dan perempuan itu adalah orang yang ia lukis di tepi sungai Kibune. Ternyata dua orang tua itu adalah ayah dan ibu sepasang suami istri yang dilukisnya, dan lukisan itu sudah dipajang di dinding ruang tamu rumah yang ditempati orang tuanya. Berarti yang memberi tahu kalau ada orang Indonesia di Kuil Kifune adalah sepasang suami istri yang dilukisnya itu.


    Setelah memeluk Papah dan Mamah, mereka membungkukkan badan memberi hormat pada Yudi. Yudi ikut membungkukkan badan. Lantas Yudi menjabat tangan dua orang suami istri itu.

__ADS_1


    "Hairimashou." kata laki-laki itu yang mengajak masuk ke bandara. Tentu sudah ditunggu untuk segera cek in. Dan tentunya, penerbangan akan segera diberangkatkan.


    Mereka berlima naik pesawat, dari Bandara Kyoto menuju Tokyo. Laki-laki yang sempat dilukis itu duduk bersama Yudi. Sedangkan dua orang tua itu duduk bersama istri dari laki-laki itu.


    "Watashinochichi wa kare no ani to imōto ga koishīdesu. Watashinochichi ga chīsai koro, kare no kyōdai wa Indoneshia de dainijisekaitaisen ni sanka shimashita. Karera wa chichioya to issho ni heishi ni narimashita. Shikashi, subete ga ushinawa remashita. Indoneshia de nakunarimashita. Watashinochichi wa karera no haka o mitsuketai to omotte imasu. Hiru mo yoru mo kare wa sore o itta." kata laki-laki yang sengaja duduk di samping Yudi, tentu ingin mengatakan bahwa ayahnya selalu menceritakan ayah dan kakak-kakaknya yang menjadi tentara, ikut berperang dalam Perang Dunia ke dua. Namun dikabarkan semuanya meninggal di Indonesia. Ayahnya ingin mencari kubur mereka.


    "Watashi no mura ni wa Nihon no dōkutsu ga arimasu. Haka wa arimasuga namae wa arimasen. Umaku ikeba, sore wa anata no chichi no akogare o naosu koto ga dekimasu." Yudi menyampaikan kepada laki-laki itu, jika di kampungnya ada Gua Jepang, juga ada kuburannya yang diduga tentara Jepang yang meninggal, tapi di kuburan itu tidak ditulis nama-nama.


    Laki-laki itu terlihat tersenyum kepada Yudi. Berarti ada harapan jika datang ke tempat itu, ayahnya pasti akan senang. Yudi pun membalas senyuman itu. Dalam hatinya, beruntung waktu itu Yuna membangun dan mempercantik Gua Jepang. Pasti, jika orang-orang ini datang ke sana, mereka tidak kecewa.


    Kurang dari satu jam, pesawat yang ditumpangi Yudi sudah mendarat di Bandar Udara Internasional Tokyo. Selanjutnya mereka akan melanjutkan perjalanan panjang menuju Jakarta.


    Yudi heran, saat masuk ke ruang transit, akan berpindah ke penerbangan luar negeri, ternyata tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Kalau Yudi pernah merasa khawatir saat pemeriksaan, tentu ia takut ditangkap oleh pihak keamanan. Namun kali ini Yudi benar-benar heran dengan orang-orang yang mengajaknya. Tidak ada pemeriksaan sama sekali. Bahkan empat orang itu yang bersama Yudi, langsung dijemput dan disuruh masuk ke ruangan khusus, ruang VIP. Ruang yang biasa digunakan oleh orang-orang penting saat menunggu pesawat. Jika demikian, orang ini bukanlah orang sembarangan. Pasti mereka punya hak istimewa di Jepang.


    Yudi berusaha tenang. Tidak ingin mengetahui hal yang tidak harus ia ketahui. Yudi hanya diam. Hingga akhirnya, mereka dipersilakan masuk ke pesawat dan terbang menuju Indonesia.


    Penerbangan yang sangat lama, dari Tokyo ke Jakarta. Mulai dari matahari berada di tengah langit hingga malam petang. Mereka pun saling bercerita dan juga tidur. Dan tentunya, mimpi-mimpi indah. Hingga akhirnya, pesawat Japan Air Line itu mendarat di Bandar Udara Internasional Sukarno Hata di Cengkareng Jakarta.


    Perjalanan belum selesai. Mereka harus melanjutkan penerbangan domestik dari Jakarta menuju Jogja. Namun penerbangan menuju Jogja tidak ada yang malam hari. Baru esok hari mereka akan melanjutkan perjalanan.


    Dasar orang kaya, mereka tidak tidur di bandara saat menunggu pesawat, melainkan sudah ada petugas hotel yang menjemput. Mereka menginap di hotel dekat bandara untuk menunggu pesawat yang akan berangkat besok jam setengah sembilan pagi. Yudi mengikut saja apa yang diatur oleh orang kaya tersebut.


    Menginap di hotel ini ada hikmah baiknya bagi Yudi. Ia bisa menelepon Bagas. Tentu dengan mengganti ongkos telepon kepada pihak hotel.


    "Halo, Bagas .... Ini Yudi .... Mas Yudi." kata Yudi yang menelepon orang kepercayaannya itu.

__ADS_1


    "He, Mas Yudi .... Bagaimana kabarnya, Mas?" sahut Bagas yang tentu sangat kaget dan senang.


    "Ceritanya besok. Yang penting ini saya sudah di Jakarta, bersama tamu dari Jepang dua keluarga. Tolong bersihkan dan tata kamar. Besok mereka menginap di rumah saya. Tolong jemput saya di bandara, besok jam sembilan." kata Yudi meminta agar Bagas menyiapkan kamar untuk tamu-tamunya.


    "Sama Mbak Yuna, Mas ...?!" tanya Bagas.


    "Tidak. Sudah, sekarang yang penting kamu siapkan kamar. Yang lain besok kita bicarakan saat ketemu. Wis, yo ..., ojo lali." kata Yudi mengakhiri teleponya.


    Sesuai dengan jadwal. Penerbangan dari Jakarta menuju Yogjakarta sudah berangkat. Yudi dan orang-orang yang meminta tolong kepadanya itu kembali melanjutkan perjalanan terakhir. Menuju tempat yang sudah diceritakan oleh Yudi kepada mereka. Dan itulah tempat yang ingin dituju oleh Yudi. Ibarat kata sambil menyelam minum air, Yudi bisa mengantarkan orang-orang Jepang tersebut untuk menyaksikan saksi sejarah keluarganya, tetapi sekaligus bisa pulang kampung secara gampang dan tanpa biaya. Ia sangat bersyukur mendapat kesempatan yang luar biasa ini. Maka, Yudi sudah berjanji dalam hati, ia akan menjamu tamu-tamunya itu sebaik mungkin.


    Sesuai jadwal. Kedatangan pesawat yang ditumpangi oleh Yudi bersama tamu-tamunya, mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta. Begitu turun dari pesawat, Yudi langsung bersujud, tentu sebagai ungkapan syukur kapada Yang Maha Kuasa. Lantas ia mendampingi tamu-tamunya untuk keluar bandara.


    "Jogujakaruta e yōkoso ...." Yudi mengucapkan selamat datang di Yogjakarta kepada dua pasangan suami istri itu, orang tua dan anak serta menantu.


    "Jogujakaruta, kimasu ...." kata para tamu itu, yang tentu ia mengatakan Yogjakarta saya datang untukmu.


    Di depan pintu keluar, Bagas sudah menunggu. Dan saat bertemu Yudi, tentu ia langsung memeluk erat orang yang sudah dirindukan tersebut. Tentu dengan tetesan air mata.


    "Sudah ..., jangan cengeng. Naikkan koper dan tas para tamu itu." kata Yudi pada Bagas.


    "Waduh ..., lhah mobilnya cuman satu thok .... Gimana, Mas?" kata Bagas yang tentu bingung, karena mobilnya tidak mungkin muat jika ada koper yang besar.


    "Pesan satu taksi, nanti biar mengikuti kita. Kamu bersama dua tamu, saya naik taksi bersama dua tamu." kata Yudi, memberesi permasalahan yang dibingungkan Bagas.


    Dua mobil itu berjalan beriringan. Tentu langsung menuju rumah Yudi. Lumayan cepat, melintas di Jalur Lintas Selatan Yogyakarta. Para tamu itu pun tidak berkedip menyaksikan pemandangan di kanan kiri. Yang tentunya sangat berbeda dengan pemandangan di Jepang. Terutama rumah-rumah penduduk yang menggunakan bangunan khas rumah adat Jawa. Namun bagi Bagas, tentu sangat bingung saat selalu ditanyai oleh penumpangnya dengan bahasa Jepang. Bagas tidak tahu sama sekali apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


    Tidak begitu lama, kurang dari satu jam, dua mobil itu sudah sampai di rumah Yudi. Dan lagi-lagi, Yudi bersujud saat masuk ke rumahnya. Yudi sudah kembali, tentu dengan banyak cerita.


__ADS_2