KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 70: SAKSI KEMAHA-KUASAAN TUHAN


__ADS_3

    Hamdan sudah menyelesaikan berkas-berkas pemesanan homestay yang akan dipesan kepada pihak pengelola wisata Kampung Nirwana, bagian pengembangan sarana prasarana wilayah. Ia berencana akan mengirim berkas-berkas tersebut ke Jogja, tentu bersama keluarga. Rencananya akan mengajak istri dan anak-anaknya.


    Hari Sabtu pagi, Mobil fortuner putih keluar dari rumah keluarga Hamdan. Yayan, suami Silvy, yang mengendarai mobil itu. Sementara Hamdan duduk di depan di samping menantunya yang menyetir. Rini dan Silvy duduk di tengah. Tentu sambil mengobrol dengan berbagai cerita masing-masing.


    Mobil putih itu melaju di tol lintas Jawa dengan kecepatan standar, walau terkadang melebihi kecepatan yang ditetapkan. Tentu melihat situasi keramaian jalan. Maklum hari Sabtu, banyak mobil keluar pada pergi berwisata. Orang Jakarta biasa seperti itu, setiap akhir pekan bepergian mencari suasana segar untuk refresing. Pantas saja setiap Sabtu Minggu kawasan Puncak selalu padat dan macet. Dengan dibangunnya tol lintas Jawa, kini orang-orang Jakarta yang ingin refresing banyak yang pergi ke luar daerah, seperti ke arah Solo - Jogja. Maka tol lintas Jawa juga ramai dipadati kendaraan yang ingin berwisata.


    "Pah, nanti kita berhenti di rest area Brebes, ya .... Mamah mau beli telor asin untuk oleh-oleh." kata Rini yang sudah memesan kepada suaminya.


    "Iya, Mah .... Sekalian istirahat." sahut Hamdan.


    "Papah Yudi dibelikan lho, Mah." Silvy menimpali rencana mamahnya.


    "Iya ...." jawab mamahnya.


    "Nanti saya ingin tahu reaksi Mis Yuna kalau makan telor asin .... Hehe ...." kata Silvy.


    "Mis Yuna, siapa?" tanya papahnya.


    "Iih, Papah ...! Mis Yuna yang gadis dari Jepang itu lho, Pah .... Yang membangun obyek wisata di Kampung Nirwana." jelas Silvy.


    "Oo .... Cantik, nggak?" tanya papahnya lagi.


    "Ya cantik lah, Pah .... Nih, fotonya ...." sahut Silvy yang langsung menunjukkan foto dirinya bersama Mis Yuna, yang ada di HP-nya.


    "Hmmm .... Cantik sekali ...." kata papahnya yang mengamati foto-foto di HP Silvy.


    "Masih gadis lho, Pah ...." Rini menimpal.


    "Oo ..., ini yang katanya Mamah sama Silvy mau jodohkan itu?" tanya Hamdan.


    "Iya, Pah .... Kira-kira mau nggak ya, Pah?" tanya Rini pada suaminya.


    "Siapanya? Kalau Yudi, pasti mau lah .... Orang cantiknya kayak gitu, kok ...." sahut Hamdan.


    "Iih, Papah .... Gini-gini, Mamah dulu juga pernah cantik!" kata Rini yang sewot.


    "Ya pasti lah, Mah .... Kalau tidak cantik, Papah mana mau .... Hehe ...." goda suaminya.


    Tentu anak-anaknya tertawa menyaksikan tingkah mamahnya yang sewot kepada papahnya.


    "Kalau Mis Yuna, kira-kira mau nggak, Pah?" Silvy kembali menanyakan.


    "Lha, kalau itu saya tidak tahu. Karena dia kan orang Jepang ...." jawab Hamdan.


    "Memangnya kalau orang Jepang kenapa, Pah?" tanya Rini.


    "Itu yang paham persis ya, Mas Yayan ..., yang sudah mempelajari budaya dari berbagai bangsa." sahut Hamdan.


    "Iya, Mas ...? Gimana, Mas? Kenapa, Mas?" Silvy langsung menghujankan pertanyaan kepada suaminya yang sedang menyetir.


    "Jangan ganggu suamimu, Silvy .... Mas Yayan kan sedang menyetir ...." kata ibunya yang mengingatkan Silvy.


    "Nggak papa, Mah .... Malah bisa mengurangi kecepatan." sahut suami Silvy.


    "Kira-kira gimana, Mas? Mis Yuna kira-kira mau nggak, untuk menikah sama orang Jogja?" tanya Silvy pada suaminya.


    "Saya kan belum tahu Mis Yuna ..., saya kan belum pernah ketemu. Tidak bisa memberikan penilaian." jawab suaminya ringan.


    "Maksud saya tentang gadis-gadis di Jepang, Mas .... Apa dia mau menikah?" tegas Silvy.


    "Wanita Jepang kalau sudah bekerja, terutama wanita karier seperti Mis Yuna, biasanya tidak mau menikah. Alasannya sebenarnya bukan karena budaya, tetapi pada masalah karier pekerjaan. Mereka tidak mau terganggu dengan urusan anak, suami maupun rumah tangga. Jadi kalau mereka sudah bekerja, biasanya tidak mau diganggu dengan pernikahan. Bahkan sudah ada penelitian yang menyatakan jika wanita Jepang yang memiliki jabatan atau karier dalam pekerjaan, semakin tinggi jabatannya semakin banyak yang tidak menikah. Itu bukan budaya, Pah ..., tetapi karena faktor ekonomi." jelas Yayan, suami Silvy.


    "Oo ..., begitu ya ...." Hamdan dan Rini secara bersamaan menerima penjelasan menantunya.

__ADS_1


   "Apapun alasannya, nanti Silvy mau coba merayu Mis Yuna. Setidaknya sudah melakukan usaha. Gitu ya, Mah." sergah Silvy yang memang ingin Yudi menikah dengan Yuna.


    "Mamah juga berfikir begitu, Silvy .... Saya itu kasihan sama Yudi, sudah tua kok belum menikah." kata Rini.


    Mobil terus melaju, penumpang terus berbincang. Hingga tanpa terasa, sopir sudah membelokkan mobil di rest area Brebes. Tentunya untuk istirahat sejenak, mendinginkan mesin mobil, ke kamar kecil, dan yang tidak boleh lupa membeli oleh-oleh telor asin.


    Setelah selesai beristirahat, membeli kebutuhan pengisi perut, serta membeli oleh-oleh, Yayan, suami Silvy yang menyetir mobil, kembali melajukan mobilnya di jalan tol. Kali ini tidak sekadar berjalan sesuai standar kecepatan. Tetapi laki-laki muda itu melajukan kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi. Pengendara yang lihai, sanggup melajukan kendaraan dengan stabil. Sehingga meski cepat tetap tidak terasa goyang dan tetap nyaman. Buktinya, tiga penumpang yang ada di dalam mobil itu sudah tertidur semua. Meski demikian, Yayan tetap waspada dan hati-hati. Hingga akhirnya, mobil putih itu sudah keluar gerbang tol Kartasura, menuju Jogja.


    Hamdan terjaga, saat mobil yang ditumpangi bergetar karena melindas polisi tidur.


    "Hah, kok sudah keluar tol? Sampai mana, kita?" tanya Hamdan.


    "Ini sudah masuk Kota Klaten, Pah ...." sahut menantunya.


    "Waduh, sudah sampai Klaten? Kok cepat benget?" Rini yang terbangun juga ikut bertanya.


    "Biasa, Mah .... Karena Mamah tidur, maka gak ngitung lambatnya .... Hehe ...." ledek menantunya.


    "Sampai mana, Mas?" tanya Silvy yang juga ikut terbangun.


    "Sudah masuk Kota Klaten, sebentar lagi masuk Jogja." sahut suaminya.


    "Pelan saja, Mas .... Nanti kita mampir makan siang." suruh Hamdan pada menantunya.


    "Iya, Pah .... Mau makan apa?" jawab Yayan sang menantu yang tetap melajukan mobilnya perlahan.


    "Mamah sama Silvy pengin makan apa?" tanya Hamdan.


    "Saya pengin seafood, Pah ...." jawab Rini.


    "Iya, Pah ..., Silvy juga mau." sahut anak perempuannya.


    "Oke. Pelankan mobil, Mas .... Kita berhenti dan parkir di alun-alun Klaten. Kita cari sambil jalan-jalan. Kelihatannya di daerah situ ada restoran seafood." kata Hamdan.


    Zaman sekarang memang mudah, mau cari apa-apa tinggal geser HP, sudah ketemu. Canggih.


    Yayan langsung meminggirkan mobilnya di area parkir alun-alun sisi barat. Hanya berjalan menyeberang, sudah sampai di restoran seafood yang berada dekat alun-alun Klaten. Restoran itu cukup terkenal. Katanya rasanya nikmat. Saat jam makan siang, penuh sesak oleh pengunjung. Beruntung Hamdan sekeluarga sampai di situ sudah lewat jam makan siang, sehingga tidak begitu ramai.


    Dan memang benar-benar nikmat. Mereka berempat semua kekenyangan, saking enaknya menikmati makanannya. Tentu, harganya sangat murah bila dibandingkan dengan Jakarta. Makanya Hamdan memesan dalam porsi besar. Harga kuliner di Kota Klaten, kota kecil di Jawa Tengah, jangan dibandingkan dengan Jakarta.


    Yayan kembali menjalankan mobilnya. Langsung menuju arah Pantai Parang Tritis. Silvy menghidupkan aplikasi peta on line. Google Map. Rini mengawasi kanan kiri. Tentu agar tidak kesasar.


    Hanya sekitar satu jam, mereka sudah sampai di lapangan parkir Kampung Nirwana. Ada driver wisata yang mencegat. Tentu biasanya mobil diparkir di lapangan, dan untuk ke obyek wisata mereka harus naik mobil wisata.


    "Maaf, Mas ..., kami mau ke rumah Mas Yudi." kata Hamdan kepada orang itu, setelah membuka kaca pintunya.


    "Oh, iya ..., Bapak. Sudah tahu arah ke rumah Mas Yudi, nggih?" tanya orang yang mencegat tadi.


    "Sudah .... Kami sudah pernah ke sana." jawab Hamdan lagi.


    "Tapi, jam segini Mas Yudi masih ada di puncak bukit, masih menunggui pembangunan, Pak." sahut orang itu lagi.


    "Kalau kami menemui di tempat kerja bisa nggak?" tanya Hamdan.


    "Tidak bisa, Pak ..., jalan ke Taman Awang-awang ditutup sementara untuk proyek." sahut sopir wisata.


    "Tidak apa-apa .... Kami akan tunggu di rumahnya saja." sahut Hamdan.


    "Pah, aku mau turun sini. Mau menyusul Papah Yudi di tamannya." kata Silvy yang sudah membuka pintu mobil dan keluar.


    "Silvy ..., nanti saja ...!" teriak mamahnya.


    "Tidak, Mah .... Papah sama Mamah ke rumah Pah Yudi saja dulu. Silvy mau lihat pekerjaan Papah Yudi." sahut Silvy yang yang langsung meminta diantar driver ke puncak bukit. Dengan membonceng sepeda motor.

__ADS_1


*******


    Di puncak bukit Taman Awang-awang, Yuna yang dibantu Bagas dan Pak Haryadi, baru saja selesai membagi uang bayaran para pekerja. Tentu suasana di puncak bukit itu ramai, karena orang-orang senang menerima bayaran. Tertawa riang para pekerja terdengar di mana-mana. Setidaknya tersenyum sambil memasukkan uang bayarannya ke dalam dompet maupun kantong sakunya. Dapat uang. Meskipun nantinya ada yang langsung diberikan kepada istrinya untuk belanja atau kebutuhan keluarga lainnya. Setidaknya, mereka bisa memperoleh penghasilan. Dapat rezeki.


    Yuna duduk di tangga berundak yang sudah selesai dibangun. Tangga yang terbuat dari tatanan batu alam yang dipasang dengan pasir semen, terlihat artistik. Membentang dari timur ke barat, dan melengkung ke selatan. Ada lima undak-undakan tangga. Setiap sela dua meter untuk jalan, ada tempat yang dibangun lebih tinggi dan diplester halus untuk duduk. Orang Jogja menyebut dengan istilah buk. Buk itu tempat untuk duduk. Dari tempat itu, sejauh mata memandang bisa menyaksikan keindahan alam dari tiga penjuru, sisi timur, selatan dan barat. Di bagian bawah tangga berundak, sudah dipasang paving block selebar satu meter, untuk jalan menuju lokasi spot-spot foto yang terdapat di pinggir bukit sisi timur, selatan dan barat. Berbatasan langsung dengan jurang pantai selatan. Sudah tertata rapi. Sedangkan di sela-sela antar jalan, rencananya akan ditanami berbagai tanaman hias, agar terlihat asri. Sengaja pada lokasi itu tidak ditanam pohon besar atau bangunan lain, agar pemandangannya tidak terhalang.


    Tentu seperti biasa, Yuna ingin menyaksikan keindahan matahari terbenam di Samudera Selatan.


    Yudi yang sudah datang dari tadi siang, sudah ikut membantu para tukang menata barang di barak. Karena besok hari Minggu mereka libur. Maka harus dipastikan tidak ada peralatan yang berada di luar. Lantas ia mengecek ke berbagai tempat. Memastikan tidak ada barang yang berbahaya dan harus tertata rapi.


    Tiba-tiba, terdengar deru motor yang membesarkan gasnya. Tentu gas motor harus lebih kencang untuk menaiki jalan menanjak menuju puncak bukit.


    "Hee ...! Mau ngapain?! Obyek wisatanya masih ditutup, sedang ada pembangunan!" teriak Yudi saat melihat laki-laki dan perempuan berboncengan naik ke atas bukit, yang dikira akan piknik.


    "Mengantar tamu, Mas Yudi!" sahut pengendara motor.


    "Oo ..., kamu to, Jo .... Ngantar siapa?!" tanya Yudi yang paham dengan si pengendara.


    "Ini, ada orang nyari Mas Yudi." sahut pengendara itu yang langsung menuju ke tempat Yudi.


    Dan, setelah penumpang yang membonceng itu turun ....


    "Papah Yudi ...! Silvy kangen ...." kata perempuan yang membonceng motor.


    "Ya ampun ..., Silvy ...?! Ngapain sampai sini?!" Yudi kaget saat tahu yang datang adalah Silvy, anak perempuan kekasihnya.


    Spontan Silvy langsung menubruk dan memeluk Yudi. Tidak hanya memeluk, bahkan Silvy juga mencium pipi kanan pipi kiri Yudi.


    "Tubuh Papah kotor semua, Silvy ...." kata Yudi yang dipeluk. Lantas melepaskan pelukan anak angkatnya itu.


    Yudi memberi uang lembaran lima puluh ribu kepada orang yang mengantar Silvy, yang dipanggilnya "Jo" tadi.


    "Makasih ya, Mas Yudi .... Saya langsung turun ...!" kata pengendara motor itu yang langsung memutar motornya menuruni bukit.


    "Ya ..., hati-hati!" jawab Yudi.


    "Pah ..., Silvy kangen!" kata Silvy yang kembali melendot memeluk tangan Yudi.


    "Ayo ..., ikut saya .... Kita temui Mis Yuna. Ada yang indah di sini, yang setiap sore selalu disaksikan oleh Mis Yuna. Kita ikut ke sana." kata Yudi yang mengajak Silvy menemui Yuna.


    Mereka berdua melangkah hingga sampai pada tangga berundak yang ada buk-buk tempat duduknya.


    "Mis Yuna ...!!" tiba-tiba Silvy berteriak saat melihat Yuna yang duduk di buk itu.


    Yuna yang mendengar suara panggilan dari seorang perempuan, langsung menoleh ke asal suara itu.


    "Silvy ...?!" Yuna tidak percaya.


    "Mis Yuna ..., I miss you ...!" teriak Silvy yang langsung menubruk Yuna.


    Dua perempuan cantik itu langsung berpelukan, melepas rasa rindunya. Terutama Silvy, yang mendekap erat Yuna, karena ia sudah ingin sekali untuk bertemu dengan wanita yang dikagumi itu.


    "Come on, sit here .... Kita saksikan keindahan sunset." ajak Yuna untuk duduk menyaksikan matahari terbenam.


    Lantas mereka bertiga duduk di buk, menyaksikan matahari terbenam bersama. Yudi berada di tengah, diapit oleh dua perempuan cantik. Terlihat sangat mesra. Tangan kanan Yudi memeluk pinggang Yuna. Sedangkan tangan kirinya memegang erat bahu Silvy. Tangan Yuna menggenggam tangan Silvy yang berada di atas pangkuan Yudi. Kepala Silvy sudah merebah di bahu kiri Yudi. Sungguh kasih sayang yang luar biasa dari serorang perjaka tua. Seakan, Yudi dan Yuna adalah ayah dan ibu, sedangkan Silvy adalah anaknya. Keluarga yang bahagia dan sejahtera sedang berpiknik bersama.


    Silvy yang kangen, tentu merasakan kenyamanan yang teramat sangat, dari pelukan Yudi serta genggaman tangan Yuna. Sambil banyak bertanya kepada Yuna maupun Yudi, perempuan muda itu tetap memanja.


    Mantari mulai turun menuju peraduan. Sebentar lagi akan ditelan cakrawala Laut Selatan. Bola oranye kemerahan besar itu, bagaikan mata dewa yang tidak mau berkedip memandangi tiga insan yang mengamatinya pergi untuk bersembunyi.


    Mereka bertiga menyaksikan keindahan lukisan alam itu, yang seperti lukisan para maestro.


    "Silvy ..., Yuna ..., lihatlah kemaha-kuasaan Tuhan. Kita hanya makhluk lemah, mesti bersyukur bisa menikmati keindahan ciptaan-Nya. Di sini, kita hanya menjadi saksi." kata Yudi pada dua perempuan yang dipeluknya.

__ADS_1


    Dua wanita itu mendekap tubuh Yudi. Seperti laut biru Pantai Selatan yang sudah mendekap matahari.


__ADS_2