KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 211: MAKAN MALAM MESRA


__ADS_3

    Akhirnya, Silvy dan Yayan sudah menyelesaikan tugasnya dalam belajar mengembangkan anggrek di Kota Malang. Ia kembali ke Kampung Nirwana. Begitu mendengar kabar kalau Yudi, papah angkatnya sudah kembali di Kampung Nirwana, tidak sabar rasanya dua orang ini ingin segera menemui papah angkatnya tersebut. Maka serta merta, Yayan menyetir kendaraannya, melintasi tol trans Jawa tanpa istirahat. Pasti di perjalanan, mereka berdua senantiasa membahas papah angkatnya. Tanpa terasa, belum sampai sore mereka pun sudah sapai Jogja, memasuki halaman parkir Taman Anggrek Nirwana.


    "Mamah ....! Kami pulang ...!" teriak Silvy saat masuk di ke pendopo.


    Ibunya yang tentu sudah kangen ditinggal oleh anaknya selama satu bulan, langsung bergegas memapak anaknya.


    "Emhh .... Anak Mamah makin hebat .... Mandi dahulu, ganti baju, baru makan bersama sambil ngobrol." kata ibunya yang langsung menyuruh anaknya untuk membersihkan diri.


    "Uuhh ...! Bawaannya berat, Mah .... Ini pakaian kotor semua ...." kata Silvy yang masih menyeret kober pakaian.


    "Langsung ditaruh dekat mesin cuci. Nyucinya nanti saja, biar airya dipakai Mas Trimo dulu." kata Rini meyuruh Silvy untuk menaruh koper bawaan anaknya.


    Sementara itu, di mobil, Yayan masih menurunkan barang-barang bawaannya. Masih ada tas ransel yang juga berisi pakaian. Ada tas kecil cangklong milik Silvy. Dan di bagasi belakang, jok belakang dilipat, diisi berbagai macam anggrek. Di situ juga terdapat kardus dari stereofoam, berisi botol-botol bibit anggrek. Terutama bibit anggrek yang masih keci baru satu mekar dari biji, merupakan hasil praktek pembibitan yang dilakukan oleh Silvy dan Yayan.


    "Mas Trimo ...! Sini sebentar, Mas ...! Tolong bantuYayan ...!" teriak Rii memanggil Mas Trio utuk membantu menurunkan barang-barang dari mobil Yayan.


    "Inggih, Ibu Rini ...." Trio menjawab lantas bergegas menuju halaman parkir.


    Yayan dan Trimo menurunkan anggrek-anggrek yang dibawanya dari tempat pengembangan anggrek di Malang.


    "Banyak sekali, Yan ...?" taya Rini yang penasaran dengan anggrek yang dibawa enantunya.


    "Iya, Mah .... Ini ada berbagai jenis. Rata-rata dendrobium giant. Jenis dendro raksasa. Ini masih anakan semua, Mah ...." jawab Yayan sambil mengangkat pot-pot anggrek dari bagasi.


    "Sebegini besar ini masih anakan ...? Terus besarnya seberapa ...?" tanya mertuanya yang tentu bingung.


    "Yang ini, kalau dewasa tinggi batangnya bisa mencapai tiga meter, Mah ...." jawab Yayan.


    "Hah ...?! Tiga meter ...?! Terus mau ditaruh di mana?" tanya Rini menjadi bingung.


    "Besok akan saya buatkan green house khusus untuk si giant." jawab Yayan.


    Tentu Mas Trimo geleng-geleng kepala. Pasti bingung cara merawatnya. Jika ada pembeli, bagamana mengemasnya.


    "Terus ..., ini ditaruh di mana, Mas Yayan ...?" tanya Trimo yang sudah siap mengangkat.


    "Taruh di luar belakang, jangan dimasukkan ke kebun dahulu. Dekat tempat istirahatnya Mas Trimo." jawab Yayan.


    "Harganya mahal?" tanya ibunya.


    "Lumayan, Mah .... Nanti kalau sudah jadi, sudah keluar bunganya, harga jualnya sepuluh jutaan." jawab Yayan.


    "Hati-hati, jangan sampai patah, Mas Trimo ...." pesan Rini pada Mas Trimo yang mengangkati pot-pot itu.


    "Lihat yang ini, Mah ...." kata Yayan sambil menunjukkan botol-botol yang ada di dalam kotak gabus.


    "Wao .... Kok mirip brokoli ...?" kata Rini yang menyaksikan bibit anggrek yang baru mekar dari biji-biji yang ditangkar di dalam botol.

__ADS_1


    "Iya, Mah .... Dari satu biji bisa tumbuh ribuan bibit. Ini nanti kalau sudah besar harus dipindahkan agar tidak terlalu berebut makanan." jelas Yayan.


    "Waoo .... Berarti kalau kita bisa mengembangkan pembibitan sendiri, memang untungnya bisa besar, ya ...?" kata Rini yang tentu tersenyum bahagia.


    "Iya .... Tapi kita harus punya laboratorium, Mah ...." jawab Yayan.


    "Ya sudah .... Itu kita bahas nanti. Sekarang mandi dahulu, berganti pakaian, kita makan bersama." kata Rini yang membantu anaknya membawakan tas Silvy.


    Selepas anak-anaknya pergi mandi, Rini menelepon Yudi. Tentu melalui telepon rumah, karena Yudi masih belum mau menggunakan HP. Dalam telepon tersebut, Rini meminta Yudi datang ke rumahnya, makan malam bersama anak-anaknya yang baru pulang dari Malang.


    Yudi yang menerima telepon dari Rini, langsung menyanggupi. Ia akan datang selepas magrib. Maka serta merta Yudi pun mandi dan berdandan. Tentu mengenakan pakaian yang bagus dan terlihat keren. Yudi mengenakan celana jean warna biru yang sudah mulai memudar, serta baju kotak-kotak dengan warna dominan merah biru. Yudi terlihat seperti mahasiswa.


    Di tempat makan, Rini bersama Silvy dan Yayan sudah menunggu kedatangan Yudi. Tentu saat ibunya menyampaikan kalau Yudi bakal datang, Silvy dan Yayan merasa senang. Walau perut sudah sangat lapar, ia rela menunggu kedatangan orang yang memang sangat diharapkan untuk ketemu.


    Memang tidak lama. Yudi yang di tunggu-tunggu pun datang, langsung masuk menuju ke tempat makan rumah Rini.


    "Papah Yudi ...!" teriak Sylvy yang tahu kedatangan Yudi, dan langsung berdiri untuk menemuinya. Tentu sambil menyalami dan mencium tangan laki-laki yang dianggap sebagai papahnya tersebut.


    Yudi yang baru sampai di teras itu, menyambut Silvy, dan memeluk perempuan muda itu, tentu dengan penuh rasa kangen.


    "Silvy kangen sama Papah Yudi ...." bisik Silvy saat dipeluk Yudi.


    "Saya juga rindu pada kalian ...." balas Yudi.


    Demikian juga Yayan, yang ikut menghampiri kedatangan Yudi. Yudi memperlakukan sama. Yayan dipeluk dengan rasa kangen. Bahkan pelukannya lebih lama dari Silvy.


    "Bagaimana kabarnya, Pah ...?" tanya Yayan.


    "Ee ..., ee .... Duduk sini, kok malah pada berdiri di situ saja ...." tegur Rini yang menyuruh Yudi serta anak-anaknya ke tempat makan.


    Mereka bertiga pun menuju kursi yang sudah disiapkan oleh Rini, untuk menikmati makan malam yang sudah disediakan oleh Rini. Silvy duduk berdampingan dengan Yayan. Sedangkan Yudi, sengaja diberi kursi yang dekat dengan ibunya. Mau tidak mau, Yudi duduk berdampingan dengan Rini.


    Rini langsung mengambilkan nasi untuk Yudi. Pasti hati Rini merasa senang bisa meladeni Yudi.


    "Nasinya segini, cukup apa kurang?" tanya Rini pada Yudi.


    "Sudah-sudah


    "Pah, gimana kabar Mis Yuna?" tanya Silvy tiba-tiba di saat menikmati santap malam.


    "Eeh ..., Silvy .... Gak baik bertanya begitu ...." sahut Rini yang kurang berkenan dengan pertanyaan anaknya. Ia khawatir kalau justru akan mengingatkan sakit hati Yudi.


    "Silvy ingin tahu, Mah .... Kan sudah lama tidak dengar kabar beritanya ...." kata Silvy yang protes.


    "Iya ..., tapi kita menikmati makan terlebih dahulu .... Biar merasakan enaknya masakan Mamah." kata Rini pada anaknya.


    "Tidak apa-apa .... Sekalian dengan ngobrol malah lebih asyik ...." Yudi ikut menyahut.

__ADS_1


    "Iya, Pah .... Terus, gimana kabarnya Mis Yuna di Jepang?" tanya Silvy lagi, mengulang pertanyaannya. Maklum, tentu Silvy sangat ingin tahu kabar berita wanita yang pernah ia idolakan tersebut.


    "Pasti baik ...." jawab Yudi lembut.


    "Kok tidak diajak balik ke Jogja lagi?" tanya Silvy yang tentu penasaran.


    "Silvy ..., kok nanya-nanya melulu .... Biarkan Papah Yudi menikmati makan dahulu ...." cegah ibunya.


    "Tidak apa-apa .... Dia kan juga ingin tahu." sahut Yudi.


    "Iih ..., Mamah itu, lho .... Kok sukanya nyegah-nyegah .... Papah Yudi saja nggak papa, kok ...." sahut Silvy yang tidak mau dikalahkan oleh ibunya.


    "Sudah .... Tidak usah diributkan. Yang harus kalian ketahui, Mis Yuna ada di Jepang. Begitu saja. Jadi, ya ..., Mis Yuna kerja di Jepang." jawab Yudi.


    "Oo .... Jadi Mis Yuna tinggal di Jepang lagi ya, Pah ...." sahut Silvy.


    "Iya ...." jawab Yudi.


    "Sampai kapan?" tanya Silvy.


    "Tidak tahu .... Bahkan mungkin tidak kembali lagi kemari." jawab Yudi.


    "Lhoh ..., kok tidak tahu, Pah ...?!" Yayan langsung memotong, tentu karena heran.


    Yudi terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaan Yayan. Tapi faktanya, Yuna memang tidak diketahui. Dan kapan akan kembali atau bisa ditemui, juga tidak diketahui. Lagi-lagi jika Yudi memikirkan Yuna, pasti pusing kepalanya. Ia bingung untuk menerangkannya. Akhirnya, Yudi menjadi tidak berselera untuk meneruskan makannya.


    "Yayan .... Nanti lah ngobrolnya .... Sekarang makan dahulu ...." kata Rini yang mengingatkan anak-anaknya.


    Suasana menjadi hening. Tidak ada yang bicara. Yayan diam, tidak nyaman setelah menyampaikan kata-kata yang ia rasa sudah menyinggung perasaan Yudi. Demikian juga Silvy, begitu tahu Yudi menunduk dan diam, ia sadar bahwa ayah angkatnya itu sedang tidak berkenan. Meski diam, selera makan mereka sudah menghilang. Sudah tidak minat lagi untuk menikmati masakan ibunya.


    "Papah Yudi ..., saya mohon maaf jika kata-kata saya kurang berkenan dan menyinggung perasaan Papah Yudi." akhirnya Yayan menyampaikan penyesalannya.


    "Saya maklum .... Kalian pasti ingin tahu. Namun terus terang, saya bingung untuk menjawabnya." kata Yudi.


    "Jika boleh tahu, apakah memang Mis Yuna tidak bakal kembali ke Jogja?" tanya Yayan lebih lembut.


    "Yayan bisa mengeja huruf kanji? Tulisan Jepang?" tiba-tiba Yudi menanyakan keahlian Yayan.


    "Kalau hanya mentranslate tulisan dari huruf Jepang ke Latin, sedikit-sedikit bisa, tapi saya tidak tahu artinya kalau tidak melihat kamus. Memangnya ada apa, Pah ...?" jawab Yayan.


    "Besok kalau ada waktu senggang, saya minta tolong untuk dibantu diubahkan dari huruf Jepang ke Latin, apakah bisa?" kata Yudi yang ingin meminta tolong.


    "Bisa .... Siap, Pah .... Sekarang pun saya siap." sahut Yayan bersemangat. Tentu sebagai bukti minta maafnya.


    "Besok saja .... Sekarang badanmu masih capek ..., sebaiknya istirahat saja." kata Yudi yang tentu memahami kondisi Yayan menyetir dari Malang ke Jogja sendirian.


    Yudi tersenyum, tentu karena akan bisa membaca rahasia yang ada dalam flash drive Yuna. Semoga saja Yudi bisa mengetahui keberadaan Yuna secepatnya.

__ADS_1


    Kini mereka kembali mengobrol, namun berganti topik. Yaitu tentang anggrek. Rencana Rini untuk membangun laboratorium pembibitan anggrek. Suasana kembali riang saat Silvy dan Yayan menceritakan kelucuan-kelucuan saat belajar pembibitan anggrek di Malang. Rini dan Yudi pun saling tertawa, bahkan saling memukul pundak dengan penuh kemesraan, karena geli dengan cerita anak-anaknya.


    Suasana benar-benar akrab dan menyenangkan, seperti layaknya keluarga bahagia sejahtera yang sedang menikmati makan bersama. Tentu Rini sangat berharap, suasana seperti ini akan terus berlanjut.


__ADS_2