
"Kriiing .... Kriiing .... Kriiing ...." suara telepon dalam kamar Yudi berdering.
Yudi yang sedang membersihkan dan merawat taman, bergegas menuju ruangannya, lantas mengangkat panggilan telepon.
"halo ...." kata Yudi saat mengangkat telepon.
"Yudi .... Ini aku ..., Rini ...." jawab si penelepon, yang ternyata adalah Rini.
"Hai, Rini .... Gimana kabar ...?" balas Yudi.
"Hai, Yudi .... Baik, Yud. Ini saya mau minta tolong, Yud .... Apakah Yudi ada waktu?" kata Rini dalam telepon.
"Iya ..., minta tolong apa?" tanya Yudi.
"Begini, Yudi ..., sepulang anak-anak dari Malang, mereka minta dibuatkan laboratorium untuk mengembangkan anggrek. Apa Yudi ada waktu untuk merancangkan bangunannya?" kata Rini yang tentu sangat berharap bantuan Yudi.
"Kalau laboratorium anggrek, terus terang saya belum pernah melihat, dan belum pernah tahu. Tapi kalau hanya desain bangunannya akan saya coba." jawab Yudi yang memberi harapan.
"Ya .... Yudi ke rumahku, ya .... Nanti bisa dibahas bersama Yayan dan Silvy. Dia punya foto-foto laboratorium yang ada di Malang. Mungkin itu bisa digunakan untuk referensi desainnya." kata Rini yang meminta Yudi datang ke rumahnya.
Tentu Rini tidak sekadar meminta bantuan Yudi membuatkan desain laboratorium, tetapi juga ingin ketemu Yudi. Setidaknya Rini bisa melihat wajah Yudi.
Bagi Yudi yang saat ini adalah pengangguran, tentu tidak masalah jika sewaktu-waktu pergi atau mau ke mana saja. Yudi sudah tidak terikat oleh jam kerja kantor. Sudah bebas. Itulah enaknya orang yang tidak terikat oleh aturan kantor. Yudi merasa lebih enjoi, karena tidak harus terbeban oleh tanggung jawab pekerjaan kantor lagi. Walau banyak orang yang mengatakan jika menjadi pegawai negeri itu seperti menjadi ningrat, apa-apa enak. Datang pagi baca koran sambil ngopi. Siang sdikit sudah nongkrong di kantin. Kerjanya santai, bayarannya sudah pasti. Dan yang lebih enak lagi jika dapat proyek, uang sampingannya sangat besar.
Namun Yudi bukanlah tipe pegawai seperti itu. Ia tidak pernah menganggap menjadi pegawai itu sebagai pekerjaan paling bergengsi. Tetapi bagi Yudi justru terbeban saat menyaksikan teman-teman di kantornya yang hanya tongkrang-tongkrong menunggu bayaran tanggal satu. Tapi sementara dompetnya kosong, bayarannya habis untuk membayar berbagai macam potongan, mulai dari bank hingga kopersi maupun bank titil. Sudah begitu masih harus membayar angsuran kredit bermacam-macam. Pantas kalau para pegawai ini selalu berharap dapat amplop.
Yudi lebih enjoi saat tidak bekerja di kantor sebagai pegawai. Ia tidak terbeban sama sekali. Bahkan ia sudah tidak lagi memikirkan bagaimana cara mencari uang untuk hidup. Bahkan ketika Yudi ingat bagaimana ajaran-ajaran yang diberikan oleh para pendeta saat ia tinggal di kuil, hidup di dunia hanyalah sementara. Tetapi hidup yang abadi adalah di alam kelanggengan, yaitu akhirat. Makanya ketika Yudi membaca surat pemberhentian, hatinya justru lega. Setidaknya ia sudah melepas sebagian beban duniawi. Dan yang pasti, ia ingin memulai melepas sedikit demi sedikit permasalahan duniawi tersebut.
Yudi tetap datang ke rumah Rini. Ia ingin membantu wanita yang pernah menusuk daun waru dalam dadanya dengan panah asmara. Setidaknya, Yudi juga ingin melihat wajah tua yang tetap cantik itu. Maka dengan pakaian yang necis, Yudi datang di Taman Anggrek Nirwana.
"Ee ..., Papah Yudi ...." papak Silvy yang langsung menyalami dan mencium tangan Yudi.
"Hai ..., hai ..., hai ...." sambut Yudi yang langsung memeluk Silvy.
"Pah, makasih ya, kemarin dikasih uang Jepang ...." kata Silvy yang berterima kasih.
"Lhoh, itu kan untuk Yayan yang sudah membantu saya .... Silvy dikasih, to?" sahut Yudi.
"Hehe .... Papah Yudi mau ketemu Mamah Rini ...?" tanya Silvy yang langsung tanpa ragu.
"Katanya suruh buatkan desain laboratorium ...." sahut Yudi.
"Eh, iya .... Semalam saya ngobrol sama Mamah. Papah Yudi mau bantu, kan ...? Ayo, Pah .... Sini, duduk dahulu." kata Silvy yang langsung mengajak Yudi menuju ruang makan. Maklum, Rini belum punya ruang tamu khusus pribadi. Kalau meja besar dan kursi bangku, sudah ada di ruang pendopo depan. Itu sudah digunakan untuk para pelanggan anggrek serta tempat Mas Trimo membungkus anggrek untuk para pembeli.
"Hai ..., Yudi .... Maaf, ya ..., saya ikut-ikutan Mas Trimo asyik di kebun anggrek." kata Rini yang tergesa menemui Yudi.
"Senang ya, di kebun anggrek ...?" tanya Yudi basa-basi.
"Ee ..., waktu di Jakarta dulu, yang ngrawat anggrek di kebun itu saya .... Paling Mang Udel cuman menyiram saja .... Ya, maklum ibu rumah tangga yang tidak punya pekerjaan. Hehe ...." protes Rini pada Yudi.
"Iya .... Wanita hebat mesti begitu ...." kata Yudi memberikan sanjungan.
"Iih .... Aku nggak butuh sanjungan darimu ...." kata Rini sambil mencubit pinggang Yudi.
"Auw ...." Yudi menjerit.
"Berani ngejek lagi ..., awas!" kata Rini mengancam Yudi. Tentu hanya sekadar bumbu kemesraan.
__ADS_1
"Ya udah, kalau begitu saya pulang saja ...." kata Yudi yang langsung membalikkan badan, pura-pura mau pulang.
"Ee ..., e ..., e .... Mau ke mana?" Rini langsung menarik lengan Yudi, lantas didudukkan di kursi tempat makan.
Yudi tersenyum, tentu merasa puas bisa menggoda wanita yang ia tahu kalau Rini kembali jatuh cinta padanya.
"Mas Yayan ...! Ayo, kemari sebentar ...! Ini Papah Yudi sudah datang ...!" teriak Silvy memanggil suaminya yang masih di kebun bersama Mas Trimo.
Yayan yang mendengar panggilan dari istrinya langsung bergegas untuk menemui Yudi.
"Mas Trimo, saya menemui Papah Yudi dahulu, ya ...." kata Yayan memberitahu Mas Trimo yang masih memilah-pilah anggrek.
"O, njih, Mas Yayan .... Monggo ...." jawab Trimo.
Di meja makan, Silvy sudah menunjukkan foto-fotonya di kebun anggrek tempat ia bersama suaminya belajar mengembang biakkan anggrek. Tentu sangat banyak sekali. Maklum Silvy masih tergolong anak muda, bahkan sifatnya masih seperti remaja. Makanya masih suka foto-foto selfi.
"Ini Pah ..., coba lihat .... Ini laboratoriumnya ...." Silvy menunjukkan foto sebuah bangunan cukup besar, dengan dindingnya berupa jendela-kendela kaca.
"Cuma seperti itu?" tanya Yudi.
"Eeh ..., nanti dulu .... Ini bagian dalamnya. Coba Papah Yudi lihat ...." kata Silvy lagi yang juga menunjukkan foto-fotonya, pasti yang terkait dengan bangunan laboratorium.
Rini tersenyum, menyaksikan Yudi dan Silvy yang asyik mengamati foto-foto di HP. Tentu Rini sangat senang, dan pasti berkhayal, seandainya saja .... Apalagi saat mendengar suara anaknya memanggil Yudi dengan sebutan "Papah", hati Rini seperti tersiram air es. Sejuk dan segar. Alangkah bahagianya jika saja panggilan Silvy terhadap Yudi itu bukan sekadar panggilan akrab, tetapi bisa menjadi papah yang nyata.
"Ah ..., aku terlalu berkhayal ...." batin Rini.
"Gimana?" tanya Yayan tiba-tiba yang sudah menimbrung antara Silvy dan Yudi.
"Yayan kira-kira mau membuat laboratorium yang seperti apa?" tanya Yudi.
"Ada kertas?" tanya Yudi.
"Tolong ambilkan kertas di meja kamar, Sayang .... Sekalian ballpoint." kata Yayan yang menyuruh istrinya.
Silvy langsung menuju kamar mengambil kertas dan ballpoint. Lantas menyerahkan kepada Yudi.
Yudi langsung mencoret-coret kertas itu, membuat denah ruang. Hanya sebantar, sudah jadi sketsa denah ruang laboratorium yang dikehendaki Yayan.
"Seperti ini?" tanya Yudi sambil menunjukkan denah.
"Eee .... Yang ini, ruang pembibitan dengan ruang penyimpanan bahan-bahan kimia, disekat pintu kaca. Nanti di sini ada whastafel, terus di sini ada kulkas, di sebelahnya ada lemari kaca, dan di tengah ada meja besar dan kursi untuk pembuatan media serta penyiapan bahan. Di ruang ini ada pintu keluar, lewat samping sini. Sedangkan untuk dapur bisa di balik ruang bahan. Karena nanti di situ digunakan untuk memasak media. Jadi ada kompor, dandang dan peralatan dapur lainnya. Pintunya harus berlawanan dengan pintu ruang bahan. Karena ada api, bisa bahaya kalau dekat dengan ruang bahan." jelas Yayan pada Yudi.
"Saya bisa lihat foto ruang bahan dan dapur?" tanya Yudi.
"Ada, Pah .... Ini ...." Silvy langsung menunjukkan fotonya.
Yudi melihat foto-foto itu lagi, tentu untuk mengamati detail bagian dalam ruangan. Ia juga akan memperkirakan tata letak yang layak dan terlihat artistik. Lantas tangan Yudi sudah kembali mencoret-coret kertas.
"Bagaimana kalau seperti ini? Ini tempat bahan saya ubah seperti ini. Dapur terpisah dengan bahan. Karena suhu panas nanti akan berpengaruh pada kualitas bahan-bahan laborat. Maka dapurnya lebih baik terpisah dengan laborat. Tapi nanti akan ada semacam ruang kosong di sini, bisa dipakai untuk menyimpan peralatan. Dan kalau begini, dapur ini seolah menjadi satu kesatuan dengan dapur biasa. Jadi lebih hemat tempat dan barang." kata Yudi menjelaskan denahnya kepada Yayan dan Rini.
"Boleh, Pah .... Kalau demikian justru saya pengin antara dapur dengan laboratorium ini ditambah luasnya, dibuat ruang terbuka, nanti untuk menyemai bibit dari botol ke media kompot. Nah, begini .... Agak luas sedikit, biar bisa diberi meja kursi." kata Yayan yang mengusulkan tambahan.
"Wah ..., kalau memang mau begitu bisa lebih bagus. Nanti ruang terbuka itu sekalian bisa digunakan untuk acara pertemuan atau pelatihan-pelatihan. Saya setuju itu." kata Yudi yang menerima usulan Yayan, tetapi justru akan dijadikan semacam ruang pertemuan. Ide yang bagus.
"Iya, Pah .... Saya setuju." sahut Silvy.
"Kalau setuju seperti itu, saya akan lihat lokasinya dahulu, untuk memperkirakan tata letak dan ukurannya." kata Yudi yang langsung berdiri dan melangkah dari ruang makan tersebut.
__ADS_1
Rini mengikuti Yudi. Tentu ingin menunjukkan batas lahannya. Dan yang pasti, Rini ingin jalan bersama Yudi. Mereka berdua pun jalan bersama. Bahkan tangan Rini sudah menggandeng lengan Yudi.
Yudi yang ingin memastikan posisi tanah, tentu juga butuh pendampingan dari pemilik tanah tersebut, yaitu Rini. Ingin rasanya Yudi ikut-ikutan memegang lengan, namun di tangan Yudi, sudah memegang kertas dan ballpoint.
"Yudi ..., tolong anak-anak, ya .... Terus terang aku ini wanita lemah, butuh bantuan dari laki-laki perkasa sepertimu." kata Rini sambil menatap Yudi, tentu dengan penuh harap.
"Rini .... Kamu ini wanita hebat, yang didampingi anak-anak yang hebat pula. Saya sendiri kagum menyaksikan kegigihanmu. Bahkan saat kamu mengatakan kepada saya agar tegar, kuat jangan lemah, terus memberi contoh dirimu seorang wanita saja sanggup menghadapi musibah ..., aku kagum sama dirimu. Masak sekarang justru bilang begitu?" sahut Yudi yang membalik kata-kata Rini.
"Iih ..., Yudi .... Aku benci sama kamu." kata Rini yang tentu langsung mencubit pinggang Yudi.
"Benci itu artinya ..., benar-benar cinta, lho ...." Yudi menggoda.
"Iih ..., Yudi ...." lagi-lagi Rini mencubit pinggang Yudi.
Yudi dan Rini terus melangkah, menyusuri lahan yang memang sampai saat ini belum ditanami apa-apa, hanya rumput liar yang tumbuh sebagai batas tanah. Rini menunjukkan batas-batasnya.
Untuk sementara Yudi melepas pegangan Rini. Ia melompat melintas lahan milik tetangga. Yudi mengambil batang singkong yang bayak tergeletak di lahan itu, lantas ditancapkan untuk dijadikan sebagai batas lahan. Dan nantinya, batas-batas ini yang akan dijadikan perkiraan letak bangunan.
Yudi terus melangkah, tentu sambil memperkirakan jarak lahan tersebut. Hingga akhirnya, Yudi berhenti di ujung tanah milik Rini. Lumayan berkeringat.
"Hahh .... Capek ...." Rini yang menyusul Yudi di ujung tanah miliknya, ngos-ngosan kecapaian.
Tangan Yudi langsung menggapai Rini yang terlihat lelah tersebut. Rini yang diraih tangannya, tentu langsung memberikannya. Namun ternyata, saat Rini akan menggapai Yudi, ia terpeleset karena sandalnya sudah halus. Rini terjatuh. Beruntung Yudi langsung memapahnya. Namun sayang, Yudi yang tidak siap tentu tidak sanggup menerima tubuh Rini yang terpelanting. Yudi pun ikut terjatuh dan tertimpa tubuh Rini.
"Aaah ...." Rini menjerit, meski tidak sakit.
"Sakit, ya ...?" tanya Yudi yang langsung berusaha bangkit dan membangunkan Rini.
"Kan jatuhnya di tubuh Yudi .... Pasti yang sakit Yudi ...." kata Rini yang masih memeluk tubuh Yudi.
"Beruntung ada saya, coba kalau langsung jatuh ke tanah, pasti wajah Rini bisa hilang cantiknya." kata Yudi yang menggoda Rini.
"Itulah, Yudi .... Saya itu lemah, butuh laki-laki yang bisa melindungi saya." kata Rini yang merasa butuh perlindungan.
"Lantas, siapa yang pantas melindungi dirimu?" Yudi mencoba menyelidik.
"Ya, Yudi ..., lah ...." sahut Rini sangat cepat.
"Saya ...? Diriku sendiri masih lemah .... Saya sendiri masih butuh bantuan orang lain ...." sahut Yudi.
"Terus, siapa yang pantas membantu dirimu ...?!" tanya Rini.
"Rini ...." jawab Yudi singkat jelas.
"Iih ...." Rini langsung mencubit pinggang Yudi, tapi kali ini cubitan mesra.
"Berarti, kita saling membutuhkan .... Aku butuh kamu, kamu butuh aku .... Benar begitu?" kata Yudi.
"Hehehe .... Ternyata kita memang saling butuh ...." kata Rini dengan senyum senang, dan tidak lupa langsung mencolek hidung Yudi.
"Yang dibutuhkan apanya, sih ...?!" tanya Yudi, lagi-lagi menggoda.
"Gak tauk .... Hihihiq ...." sahut Rini.
"Aku tahu .... Pasti butuh ini untuk gituan .... Hehehe ...." gojekan Yudi sambil mencolek bagian tubuh Rini, yang mengakibatkan Rini menggelinjang geli.
"Yudi ...!!!" Rini berteriak, mengejar Yudi yang sudah berlari meninggalkan dirinya.
__ADS_1