
Setelah menyerahkan lukisan Kampung Karang, Yudi berbincang dengan Pak Kadus di ruang tamu rumah Pak Kadus. Yudi berniat mengajak Pak Kadus bersama keluarganya, untuk menginap di Kampung Nirwana> Tentu sekalian untuk menengok putranya yang sudah diberi pekerjaan oleh Yudi.
"Monggo, Pak Kadus dan Ibu, serta Genduk ..., saya aturi tindak ke rumah saya. Selain silaturahmi, sekalian menengok putranya yang bekerja di sana. Untuk obat kangen." kata Yudi pada Pak Kadus dan istrinya.
"Walah, lha kalau semua ke rumah Den Mas Yudi, lha rak rumah saya suwung, Den Mas ...." jawab Pak Kadus berusaha menolak.
"Hanya semalam saja, Pak Kadus .... Anggap saja ini adalah ucapan terima kasih saya sudah diselamatkan oleh penduduk Kampung Karang ...." pinta Yudi setengah memaksa.
"Bagaimana ini, Bu ...?" tanya Pak Kadus pada istrinya.
"Biar tahu rumah saya, Bu .... Sekalian nengok putranya." sahut Yudi.
"Kalau saya ya manut Bapak saja .... Kan yang diajak Bapak ...." jawab istrinya.
"Nggih, Den Mas .... Tapi berangkatnya agak nanti, to ...? Biar kami siap-siap dahulu ...." jawab Pak Kadus.
"Ya, Pak .... Nanti sore kalau langit sudah adem. Ini masih menunggu teman-teman biar menyelesaikan lukisan-likisannya dahulu." sahut Yudi.
"O, nggih ..., maturnuwun .... Ayo Bu, kita siap-siap." kata Pak Kadus.
*******
"Yudi, kamu punya uang untuk membeli bukit yang ada di sisi barat itu?" tanya Ana, teman pelukisnya, kepada Yudi, saat mereka berdua berbincang di pantai.
"Memangnya kenapa?" tanya Yudi.
"Saya kepengin punya sanggar lukis di situ .... Kelihatannya teman-teman senang dengan tempat ini. Mereka cocok dengan keindahan alam di sini. Mereka bersemangat. Daripada tinggal di Taman Budaya yang sumpek, mereka tidak berkreasi, minim karya, yang tentu miskin keuangan. Kalau ada sanggar lukis di sini, mungkin para seniman lebih tenang dalam berkarya." jelas Ana pada Yudi.
Ya, di dunia ini memang jarang ada pelukis wanita. Ana dan Imah, mungkin yang cukup bisa berkarya. Tetapi lukisannya toh jarang ada yang membeli. Paling-paling numpuk di galeri. Kalau pun laku, harganya tidak seberapa. Yudi paham itu. Tetapi itulah risiko jadi seniman lukis. Mending jadi pengamen jalanan daripada jadi seniman lukis. Seniman jalanan hanya modal tutup botol dipaku pada potongan kayu, crak-crik-crak-crik di perempatan jalan, sudah dapat uang. Tapi pelukis, modal untuk beli bahannya mahal, hasilnya paling-paling laku tidak seberapa. Apalagi kalau lukisannya jelek, tidak dibeli malah diejek.
Yudi pernah berfikir seperti yang dikatakan Ana dan Imah waktu datang dan bermalam di rumahnya dahulu. Tetapi waktu itu Yudi sudah merencanakan akan membuat pasar seni di Kampung Nirwana. Hanya saja sampai saat ini, ingin menambah luas tanah, belum ada kesepakatan dengan pihak Desa. Karena yang diinginkan oleh Yudi, nantinya pasar seni itu terkoneksi dengan pasar kerajinan, pasar kuliner dan mobil wisata. Tapi itu wujudnya adalah pasar, bukan sanggar lukis.
Kini, ketika teman-teman pelukisnya itu berkeinginan punya sanggar lukis, pikiran Yudi mulai tergelitik. Mungkinkah bisa membangun sanggar lukis di tempat yang indah ini? Lantas, siapa nanti yang akan mengelola?
__ADS_1
"Ana ..., membeli bukit seluas itu, tentu harus dengan uang banyak .... Uangnya siapa?" tanya Yudi yang berusaha meyakinkan kepada temannya, bahwa untuk membuat sanggar lukis pasti butuh banyak biaya.
"Ya uangnya Yudi, lah ...." seloroh Imah yang ikut menimbrung.
"Dan lagi, apa tanah itu boleh dibeli ...?" tanya Yudi lagi.
"Tapi, Yudi .... Lihatlah bukit itu, sangat indah untuk melukis alam. Tidak terlalu tinggi, langsung berbatasan dengan pantai pasir putih yang menawan. Sedangkan di sisi selatan, langsung bisa menyaksikan samudera biru. Luar biasa, Yud .... Pasti di atas sana kita bisa dapat banyak ide." kata Ana yang kembali membakar pikiran Yudi.
Pikiran Yudi langsung bergelanyut. Dia teringat saat dahulu membeli puncak bukit, awalnya juga dijadikan sebagai tempat ia mencari ide untuk membuat lukisan-lukisan di atas bukit, yang kini bukit tersebut sudah menjadi objek wisata Taman Awang-awang. Kalau bukit yang dikehendaki Ana bersama teman-temannya itu bisa terbeli, lantas dijadikan sanggar lukis, pasti teman-temannya akan bersemangat untuk melukis.
"Apakah tadi ada yang melukis dari puncak bukit itu?" tanya Yudi.
"Ada .... Saya tadi naik ke atas .... Di sana memang benar-benar luar biasa .... Indah sekali ...." jawab salah satu temannya yang jadi pelukis jalanan.
Yudi percaya. Karena ia pernah mengalami melukis di puncak bukit. Tapi lagi-lagi, apakah bukit itu boleh dibeli? Lantas kalau boleh dibeli, uang siapa yang akan dipakai membayar?
"Ya ..., kita berdoa saja, jika Yang Maha Pemurah mengizinkan, pasti nanti ada jalan." kata Yudi pada teman-temannya.
"Iya, Yud .... Terima kasih untuk semuanya." sahut Ana yang meski kelihatan sangar, tetapi sebenarnya rasa kemanusiaannya sangat tinggi.
"Lhah, kita pulang ...?! Ini momen paling indah, bro .... Matahari terbenam .... Sayang kalau dilewatkan ...." protes salah satu temannya.
"Memang mau tidur di sini?" sahut Yudi.
"Tapi ini momen indah, bro ...." kata temannya yang lain lagi.
"Kalian itu pelukis kuno .... Ambil momennya dengan HP, protreti ceprat-cepret .... Begitu to bro ...." sahut Yudi.
"Kalau begitu, tunggu kami mengambil foto-foto dahulu ...." kata teman-temannya.
"Silakan, pilih lokasi-lokasi yang bagus .... Besok tinggal kalian tuangkan dalam kanvas .... Enak, kan ...." kata Yudi mengajari teman-temannya.
Senja itu, para pelukis yang datang ke Kampung Karang, sibuk mengabadikan indahnya lukisan alam yang ditebar oleh Sang Maha Kuasa.
__ADS_1
*******
Pagi itu, Yudi bersama Yuna, mengajak Pak Kadus Kampung Karang beserta istri dan anak kecilnya, berkeliling Kampung Nirwana. Tentu dengan mengendarai mobil wisata VW Safari warna kuning yang dibuka atapnya. Mobil bukaan. Sengaja Yudi ingin menunjukkan keindahan Kampung Nirwana kepada tamunya itu. Tentu, Pak Kadus dan istrinya, terngungun-ngungun menyaksikan keindahan bangunan rumah warga Kampung Nirwana, yang rata-rata menggunakan arsitek gaya kerajaan Majapahit.
"Waaah ..., ini kampung yang luar biasa, Den Mas Yudi .... Sungguh indah. Pasti rakyatnya makmur semua." kata Pak Kadus Kampung Karang yang terheran menyaksikan keindahan bangunan kampung.
"Pak Kadus, Bu Kadus ..., kampung kami ini dulunya sama seperti Kampung Karang di tempat tinggal Bapak dan Ibu. Saya bukan penduduk asli Kampung Nirwana. Waktu saya pertama kali bekerja di Bantul, saya hanya kontrak rumah. Belum punya rumah sendiri. Saya jalan-jalan di sini. Kampung ini masih benar-benar sangat tertinggal. Rumah penduduknya tidak jauh berbeda dengan Kampung Karang. Masih menggunakan pagar dari anyaman bambu, dan atap dari ilalang yang diikat. Itu dua puluh lima tahun yang lalu. Saya mencoba mengajak warga kampung sini untuk maju .... Sangat sulit. Bahkan kalau boleh saya katakan, mereka tidak mau merubah nasibnya. Katanya takdir. Padahal, nasib dan takdir itu sebenarnya ada pada kemauan kita. Kalau kita mau berusaha, maka hidup kita akan berubah. Sampai saya mengambil contoh, kalau ada seseorang tertimpa pohon di tengah hutan, padahal di hutan itu tidak ada siapa-siapa, kalau orang itu tidak berusaha untuk lepas dari batang pohon yang menimpanya, maka bisa dipastikan orang itu akan mati. Mereka mengatakan itu adalah takdir. Tetapi sebenarnya, kalau orang yang tertimpa pohon itu berusaha melepas dirinya dari batang pohon yang menimpanya, pasti dia tidak akan mati. Setidaknya orang itu akan terlepas dari batang pohon yang menimpa. Jadi, nasib dan takdir seseorang, itu tergantung pada bagaimana orang itu berusaha. Sederhananya, orang akan punya uang kalau ia mau bekerja mencari uang." kata Yudi mengisahkan kampungnya.
"Seperti itu ya, Den Mas ...." kata Pak Kadus.
"Akhirnya saya beli tanah di sini, kemudian saya bangun rumah. Saya tinggal di kampung ini, dan menjadi warga kampung ini. Saya berkomunikasi dengan anak-anak muda, tentu memberi gambaran tentang cara hidup yang bisa mengubah nasib. Lebih dari lima tahun saya berjuang di sini, barulah saya punya pengikut, ada orang-orang yang mendekat, ada yang bisa menerima ide-ide saya. Tentu pada awalnya dengan cara saya bayar. Saya mengeluarkan uang banyak. Tetapi saya senang saat penduduk di sini bisa dan mau berubah. Mengubah nasibnya, mengubah takdirnya. Dan jadilah kampung ini menjadi Kampung Nirwana. Coba Bapak, Ibu, lihat kampung kami .... Bangunannya indah, menarik, tertata rapi. Dari bangunan ini saja sudah menjadi daya pikat orang-orang asing. Akhirnya mereka pada berdatangan kemari. Dan itu memberi kontribusi bagi penghasilan rakyat di sini. Sehingga yang bisa membatik, batiknya laku terjual. Yang bisa membuat kerajinan, bisa dipasarkan dan menghasilkan uang. Yang pandai masak pun, bisa membuka warung makan, dan tentu akan mendapatkan penghasilan. Lama kelamaan, kampung kami pun menjadi ramai seperti sekarang ini. Turis, para wisatawan berdatangan ke kampung kami. Masyarakatnya pun kini menjadi sejahtera." jelas Yudi pada Pak Kadus Kampung Karang.
Tentu Yudi membahas masalah ini, untuk memberi gambaran kepada Kadus Kampung Karang agar tergugah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Kampung Karang. Setidaknya ada perubahan pandangan Pak Kadus dalam memimpin kampungnya, agar tidak hanya sekadar pasrah menerima dari alam saja. Melainkan bisa mendapatkan pemasukan keuangan yang lebih baik bagi masyarakat Kampung Karang, melalui usaha-usaha yang bisa dilakukan oleh masyarakat di Kampung Karang.
"Tapi, Den Mas ..., apa kampung kami bisa menjadi seperti ini?" tanya Pak Kadus.
"Bisa, Pak Kadus .... Semua itu tergantung niatan kita. Pengin berubah atau tidak. Pengin maju atau diam saja. Jika kita pengin maju, jika kita pengin berubah, kita berusaha semaksimal mungkin. Pasti Tuhan yang maha Ridhlo akan memberikan berkah yang berlimpah. Termasuk mobil yang kita naiki ini, dulunya ndongkrok. Tetapi setelah dikelola dengan baik, sopir ini bisa menghidupi keluarganya. Iya kan, Bos ...?!" kata Yudi sambil menepuk pundak sopir wisata.
"Ini semua berkat usaha Mas Yudi, Pak ...." sahut sopir itu.
Mobil VW wisata itu terus berjalan, menelusuri Kampung Wisata, masuk ke berbagai obyek wisata yang menjadi andalan di Kampung Nirwana. Dan akhirnya, mobil wisata itu mencapai puncak bukit Taman Awang-awang.
"Monggo, kita turun di sini .... Inilah kebanggaan masyarakat Kampung Nirwana. Taman Awang-awang, yang dibangun oleh Yuna, desainer terkenal asal Jepang. Si cantik ini, orangnya ...." kata Yudi yang menjelaskan kepada Pak Kadus dan istrinya, dan tentu sambil memeluk pundak Yuna untuk ditunjukkan kepada dua tamunya itu.
"Walah .... Bagus sekali, Den mas ..., Den Ayu .... Ini yang membangun Den Ayu Yuna ...? Tidak menyangka, orang secantik Den Ayu Yuna bisa membangun bangunan seindah dan semegah ini ...." kata Pak Kadus.
Tentu suami istri dan anaknya itu terkagum-kagum menyaksikan keindahan Taman Awang-awang. Mulai dari bukitnya yang tertata indah, bangunan-bangunan yang bagus, tamannya yang menarik, serta tatanan tangga berundak, spot-spot foto, dan yang paling menakjubkan Pak Kadus beserta istri dan anaknya adalah saat ke tepi tebing yang dibatasi pagar besi, menyaksikan keindahan Laut Selatan. Luar biasa.
"Wah ..., Den Mas Yudi ..., Den Ayu Yuna .... Ini benar-benar luar biasa. Apakah kampung kami di Kampung Karang sana, masyarakatnya bisa mengubah takdir, bisa memperbaiki nasib? Biar kampung kami bisa maju?!" tanya Pak Kadus dan istrinya.
"Di Jepang, kami tidak mengenal takdir, kami tidak pernah membicarakan nasib. Tetapi kami melakukan usaha. Hanya usaha kerja kami yang menentukan taraf hidup kami." kata Yuna pada Pak Kadus maupun istrinya.
"Berarti kami harus berusaha ya, Den Ayu .... Bantu dan doakan kami ya, Den Mas ..., Den Ayu .... Kami akan berusaha untuk mengubah takdir dan nasib kami." kata Pak Kadus.
__ADS_1
"Semoga Allah mengabulkan keinginan Pak Kadus." jawab Yudi.