KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 71: DINNER TALK


__ADS_3

    Hamdan, Rini dan menantunya, sudah sampai di rumah Yudi. Langsung lewat jalan belakang ke arah garasi. Yayan memarkirkan mobil di jalan dekat pintu belakan rumah Yudi. Belum mengambil keputusan untuk masuk ke garasi, meskipun ibu mertuanya menyuruh masuk. Hamdan juga melarang memasukkan mobil terlebih dahulu.


    Lantas setelah turun dari mobil, mereka bertiga masuk ke rumah tersebut. Garasi masih kosong. Berarti Bagas maupun Yudi belum pulang. Ada dua remaja dan beberapa anak kecil yang belajar di gazebo belakang.


    "Coba kamu lihat, Yan .... Mereka, anak-anak itu setiap hari pada belajar di sini. Itu yang diceritakan istrimu katanya pernah ikut mengajar anak-anak. Ya itu, seperti itu. Itulah baiknya seorang yang bernama Yudi. Memberikan segalanya untuk masyarakat kampung sini." kata Rini menunjukkan kepada menantunya.


    "Hmmm, benar-benar orang hebat." sahut menantunya.


    Anak-anak itu turun dari gazebo, lantas menyalami tamu yang datang. Menyalami Hamdan, Rini dan Yayan.


    "Ee ..., ada tamu, to ...?!" tiba-tiba ada perempuan tua yang menyapa dari dapur.


    "Iya, Simbok .... Saya Rini ...." kata Rini yang menjawab sapaan ibunya Yudi.


    Lantas Rini bergegas menemui Simbok yang sedang memasak. Ia menyalami dan mencium tangan Simbok.


    "Ini ..., Neng Rini yang dulu itu, ya?!" tanya Simbok yang agak pangling.


    "Iya, Mbok .... Ini suami saya ..., dan ini menantu saya." Rini mengenalkan suami dan menantunya.


    Dua laki-laki itu ikut menyalami wanita tua yang ada di depannya.


    "Wee .... Pasti suamimu seorang direktur ya, Neng ...?! Hehe ...." kata Simbok saat menyalami Hamdan.


    "Mboten, Simbok .... Saya orang biasa ...." kata Hamdan yang malu disanjung.


    "Lhah, ini menantu .... Anakmu mana, Neng?" tanya ibunya Yudi.


    "Sudah ke Taman Awang-awang, menyusul Mas Yudi ...." jawab Rini.


    "Wee lah, pulangnya nanti malam." sahut Simbok.


    "Tidak apa-apa, Simbok .... Biar sekalian piknik di sana." kata Rini.


    "Ya sudah ..., duduk dulu. Mau di pendopo depan apa di sini saja?" tanya Simbok.


    "Iya, Simbok .... Santai saja. Kami mau lihat-lihat." kata Hamdan.


    Lantas Hamdan menyaksikan taman yang ada di rumah Yudi. Sedangkan Yayan, anak menantunya, mencoba ke pendopo luar. Tentu anak itu heran dan kagum dengan rumah Yudi yang terbuat dari bata super dengan arsitek kuno zaman Majapahit. Berkali laki-laki muda itu berdecak kagum. Apalagi setelah menyaksikan pendopo yang cukup luas, dengan model limasan yang bagian pucuknya menjulang tinggi. Belum lagi setelah menyaksikan ikan-ikan koi yang berada pada kolam yang mengelilingi pendopo tersebut. Betul-betul arsitektur yang memanjakan mata. Indah dan mempesona.


    "Yah, Papah Yudi tentu manusia yang sangat berbudaya. Penuh peradaban yang mengagumkan." Begitu kata hati laki-laki yang senang dengan buku-buku kebudayaan tersebut.


    Sementara di dapur, Rini langsung ikut membantu Simbok yang sedang memasak.


    "Neng Rini duduk saja .... Biar Simbok yang memasak. Nanti tangannya kotor, lho ...." larang Simbok pada Rini.


    "Tidak apa-apa, Simbok .... Di rumah saya biasa memasak, kok." jawab Rini yang tetap membantu.


    "Wee alah .... Orang cantik-cantik kok tangannya kotor ...." kata Simbok lagi.


    "Tidak apa-apa, Mbok .... Eh, Mbok, Mis Yuna itu cantik ya, Mbok?!" kata Rini yang mulai menyebut nama Yuna.


    "Oo, Non Yuna .... Iya, dia itu dari Jepang .... Ya cantik to, Neng. Neng Rini sudah pernah ketemu, kan?" kata Simbok.


    "Pernah ketemu sekali, Mbok." jawab Rini.


    "Lha saya itu kadang-kadang bingung kalau diajak bicara, nggak mudeng bahasanya .... Hehe ...." lanjut Simbok.


    "Ya iya lah, Mbok .... Dia kan dari Jepang. Pasti Mis Yuna juga sering bingung kalau mendengar pembicaraan Simbok. Dia juga tidak tahu artinya." sahut Rini.


    "Iya .... Malah Yudi itu kadang-kadang juga ikut-ikutan ngomong seperti Non Yuna. Simboknya sama bapaknya yang bingung. Ah, mbuh lah ...." sahut Simbok.


    "Mis Yuna bisa masak apa tidak, Mbok?" tanya Rini menyelidik.


    "Lha Non Yuna itu kalau kerja tidak kenal waktu. Kadang-kadang lembur sampai malam. Ya tidak sempat masak. Tapi kalau hari Minggu, sering ngributi di dapur. Katanya ingin belajar masak masakan Jogja." jawab Simbok.


    "Enak apa tidak, Mbok?" tanya Rini lagi.


    "Ya Simbok yang akhirnya membantu masak. Lha wong kata Non Yuna itu kalau makan ikan di Jepang itu tidak dimasak, kok. Begitu makan pepes ikan bikinan Simbok, ya langsung ketagihan. Hehe .... Terus, kepingin praktek memasak pepes ikan." kata Simbok yang menyenangkan.


    "Oo, gitu ya, Mbok." sahut Rini.


    "Lhah, itu ..., besok kalau jadi tempat wisata yang dibangun itu ada kunjungan orang-orang dari Jepang, ya disuguhi pepes ikan saja. Pasti mereka pada ketagihan .... Hehehe ...." sahut Simbok yang semakin menyenangkan.


    Tiba-tiba Simbok agak terkejut. Simbok baru teringat. Sejak tamunya datang, ada yang terlupakan.


    "Waduh ..., Simbok lupa. Anu ..., ruang tidurnya cuma tinggal satu. Waduh, piye iki ...?!" kata Simbok yang bingung.

__ADS_1


    "Tidak apa-apa, Simbok. Nanti yang tinggal di sini biar anak saya sama suaminya. Saya sama Papahnya anak-anak mau menginap di hotel saja." jawab Rini yang menenangkan Simbok.


    "Oo .... Ya sudah kalau begitu. Ayem saya. Apa Neng Rini mau tidur sama Yudi lagi ..., hikhik ...." goda Simbok pada Rini.


    "Ih, Simbok .... Nggak lah ...! Waktu itu kan karena saya pingsan, Mbok...." sahut Rini sambil mencubit Simbok yang meledeknya.


    "Apa mau tidur sama saya, dikeloni Simbok .... Ini saya tidur sendiri. Bapaknya Yudi sudah pulang ke Magelang, ngurusi rumahnya."


    "Tidak, Mbok .... Terima kasih." sahut Rini.


    "Hehehe .... Bercanda Neng ...." gurau Simbok.


    "Tidak apa-apa, Simbok. Maaf, Rini sudah merepotkan Simbok waktu itu." jawab Rini.


    "O ya, nanti ruang untuk tidur pakai yang pojok sana itu." kata Simbok sambil menunjukkan ruangnya.


    "Ya, Mbok. Terima kasih. Nanti biar Silvy sama suaminya yang tidur di sini." jawab Rini.


    Mereka memasak sambil berbincang. Asyik mengobrol. Tanpa terasa, waktu terus bergulir, hingga akhirnya datang malam. Rini yang membantu Simbok sudah selesai memasak. Sudah disajikan di meja makan.


    Yudi pulang bersama Yuna dan Silvy. Langsung menyalami Simbok yang sudah siap menunggu. Kebetulan tidak sendiri. Di ruang makan itu sudah ada Hamdan, Rini dan menantunya.


    "Selamat malam ..., Pak Hamdan, Rini ..., sama Mas Yayan, ya?" salam Yudi yang barusan masuk. Tentu tidak lupa menyalami Simbok dan orang-orang yang ada di ruang makan.


    Yuna mengikuti. Tentu saat mau bersalaman dengan Rini, Rini langsung berdiri dari tempat duduknya, dan memeluk perempuan dari Jepang itu. Demikian pula Silvy yang ikut menyalami Simbok, ibunya Yudi.


    "Malam, Mas Yudi .... Wah, sibuk terus ini ...." kata Hamdan menyambut salam Yudi.


    "O, ya ..., Pak Hamdan dan Mas Yayan ..., ini Mis Yuna yang membantu pembangunan kami." kata Yudi mengenalkan Yuna pada tamunya.


    Yuna tersenyum membungkukkan badannya kepada dua orang laki-laki itu, tanda memberi hormat.


    "Eh, sana mandi dahulu .... Habis mandi baru kemari. Makan malam bersama." kata Simbok.


    "Iya, Mbok ...." jawab Yudi yang langsung undur diri menuju ruangnya untuk mandi.


    Demikian juga Yuna. Ia juga masuk ke ruangnya untuk mandi.


    "Saya juga mandi dulu ya, Mah .... Eh, ruangnya di mana?" kata Silvy pada ibunya.


    "Eh, itu kamar yang dulu Silvy pakai tidur. Oke, Mah." kata Silvy yang langsung berlari menuju kamarnya.


    Sepeninggal Yuna, tentu dalam pikiran Hamdan maupun menantunya ada hal yang sama disimpan, yaitu takjub dengan kecantikan gadis dari jepang itu. Meski baru pulang dari tempat bangunan saja, kecantikannya sudah terlihat luar biasa.


    Setelah beberapa saat Hamdan, Rini, Yayan dan Simbok menunggu di meja makan, akhirnya Yuna keluar. Tentu terlihat lebih cantik dari saat datang kerja. Meski hanya mengenakan celana dan kaos sederhana, tetapi aura cantik itu tidak bisa ditutupi. Luar biasa cantiknya. Padahal gadis itu tidak berdandan.


Silvy juga sudah selesai mandi dan ganti pakaian. Langsung duduk di sisi ibunya. Selanjutnya Yudi yang keluar dengan mengenakan celana jean dan kaos berkerah. Lantas mereka duduk bersama menikmati makan malam. Meski sederhana, tetapi nikmat, karena ada cinta yang ikut tersajikan.


    Meskipun mereka akrab saat makan bersama, tentu ada yang berdebar hatinya. Yaitu Rini dan Yudi. Yudi yang datang terakhir, akhirnya harus duduk di samping Yuna, karena hanya kursi itu yang tersisa. Tidak sekedar duduk disamping Yuna, tetapi juga harus berhadapan dengan Rini. Karena Yudi duduk persis di hadapan Rini.


    Berkali-kali Rini menatap Yudi. Tentu Yudi menjadi salah tingkah. Apalagi saat Yuna memberikan beberapa makanan dari piringnya kepada Yudi, sebenarnya Yudi merasa risih dan tidak enak saat Rina melihat hal itu.


    "Ih ..., mesra sekali si Yuna dan Yudi ...." begitu yang bergelanyut dalam pikiran Rini.


    Apakah ini tanda-tanda Rini mulai cemburu? Tentu rasa itu tetap ada, meskipun sudah dua kali Rini mengatakan dan meminta agar Yudi menikah dengan Yuna. Tetapi rasa itu .... Ach ..., entahlah.


    Yudi yang tahu kalau wanita yang ada di depannya itu mulai cemburu, maka sambil menikmati makan malam, Yudi mencoba mengalihkan perhatian Rini dengan mengajukan pertanyaan kepada suaminya.


    "Pak Hamdan jadi pesan homestay, kan?" tanya Yudi pada Hamdan.


    "Hehem, iya, Mas Yudi. Makanya ini kami kemari untuk menyampaikan berkas-berkas itu." jawab Hamdan.


    "Terima kasih, Pak Hamdan. Besok kami antar ke pengelolanya, sekalian kita melihat bangunan yang sudah mulai berdiri." kata Yudi lagi.


    "Terima kasih, Mas Yudi. Tapi maaf, yang semula kami berencana ambil tiga, akhirnya saya putuskan ambil dua saja. Satu untuk Rini dan yang satu untuk Silvy." jelas Hamdan.


    "Tidak apa-apa, Pak Hamdan. Kami berterima kasih, karena Pak Hamdan sudah bersedia membantu kami untuk mengembangkan konsep penginapan natural tradisional." balas Yudi.


    "Ayo, makannya di habiskan ...." selah Simbok.


    "Iya, Simbok .... Terima kasih." jawab Rini dan Silvy hampir bersamaan.


    "Non Yuna mau dibikinkan jamu pegel linu?" tanya Simbok pada Yuna.


    "Thank you, Simbok .... Sedikit saja." jawab Yuna.


    "Simbok buatkan satu gelas, nanti diminum sama Yudi, ya ...." kata Simbok lagi yang sudah beranjak menyeduh jamu.

__ADS_1


    "Mis Yuna suka minum jamu, ya?" tanya Rini.


    "Sedikit-sedikit. Mengikuti tradisi Simbok. Rasanya unik. But good for health." jawab Yuna.


    "Silvy, tolong Papah dipesankan kamar hotel yang dekat sini." kata Hamdan pada anaknya.


    "Pak Hamdan tidak tidur sini? Bisa pakai kamar saya. Nanti saya tidur di tempat lain." Yudi menawarkan.


    "Tidak, Yud ..., jangan. Biar kami yang ke hotel saja." sergah Rini yang langsung tidak mau, menolak tawaran Yudi.


    Tentu Rini akan melarang Yudi untuk memberikan kamarnya kepada Rini dan Hamdan. Bukan masalah apa-apa, tetapi Rini tentu ingat, dinding kamar Yudi penuh dengan lukisan dirinya. Kalau suaminya sampai masuk ke kamar Yudi, pasti akan geger. Apalagi kalau sampai tahu, ada pakaian Rini di dalam lemari Yudi. Bisa-bisa terjadi perang dunia. Makanya Rini langsung bersikeras untuk menolak tidur di ruang Yudi. Walaupun sebenarnya Rini kangen bisa tidur di kamar itu lagi. Tentu kalau tidak bersama suaminya.


    "Tidak usah, Mas Yudi .... Malah merepotkan. Biar kami menginap di hotel saja." timpal Hamdan yang juga sungkan.


    "Tidur sama saya, Rini ...." kata Yuna menawarkan.


    "Thank's, Mis Yuna. Tidak apa-apa, kami di hotel saja." jawab Rini menolak tawaran Yuna.


    "Masih ada, Silvy?" tanya papahnya.


    "Banyak, Pah .... Silvy carikan yang paling dekat. Pesan semalam saja kan, Pah?" kata Silvy.


    "Iya .... Besok siang kan kita sudah pulang Jakarta." jawab Hamdan, papahnya.


    "Simbak mau tidur dulu, ya .... Sudah mengantuk. Hehehe ...." kata Simbok yang lebih dulu meninggalkan meja makan.


    "Iya, Simbok ...." jawab semua yang ada di meja makan.


    "Mis Yuna ..., bolehkah saya bertanya pada Mis Yuna?" tanya Rini pada Yuna.


    "Of course, what is it? Ayo, tentang apa?" jawab Yuna.


    "I'm sorry, Ms. Yuna .... Apakah Mis Yuna sudah punya pacar?" tanya Rini tiba-tiba.


    "Pacar? What's?" tanya Yuna sambil tersenyum*.*


    "Itu, Mis Yuna ..., seorang laki-laki yang akan dijadikan suami ...." timpal Silvy.


    "Future husband ...." Yayan, suami Silvy ikut menimbrung.


    "Hahaha .... Ada-ada saja. Pekerjaan saya belum selesai, Rini." jawab Yuna.


    Diam-diam Yudi tergelitik dengan pertanyaan Rini. Pasti apa yang pernah diomongkan dalam telepon, akan disampaikan betul kepada Yuna. Tapi biarlah, Yuna yang akan menjawab. Yudi percaya, pasti Yuna sanggup membuat alasan.


    "Begini Mis Yuna ..., maksud kami ..., Mis Yuna ini kan masih gadis, Mas Yudi juga masih bujang. Apa tidak sebaiknya mengikat janji untuk hidup berumah tangga?" Hamdan ikut menimpali kata-kata istri dan anak-anaknya.


    "Marry? Marry somebody? Hahaha .... selesaikan dahulu pekerjaan, jangan berfikir untuk menikah jika pekerjaan belum selesai. Kita harus bertanggung jawab." jawab Yuna.


    "Nah, itu prinsip wanita karier di Jepang ...." bisik Yayan pada istrinya.


    "Hebat ya, Mas .... Dia sangat teguh." kata Silvy yang juga membisik pada suaminya.


    Yudi tersenyum mendengar jawaban Yuna yang sangat politis. Diam-diam Yudi melirik Rini, terlihat olehnya wajah yang putus asa. Demikian juga saat Rini melirik Yudi, menjadi kesal karena Yudi seakan tersenyum mengejek. Tetapi Rini juga merasa bangga, karena ia menilai Yudi sebagai laki-laki yang baik.


    "Mis Yuna tidak tertarik dengan Mas Yudi?" tanya Silvy yang terus terang.


    Yuna memandangi Silvy. Tidak menjawab, tetapi hanya tersenyum. Senyum yang semakin membuat orang penasaran.


    "Maksud kami, Mis Yuna tidak jatuh cinta pada Mas Yudi? Not in love?" tegas Yayan.


    "Jangan mudah jatuh cinta. Jika kalian tidak paham dan tidak sanggup menyetir cinta, kamu akan terperosok ke dalam jurang kesengsaraan. Bisa jadi hidup kalian akan hancur karena cinta. Sebaiknya, kendalikanlah jika kalian jatuh cinta. Ibarat mengendarai mobil, kalian harus bisa mengendalikan gas dan rem, serta menguasai setir agar bisa berjalan di jalan yang baik. Begitu, Silvy." kata Yuna justru menasehati Silvy.


    "Ah, yah .... Terima kasih Mis Yuna, sudah menasehati kami. Termasuk saya yang sudah tua ini." kata Hamdan yang juga merasa dinasehati oleh gadis Jepang itu.


    "Bukan nasehat. I'm not saint. Ini hanya gurauan. Hahaha ...." sahut Yuna sambil tertawa.


    "Sudah malam, Mas Yudi, Mis Yuna .... Terima kasih sudah diajak makan malam yang nikmat dan bisa berbincang yang penuh makna. Banyak petuah dan nasehat yang saya dapat. Saya dan Rini harus ke hotel untuk istirahat. Besok kita lanjutkan untuk mengobrol lagi." kata Hamdan yang berpamitan.


    "Saya antar, Pak Hamdan .... Biar tidak kesasar." kata Yudi yang siap mengantar.


    "Boleh. Terima kasih, Mas Yudi." jawab Hamdan.


    "Saya ikut, Yudi .... Menemani kamu saat pulang, biar tidak sendirian." Yuna ingin ikut.


    "Iya .... Ayo, berangkat sekarang." kata Yudi.


    Yah .... Cinta itu tidak perlu disampaikan dengan kata-kata. Tidak harus dideklarasikan. tidak perlu diumumkan kepada setiap orang. Tetapi dari apa yang dilakukan, dari apa yang diperhatikan, dari apa yang diberikan oleh orang yang mencintai seseorang, itu merupakan bukti dari buah-buah cinta. Yuna tidak perlu menjawab pertanyaan siapapun tentang cintanya kepada Yudi. Menemani orang yang dicintai, itu sudah memberikan rasa yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2