KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 115: SEBUAH PILIHAN


__ADS_3

    Pagi itu, Rini sudah mendapat berita dari Bagas, jika semalam tim SAR sudah berusaha mencari Yudi, tetapi terkendala gelombang pasang yang sangat tinggi. Bagas juga sudah menceritakan jika tim SAR telah menemukan baju Yudi yang diepas paksa dengan cara dirobek pada bagian kerah. Lantas diceritakan pula bahwa Yudi kemungkinan besar masih hidup, yaitu dengan bukti bisa membuat tulisan dari pelepah pisang. Hanya saja karena gelap dan gelombang yang tinggi, maka tim SAR akan melanjutkan pencarian pagi hari. Tentu lebih terang cahayanya, dan mudah untuk mengamati lokasi.


    Walau belum pasti, Rini sudah mulai ada harapan. Mulai lega dengan berita yang disampaikan Bagas. Setidaknya tim SAR akan berusaha mencari sampai ketemu.


    Rini belum membuka pintu kamarnya. Demikian juga Silvy. Yayan masih tertidur pulas. Seluruh tubuhnya merasa capai, pegal dan linu. Letih semuanya. Maklum Yayan yang pekerja kantoran kurang berolah raga, tiba-tiba harus menuruni lereng terjal, menggantung pada seutas tali, lantas berjalan menyusur pantai, melompat di antara batu karang terjal. Lantas saat sore, ia harus ditarik tambang untuk naik ke atas bukit dari lembah jurang, selanjutnya berjalan mendaki di lereng bukit terjal dan rimbun oleh pepohnan. Tentu Yayan akan merasakan sakit sekujur tubuhnya.


    Rini dan Silvy yang sudah bangun, mendengar ada suara kendaraan bermotor masuk ke halaman penginapannya. Bergegas, Rini membuka pintu kamar untuk melihat orang yang datang. Demikian juga Silvy, mengetahui ibunya keluar kamar, ia langsung membuka pintu, ikut melihat orang yang datang dengan mengendari motor. Ternyata yang datang adalah Pak Min, petugas penjaga Nirwana Homestay.


    "Sugeng enjing, selamat pagi, Ibu Rini ...." Pak Min mengucap salam menyapa pemilik rumah.


    "Ee ..., Pak Min .... Ada apa, Pak Min?" tanya Rini yang sudah mendekati Pak Min di halaman parkir.


    "Ini, Ibu ..., disuruh Mas Bagas untuk mengantarkan sarapan buat Ibu dan putranya." kata Pak Min yang kemudian memberikan bungkusan dalam plastik kresek.


    "Walah, kok repot-repot, Pak Min .... Terima kasih ya, Pak Min." kata Rini yang menerima bungkusan berisi makanan untuk sarapan.


    "Sami-sami, Ibu Rini .... Dalem nyuwun pamit rumiyin ...." kata Pak Min yang berpamitan dengan bahasa Jawa.


    Setelah mandi dan berganti pakaian, Rini, Silvy dan Yayan makan pagi bersama di meja makan dekat dapur, yang memang diminta oleh Hamdan kepada pengembang agar ditambahi ruang makan di dekat dapur. Mereka menikmati sarapan pagi, nasi bungkus yang dikirim oleh Pak Min, dengan menu nasi gudeg, ayam santen kanil, dan telur bacem, lauknya rempeyek kacang tanah. Sangat nikmat. Silvy membuat minuman teh hangat tanpa gula untuk ibunya, kopi manis untuk suaminya, dan teh manis untuk dirinya sendiri. Tentu saat makan pagi itu, mereka  sambil ngobrol membahas pencarian Yudi.


    "Tadi pagi Mas Bagas telepon, pencarian Papah Yudi oleh tim SAR, akan dilanjutkan pagi ini. Semalam gelombang tinggi dan gelap. Tim pencari sudah menemukan pakaian Yudi yang dilepas. Sudah disimpulkan oleh tim SAR kalau Papah Yudi masih hidup." kata Rini menceritakan telepon Bagas.


    "Iya, Mah .... Semoga saja Papah Yudi selamat dan tidak kenapa-kenapa." sahut Silvy.


    "Nanti rencananya kita pulang jam berapa, Mah?" tanya Yayan.


    "Mamah tidak mau pulang sebelum Yudi ketemu." jawab Rini.


    "Lhoh, Mah ..., besok kan kami kerja ...." sahut Silvy beralasan.


    "Iya, Mah .... Kalau bisa kita pulang agak awal, karena tubuh saya masih capek semua." timpal Yayan, menantunya.


    "Pokoknya Mamah tidak akan pulang sebelum Yudi ditemukan. Mamah Kawathir ..., tahu ...!" sahut Rini.


    "Kok gitu sih, Mah ...?! Terus kami bagaimana?" kata Silvy yang tentu merasa bingung.


    "Mah ..., nanti kan Mas Bagas ngasih tahu kita, bagaimana perkembangan hasil pencarian dari SAR." kata Yayan yang juga ikut memberi masukan.


    "Yayan sama Silvy pulang saja dahulu .... Saya akan menunggui di sini sampai Yudi ditemukan." kata Rini yang sudah tidak selera lagi memakan sarapan paginya. Nasi gudeg yang enak itu tidak dihabiskan. Demikian juga teh hangat yang dibikinkan anaknya, hanya diminum sedikit. Laparnya sudah hilang karena memikirkan Yudi.


    "Mamah, kalau kami pulang sendiri, dan Mamah di sini sendirian, bagaimana nanti kalau ada apa-apa dengan Mamah? Kan Mamah masih belum sempurna kesehatannya ...." kata Silvy yang mencoba mengingatkan kesehatan ibunya.


    "Tidak apa-apa, toh di sini juga banyak orang. Kalian tidak usah khawatir, saya di sini sendirian tidak masalah." sahut Rini yang tetap ingin menunggu ditemukannya Yudi.


    Dua anaknya terdiam. Tidak bisa membujuk ibunya. Tetapi mereka juga khawatir dengan ibunya. Mereka tahu jika akhir-akhir ini ibunya sering sakit dan sering keluar masuk rumah sakit. Tentu kesehatan ibunya menjadi alasan utama. Silvy bingung tidak bisa membujuk ibunya untuk diajak pulang. Apalagi Yayan yang hanya sebagai anak menantu, tidak punya hak untuk mengatur ibunya.


    Silvy mengakhiri sarapannya. Nasi gudegnya juga tidak dihabiskan. Pertanda sudah tidak selera lagi untuk makan. Tentu karena jengkel dengan sikap ibunya. Lantas Silvy masuk ke kamar, pura-pura mau pipis. Padahal diam-diam ia mengirim WA ke papahnya, melaporkan kalau ibunya tidak mau diajak pulang. Namun tentu Silvy berpesan jangan sampai ibunya tahu kalau dirinya yang laporan. Setelah memberi tahu ayahnya, Silvy pun berpura-pura kembali ke ruang makan dan kembali memgang sendok makannya.


    Hamdan adalah ayah yang bijak. Tentu dia tahu cara yang baik untuk menyelesaikan masalah.


     “Tuliliiing tuloliliiiing .... Tuliliiing tuloliliiiing ....” HP Rini berdering.

__ADS_1


    Rini mengangkat HP. Dikiranya Bagas yang menelepon untuk mengasih kabar keadaan Yudi. Ternyata yang memanggil adalah suaminya. Tentu dengan rasa kurang senang, Rini mengangkat telepon suaminya.


    "Halo, Pah ...." kata Rini dalam menjawab telepon. Tentu tidak di handsfree, takut didengar anaknya.


    "Iya, Mah .... Sudah sarapan?" tanya Hamdan, suaminya.


    "Sudah ..., tapi gak habis .... Rasanya nggak enak." jawab Rini.


    "Lho, kok gak enak? Memang sarapannya apa?" tanya suaminya.


    "Nasi gudeg." jawab Rini singkat. Tanda agak kurang senang.


    "Mosok nasi gudeg Jogja nggak enak? Itu kan makanan khas Jogja ...." kata Hamdan yang masih pura-pura bertanya.


    "Ya memang rasanya gak enak, mau dibilang gimana?" kata Rini ketus.


    "Ya sudah, nanti beli lagi sarapan yang lebih enak. Eh, Mah ..., ini nanti rencananya mau balik ke Jakarta jam berapa?" tanya suaminya lagi, yang tentu Rini bingung untuk menjawab.


    Rini terdiam. Tidak sanggup menjawab. Tentu bingung akan bilang apa. Antara ragu dan takut. Bingung mencari alasan.


    "Halo, Mah ...! Rencana mau pulang kapan?" tanya Hamdan kembali terulang.


    "Iya, Pah ...?!" Rini tergagap saat kembali ditanya oleh suaminya.


    "Rencananya mau pulang jam berapa?" Hamdan kembali mengulang pertanyaannya.


    "Pah, Yudi hilang .... Saya mau nunggu dahulu pencarian Yudi ...." akhirnya Rini menjawab.


    "Tidak tahu, Pah .... Yudi hilang sejak kemarin, katanya tercebur jurang. Ini baru dicari tim SAR ...." jawab Rini.


    "Lha terus, Mamah dan anak-anak mau pulang ke Jakarta kapan?" tanya Hamdan lagi.


    "Nanti ya, Pah .... Nunggu kalau Yudi sudah ketemu." jawab Rini.


    "Lha ketemunya kapan ...?" tanya Hamdan masih datar dan santai.


    "Ya belum tahu lah, Pah .... Kan baru dicari .... Papah ini gimana sih?!" jawab Rini.


    "Mah ..., kalau ketemunya saja belum tahu, terus mau pulangnya bagaimana?" tanya Hamdan lagi.


    "Ya pokoknya nati kalau Yudi sudah ketemu, Pah ...!" Rini mulai berkata agak kencang, tanda mulai emosi.


    "Mah ..., kalau ketemunya Yudi saja belum tahu, terus pulangnya Mamah dan anak-anak ke Jakarta kapan ...?!" Hamdan pun mulai meninggi suaranya.


    "Pah ..., Yudi itu sahabat baikku, Pah ...! Saya tidak tega kalau dia kenapa-kenapa ...!" sahut Rini.


    "Lha terus, anak-anak besok kan kerja, Mah ...! Kalau tidak segera pulang, kerjanya bagaimana?!" kata Hamdan mengingatkan istrinya.


    "Pah ..., kalau memang Silvy sama Yayan mau kerja, mau pulang ..., ya biar pulang saja sendiri. Saya akan menunggu sampai Yudi ketemu!!" sahut Rini yang bersikeras tetap akan menunggu ketemunya Yudi.


    "Mah ..., kondisi fisik Mamah kan masih lemah. Kalau Mamah di Jogja sendirian, siapa yang akan mengawasi Mamah? Siapa yang akan menemani Mamah?" kata suaminya yang mengingatkan.

__ADS_1


    "Tidak apa-apa. Saya pasti kuat." sahut Rini.


    "Mah ..., Papah kan juga akan pergi ke Jerman .... Saya harus mempersiapkan segala macam keperluan, masak Mamah tidak membantu menatakan pakaian saya ...?!" jelas Hamdan lagi mengingatkan jika suaminya juga akan pergi jauh.


    "Papah kan bisa menata sendiri. Kalau tidak, ya nanti minta dibantu Mak Mun ...." sahut Rini.


    "Maah .... Mamah itu kan istri saya, masak suaminya akan berangkat ke luar negeri kok tidak tidak membantu sama sekali ...." Hamdan masih mencoba dengan kata-kata yang sangat jelas. Tanpa kiasan.


    "Paah .... Saat ini Yudi lebih butuh pertolongan .... Saya tidak tega, Pah ...." jawab Rini yang tetap ingin tinggal di Jogja.


    "Tapi saya ini suami kamu, Mah ...! Juga butuh bantuan Mamah ...!" kata Hamdan yang ingin marah.


    "Tapi Yudi sedang mengalami bencana, Pah ...! Lebih butuh pertolongan .... Kalau Papah pergi ke luar negeri kan enak ...." kata Rini masih tetap ngotot.


    Tentu dikatakan seperti itu Hamdan menjadi emosi. Istrinya lebih memilih Yudi yang hanya sahabatnya, dibandingkan dengan kebutuhan suaminya yang akan pergi jauh. Perasaan Hamdan jadi jengkel, dan tentu ingin marah. Baru kali ini nasehatnya selalu diacuhkan oleh istrinya. Seakan istrinya tidak lagi mau diberi tahu.


    "Ya, sudah ..., kalau Mamah masih tetap pada pendirian Mamah, sekarang tinggal pilih saja, Mamah mau balik ke Jakarta untuk membantu persiapan suamimu, atau tetap tinggal di Jogja menunggu Yudi. Silakan Mamah yang memilih." kata Hamdan saat sudah tidak bisa lagi menasehati istrinya. Tentu ia memberikan pilihan, yang mestinya istrinya akan memilih suaminya.


    Tetapi, di luar dugaan Hamdan, apa yang dikatakan Rini sungguh menyakiti hatinya,


    "Saya tetap memilih tinggal di Jogja menunggu Yudi." ini pilihan Rini.


    "Mamah ...!!!!" Hamdan membentak istrinya. Tetapi langsung diam. Ada rasa menyesal.


    Ya, baru kali ini Hamdan membentak Rini. Sebelumnya ia tidak pernah membentak keluarganya, khususnya pada Rini sebagai istri. Kata-kata Hamdan biasanya halus lembut penuh kasih sayang. Makanya begitu ia sadar sudah membentak Rini, ia langsung diam. Hamdan langsung mengelus dadanya sendiri, menyadarkan dirinya agar jangan marah kepada istrinya.


    Demikian juga Rini, ia baru pertama kali ini mendengar suaminya membentak. Tentu Rini kaget. Dan langsung menunduk meneteskan air mata. Rini ingat betul bagaimana kasih sayang suaminya pada dirinya. Walaupun ada masalah yang berat seperti apapun, suaminya tidak pernah memarahi dirinya. Suaminya sangat menyayangi dirinya. Tapi kali ini, Hamdan sudah membentak, walaupun hanya lewat telepon, rasanya sangat sakit perasaan Rini. Rasanya seperti ada duri besar yang menusuk-tusuk hatinya. Rasanya ada luka dalam hati yang disiram dengan air jeruk pecel ditambah garam, sangat perih. Sangat sakit hati Rini. Rini menangis. Ia sudah bersalah pada suaminya.


    Silvy langsung berdiri dari kursi duduknya dan memeluk pundak ibunya. Mengelus dengan penuh kasih sayang.


    "Yang sabar, Mamah ...." kata Silvy yang mengelus pundak ibunya, dan juga ikut menangis.


    Yayan yang melihat ibu mertuanya menangis, dan istrinya juga ikut menangis, tentu jadi bingung. Terus terang Yayan tidak tahu apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya. Tetapi dari jawaban-jawaban maupun pembicaraan ibu mertuanya, ia sedikit paham, jika ibu mertuanya itu ingin tetap tinggal di Jogja, untuk menunggu kepastian kabar Yudi.


    "Yayan ..., kita pulang sekarang, ya ...." kata Rini yang masih terbata karena isak tangis.


    "Iya, Mah ...." jawab menantunya, yang kemudian berusaha menata barang-barang bawaannya. Mengemas pakaian, mengemas berkas-berkas, serta barang-barang makanan kecil untuk bekal di perjalanan.


    Dengan dibantu Silvy, Rini mengemasi barangnya ke dalam koper kecil. Tentu masih sesenggukan menangis.


    "Mamah kenapa, sih ...?!" tanya Silvy pada ibunya.


    "Tidak apa-apa, Sayang .... Mamah hanya khawatir sama Papah Yudi kamu .... Mamah khawatir akan terjadi apa-apa pada Yudi ...." kata Rini pada anaknya, tentu tetap merahasiakan rasa cintanya pada Yudi.


    "Iya, Mah .... Kami semua khawatir. Makanya kita doakan agar Papah Yudi selamat ...." kata Silvy sambil memasukkan pakaian ibunya ke dalam koper.


    "Iya, Sayang .... Maafkan Mamah ...." kata Rini.


    Tentu sebuah pilihan yang membingungkan bagi Rini, mana kala Hamdan suaminya memberikan pilihan untuk ditentukan oleh Rini, antara kembali ke Jakarta atau tetap tinggal di Jogja. Hal sepele, tetapi Rini paham yang dimaksud oleh suaminya saat ia dibentak. Berarti suaminya sangat marah. Suaminya tidak bisa menerima penetapan pilihan Rini. Suaminya tidak bisa menerima saat Rini akan tetap menunggu Yudi.


    Apakah Hamdan akan marah lagi kepada Rini, saat nanti Rini sampai di rumah? Akankah Rini menyadari kesalahannya?

__ADS_1


__ADS_2