KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 45: LONELY ALONE


__ADS_3

    Yuna sudah kembali ke Jepang. Tentu untuk mengurus bantuan pembangunan Taman Awang-awang. Rumah Yudi kembali sepi. Tidak ada lagi orang yang diajak sarapan atau makan malam bersama. Hanya tinggal Yudi sendiri yang hidup dalam sepi. Ya, sepi dan sunyi.


    Beruntunglah pada siang hari, banyak anak kecil yang bermain dan belajar di rumah Yudi. Tentu ada juga remaja yang mengajari belajar adik-adiknya. Sehingga masih ada suara anak-anak pada siang hingga sore hari. Tetapi setelah matahari terbenam, tak satupun anak yang mau tinggal atau tidur di rumah Yudi. Mereka semua balik ke rumah masing-masing. Termasuk Bagas, yang sering membantu keperluan Yudi. Bagas hanya datang jika diperlukan, atau mengeluarkan dan memasukkan mobil jika disuruh belanja maupun mengantar barang oleh para tetangga. Maklum, Bagas sendiri sudah berkeluarga, tentu akan lebih mementingkan tidur bersama istri atau anaknya daripada nongkrong di rumah Yudi tanpa ada yang dikerjakan.Dengan kepulangan Yuna ke Jepang, Bagas sudah tidak lagi sibuk untuk mengantar gadis Jepang itu keliling kampung. Apalagi menyiapkan makan, sudah tidak ada yang diurusi lagi. Untuk kebutuhan makan Mas Yudi, dia sudah beli sendiri dari kantornya.


    "Gas, itu Mbak Yuna kok sudah tidak kelihatan lagi, kemana?" tanya bakul pecel yang sering menyuguh Yuna, saat Bagas membeli nasi pecelnya.


    "Sudah balik ke Jepang, Mbok .... Ngurusi obyek wisata kita. Doakan berhasil ya, Mbok." jawab Bagas.


    "We alah, sudah pulang, to? Lha kok ya tidak menikah dulu sama Mas Yudi? Lha apa Mas Yudi juga ikut ke Jepang?" tanya simbok itu lagi.


    "Ya, Mbok ..., kemarin pagi diantar Mas Yudi ke bandara. Mas Yudi hanya mengantar saja, tidak ikut. Katanya hanya sebentar kok, Mbok .... Hanya mengurus dana bantuan. Setelah selesai nanti kembali ke sini lagi. Lha kalau urusan menikah, Simbok tanya langsung saja sama Mas Yudi. Saya tidak tahu itu." jelas Bagas.


    "Eh, Gas ..., lha itu dengar-dengar, memang Mas Yudi mau menikah dengan Mbak Yuna, ya?" tanya simbok bakul pecel itu lagi.


    "Halah, Mbok ..., saya tidak tahu. Lha saya kan tidak pernah diberi tahu." jawab Bagas.


    "Ya ..., mungkin Bagas dengar saat mereka berdua ngobrol .... Hehe ...." kata simbok itu.


    Tiba-tiba datang wanita setengah baya, tetangga Bagas yang juga akan membeli sarapan. Ia langsung nimbrung pembicaraan mereka.


    "Iya, Gas ..., katanya Mas Yudi mau menikah dengan gadis dari Jepang itu. Itu saya dengar dari Mbok Yati bakul bakmi Gunung Kidul itu lho." timpal wanita yang baru datang itu.


    "Halah, Yu .... Mbok Yati kok didengar. Dia itu tukang gosip. Jangan percaya." sahut Bagas.


    "Eh, Gas ..., lha itu kalau di rumah Mas Yudi apa mereka tidak pernah gitu-gitu ...? Hehe ...." tanya si wanita tetangga Bagas itu lagi.


    "He eh .... Lha wong satu rumah cuman berdua." sahut simbok bakul pecel.


    "Mbok ..., Yu ..., jangan sok berprasangka. Saya itu setiap hari di rumah Mas Yudi. Saya itu sering mengantar Mbak Yuna keliling kampung. Mbak Yuna itu orangnya serius, kalau kerja tidak mau diganggu, jatah waktunya dari yayasannya, Mbak Yuna harus menyelesaikan pekerjaannya satu bulan. Kalau tidak selesai, dia tombok, tidak dibayar, bahkan proyeknya gagal. Makanya Mbak Yuna itu kerja siang malam untuk menyelesaikan proyeknya. Mas Yudi saja tidak berani mengganggu. Di rumah Mas Yudi itu, Mbak Yuna cuman menumpang, daripada kontrak rumah. Lumayan bisa menghemat biaya. Kalau tidak percaya dengan kata-kata saya, tanya sama anak-anak yang sering bermain di rumah Mas Yudi. Jadi jangan menyebar gosip yang tidak benar." kata Bagas yang jengkel dengan ibu-ibu.


    "Iya, iya ..., maaf, Gas .... Memang Mbok Yati itu payah. Suka fitnah." sahut wanita tetangganya itu.


    Bagas meninggalkan bakul pecel dengan rasa jengkel. Tentu karena omongan ibu-ibu yang tidak jelas, sukanya menyebar gosip.


    Sore hari, sebelum matahari terbenam, sengaja Bagas datang ke rumah Mas Yudi. Tentu ingin menyampaikan gosip yang berkembang di kalangan ibu-ibu. Sudah ada dua mobil di garasi belakang. Artinya Mas Yudi sudah ada di rumah. Bergegas Bagas masuk untuk mencarinya.

__ADS_1


    "Mas Yudi ...! Mas Yudi ...!" Bagas memanggil Yudi.


    "Iya, Bagas .... Ada apa? Kok bengok-bengok!" kata Yudi yang menemui Bagas.


    "Ya, mau ketemu Mas Yudi ...." jawab Bagas.


    "Sini, duduk sini. Nih, ada jajanan, tadi dikasih teman di kantor. Jadah bakar." kata Yudi yang menyuruh Bagas duduk di tempat makan, sambil membuka bungkusan berisi jadah bakar khas Bantul.


    "Walah, enak banget, Mas ...." kata Bagas yang mencicipi jadah bakar.


    "Ada apa, kok bengok-bengok kaya ada maling saja?" tanya Yudi pada Bagas.


    "Anu, Mas .... Maaf kalau nanti Mas Yudi tidak berkenan." kata Bagas yang ragu-ragu bicara.


    "Iya, ada apa?" Yudi mengulangi pertanyaannya, penasaran sama Bagas.


    "Begini, Mas Yudi ..., ibu-ibu itu ribut ..., menanyakan hubungan Mas Yudi sama Mbak Yuna. Mereka ingin Mas Yudi menikah dengan Mbak Yuna. Katanya biar kampung kita ini lebih ramai." kata Bagas dengan hati-hati, takut Mas Yudi tidak berkenan.


    "Halah, Gas ..., kayak gitu kok dibahas. Lha mbok ya mikir bagaimana bisa hidup lebih sejahtera, mikir dagangannya lebih laris, mikir anaknya bisa sekolah tinggi. Kok malah ngurusi pepesan kosong." sahut Yudi.


    "Tanya apa lagi ...?!" sahut Yudi.


    "Mas Yudi senang sama Mbak Yuna, nggak? Hehe ...." tanya Bagas malu-malu.


    "Gas ..., rumah ini hanya ramai kalau ada anak-anak. Begitu malam tiba, rumah ini kembali sepi. Bahkan kamu saja tidak mau menginjakkan kaki ke sini. Setiap malam saya sudah terbiasa tinggal sendiri di rumah ini. Walau sepi, saya bisa menikmatinya sendiri. Kalau Mbak Yuna sekarang balik ke Jepang, dan rumah ini sepi kembali seperti dulu, saya sudah biasa, Gas .... Tidak perlu diributkan. Lhah, Mbak Yuna saja sudah pulang ke Jepang, pekerjaannya di sini sudah selesai, apa ya saya harus menahan Mbak Yuna tinggal di sini? Tidak mungkin, Gas .... Lhah kalau ditanya saya senang dengan Mbak Yuna atau tidak, ya jelas senang lah, kan Mbak Yuna yang akan membantu kampung kita, masak saya membencinya? Lha Bagas sendiri senang sama Mbak Yuna apa tidak?" balas Yudi pada Bagas.


    "Walah, ya senang to, Mas .... Maksud saya itu senang yang lain?" tanya Bagas kembali.


    "Senang yang lain itu yang bagaimana maksudmu?" tanya Yudi pura-pura tidak paham.


    "Senang itu lo, Mas ..., cinta .... Hehe ...." cengenges Bagas.


    "Gas, saya sudah tua. Umurku hampir lima puluh tahun. Kira-kira pantas nggak kalau aku mencintai Mbak Yuna?" Yudi mencoba tanya.


    "Walah, yo pantas banget to, Mas .... Cinta itu tidak memandang usia, ya ...." sahut Bagas.

__ADS_1


    "Terus, cara menyampaikannya bagaimana?" Yudi mencoba bertanya.


    "Walah .... Tinggal bilang ai lop yu, gitu saja kok bingung to, Mas." sahut Bagas lugas.


    "Lha nanti kalau ditolak bagaimana?" tanya Yudi lagi.


    "Walah .... Ditolak ya sudah, tinggal pergi saja. Gitu kok repot." sahut Bagas.


    "Lha kalau ditinggal pergi, terus Mbak Yuna juga pergi, terus proyeknya gagal, bagaimana?" tanya Yudi lagi.


    "Waduh ...?! Jangan, Mas .... Kalau begitu jangan, Mas Yudi. Kacau kita kalau sampai gagal." Bagas mulai khawatir.


    "Nah .... Tahu kan apa artinya itu semua? Jadi, tidak gampang untuk mengatakan sesuatu. Pikir dahulu dampaknya, jangan sampai merugikan kita, jangan sampai menghancurkan harapan banyak orang." jelas Yudi pada Bagas.


    "Iya, ya Mas .... Ternyata ada yang lebih penting dari sekadar memenuhi hasrat pribadi ya, Mas." kata Bagas yang sudah paham.


    "Makanya, jangan hanya sekadar menyebar isu yang tidak benar. Jangan suka fitnah kalau tidak ada fakta. Pikir dahulu sebelum bicara." tegas Yudi yang meminta Bagas selalu berfikir.


    "Ya, Mas Yudi. Maaf lho, Mas .... Saya tak pamit pulang ya, Mas ...." kata Bagas yang mau pulang.


    "Lhah, terus pulang. Cuma begitu?" tanya Yudi.


    "Iya. Mas ...." jawab Bagas agak malu di tegur Yudi.


    "Ya sudah, ini jadah bakarnya kamu bungkus lagi, dibawa pulang. Biar dimakan anak istrimu. Kalau di sini nanti tidak ada yang makan. Eman-eman." kata Yudi yang memberikan jadah bakar.


    "Terima kasih lho, Mas .... Pulang dulu ya, Mas ...." kata Bagas yang membawa jadah bakar.


    "Iya, hati-hati ...." sahut Yudi.


    Sepulang Bagas, Yudi kembali ke kamar. Merebahkan tubuhnya. Sendiri dan sepi. Malam-malam yang selalu sunyi, tanpa teman, tanpa kawan, tanpa kekasih. Sendiri dalam kesunyian.


    "Sepi ..., sepi ..., dan sunyi .... Adakah orang yang bisa mengusir kesunyian hidupku ini?"


Dalam merebahnya tubuh yang capai itu, Yudi menerawang menatap langit-langit rumah, berharap ada dewi cinta yang bisa mengusir kesunyian hidupnya.

__ADS_1


    "Hai para Dewa, kirimkanlah Dewi Cinta pengusir sepi hidupku, agar tidak ada kesunyian dalam istanaku ini. Saya tidak mau dikirim Dewi Aphrodite, saya tidak mengharap kehadiran Eros atau Cupid. Saya hanya ingin Dewi Cinta dari Jepang." begitu gumam Yudi menjelang tidur.


__ADS_2