
Sore belum selesai. Matahari masih terlihat. Yudi bersama Rini beserta dengan Yuni dan Yunadi, turun dari pesawat di Bandara Internasional Tokyo. Yudi langsung mengajak anak dan istrinya naik kereta cepat dari Tokyo menuju Kyoto.
Ini merupakan pengalaman pertama bagi Rini dan Yuni untuk naik kereta cepat Shinkansen dari Tokyo menuju Kyoto yang berjarak lima ratus kilo hanya ditempuh dalam waktu sekitar dua jam saja. Sungguh kecepatan yang sangat luar biasa. Bagaikan kecepatan sebuah peluru yang ditembakkan. Itulah sebabnya, kereta ini juga dinamakan kereta peluru atau bullet train.
Rini dan Yuni terkesima saat berada di stasiun, menyaksikan bentuk kereta cepat tersebut. Kepala kereta itu seperti kepala ikan lumba-lumba. Kereta yang sangat bagus dan tentunya memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Mereka bisa menikmati perjalanan yang sangat nyaman. Meski kereta itu sangat cepat, namun tidak dirasakan dalam perjalanannya. Seakan mereka hanya duduk santai di sebuah kendaraan mewah.
Tiba di Kyoto sudah memasuki malam. Namun belum gelap, karena matahari kala itu masih berada di utara, negeri Jepang mengalami siang lebih panjang. Yudi mencarikan penginapan untuk istri dan anak-anaknya. Ia menyewa penginapan di dekat stasiun bus Kyoto. Ya, besok ia akan melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Yuna, rumah mertua Yudi, rumah kakek dan nenek Yunadi yang ada di kota kecil Sakai.
Tentu malam itu Yudi tidak bisa memejamkan mata. Bayangan wajah Yuna sudah menempel di matanya. Ia ingin segera menemui Yuna. Tentu karena rasa kasihan pada istrinya, yang ia bayangkan jika hidupnya sangat menderita. Namun tentu tidak semudah mencari uang. Karena keberadaan Yuna saja, sampai kini belum ada kabar beritanya.
Malam itu, Yudi berusaha menelepon orang kaya dari Kyoto yang pernah menolong dirinya pulang ke Jogja dahulu, orang yang pernah ia antar untuk mencari kuburan saudaranya yang berada di dekat gua Jepang. Ya, laki-laki yang pernah memberinya uang yang ditinggal di kamarnya. Ya, tentu ia ingin tahu bagaimana hasil penelusurannya dalam rangka mencari Yuna, dari beberapa hari kemarin setelah Yudi meminta pertolongan.
Namun orang yang dianggap sangat berpengaruh itu, saat ditelepon oleh Yudi, mengatakan tidak menemukan Yuna. Beberapa tempat yang disebutkan oleh Yudi, yang tentu tempat-tempat yang ada dalam catatan Yuna yang ditemukan dalam flashdisc Yuna, semuanya sudah dicari, tetapi tidak ditemukan wanita yang bernama Yuna, sesuai yang dimaksud oleh Yudi. Hampa. Yudi tidak menemukan informasi keberadaan istrinya.
Pagi hari, setelah sarapan pagi, Yudi mengajak Rini, Yuni dan Yunadi naik bus dari Kyoto menuju Sakai. Bagi Rini, Yuni dan Yunadi, mereka baru pertama kali pergi ke Kota Sakai. Tentu mereka ingin melihat keindahan Kota Sakai yang akan didatangi itu. Maka mereka duduk di dekat jendela, ingin menyaksikan setiap daerah yang ia lewati. Satu jam perjalanan naik bus, akhirnya mereka sampai di kota kecil Sakai. Mereka turun di stasiun bus Sakai Station West Gate.
Lantas Yudi memanggil becak. Empat becak siap mengantar mereka. Tentu bagi Rini dan Yuni sangat heran, baru kali ini ia menyaksikan becak yang ditarik manusia. Satu becak satu orang. Senang sekali rasanya bisa naik becak tradisional Jepang di zaman modern seperti ini. Pasti, Yuni langsung selfi dan dikirimkan ke kakak-kakaknya yang ditinggal di Jogja.
Yudi langsung mengatakan alamat yang dituju kepada para tukang becak. Empat becak itu langsung berangkat menuju ke rumah kakek dan nenek Yunadi. Berbaris beriringan. Yunadi yang paling depan, kemudian Yuni, yang tetap menyalakan video ponselnya, merekam perjalanannya. Yang paling belakang Yudi. Tentu untuk mengawasi anak dan istrinya yang ada di depan.
Dalam waktu tidak begitu lama, becak sudah sampai di sebuah gang yang tidak begitu ramai, gang menuju rumah kakek dan nenek Yunadi. Lantas becak yang paling depan berhenti, yang kemudian diikuti oleh becak-becak lainnya. Mereka berhenti di sebuah rumah, dengan arsitek khas Jepang. Rumah itu tidak begitu besar, tetapi sangat asri dan artistik. Indah sekali.
Yudi yang turun duluan, lantas menuju pintu pagar rumah itu. Kemudian membunyikan bel yang terbuat dari bambu. Masih sama seperti dahulu ketika Yudi datang ke tempat itu, hampir sebelas tahun yang lalu.
"Chichioya ...! Hahaoya ...! Ojīchan ...! Sobo ...!" Yudi memanggil orang yang ada di dalam rumah itu. Ia menyebut Bapak, Ibu, Kakek, Nenek. Ya, memanggil mertuanya, orang tua Yuna, kakek neneknya Yunadi.
"Chotto matte ...!" kata seorang wanita meminta para tamunya untuk menunggu sebentar. Pasti ibunya Yuna. Keluar rumah, dan membukakan pintu pagar.
"Mama ..., Hahaoya .... Huk ..., huk ..., huk ...." Yudi langsung memeluk wanita itu, ibu mertuanya. Ia menangis dipelukan ibu mertuanya.
"Yudi ...." ibu mertua Yudi juga menangis. Memeluk dan menciumi Yudi.
__ADS_1
"Mama ..., anojo wa mama no magomusume, Yunadidesu. Kare wa Yūna no musukodesu ...." kata Yudi pada ibu mertuanya. Ia mengatakan kalau anak laki-laki yang berserta dengannya itu adalah Yunadi, cucunya, anak dari Yuna.
Perempuan tua itu langsung mengamati anak laki-laki yang ada di hadapannya. Lantas memeluk erat cucunya. Ia menangis sesenggukan. Baru kali ini ia bertemu dengan Yunadi.
Demikian pula Yunadi, yang ketemu neneknya, ia pun memeluk nenek itu erat-erat, dan tentu juga menangis dalam pelukan neneknya.
Setelah puas melepas kangen, saling peluk dan saling cium, bahkan tidak sekadar memeluk Yunadi, nenek itu juga memeluk dan mencium Yuni dan Rini. Lantas Sang Nenek mengajak Yudi, Yunadi dan para tamunya masuk ke dalam rumah. Rumah yang sepi dan sunyi.
"Otōsan wa doko? Ojīchan wa doko?" Yudi menanyakan ayah mertuanya, kakek Yunadi.
Lagi-lagi, nenek itu menangis kembali. Lantas nenek itu menceritakan kisah suaminya, kakek Yunadi, ayah mertua Yudi, yang sudah meninggal, sesaat setelah Yudi pergi meninggalkan rumah mertuanya sebelas tahun yang lalu. Sang kakek tidak kuat menerima siksaan hidup yang dialaminya. Ia selalu mendapatkan teror dari orang-orang yang menangkap Yuna. Akhirnya, ayah Yuna melakukan harakiri, yaitu bunuh diri ala Jepang.
"Chichioya .... Hu ..., hu ..., huk ...." Yudi menangis, bersedih mendengar kisah yang menimpa ayah mertuanya. Tentu ayah mertuanya tidak sanggup menerima teror secara terus menerus. Maka cara harakiri itulah yang biasanya dipilih oleh orang-orang Jepang dalam menyelesaikan masalah yang paling mudah.
Berkali-kali Rini dan Yuni minta dijelaskan oleh Yudi, tentang apa yang diceritakan oleh Sang Nenek tersebut. Yudi pun perlahan menerjemahkan. Tentu Rini dan Yuni ikut bersedih mendengarkan kisah yang mengharukan itu.
Sang Nenek terus memeluk Yunadi, dan tentu saling bercerita tentang kisah hidup masing-masing. Demikian juga tentang Yuna. Saat Yudi menanyakan bagaimana keadaan Yuna, nenek itu berusaha cerita. Beberapa kali Yuna sempat menemui. Yuna hanya menceritakan kalau dirinya sudah melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Yunadi. Kemudian Yuna juga menitipkan sesuatu kepada ibunya, agar kelak kalau Yunadi sudah besar barang yang dititipkan itu diberikan kepada anaknya.
"Apa isinya?" tanya Yuni yang tentu ingin tahu.
Yunadi membuka kotak kecil sebesar dus makanan kecil yang terbuat dari logam warna silver ada hiasannya dari logam warna kuning. Pasti isinya barang-barang berharga. Dan benar, setelah kotak itu dibuka, isinya adalah buku bank. Mungkin kalau di Indonesia semacam deposito. Namun tidak cuman buku bank, tetapi juga ada dua buku kecil lainnya, serta ada beberapa foto ibunya bersama Yudi, ayahnya.
Yunadi mengamati foto itu, lantas tersenyum. Kemudian memeluk Yudi. Ya, ia yakin kalau Yudi adalah ayahnya, karena foto yang bersama ibunya itu adalah foto Yudi.
"Kalian untuk sementara tinggalah di rumah nenek. Saya akan pergi ke Kuil Kifune, ingin mencari tahu tentang keberadaan Yuna. Doakan Papah berhasil menemukannya." Kata Yudi kepada anak dan istrinya.
"Iya, Pah .... Semoga berhasil. Hati-hati dalam perjalanan." sahut Rini yang tentu merestui suaminya.
Siang itu, Yudi langsung berangkat ke Kifune. Tentu karena Yudi sudah paham dengan orang-orang yang ada di kuil itu, dan Yunadi pernah dititipkan di sana. Ia ingin menanyakan keberadaan wanita yang sudah menitipkan anaknya di kuil itu. Setidaknya, orang yang merawat Yunadi sejak kecil pasti tahu wanita yang menitipkan Yunadi tersebut.
Benar, sesampai di Kuil Kifune, Yudi langsung menemui para pendeta yang dikenal oleh Yudi. Memang banyak pendeta baru di situ. Namun Pendeta Agung masih hidup dan masih tinggal di kuil itu. Yudi bersama dengan Pendeta dari Negeri Jiran yang dahulu akrab dengannya, langsung masuk ke ruang utama, di mana Pendeta Agung berada. Yudi langsung menceritakan jika Yunadi, anak yang dirawat di kuil, yang ikut seleksi beasiswa di Prancis adalah anaknya. Ia sudah ketemu Yudi, dan kini anak itu sudah tinggal bersamanya. Selanjutnya Yudi menanyakan keberadaan Yuna, wanita yang melahirkan anak laki-laki bernama Yunadi tersebut.
__ADS_1
Pendeta Agung terdiam. Dia ingat betul dengan Yudi, orang yang sudah melukis dirinya. Jika Yunadi adalah anaknya, sangat pas. Karena Yunadi juga pandai melukis seperti halnya Yudi. Tetapi kini, Yudi datang ke kuil bukan sekadar menyampaikan kalau Yunadi adalah anaknya, melainkan ia justru mencari ibunya. Tentu Sang Pendeta Agung tidak sanggup menjawab. Karena memang Yuna tidak berada di kuil itu, dan ia tidak tahu di mana Yuna berada.
"Isejingū ni itte Yuna o sagashitara dō narimasu ka?" tanya Yudi pada dua pendeta itu, untuk mencari Yuna di Kuil Agung.
Ya, Ise Grand Shrine atau Kuil Agung, pernah dibaca Yudi dalam rahasia Yuna yang ditemukan dari catatan flashdisc-nya. Tentu Yudi ingin mencari ke sana. Ia ingin tahu hubungan tulisan Yuna dengan keberadaannya.
Lagi-lagi Sang Pendeta Agung hanya diam. Tidak memberi jawaban kepada Yudi. Namun Pendeta dari Negeri Jiran itu berkata kepada Yudi, "Ise Grand Shrine merupakan Kuil Sinto kuno, yang dibangun bertahun-tahun jauh sebelum Masehi. Kuil ini sangat dikeramatkan oleh penduduk Jepang karena historisnya. Jika Yudi mau ke kuil ini, berhati-hatilah. Hari sudah menjelang malam. Tidurlah di sini barang semalam, berangkatlah besok pagi."
"Terima kasih Tuan Pendeta Agung, dan Pendeta Negeri Jiran, saya ingin pergi ke kenalan di Kyoto. Mohon doa restunya." Yudi pun segera berpamitan, meninggalkan Kuil Kifune. Ia akan menemui orang kaya yang berpengaruh, di rumahnya yang pernah ia kunjungi saat mau diantar ke Indonesia.
Di rumah mewah, Yudi duduk di ruang tamu. Ia menunggu tuan pemilik rumah, yang beberapa kali sebelumnya ia telepon untuk meminta pertolongan. Ya, Yudi kini mengharap kepada orang yang pernah ia tolong untuk menemukan kuburan keluarganya di Indonesia.
"Watashi no ani Yudi .... Genkidesu ka?" kata laku-laki lebih tua darinya itu, yang langsung memeluk dan menanyakan kabar yudi.
"Watashi wa daijōbudesu, Otōsan ,,,," jawab Yudi yang tentu mengatakan kabar baik.
"Anata no e wa yōroppa no korekutā ni kawa reta to kikimashita?" orang itu menanyakan tentang lukisan-lukisan Yudi yang dibeli oleh orang-orang Eropa.
"Arigatōgozaimasu ...." Yudi berterima kasih karena telah dipuji oleh orang itu.
Selanjutnya, orang kaya itu menceritakan tentang pencariannya terhadap Yuna, istri Yudi. Namun sudah ditanyakan ke berbagai tempat, orang-orang yang mencari tidak menemukannya. Tentu orang itu mohon maaf karena tidak sanggup menemukan istrinya.
Yudi tetap berterima kasih, meski istrinya belum ditemukan. Namun ada pertanyaan dari Yudi kepada orang kaya yang pernah tidur di rumahnya itu, yaitu tentang Ise Grand Shrine atau Kuil Agung yang ia tahu dari catatan istrinya. Tentu Yudi menceritakan rahasia istrinya dari catatan yang ia temukan.
Laki-laki itu langsung menyambut baik apa yang ditanyakan Yudi. Ia mengatakan jika di Kuil Agung itu, para pegawainya belum datang ke sana. Tentu karena itu adalah kuil suci yang dikeramatkan, bukan untuk orang-orang umum. Tidak ada orang yang tinggal di sana. Tetapi jika Yudi ingin pergi ke Kuil Agung itu, laki-laki itu akan menyuruh sopirnya untuk mengatarkannya.
Yudi pun mau dan bersedia untuk diantar ke Kuil Agung tersebut oleh orang kaya yang baik hati itu.
"Kon'ya wa watashinoie de neru .... Asunoasa, untenshu ga anata o dai shinden ni tsurete ikimasu." laki-laki tua itu meminta Yudi untuk tidur di rumahnya dahulu barang semalam, besok pagi akan diantar oleh sopirnya untuk berangkat ke Kuil Agung.
Yudi langsung berterima kasih. Tentu karena kebaikan orang kaya itu, yang akan membantunya. Dengan penuh harap, Yudi akan mencari istrinya ke Kuil Agung.
__ADS_1