KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 110: TERPUKAU


__ADS_3

    Pagi itu, matahari belum juga terlihat bentuk rupanya. Rini sudah mengangkat HP, menelepon Yudi. Semalam ia tak bisa tidur. Pikirannya melayang ke mana-mana, hanya memikirkan kesepian yang mungkin sudah dialami oleh Yudi selama tiga puluh tahun. Ada rasa sedih, ada rasa kasihan, ada rasa bersalah. Rini sudah menahan berjam-jam untuk menahan tidak mengangkat HP. Tapi kali ini, ia sudah tidak sanggup. Entah ada apa, setiap kali ke Jogja, seakan dalam hatinya hanya ada Yudi. Apalagi saat ini, ia berada di kamar sendirian, tanpa ada siapa-siapa. Yang ada hanyalah rindu ingin bertemu Yudi.


    Sekali menghubungi Yudi. HP Yudi mati. Tidak aktif. Dua kali mencoba menghubungi lagi. Hasilnya sama. Tidak ada respon. Mungkin saja Yudi belum bangun tidur, atau mungkin Yudi belum menghidupkan HP. Diam sejenak, Rini berfikir, apakah Yudi sedang bermesraan dengan Yuna? Ah, tidak. Yudi itu orang baik, belum mau tidur satu kamar kalau belum menikah. Rini ingat betul kala di hotel, di kamar hanya berdua dengan Yudi, tidak ada orang yang tahu, Yudi saja tidak mau menyentuh Rini. Bahkan Rini juga ingat saat di dalam kamar Yudi, saat dirinya pingsan, lantas seharian tergeletak di di kasur Yudi. Yudi benar-benar laki-laki hebat yang tidak tergoda oleh wanita. Padahal kala itu Yudi sudah mengungkapkan jika cintanya hanya untuk Rini. Tetapi Yudi tidak mau melakukan apa-apa. Bahkan mencium saja ia tidak mau, kecuali Rini yang justru berkali-kali menciumi Yudi.


    "Ah, Yudi .... Sedang ngapain dirimu?" desah Rini yang terlihat galau.


    Rini ingat betul, jika Yudi selalu bangun pagi. Beres-beres kamar, bersih-bersih rumah, lantas menyiapkan sarapan pagi. Tetapi untuk yang ketiga kalinya, Rini memanggil dalam telepon, HP Yudi benar-benar tidak aktif. Pasrah. Rini menyerah. Mungkin nanti agak siang sedikit akan dicoba untuk menghubungi Yudi. Atau saat makan pagi bersama anak-anaknya, ia akan menyusruh Silvy untuk menelepon papah angkatnya itu.


    "Tuliliiing ...., tuloliliiing .... Tuliliiing ...., tuloliliiing ...."


    Rini baru saja melepas satu persatu pakaiannya. Tubuhnya sudah telanjang bulat. Seluruh pakaiannya sudah berserakan di lantai. Rini baru akan beranjak mandi, HP yang ia taruh di meja rias berdering. Ada video call.


    "Uh, Papah ...! Saya kira Yudi ...!" gumam Rini yang kecewa dengan orang yang memanggil. Tetapi ia tetap menggeser HP, menerima panggilan suaminya.


    "Halo, Pah .... Ada apa? Ini saya baru mau mandi ...." jawab Rini dalam video call itu.


    "Hehehe .... Kelihatan, Mah .... Kalau begitu Mamah malah terlihat cantik ...." sahut suaminya yang malah menertawakan istrinya yang sudah terlanjur telanjang. Tentu terlihat vulgar dalam video call.


    "Aku mau mandi dulu ...." kata Rini.


    "Eh, jangan dimatiin HP-nya, hidupin saja, aku mau lihat Mamah mandi ...." sahut suaminya.


    "Papah .... Malu, ah ...." sahut Rini.


    "Aku pengin lihat, Mah ...." pinta suaminya lagi yang terus merayu.


    "Papah .... Nanti kalau Papah pengin terus bagaimana? Kan tidak ada pelampiasannya ...." sahut Rini.


    "Gak papa, Mah .... Udah ayo mandi, aku lihat dari sini." kata Hamdan.


    "Uh ..., dasar Papah genit .... Gemesin, tahu ...!"


*******


    Jam delapan pagi, ada mobil kijang tahun sembilan puluhan, agak kuno, tetapi suara mesinnya masih halus. Pertanda mobil itu masih terawat. Mobil itu masuk ke halaman parkir penginapan Unit 4. Tempat penginapan Rini dan anak-anaknya.


    Seorang laki-laki masih agak muda, usia sekitar tiga puluh lima tahun, dengan pakaian rapi, celana panjang warna hitam dan baju batik warna coklat sogan, rambutnya basah oleh minyak pomade dan disisir rapi. Laki-laki itu keluar dari setiran mobil. Hanya sendiri. Langsung menuju ke kamar penginapan yang pintunya terbuka. Ia menduga, pasti orang yang menginap sudah akan keluar.


    "Selamat pagi, keluarga Bapak Hamdan ...." salam laki-laki itu di depan pintu kamar.


    "Pagi ...." jawab dari dalam kamar.


    Bergegas Yayan keluar kamar, menemui orang yang sudah berdiri di depan kamarnya. Yayan, suami Silvy, sudah selesai beres-beres dan sudah siap untuk berangkat pergi ke kantor notaris. Tentu juga sudah rapi.


    "Keluarga Bapak Hamdan, ya?" tanya laki-laki itu lagi.


    "Iya, betul ...." jawab Yayan.


    "Ibu Silvy dan Ibu Rini mana?" tanya laki-laki itu.


    "Silvy, istri saya, sedang bersiap. Mamah sedang mandi. Bapak ini siapa?" tanya Yayan.


    "Maaf, saya dari pengembang Nirwana Homestay, yang akan mengajak Ibu Silvy dan Ibu Rini untuk penandatanganan akad kepemilikan tanah dan bangunan ini." kata laki-laki yang ternyata dari pengembang.

__ADS_1


    "Oh, maaf .... Silakan tunggu sebentar. Kami akan bersiap. Jam berapa acaranya?" kata Yayan.


    "Begitu kita siap, langsung berangkat." jawab sang pengembang.


    Yayan langsung masuk dan memberitahukan ini kepada istrinya, agar istrinya segera bersiap. Lantas Yayan menuju ke kamar sebelah, di tempat ibu mertuanya tidur, memberitahukan kepada ibu mertuanya agar segera bergegas karena sudah ditunggu oleh orang dari pengembang. Silvy sudah siap. Rini pun dalam waktu sekejap juga sudah siap.


    "Mas siapa ini, namanya?" tanya Rini pada laki-laki yang dari pengembang tersebut.


    "Wawan, Ibu ...." jawab laki-laki itu.


    "Mas Wawan .... Rencana penandatanganan jam berapa?" tanya Rini pada Wawan, orang dari pengembang tersebut.


    "Ya, nunggu kita sampai sana, Ibu. Karena ini kan yang harus tanda tangan tinggal Ibu Rini dan Ibu Silvy sebagai pihak pembeli." jelas Wawan.


    "Ini kami belum sarapan pagi, bagaimana kalau misalnya kita sarapan dahulu?" usul Rini.


    "Begini saja, Ibu ..., kita ke notaris dahulu, di sebelah kantor notaris ada warung makan yang cukup representatif. Nanti kita bisa sarapan di sana. Jika kantor notaris kosong, kita tanda tangan akad dahulu, tapi kalau masih ada klien, kita sarapan dahulu. Jadi sama enaknya, sama dapatnya." usul Wawan dari pihak pengembang yang sudah paham wilayahnya.


    "Oke, tidak masalah. Kita berangkat sekarang. Oh ya ..., berkasnya jangan lupa, Silvy ...." kata Rini, yang mengingatkan anaknya untuk membawa berkas-berkasnya.


    "Monggo, Bu ...." kata Wawan dari pengembang yang siap berangkat.


    "Eh, Mas Wawan, kita naik mobil bersama saja." ajak Rini pada Wawan untuk berangkat bersama.


    "Njih, Bu .... Maturnuwun." sahut laki-laki itu.


    Yayan sudah menghidupkan mobil. Silvy dan Rini duduk di jok tengah. Wawan yang dari pengembang disuruh duduk di depan, di sebelah Yayan yang menyetir. Tentu sebagai penunjuk jalan agar mudah dan tidak tersesat. Mobil yang disetir oleh Yayan sudah melaju keluar dari penginapan, berbelok ke kanan, ke arah utara, menuju kota.


    "Nah, kita sudah sampai. Ini kantor notarisnya, dan di sebelah itu rumah makan yang lumayan." kata Wawan.


    Setelah berkata demikian, laki-laki itu langsung turun dan masuk ke kantor notaris. Sebentar kemudian keluar lagi, menemui Rini dan anak-anaknya yang baru turun dari dalam mobil.


    "Ibu, kita sarapan dahulu .... Di dalam masih ada satu tamu. Setelah itu baru kita." kata Wawan yang langsung mengajak sarapan para pembelinya.


    "Oke. Ayo Mas Yayan, Silvy .... Kita sarapan." kata Rini yang langsung mengajak anak-anaknya ke rumah makan yang berada di sebelah kantor notaris tersebut.


    "Mas Wawan, ayo sarapan sekalian." ajak Rini pada laki-laki dari pengembang penginapan tersebut.


    "Tidak, Bu .... Terima kasih, saya baru saja makan pagi tadi di rumah." jawab Wawan.


    "Bener, nih ..., ayo temeni kami .... Minum teh hangat." kata Rini yang tetap mengajak.


    "Perut saya sudah tidak muat, Bu .... Betul, terima kasih." jawab Wawan yang menolak sambil pura-pura memegang perut.


    Akhirnya hanya Rini dan anak-anaknya yang masuk untuk sarapan. Mereka bertiga makan sepuasnya. Model sarapan prasmanan. Nasi ambil sendiri, lauk pauk memilih sendiri, sayuran juga tinggal mengambil. Minuman teh sudah ada di meja, tinggal mengambil juga. Namun jika menghendaki minuman kopi, jeruk atau yang lain baru pesan.


    Rumah makan sederhana, tapi bersih dan rapi. Cukup ramai pembeli. Menunya lumayan lengkap, mulai dari macam-macam sayuran, aneka lauk dari ikan, telor maupun daging. Ada gimbal udang dan sambal belut. Bahkan ada pula pepes dan brongkos  khas Jogja. Rasanya enak dan sedap. Ini kalau di Jakarta, modelnya seperti Warteg besar. Dan yang mengejutkan adalah setelah selesai makan. Orang tiga makan aneka macam, cuma habis empat puluh lima ribu. Sangat murah. Ini kalau di Jakarta, paling tidak sudah keluar uang ratusan ribu.


    Setelah selesai sarapan, Rini bersama anak-anaknya masuk ke kantor notaris. Ternyata sudah ditunggu.


    "Monggo, Ibu Rini ..., Ibu Silvy .... Silakan pinarak." kata sang notaris.


    Rini dan Silvy langsung duduk di kursi yang sudah disediakan, berhadapan dengan petugas notaris dan Mas Wawan yang dari pengembang, menghadapi meja kerja. Sementara Yayan duduk di sudut ruang, menyaksikan ibu mertua dan istrinya yang akan tanda tangan.

__ADS_1


    "Maaf, Ibu Rini dulu, ya .... Ini berkas-berkas yang harus ditandatangani." kata seorang perempuan cantik, pegawai kantor notaris.


    "Oh, ya .... Saya Rini." sahut Rini, yang kemudian siap menandatangani akta.


    "Di sini, Ibu Rini .... Dengan nama lengkap Rini Handayani, sebagai pihak pembeli .... Luas tanah ada seribu meter persegi, luas bangunan ada empat ratus meter persegi. Mohon dicek, jika sudah benar silakan ditandatangani." kata wanita pegawai notariat itu.


    "Iya, sudah benar." jawab Rini.


    "Silakan tanda tangan di sini, Ibu .... Ibu Rini sebagai pembeli." kata wanita itu lagi.


    Rini menandatangani berkas-berkas jual beli tersebut. Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani. Dan semua harus ditandatangani.


    "Maaf, boleh tanya?" kata Rini pada wanita pegawai itu.


    "Silakan, Ibu Rini ...." jawab pegawai itu.


    "Ini yang tertera di nama penjual, kok namanya Yudi, ya ...?!" tanya Rini yang agak curiga.


    "Iya, Ibu Rini. Memang tanah ini semuanya miliki Pak Yudi, dijual untuk pengembangan Kampung Nirwana." jawab Wawan yang dari pihak pengembang.


    "Lha, Mas Yudi mana?" tanya Rini lagi.


    "Berkas penjualannya sudah ditandatangani semua oleh Mas Yudi. Jadi Mas Yudi sudah tidak perlu ke notaris lagi." jawab pegawai pengembang.


    "Jadi ..., tanah seluas itu, yang dibangun jadi Nirwana Homestay, itu semua miliknya Yudi?" tanya Rini yang keheranan.


    "Betul Ibu Rini .... Asetnya Mas Yudi itu terlalu banyak, Bu .... Tetapi sayangnya dia tidak mau menikah. Maka aset-aset itu digunakan untuk mengembangkan Kampung Nirwana ini." jelas Wawan dari pengembang tersebut.


    "Benarkah seperti itu?" tanya Rini yang semakin penasaran.


    "Benar, Ibu Rini .... Malah bukit yang sekarang jadi obyek wisata Taman Awang-awang, itu juga tanah milik Mas Yudi. Kebetulan saya yang membuat sertifikat tanahnya." timpal petugas pejabat notaris.


    "Hmm, nggak nyangka, ya ...." Rini tidak sanggup berfikir lagi.


    "Mas Yudi itu orang yang sangat baik, Bu .... Hampir seluruh warga di Kampung Nirwana sudah berutang budi pada Mas Yudi. Bahkan kalau Ibu Rini mau tahu, lapangan yang dibuat parkiran mobil-mobil VW kuno untuk wisata itu, sebenarnya juga milik Mas Yudi. Tapi sampai hari ini tidak disertifikatkan. Katanya biar dikelola sama sopir-sopir wisata saja." jelas Mas Wawan dari pengembang.


    "Masih ada lagi, Ibu Rini .... Nanti bangunan yang rencananya untuk Pasar Seni, itu juga milik Mas Yudi. Tapi masih menunggu Pak Lurah, untuk meminta tambahan lahan parkir dan pasar kuliner. Pak Lurah yang minta ganti tukar guling, karena itu tanah desa, tidak bisa diperjualbelikan. Yah, kami hanya bisa berdoa semoga Mas Yudi dapat tanah untuk tukar gilingnya." jelas pejabat notaris itu menambahkan.


    Silvy dan Yayan pandang-pandangan. Heran dengan papah angkatnya, yang ternyata sangat kaya raya, tetapi tidak terlihat sebagai orang yang kaya. Bahkan kekayaannya dipakai untuk menghidupi warga di kampungnya. Sungguh luar biasa orang ini.


    Rini tertunduk. Tentu sudah meneteskan air mata. Baru kali ini ia mendengar kekayaan dan kebaikan Yudi. Sungguh orang yang tidak mau disanjung, tidak mau dipuji. Bahkan sampai harta kekayaan pun ia berikan kepada orang lain.


    "Mamah kenapa?" tanya Silvy yang langsung memegangi pundak ibunya, melihat ibunya sudah menangis sesenggukan.


    "Mamah terharu, Sayang .... Terharu sama papah angkatmu." jawab Rini yang semakin sesenggukan, menangis haru.


    "Itu, Papah Yudi patut kita kagumi, Mah .... Dia orang hebat." kata Silvy sambil menenangkan ibunya.


    "Sini, gantian Silvy yang tandatangani berkasnya. Mamah keluar dulu. Mamah tidak sanggup duduk di sini." kata Rini yang langsung berdiri dan keluar dari raung notaris tersebut. Tentu dengan isak tangis yang semakin jadi.


    Rini tidak pernah menyangka, jika Yudi begitu baik, begitu dermawan, bahkan rela memberikan harta kekayaannya, hanya untuk memajukan kampungnya.


    "Yudi, kamu sungguh-sungguh orang baik. Aku sangat kagum padamu. Yudi, kamu benar-benar manusia setengah dewa, itu aku pinjam kata-kata Alex." gumam Rini yang memuja Yudi, orang yang pernah ia sayangi saat SMA. Rini terpukau dengan semua yang sudah dilakukan oleh Yudi.

__ADS_1


__ADS_2