KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 79: EMOSI, RUGI SENDIRI


__ADS_3

    Sudah dua hari Yuna pergi. Tanpa memberi tahu Yudi, tanpa berpamitan. Perginya Yuna juga diam-diam. Namun yang menjadi masalah adalah karena Yuna menyaksikan sendiri kamar Yudi yang dipenuhi lukisan-lukisan Rini. Tentu Yuna tidak suka hal itu. Walau Yudi menyesal, meminta maaf, namun Yuna sudah tidak peduli lagi. Dan akhirnya, Yuna pergi.


    Sepeninggal Yuna dari rumahnya, semenjak Yuna kembali ke Jepang, perasaan Yudi menjadi sangat sensitif. Apa-apa rasanya ingin marah. Ada masalah sedikit langsung membentak. Ada yang keliru sedikit langsung marah. Tentu ini terjadi karena kekecewaannya telah ditinggalkan Yuna. Penyesalannya tiada arti, karena Yudi merasa telah melakukan kesalahan besar terhadap Yuna.Tetapi emosi itu, semakin hari semakin menjadi.Dan tentu, marah-marahnya juga sering ia lampiaskan kepada siapa saja. Terutama para pekerja yang tidak benar.


    Apes bagi Rini. Siang itu ia menelepon Yudi. Tentu tujuannya baik. Namun yang terjadi justru sebaliknya.


    "Halo Yudi ..., bagaimana kabarmu?" tanya Rini saat menelepon Yudi.


    "Maaf, Rini ..., jangan mengganggu saya lagi ...." jawab Yudi membalas telepon Rini.


    Tentu kepala Yudi langsung senut-senut, emosinya naik, mengingat permasalahan yang sedang dihadapi antara dirinya dengan Yuna, itu semua gara-gara Rini. Walau yang menjadi masalah adalah lukisan. Ya, lukisan Rini yang menjadi penyebab kepergian Yuna. Maka, begitu Rini menelepon, emosi Yudi langsung memuncak. Namun mengingat cintanya pada Rini, Yudi berusaha meredam kemarahan yang akan dilampiaskan ke Rini.


    "Maaf, Yudi ..., saya tidak bermaksud mengganggu Yudi, tapi ini ada yang ingin saya sampaikan ke kamu." sahut Rini.


    "Rini ..., saya mohon maaf sekali, saat ini saya tidak ingin mendengar suara Rini lebih dulu." jawab Yudi masih bisa bersuara halus. Tentu karena yang menelepon adalah Rini.


    "Maaf, Yudi ..., ada apa dengan dirimu ...? Mungkin saya bisa membantu?" tanya Rini.


    Yudi tidak ingin membuat keributan dengan Rini. Meski apapun yang terjadi, meski semua ini gara-gara Rini, tetapi Yudi mau mengalah, demi cinta yang pernah tertanam di hatinya.


    "Rini .... Sekali lagi saya mohon maaf, kondisi saya sedang drop .... Rini telepon di waktu yang kurang pas. Mungkin lain waktu saya akan menelepon Rini untuk meminta bantuan, tapi jangan sekarang. Jadi, Rini harap maklum, telepon saya matikan dulu. Terima kasih Rini sudah berbaik kepada saya." bicara begitu, Yudi langsung mematikan HP-nya.


    "Semoga saja Rini memahami perasaanku." gumam Yudi sendirian.


    Ya, tentu Rini menjadi bingung. Apa yang terjadi pada Yudi? Mengapa sikapnya berubah seratus delapan puluh derajad? Baru kali ini Rini mendengar kata-kata Yudi yang tidak mesra pada dirinya. Padahal biasanya, kalau ditelepon, jawaban-jawabannya selalu mesra memanja, kata-kata yang diucapkan selalu manis. Penuh harapan yang menyenangkan, penuh impian yang menyejukkan. Tapi kali ini, telepon baru diangkat, salam baru diucapkan, Yudi sudah langsung menolak untuk dihubungi. Tentu dengan kalimat yang kurang menyenangkan. Membuat kecewa.


    Namun Rini tidak harus membalas dengan kemarahan. Tidak harus ikut-ikutan emosi. Ia ingat beberapa minggu yang lalu, saat pagi-pagi Rini menelepon Yudi lantas marah-marah. Yudi tidak ikut marah, ia tetap lemah lembut, walau akhirnya mematikan teleponnya. Dan itu, ternyata yang keliru adalah Rini. Yudi hanya menjadi imbas emosi dan cemburu yang tidak terkendali. Kini berganti Yudi yang tidak mau menanggapi telepon Rini, pasti ada suatu masalah. Yudi pasti sedang mengalami persoalan berat. Atau bahkan, Yudi sedang depresi.


    Yah, biarlah Yudi menyadarkan dirinya lebih dahulu. Biarlah emosi Yudi mereda terlebih dahulu. Toh nanti jika Yudi sudah landai, tidak emosi lagi, dia pasti akan menelepon dan meminta maaf pada dirinya. Rini paham hal itu. Sejak SMA menjadi sahabat dekatnya, Yudi adalah orang yang sangat baik.


    Sebaliknya, Yudi yang berada di puncak bukit Taman Awang-awang, sedang mengawasi jalannya pembangunan. Tentu jika ada tukang yang kerjanya kurang sesuai dengan yang ia harapkan, dengan mudahnya Yudi memarahi tukang tersebut. Tentu beberapa tukang merasa jengkel dan kesal dengan cara Yudi yang menegur dan menyalahkan semaunya sendiri. Akhirnya, terjadi bersitegang antara Yudi dengan para tukang.


    "Pak, ini cara menghaluskan acian semen jangan seperti itu .... Jadinya kurang halus!" tegur Yudi pada tukang.


    Beruntung tukang itu diam saja. Tidak menyahut teguran Yudi.

__ADS_1


    "Pak ...! Yang kawasan sini jangan ditimbun tanah terlalu tinggi, menghabis-habiskan material." Yudi menegur lima orang pekerja yang sedang melakukan pengurukan lahan.


    "Lhoh, ini harus rata dengan patok itu, Mas ...." sahut salah satu pekerja.


    "Yang bilang siapa?!" sahut Yudi.


    "Mbak Yuna ...." jawab salah seorang pekerja lagi.


    "Kamu itu kerja untuk Yuna apa untuk saya?!" suara Yudi semakin kencang menanyai pekerja itu.


    "Lho, tapi kemarin Mbak Yuna meminta pengurukannya harus rata patok bambu itu, Mas ...." jawab pekerja.


    "Sekarang kamu harus menuruti saya! Hentikan pengurukannya! menghambur-hamburkan material!" Yudi membentak kepada para pekerja untuk berhenti.


    Lima orang pekerja itu tidak ada yang berani membantah lagi. Mereka berhenti, menuruti perintah Yudi. Tetapi mereka juga kesal, karena beberapa hari yang lalu sudah diatur oleh Yuna dan dirasa baik, sekarang malah disuruh berhenti. Berarti nanti ada tempat yang tidak rata, dan tentu itu kurang baik nantinya. Tetapi mereka hanyalah pekerja, yang tidak punya hak untuk protes. Adanya harus menurut dan patuh kepada orang yang memerintahkannya.


    Yudi meninggalkan pekerja penguruk yang sudah berhenti. Lantas Yudi mendatangi dua orang pekerja yang sedang mencangkul rencana jalan berundak, atau tangga pejalan kaki, dari tempat parkir menuju puncak bukit. Yudi juga merasa kurang berkenan dengan rencana tersebut. Ia pun menegur dua orang yang masih mencangkul itu.


    "Pak, Mas .... Sampeyan itu mau bikin apa?" tanya Yudi.


    "Tidak usah dibuat tangga .... Nanti para wisatawan biar berjalan kaki lewat satu jalan saja. Untuk menghemat biaya." tukas Yudi.


    "Tapi di gambar rancangannya ada, Mas." sahut salah satu pekerja.


    "Saya minta rencana pembuatan tangga jalan kaki ini dibatalkan." perintah Yudi.


    "Tapi, Mas ..., nanti kalau dimarahi Mbak Yuna bagaimana? Karena ini kemarin Mbak Yuna yang menyuruh." tanya pekerja itu lagi.


    "Anggarannya tidak ada. Uangnya sudah habis! Nanti kalian tidak dapat bayaran!" sahut Yudi menegaskan.


    "Iya, Mas ...." pekerja itu pasrah.


    Demikian juga dengan beberapa pekerja lain yang ditegur Yudi dan disuruh berhenti bekerja. Alasannya sama, yaitu untuk penghematan anggaran. Uang sudah menipis. Nanti proyeknya tidak selesai.


    Sikap Yudi yang tiba-tiba menghentikan beberapa pekerjaan, serta marah-marah kepada orang-orang di proyek itu, menyebabkan para pekerja bangunan menjadi tidak tenang, menjadi bingung, dan tentu jadi tidak nyaman dalam bekerja. Yang menjadi sasaran tempat berkeluh kesah adalah Bagas. Pasalnya, Bagas adalah kepercayaan Mbak Yuna. Di samping itu, Bagas sangat dekat dan baik kepada Mas Yudi. Maka para pekerja ini meminta agar Bagas bisa menyampaikan keluhannya kepada Mbak Yuna.

__ADS_1


    "Mas Bagas, terus terang kami semua, para pekerja ini tidak nyaman jika selalu dimarahi Mas Yudi. Padahal kami ini menggarap pekerjaan-pekerjaan sesuai perintah Mbak Yuna, sesuai gambar yang diberikan oleh Mbak Yuna. Tapi semua disuruh berhenti oleh Mas Yudi. Tolong Mas Bagas bisa menanyakan ini pada Mbak Yuna, mana yang benar ...." begitu keluh salah seorang wakil pekerja yang menemui Bagas.


    "Waduh .... Lha saya harus menemui Mbak Yuna di mana? Mbak Yuna itu sedang pulang ke Jepang ...." jawab Bagas.


    "Ya ..., Bagas bilang sama Mas Yudi, suruh menghubungi Mbak Yuna." sahut wakil pekerja.


    "Lha kalau itu nanti saya sampaikan ke Mas Yudi. Saya akan bilang masalah ini." jawab Bagas.


    "Heh, Gas, apa benar dananya sudah menipis? Kok berkali-kali Mas Yudi selalu bilang tidak ada uang ...." tanya wakil yang lainnya.


    "Saya tidak tahu ..., tapi Mas Yudi pernah bilang uang habis, dia tidak sanggup menambah anggaran. Mas Yudi tombok. Ia juga khawatir tidak ada yang dibuat nomboki." jawab Bagas.


    "Waduh ...?! Blaik .... Padahal pembangunannya masih banyak yang belum selesai." sahut beberapa orang yang mendatangi Bagas.


    "Berarti ini Mbak Yuna pulang ke Jepang untuk mengambil uang lagi ya, Gas ...?!" tanya yang lain.


    "Kelihatannya begitu. Kata Mbak Yuna, ada yang penting harus diurus, begitu ...." sahut Bagas.


    "Kalau mengambil uang, berarti nanti proyeknya masih berlanjut .... Iya, kan?!" sahut yang lain.


    "Ya, semoga saja. Biar nanti obyek wisatanya lebih bagus. Begitu, kan?!" kata yang lain lagi.


    "Iya, lah .... Kalau seperti itu masih tanggung. Belum terlihat keren. Paling tidak menyelesaikan yang sudah dikerjakan. Finishing, yang penting-penting." sahut yang lain lagi.


    "Wah, iya ..., betul itu. Jadi nanti bisa dibuka untuk wisatawan, ada pemasukan uang dari karcis, kalau terkumpul bisa untuk mengembangkan bangunan yang lainnya. Betul seperti itu, kan?!" kata pekerja yang agak jenius.


    "Dengaren, otakmu cemerlang, Dul!" sahut yang lain mengomentari.


    "Yah, yang penting itu, Gas .... Sampaikan ke Mas Yudi, kepastian kelanjutan pembangunannya bagaimana, mau dihentikan apa diteruskan. Terus, jika perlu lakukan pengurangan pekerja. Kami sudah banyak yang siap berhenti, dari pada setiap hari dimarahi oleh Mas Yudi terus menerus. Termasuk solusi itu tadi ya .... Kita cari pemasukan dari tiket pengunjung, siapa tahu uangnya bisa digunakan untuk menambah dana bangunan." jelas yang lain.


    "Oke .... Nanti sore, saya langsung menemui Mas Yudi." jawab Bagas yang siap menyampaikan keluhan para pekerja.


    Ya, tentu para pekerja mulai resah dengan cerita-cerita yang simpang siur. Terutama banyak yang mengeluh karena setiap hari dimarahi oleh Yudi. Bagi para pekerja yang kecil hatinya, mereka memilih berhenti bekerja daripada selalu diomelin Yudi. Ini berakibat banyak warga yang mulai tidak simpatik pada Yudi, karena sering dimarahi. Padahal Yudi, sedang bertaruh nama untuk mewujudkan pembangunan Taman Awang-awang.


    Namun apakah Yudi menyadari dampak yang diakibatkan dari sikapnya itu? Emosinya yang tidak terkendali bisa mengakibatkan kehancuran proyeknya. Beruntung para pekerja ini adalah masyarakat Kampung Nirwana semua, yang sudah menganggap Yudi sebagai orang baik di kampung itu, sudah menganggap Yudi sebagai pembangkit kemajuan kampung itu, sudah banyak menolong kepada masyarakat kampung itu. Para pekerja masih memaklumi. Apalagi alasannya adalah dana yang semakin menipis. Uangnya tinggal sedikit. Kasihan juga kalau Yudi harus tombok terus. Dan akhirnya, para pekerja banyak yang mengundurkan diri, berhenti tidak bekerja lagi.

__ADS_1


    Ya, emosi yang berlebihan bisa merugikan diri sendiri.


__ADS_2