
Cerita tentang Yuna yang mendapat sambutan dari Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul, langsung tersebar ke seluruh pekerja. Dalam istilah masyarakat Kampung Nirwana terkenal dengan sebutan "Dibagekke", yaitu kedatangan Yuna untuk membangun Taman Awang-awang mendapat restu atau ijin dari Kanjeng Ratu. Tentu sumber cerita itu dari Bagas. Ya, Bagas yang tahu saat kedatangan Yudi dan Yuna yang basah kuyup, Bahkan Yuna terlihat menggigil kedinginan, menanyakan apa yang terjadi. Demikian pula ibu dan bapaknya Yudi yang melihat hal itu, tentu khawatir. Dan setelah mendengar cerita dari Yudi maupun Yuna, mereka baru percaya tentang kenyataan kejadian gaib yang ditunjukkan oleh Ratu Nyai Roro Kidul.
Demikian pula para pekerja. Pagi itu sudah ribut tentang cerita yang menimpa Yuna. Pada awalnya banyak yang tidak percaya. Tetapi ketika para pekerja menuju lokasi yang akan dibangun spot-spot foto, mereka dikagetkan oleh banyaknya genangan air serta tanah yang basah. Padahal hari itu tidak ada hujan. Lantas dari mana genangan air yang banyak itu?
Saat para pekerja masih ribut membincangkan genangan air tersebut, Yuna datang. Tentu untuk mengawasi pekerjaan.
"Itu Mbak Yuna ...!" kata salah seorang pekerja.
"Ya, kita tanya .... Apa yang terjadi?" sahut yang lain.
"Eh, Mbak Yuna .... Apa benar Mbak Yuna ditemui Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul?" tanya salah satu pekerja dengan rasa agak takut.
"Bukan ditemui Kanjeng Ratu ...." jawab Yuna yang ingin mematahkan mitos.
"Katanya diguyur air oleh Kanjeng Ratu? Lha ini, airnya masih menggenang ..." sahut yang lain.
Yuna kaget saat ditunjukkan genangan air. Cukup banyak. Meskipun banyak, menurut Yuna mestinya dalam waktu semalam, air itu sudah meresap ke dalam tanah. Tetapi ini genangannya masih cukup banyak. Bahkan tanah di sekitarnya masih basah. Yuna jadi bertanya-tanya, sebanyak apa air yang mengguyur dirinya.
"Bagaimana ini, Mbak Yuna?! Air ini sangat banyak. Berarti Mbak Yuna diterpa gelombang yang sangat besar." kata seorang pekerja lagi.
"Iya. Itu terjadi saat saya minta ijin kepada Kanjeng Ratu. Bersama Yudi. Saya dan Yudi berteriak meminta ijin membangun bukit ini. Kata Yudi, kalau kita diijinkan membangun di tempat ini, akan datang ombak besar yang dikirim oleh Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul sebagai jawaban. Dan benar, setelah kami berteriak minta ijin, ombak besar datang, seolah terbang dan mengguyur kami. Kami berdua basah semua. Begitu peristiwanya." kisah Yuna menjelaskan kepada para pekerja.
Tentu semua pekerja yang mengerubuti perempuan cantik itu terkesima dengan ceritanya. Terlebih, mereka percaya, kalau Mbak Yuna sudah ditemui Kanjeng Ratu dengan memberi sambutan siraman air Laut Selatan.
"Waah .... Ternyata Mbak Yuna ini bukan sembarangan ...." kata seseorang.
"Kenapa?" tanya Yuna.
"Mbak Yuna, tidak semua orang bisa mendapat sambutan dari Kanjeng Ratu. Tidak semua orang bisa mendapatkan jawaban dari Kanjeng Ratu. Hanya orang-orang pilihan yang hatinya baik dan suci, yang bisa diterima oleh Kanjeng Ratu. Ibarat kata, orang ini menjadi titisan Kanjeng Ratu. Mbak Yuna sudah diterima, berarti Mbak Yuna ini orang baik. Terima kasih, Mbak Yuna. Kami akan sendiko dawuh terhadap perintah-perintah Mbak Yuna." kata orang itu lagi.
"Apa itu sendiko dawuh?" Yuna bingung, tidak tahu artinya.
"Menuruti perintah Mbak Yuna. Bukan begitu, teman-teman?!" kata orang itu lagi.
"Ya, betul ...!!" teriak semua yang hadir di situ.
Ya, dengan cerita dan fakta seperti itu, masyarakat Kampung Nirwana, baru percaya dan semakin menghormat kepada Yuna. Karena mereka percaya, jika Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul sudah menitis ke seseorang, maka orang itu harus dipatuhi kata-katanya, supaya tidak mendapat celaka atau kutukan dari Ratu Pantai Selatan. Hari itu, mereka pun bekerja penuh semangat, senang dan yakin akan mendapatkan imbalan rezeki dari Yang Maha Kuasa.
Pak Lurah yang juga mendengar cerita gaib yang dialami oleh Yuna, akhirnya langsung datang menuju puncak bukit, untuk melihat kejadian yang didengarnya. Terutama, Pak Lurah ingin melihat langsung wanita dari Jepang itu, yang diyakini telah disambut oleh Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul.
"Di mana, Mbak Yuna?" tanya Pak Lurah pada seorang pekerja yang baru ditemui.
"Itu, Pak ..., di atas. Di bangunan spot-foto bagian selatan." jawab pekerja yang masih menggali tanah.
"O, ya ..., terima kasih." sahut Pak Lurah yang langsung melangkah naik, menuju tempat Yuna berada.
"Pagi, Pak Lurah ...!" teriak beberapa pekerja menyambut kedatangan Pak Lurah.
"Ya .... Kerja yang bagus, ya ...!" Pak Lurah menyaut.
"Pak Lurah ..., kemarin Mbak Yuna disambut Kanjeng Ratu ...." kata seorang pekerja yang memberi tahu kepada Pak Lurah.
"O ya? Mana sekarang, Mbak Yuna?" tanya Pak Lurah.
"Itu, Pak .... di sebelah ujung selatan." jawab pekerja itu.
__ADS_1
Pak Lurah terus melangkah ke ujung selatan, yang tentu sambil mengawasi dan menyemangati para pekerja. Dan saat sampai di sisi selatan, Pak Lurah terkejut. Ada genangan air yang cukup banyak. Ia percaya, ini yang diceritakan oleh para pekerja. Kanjeng Ratu menyambut kedatangan Yuna, tamu dari Jepang yang akan membangun daerahnya, yang akan menyejahterakan rakyatnya. Tentu Pak Lurah tidak heran dengan hal itu. Cerita seperti yang dialami oleh Yuna, sudah sering terjadi. Tetapi yang ingin dilihat oleh Pak Lurah adalah sosok wanita Jepang yang menjadi titisan. Pasti wanita ini bukan orang sembarangan. Begitu yang diyakini masyarakat Kampung Nirwana.
"Selamat pagi, Nona Yuna ...." Pak Lurah mengucap salam saat bertemu dengan Yuna.
"Oo ..., Pak Lurah .... Selamat Pagi." jawab Yuna.
"Bagaimana pekerjaan para tukang?" tanya Pak Lurah.
"Bagus .... Pagi ini mereka semua bersemangat. Luar biasa." jawab Yuna.
"Terima kasih, Nona Yuna .... Kami merasa tersanjung Nona Yuna sudah banyak membantu masyarakat di sini." ucap Pak Lurah selanjutnya.
"Kembali kasih, Pak Lurah .... Bangunan ini semuanya untuk mereka, milik mereka. Mereka harus sungguh-sungguh. Saya tidak punya hak apa-apa di sini. Maka Pak Lurah yang harus memotivasi rakyatnya." sahut Yuna.
"Iya, betul ..., Nona Yuna. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Mohon petunjuk dan bimbingan dari Nona Yuna. Maklum, mereka ini orang desa yang kurang pendidikan, jadi pengetahuannya sangat kurang. Mohon dimaafkan jika banyak kekurangan." kata Pak Lurah.
"Iya, Pak Lurah .... Kita semua harus saling membantu dan memngingatkan. Yang penting harus ditanamkan adalah kejujuran. Itu nomor satu." tambah Yuna.
"Betul, Nona Yuna ..., mohon bimbingannya. Mohon ijin saya mau keliling, mengawasi pekerja yang di bagian bawah." kata Pak Lurah yang langsung melangkah berpindah tempat.
"Terima kasih, Pak Lurah." kata Yuna.
Pak Lurah benar-benar percaya, jika wanita dari Jepang itu sudah menjadi titisan Kanjeng Ratu. Terlihat dari aura wajahnya yang benar-benar cantik, tapi sorot matanya sangat tajam menakutkan. Maka saat berbicara tadi, Pak Lurah menunduk takut. Wanita itu sangat berwibawa, walau terlihat anggun. Ada sesuatu yang sulit untuk dikatakan, hanya bisa menyebut aneh. Diam-diam, Pak Lurah agak ketakutan.
Jarum jam terus berputar. Para pekerja terus melakukan tugasnya masing-masing. Mereka terlihat rajin, meski banyak yang bekerja sambil bercanda. Tidak terasa, hingga matahari sudah bergeser jauh di langit barat. Waktu pulang pun sudah tiba. Semua pekerja menata dan mengemasi peralatannya, untuk di simpan di barak. Dan selanjutnya, puncak bukit itu sudah berubah menjadi sepi. Tinggal Yuna sendirian yang mengontrol pekerjaan sambil menunggu kedatangan Yudi yang akan menjemput.
"Hai, Yuna ...." suara Yudi sudah menyebut wanita yang akan dijemput.
"Yudi ...! Come here .... Look at that." sahut Yuna yang langsung memanggil Yudi.
"Ada apa?" tanya Yudi.
Yudi langsung melangkah menuju ke tempat Yuna berjongkok, yaitu di tanah yang masih tergenang air dari kemarin sore.
"Ada apa?" tanya Yudi yang ikut berjongkok di tempat itu.
"Lihat ini ...." Yuna menunjuk sesuatu di dalam genangan air.
Yudi mengamati ke dalam air yang ditunjuk oleh Yuna. Ya, setelah seharian tergenang, air itu sudah tidak keruh, tetapi sudah bening. Sehingga bagian dasar terlihat dengan jelas, ada sesuatu yang aneh. Ada benda kecil. Perlahan tangan jari Yudi masuk ke dalam genangan air. Meraih benda yang dilihat Yuna. Dan setelah diangkat dari dalam air ....
"Yuna ..., lihat ini ...." kata Yudi menunjukkan barang yang di angkat kepada Yuna.
"Sebentar, Yudi .... Itu masih ada lagi." Yuna menunjuk lagi ke dalam genangan air.
Yudi belum sempat memberikan cincin yang ditemukan dalam air kepada Yuna. Ia genggam. Lantas tangannya kembali meraih benda lainnya yang ditunjukkan oleh Yuna. Perlahan, dan tergapai.
"Lihat Yuna, ada dua cincin." kata Yudi sambil mengusap cincin temuan itu dengan ujung bajunya, sehingga menjadi bersih dan mengkilap.
"Wao .... Amazing ring. Lihat, Yudi ..., ini sungguh cincin yang sangat indah." Yuna terkagum dengan cincin yang mereka temukan. Bahagia rasanya, melihat cincin yang sangat indah.
"Yuna ..., ada yang aneh!" kata Yudi membisiki Yuna.
"What?!" sahut Yuna yang bingung.
"Coba Yuna Lihat .... Air yang menggenang tiba-tiba surut." kata Yudi sambil menunjukkan air yang sudah surut kepada Yuna.
__ADS_1
"Magical .... Ada apa ini Yudi? Begitu cepat air ini menghilang?" Yuna juga ikut terheran.
"Yuna, ayo kita bergegas pulang." Yudi langsung menarik tangan Yuna, mengajak pulang.
Dengan melangkah cepat, Yudi langsung membuka pintu mobil, menyuruh Yuna masuk. Lantas Yudi melajukan mobilnya di jalan menurun. Tentu agak kencang, agar cepat sampai rumah.
Pikiran Yudi tidak nyaman. Merasakan adanya keanehan. Pasti ini semua terkait dengan Kanjeng Ratu.
Yuna yang tidak paham tentang legenda Ratu Pantai Selatan, tentu tidak berfikir macam-macam tentang cincin itu. Maka ia tetap tersenyum sambil menggenggam kedua cincin itu.
"Yuna, kamu lihat keanehan tadi?" tanya Yudi.
"Keanehan yang mana. Yudi?" tanya Yuna.
"Cincin itu, Yuna."
"Ini cincin yang cantik. Sangat menawan, Yudi."
"Bukan, Yuna .... Kemarin kita diguyur air dari gelombang Laut Selatan. Lantas air itu menggenang tidak mau meresap ke dalam tanah .... Tadi, saat kita ambil dua cincin yang kembar itu, airnya langsung menghilang. Aneh kan? jelas Yudi yang heran.
"Iya, Yudi .... Mungkinkah ini sengaja diberikan oleh Kanjeng Ratu untuk kita? Untuk cinta kita? Kata Yudi Kanjeng Ratu itu baik hati kepada orang yang baik." tanya Yuna pada Yudi.
"Benarkah seperti itu? Sepasang cincin untuk jawaban cinta? Benarkah ini pemberian Kanjeng Ratu?" Yudi semakin bingung.
"I believe .... Iya ..., saya yakin, Yudi ..., ini adalah sepasang cincin cinta dari Kanjeng Ratu. A pair of rings from the queen." Yuna meyakinkan.
*******
Di rumah, setelah selesai makan malam. Yudi mengajak Yuna duduk di gazebo belakang. Tentu untuk membicarakan masalah cincin temuannya. Yuna yang membawa sepasang cincin itu, masih saja tersenyum bahagia. Tapi berbeda dengan Yudi, yang memiliki perasaan cemas dan khawatir.
"Yuna, boleh saya melihat cincin tadi?" kata Yudi yang ingin melihat cincin.
Yuna memberikan sepasang cincin yang sama bentuknya. Keduanya sangat indah. Apalagi setelah dicuci oleh Yuna, terlihat sangat mengkilap dan berkilau. Pahatan-pahatan yang menghias cincin itu sangat halus dan rapi. Sebuah pekerjaan yang sangat sempurna dari pengrajin yang membuatnya.
Berkali-kali Yudi menerawangkan cincin itu ke arah sinar lampu. Kilauan cahaya yang menerpa, membuat cincin itu semakin menawan. Yudi semakin bingung. Perlambang apa lagi dengan ditemukannya cincin ini?
"Yuna, apakah kamu percaya cincin ini pemberian dari Kanjeng Ratu untuk cinta kita?" tanya Yudi pada Yuna.
"I believe ..., saya yakin, Yudi. Watashi wa shinjite iru. Di kampungku, ada Dewa yang dipercaya akan memberikan sesuatu kepada orang yang memohonnya. Orang percaya, meski mereka tidak pernah melihat Dewa itu. Sama seperti rakyat di sini yang percaya kepada Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul." jawab Yuna.
"Jika Yuna percaya, coba kenakan cincin itu ..., apakah sesuai dengan jari manis Yuna ...." kata Yudi meminta Yuna mencoba mengenakan cincinnya.
Yuna menurut. Belum pernah sebelumnya gadis ini mengenakan cincin. Baru pertama kali ini dia akan mengenakan cincin. Tentu agak ragu untuk memasukkan ke jarinya. Namun tetap mencoba. Dan ....
"Bisa, Yudi .... Sangat nyaman .... Cantik!" teriak Yuna pada Yudi, sambil menunjukkan jemarinya yang sudah mengenakan cincin.
"Cantik sekali, Yuna ...." puji Yudi.
"Ayo, ini ganti Yudi yang pakai." kata Yuna yang meminta jari manis Yudi, lantas mengenakan cincin di jarinya.
"Wah, pas ..., Yuna. Cocok. Bagus." kata Yudi sambil menunjukkan cincinnya.
Lantas Yudi dan Yuna menyandingkan jemarinya yang mengenakan cincin. Indah, seperti layaknya mengenakan cincin nikah.
"Yuna, kita lepas dahulu cincin ini. Mohon Yuna simpan baik-baik. Kita tunggu berita besok, jika ada yang mencari." kata Yudi yang melepas cincin dari jari manisnya, lantas menyerahkan kepada Yuna.
__ADS_1
Demikian juga Yuna. Melepas cincin dari jemarinya. Lantas menyatukan sepasang cincin tersebut untuk disimpan. Namun Yuna tetap yakin, bahwa cincin tersebut adalah cincin pemberian Kanjeng Ratu untuk cintanya kepada Yudi yang direstui.
"This is the ring from the Queen." Yuna mencium sepasang cincin tersebut, lantas menyimpan dengan rapi.