
Hamdan terdiam dan terpaku di sofa ruang tamu. Pikirannya melayang entah ke mana. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Harapannya untuk meminta tolong kepada istrinya, agar bisa membantu masalahnya di kantor, sirna sudah. Rini, istrinya, justru menambahi beban pikirannya. Rini justru memojokkan dirinya. Rini juga sudah ikut menghakimi dirinya, dengan menunjukkan berbagai bukti perselingkuhannya dengan wanita karyawatinya itu. Hamdan sudah tidak bisa melakukan pembelaan lagi.
Ya, sepulang dari Jerman, pagi itu Hamdan langsung dipanggil oleh Dewan Komisaris. Bukan mendapat pujian dari hasil kerjanya, tetapi Hamdan langsung disidang. Sidang etik karyawan. Di ruang komisaris yang terlihat sakral, Hamdan langsung ditontonkan foto-foto syur tentang dirinya bersama perempuan yang juga karyawatinya, melalui layar LCD, sehingga tampak besar dan jelas. Hamdan hanya diam. Tidak bisa berkata apa-apa.
"Benarkah ini foto-foto Saudara Hamdan? Saudara sudah melanggar etika dan merusak citra perusahaan." kata salah seorang komisaris yang menunjukkan foto-foto di layar LCD.
Suaranya komisaris yang bertanya itu cukup pelan, tetapi bagi Hamdan suara itu seperti geledek yang menyambar di telinganya. Kepalanya langsung terasa berat, seperti dibebani pasir sekarung. Hamdan langsung tertunduk. Antara malu, sedih dan menyesal. Ia sudah terjebak 'gembus bacem' yang sudah kecut.
"Saudara Hamdan akan dipecat dari perusahaan." kata seorang anggota komisaris yang lain.
Deg .... Jantung Hamdan seakan berhenti mendengar kata-kata itu. "Matilah aku ...." begitu batin Hamdan.
Tentu Hamdan ingin membela diri. Dan pembela yang paling hebat adalah istrinya. Jika istrinya bisa meyakinkan kepada Dewan Komisaris yang menyatakan bahwa suaminya adalah orang baik, maka Dewan Komisaris pasti akan mempertimbangkan keputusannya. Dan setidaknya, bisa menunggu waktu pensiun yang hanya tinggal dua bulan saja.
Itulah sebabnya, Hamdan bergegas pulang dan langsung menemui Rini, untuk meminta pertolongan istrinya. Setelah sampai di rumah, istrinya tidak sudi membantu, tetapi justru memberikan tambahan bukti-bukti yang lain. Tamatlah reputasi Hamdan.
Hamdan berdiri dari sofa ruang keluarga. Melangkah menuju kamar. Tentu ingin menemui istrinya yang menangis sesenggukan di kamar.
"Mah ..., maafkan saya ...." kata Hamdan yang berdiri di depan Rini, tanpa berani menyentuh istrinya.
Rini yang duduk di kasur, tahu suaminya datang berdiri di depannya, tangis Rini semakin menjadi. Bahkan tangan Rini spontan memukuli tubuh suaminya yang berdiri tepat di hadapannya.
Hamdan diam saja. Tidak mengelak dipukuli istrinya. Tentu karena Hamdan tahu bahwa dirinya memang salah, pantas menerima pukulan dari istrinya. Ia mendiamkan saja pukulan istrinya, menunggu hingga nanti istrinya kecapaian. Pasti kalau sudah capek memukuli, ia akan berhenti sendiri.
"Papah jahat ...!! Papah pengkhianat ...!!" teriak Rini yang tentu masih memukul suaminya.
"Maafkan saya, Mah ...." Hamdan kembali meminta maaf kepada istrinya.
"Laki-laki macam apa ...!! Suami macam apa yang tega pamer selingkuh pada istrinya ...!!" kembali Rini memukul suaminya.
"Maafkan saya, Mah .... Saya betul-betul khilaf ...." Hamdan kembali merajuk kepada istrinya.
"Khilaf ..., khilaf .... Khilaf dipamer-pamerkan ke istrinya ...! Papah jahat ...!!" Rini yang jengkel, memukul keras dada suaminya, hingga Hamdan sampai terdorong dan jatuh terjengkang.
Hamdan menangis .... Menyesali apa yang telah dilakukan. Ia tidak bangun dari lantai, tetap duduk di lantai dengan kaki yang ditekuk, tangannya ditaruh di lutut, lantas kepalanya disandarkan pada tangan yang berada di atas lutut tersebut. Linangan air matanya langsung membanjiri lantai kamar.
Sementara itu, di ruang dapur, Mang Udil menemui Mak Mun, tentu penasaran dengan suara tangis juragannya. Dan yang pasti khawatir dengan Ibu Rini, yang akhir-akhir ini sering jatuh pingsan.
"Ada apa ...?!" tanya Mang Udel kepada Mak Mun.
"Sudah ..., jangan ikut campur .... Kita orang kecil, lakukan saja pekerjaan kita ...." sahut Mak Mun.
"Perang dunia?" tanya Mang Udel lagi.
"Ee .... Kok masih nanya melulu .... Sana urusi tanaman-tanaman kamu, nanti pada layu bisa kena rudal, kamu." kata Mak Mun lagi yang menyuruh Mang Udel pergi.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang saja .... Pekerjaan sudah beres semua." sahut Mang Udel yang langsung berkemas-kemas akan pulang.
Bersamaan dengan Mang Udel membuka pintu gerbang, Silvy pas turun dari ojol.
__ADS_1
"Mang Udel mau ke mana?" tanya Silvy yang melihat Mang Udel sudah mengenakan helm dan menuntun motornya.
"Anu, Neng ..., Mang Udel mau pamit pulang .... Pekerjaan sudah beres." kata Mang Udel.
"Oke ...." sahut Silvy yang langsung jalan sambil loncat-loncat masuk rumah. Ya, sifatnya Silvy masih seperti waktu pulang sekolah zaman SMA, tidak berubah, anak yang periang.
"Wee ..., Neng Silvy ...." sapa Mak Mun saat melihat Silvy datang.
"Iya, Mak Mun .... Sudah masak?" sahut Silvy.
"Sudah, Neng .... Untuk makan malam nanti sudah siap. Eh, Neng ..., sini sebentar ...." kata Mak Mun pada Silvy.
"Ada apa, Mak?" tanya Silvy.
"Dari tadi siang, Mamah Rini nangis terus .... Ribut sama Papah Hamdan .... Tolong, ya ..., Neng Silvy tengahi ..., dilerai, biar damai ...." kata Mak Mun kepada Silvy.
"Memang Papah tidak kerja?" tanya Silvy.
"Tadi siang sudah pulang, langsung ribut sama Ibu .... Malah Ibu sampai sekarang belum makan lho, Neng .... Tolong ya, diajak makan. Kasihan nanti kalau sakit." kata Mak Mun yang meminta Silvy untuk membujuk ibunya agar makan dahulu.
"Siap ..., Mak Mun." jawab Silvy yang langsung menuju kamarnya, tentu untuk membersihkan badannya dan berganti baju.
Hanya sekejap, Silvy sudah selesai berganti. Tentu karena ingin segera menemui ibunya. Maka Silvy langsung menuju kamar ibunya.
"Tok ..., tok ..., tok ...." suara pintu kamar Rini diketuk anaknya.
"Mamah ...." kata Silvy dari balik pintu memanggil ibunya.
Lantas pintu kamar itu terbuka. Tetapi yang membuka bukan ibunya, melainkan ayahnya.
"Silvy ..., maafkan Papah ya, Sayang ...." kata Hamdan yang masih menangis, meminta maaf pada anaknya.
Silvy diam tidak menjawab. Bahkan tidak menghiraukan papahnya. Silvy langsung menuju ke tempat ibunya, di mana Rini masih duduk di kasur.
"Mamah ...." Silvy langsung memeluk ibunya yang masih sesenggukan.
"Silvy ..., Sayang ...." ibunya balas memeluk erat anak perempuannya.
Mereka berpelukan beberapa saat lamanya. Tentu ada rasa yang saling ingin dilepaskan saat berpelukan.
"Mamah, ayo makan dahulu .... Kata Mak Mun, Mamah belum makan dari siang ...." kata Silvy yang mengajak ibunya untuk makan.
"Nanti sekalian nunggu suamimu pulang, Sayang ...." jawab Rini.
"Tapi sekarang kita ke ruang makan .... Setidaknya perut Mamah harus terisi. Silvy khawatir nanti Mamah sakit lagi ...." kata Silvy yang langsung menggandeng ibunya menuju ruang makan.
Rini menurut anaknya. Memang seharian perutnya belum terisi apa-apa. Mau makan rasanya tidak enak, mulutnya susah untuk dimasuki makanan. Maka wajar, jika kini tubuhnya agak lemas. Walau hanya menangis, itu sebenarnya sudah menguras energi.
"Mak Mun ...! Tolong buatkan teh hangat untuk Mamah ...." kata Silvy yang meminta dibuatkan teh hangat.
__ADS_1
"Iya, Neng .... Sebentar ...." sahut Mak Mun yang langsung membuatkan minuman teh hangat sedikit gula untuk tuan putrinya.
"Ini, teh hangatnya .... Silakan diminum ...." kata Mak Mun yang memberikan minuman untuk Rini.
"Terima kasih, Mak Mun ...." kata Rini pada Mak Mun.
"Mau makan sekarang?" tanya Mak Mun.
"Nanti saja, Mak .... Nunggu suami saya pulang ...." jawab Silvy.
"Silvy, tolong Mamah ambilkan roti tawar itu .... Untuk mengganjal perut Mamah." kata Rini yang tentu perutnya sudah teramat kosong.
"Iya, Mah .... Nih ...." jawab Silvy yang langsung mengambilkan sesisir roti tawar, dan diolesi sele.
Hari belum gelap, saat Yayan datang memasukkan mobil ke halaman rumah mertuanya. Tentu pesan istrinya yang meminta untuk segera pulang ke orang tuanya langsung ditanggapi serius. Karena kata istrinya, ada pertemuan penting.
"Hai Sayang ...." sapa Yayan pada istrinya, dan langsung masuk kamar, untuk mandi lebih dahulu dan berganti pakaian. Cepat sekali. Maklum ia tidak ingin mertuanya menunggu dirinya terlalu lama. Langsung ia nimbrung di ruang makan, di mana istri dan ibu mertuanya sudah duduk di situ.
"Cepat sekali, Mas Yayan ...." kata Rini pada menantunya.
"Hehe ..., iya, Mah .... Lhah, Papah mana?" kata Yayan yang tentu kaget mertua laki-lakinya tidak ada.
"Masih di kamar .... Kita makan duluan." jawab Silvy.
"Eh, tidak baik, Yang .... Papah harus diajak makan bareng ..., apapun alasannya ...." kata Yayan.
"Tapi, Mas ...." sahut istrinya.
"Eeh ..., tidak pakai tapi-tapian, tidak baik meninggalkan orang hanya gara-gara sesuatu. Ingat, makanan ini dari hasil jerih payah Papah, keringat Papah, rejeki Papah .... Masak kita makan hasil kerja Papah, sementara yang bersusah payah mencari nafkah malah tidak diajak makan, nggak baik, kan .... Maka apapun yang terjadi Papah harus diajak makan bareng. Berbuat baik itu tidak ada jeleknya ...." jelas Yayan, yang tentu mengingatkan istrinya agar tetap berprasangka baik, walau Yayan sudah mendengar sedikit cerita masalah ayah mertuanya.
"Kalau begitu, Mas Yayan yang panggil Papah di kamar." kata Rini menyuruh menantunya.
"Iya, Mah ...." jawab Yayan yang langsung melangkah menuju kamar ayahnya.
"Tok ..., tok ..., tok ...." Yayan mengetuk pintu kamar mertuanya.
"Iya ...." suara ayah mertuanya yang ada di dalam kamar.
"Pah .... Kita makan malam bersama, yuk ...." kata Yayan yang bicara menempel pintu kamar.
"Tidak usah .... Saya nanti saja ...." sahut ayah mertuanya dari dalam kamar.
"Pah ..., kami ingin makan bersama Papah ...." kata Yayan lagi.
Hamdan diam, tidak menjawab. Tentu ragu-ragu untuk mau ikut makan malam.
"Pah ..., ayo, Pah .... Sudah ditunggu Mamah dan anak-anak .... Kami tidak akan makan kalau Papah tidak ikut makan malam bersama." kata Yayan lagi yang meminta mertuanya keluar.
Akhirnya Hamdan membuka pintu kamarnya. Menuruti apa yang dikatakan menantunya. Dan, Yayan sudah berhasil mengajak ayah mertuanya, untuk bergabung di ruang makan. Mereka berempat, makan malam bersama. Walau Hamdan diam, tidak berbicara apapun, tidak masalah. Yang penting mau diajak makan malam bersama. Demikian juga Rini, yang hanya sedikit bicara. Hanya Silvy yang banyak bicara, tentu untuk meramaikan suasana makan malam.
__ADS_1
Yayan senang, mertuanya sudah mau makan malam bersama. Setidaknya, dengan makan malam ini, permasalahan sedikit akan mencair. Ketegangan juga akan mulai mengendur. Dan tentunya, harapannya keluarga mertuanya bisa pulih menjadi baik. Ayah dan ibu mertuanya bisa kembali harmonis. Yayan sudah berhasil mengembalikan keutuhan keluarga besarnya.
Mak Mun mengelus dadanya, tetapi dengan senyum yang mengembang, Tentu senang jika keluarga majikannya bisa rukun dan damai. Kembali harmonis.