KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 181: ADA REZEKI


__ADS_3

    Siang itu, Mas Jo bersama Mbak Sarah dari perusahaan tempat Hamdan bekerja, datang ke rumah Rini. Begitu mobilnya sampai di depan rumah mantan bos-nya, Mas Jo langsung memencet klakson. Tentu membuat kaget Mang Udel yang harus membukakan pintu pagar.


    "Halo, Mang Udel ...." kata Mas Jo sambil membuka kaca jendela.


    "Wee .... Mas Jo .... Ayo masuk ...." kata Mang Udel yang sudah membukakan pintu pagar.


    Mas Jo langsung masuk ke pelataran. Memarkirkan mobil di depan garasi. Mas Jo turun dari sopiran, lantas membukakan pintu belakang, keluar penumpang perempuan cantik. Mbak Sarah. Dulu skretaris Pak Hamdan saat masih menjabat direktur.


    "Ibu Rini ada?" tanya Mas Jo pada Mang Udel.


    "Ada .... Mangga, silakan masuk." jawab Mang Udel.


    "Walah ..., mimpi apa aku semalam .... Ada Mas Jo datang kemari .... Walah, sama Mbak Sarah ...." kata Mak Mun yang langsung lari dari dapur menemui Mas Jo dan Mbak Sarah yang masih berdiri di dekat mobil.


    "Ya, Mak Mun .... Gimana kabarnya?" sahut Mbak Sarah yang langsung menyalami Mak Mun.


    "Baik, Mbak Sarah ...." jawab Mak Mun.


    "Ibu ada?" tanya Mbak Sarah.


    "Ada ..., Mbak Sarah .... Mangga, silakan masuk." kata Mak Mun.


    "Eee .... Ada tamu ya .... Waah ..., ada kabar apa ini Mas Jo sama Mbak Sarah datang kemari?" kata Rini yang datang menemui Sarah.


    "Iya, Ibu Rini .... Ada tugas dari kantor untuk bertemu dengan Ibu." jawab Sarah.


    "Ayo, masuk ...." ajak Rini pada Sarah ke ruang tamu.


    "Iya, Ibu ...." kata Sarah yang langsung mengikuti langkah Rini.


    "Mak Mun ..., tolong buatkan minum buat Mbak Sarah. Mas Jo buatkan kopi." kata Rini menyuruh Mak Mun.


    "Iya, Ibu ...."jawab Mak Mun yang langsung menuju dapur.


    Rini dan Mbak Sarah sudah duduk di ruang tamu. Sangat sepi untuk ngobrol berdua. Sementara Mas Jo, duduk di tempat biasa, yang dulu setiap pagi mesti duduk di kursi teras sambil menunggu bos-nya untuk berangkat ke kantor. Tentu sambil minum kopi dan sarapan yang disediakan oleh Mak Mun.


    Dan sekarang, Mas Jo dibuatkan kopi lagi oleh Mak Mun. Kembali duduk di teras samping garasi, sambil ditemani Mang Udel.


    Di ruang tamu, Mbak Sarah menyampaikan tugas dari perusahaan. Tentu kepada Rini, istri dari Hamdan, yang dahulu sempat menjadi bos-nya.


    "Ibu Rini ..., mohon maaf mengganggu waktunya. Ini kami ditugaskan oleh perusahaan untuk menemui Ibu Rini secara langsung." kata Mbak Sarah membuka percakapan.


    "Iya, Mbak Sarah .... Ada apa, kok tumben ...?" tanya Rini.


    "Begini, Ibu Rini ..., pertama-tama kami, saya pribadi dan perusahaan, mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Bapak Hamdan. Terus terang, kami semua ikut prihatin atas peristiwa yang menimpa Bapak ...." kata Sarah yang tentu sambil tertunduk sedih. Ya, jika diingat, banyak kebaikan dari Hamdan yang sudah diberikan kepada Sarah, waktu masih jadi bos-nya.


    "Iya, Mbak Sarah .... Itu sudah suratan takdir. Mohon dimaafkan semua kesalahan Bapak. Sampaikan kepada perusahaan, kami mengucapkan terima kasih, dan mohon maaf waktu itu tidak bisa menemui satu persatu pelayat yang pada datang kemari." balas Rini.


    "Iya, Ibu .... Kami maklum. Kami semua merasa sangat kehilangan Bapak. Beliau itu orang yang baik, selalu membimbing kami, sabar dan murah hati. Kami benar-benar kehilangan Bapak." keluh Sarah.

__ADS_1


    "Saya juga heran, kok bisa-bisanya kecantol sama perempuan itu." Rini juga mengeluh.


    "Iya, Ibu Rini .... Semua menyayangkan. Kenapa juga Pak Hamdan bisa tergoda. Aneh. Malah banyak yang menduga kalau Pak Hamdan sudah kena guna-guna. Didukunkan, begitu, Bu ...." cerita Sarah.


    "Ya ..., itulah nasib. Kalau diri kita sedang apes, apapun bisa menimpa dan mencelakai kita. Makanya, kita mesti hati-hati." kata Rini mengingatkan dirinya dan Mbak Sarah.


    "Tapi pasti nanti perempuan itu akan mendapatkan hukuman yang setimpal." kata Sarah.


    "Aamiin .... Semoga saja hukum di negeri kita ini bisa adil." sahut Rini yang penuh harap.


    "Maaf, Ibu Rini .... Kedatangan kami kemari, ditugaskan oleh perusahaan untuk menyampaikan santunan sosial kematian untuk Bapak Hamdan, dan uang jaminan purna karya untuk Bapak." kata Sarah menjelaskan.


    "Lhoh ...,  apa dapat, Mbak Sarah? Kan Bapak sudah dipecat ...?!" tanya Rini yang kebingungan.


    "Maaf, Ibu .... Sebenarnya dari pihak perusahaan masih menghendaki kepemimpinan Pak Hamdan. Dari komisaris sudah menyetujui, untuk menunggu sampai masa pensiun. Toh masa pensiun Bapak hanya tinggal dua bulan. Tetapi ..., surat itu belum tersampaikan kepada Bapak, malah sudah terjadi peristiwa itu terlebih dahulu. Jadi ..., ya tidak tersampaikan." kata Sarah menyampaikan berita yang sebenarnya.


    "Oh, seperti itu ya, Mbak Sarah ...?!" tanya Rini.


    "Sebenarnya perusahaan sudah menghubungi Bapak berkali-kali, baik telepon maupun pesan WA. Tetapi rupanya HP Bapak sudah tidak aktif." kata Sarah menjelaskan.


    "Maaf, Mbak Sarah .... Sebenarnya HP Bapak saya sita. Saya emosi saat itu." kata Rini menyesal.


    "Oh, maaf ..., Ibu Rini .... Saya tidak tahu." sahut Sarah.


    "Saya sama Silvy waktu itu benar-benar marah. Kami emosi saat melihat foto dan video Bapak yang bermesraan dengan pelakor itu. Apalagi saat tahu kalau Bapak dipecat dari perusahaan, kami semakin marah dan jengkel. Makanya HP kami sita. Dan sampai saat ini masih saya sembunyikan. Jadi kalau Bapak ditelepon atau dikirimi pesan WA, ya maaf, HP mati." kata Rini yang menyesal.


    "Tidak mengapa, Ibu Rini .... Itu semua sudah takdir." kata Mbak Sarah.


    "Ibu Rini, ini saya membawa berkas-berkas penyerahan purna karya Bapak Hamdan, serta santunan sosial kematian. Mohon Ibu berkenan untuk tanda tangan." Kata Sarah yang sudah mengeluarkan map berisi berkas-berkas yang harus ditanda tangani oleh Rini.


    Rini menurut saja pada apa yang diminta oleh Sarah. Yang jelas pasti bukan hal yang jelek. Cukup banyak berkas yang ditanda tangani. Dalam berkas itu, Rini yang menerima, sebagai ahli waris dari Hamdan, mantan direktur perusahaan besar dan terkenal.


    Rini melongo saat menandatangani kuitansi pembayaran. Cukup besar pesangon yang diterima oleh suaminya. Satu miliar lebih. Dan kuitansi yang satunya, tertulis dana sosial kematian, besarnya seratus juta. Ada satu lagi kuitansi yang ditanda tangani, bertuliskan uang duka dari perusahaan, besarnya lima puluh juta.


    "Sudah, Mbak Sarah ...." kata Rini yang sudah menandatangani berkas cukup banyak.


    "Terima kasih, Ibu .... Ini nanti proses pembayaran yang untuk dana purna karya, akan diberikan setelah masa purna karya Pak Hamdan tiba, sekitar dua bulan lagi. Sedangkan dana sosial kematian, setidaknya akan cair satu bulan setelah pengajuan. Sedangkan yang ini, uang duka dari perusahaan untuk keluarga almarhum Bapak Hamdan." jelas Mbak Sarah, yang diakhiri dengan menyerahkan amplop coklat besar berisi uang, semacam sumbangan dari perusahaan.


    "Alhamdulillah .... Terima kasih ya, Mbak Sarah .... Malah merepotkan perusahaan ...." kata Rini yang tentu sangat senang menerima rezeki itu.


    "Itu sudah kewajiban perusahaan, Ibu .... Memang aturannya begitu. Memang di kantor ada kewajiban seperti itu. Mohon diterima." kata Sarah yang menyerahkan amplop coklat berisi uang lima puluh juta tersebut.


    "Terima kasih, Mbak Sarah .... Tolong sampaikan kepada pimpinan, pihak keluarga Bapak Hamdan sudah menerima, dan berterima kasih. Semoga amal baik teman-teman di perusahaan mendapat imbalan yang lebih baik dari Allah." kata Rini yang berterima kasih.


    "Kembali kasih, Ibu Rini .... Nanti akan saya sampaikan kepada pimpinan. Oh, iya ..., Ibu Rini, kami butuh foto copy kartu keluarga Bapak Hamdan, KTP Bapak dan Ibu, akta kelahiran Mbak Silvy, serta surat nikah." kata Sarah meminta tanda identitas, yang tentunya untuk memenuhi persyaratan berkas pensiun suaminya.


    "Oh, ya .... Saya ambilkan dahulu, Mbak Sarah, terus biar difoto copy Mang Udel." kata Rini yang langsung beranjak dari kursi tamu, lantas menuju ruang kerja suaminya, untuk mengambil arsip-arsip yang dibutuhkan.


    Ya, biasanya, orang yang tertib akan menyimpan arsip-arsip penting keluarga dalam dokumen keeper. Setelah mengambil dokumen keeper, Rini membawanya keluar. Untuk memudahkan memilih arsip yang dibutuhkan.

__ADS_1


    "Apa saja tadi yang harus difoto copy ya, Mbak Sarah ...?" kata Rini sambil membuka lembaran dokumen keeper.


    "Kartu keluarga, KTP, akta kelahiran, surat nikah." sahut Sarah.


    "Ini kartu keluarga .... Ini surat nikah .... Ini akta kelahiran Silvy, sudah foto copy. Kalau akta kelahiran yang asli sudah dibawa Silvy sendiri." kata Rini sambil mengeluarkan berkas yang akan difoto copy.


    "KTP-nya, Ibu ...?" Sarah mengingatkan KTP yang belum ada.


    "Oh, ya .... KTP masih ada di dompet Bapak. Saya ambil dahulu." kata Rini yang beranjak lagi untuk mengambil KTP suaminya.


    "Maaf, sekalian KTP Ibu Rini ...." tambah Sarah.


    "Iya, Mbak Sarah ...." sahut Rini.


    Rini menuju ruang kerja suaminya lagi. Membuka laci meja, untuk mengambil dompet. Lantas Rini membuka dompet, melolos KTP suaminya. Rini tidak membuka dompet, dan tidak ingin tahu isi dompet suaminya. Walau pasti dompet itu ada uangnya, Rini tidak tertarik. Maka setelah mengambil KTP, Rini langsung mengembalikan dompet suaminya lagi.


    "Mang Udel ...! Tolong kemari, Mang Udel ...." kata Rini memanggil Mang Udel.


    "Iya, Ibu ...." Mang Udel langsung menuju ke ruang tamu, tempat di mana Mbak Sarah dan majikannya duduk.


    "Mang Udel, tolong Mbak Sarah difotocopykan berkas-berkas ini, ya .... Untuk kepentingan kantor Bapak." kata Rini sambil menyerahkan berkas-berkas yang sudah dimasukkan dalam plastik.


    "Iya, Ibu .... Rangkap berapa, Mbak Sarah ...?" tanya Mang Udel yang akan berangkat foto copy.


    "Rangkap dua saja, Mang Udel .... Nanti kalau ada kekurangan akan saya copy sendiri di


kantor." jawab Sarah.


    "Siaaap ...." sahut Mang Udel yang langsung berangkat.


    "Ayo diminum dahulu, sambil menunggu Mang Udel foto copy .... Ini masakan Mak Mun, dicicipi ...." kata Rini yang menyuruh Mbak Sarah menikmati suguhan Mak Mun.


    "Iya, Ibu Rini .... Ngomong-ngomong, Mbak Silvy tidur sini lagi ya, Bu ...?" tanya Sarah.


    "Iya .... Menemani ibunya. Biar tidak sepi." jawab Rini.


    "Yah ..., rumah sebesar ini kalau hanya Ibu Rini sendirian, ya tentu sepi, Bu ...." kata Sarah, sambil menikmati pisang goreng buatan Mak Mun.


    "Oh, iya ..., Ibu Rini ..., besok untuk pembayaran dana purna tugas dan dana sosial kematian Bapak, bagaimana sebaiknya, Ibu?" tanya Sarah pada Rini.


    "Biasanya bagaimana untuk pembayaran yang sudah dilakukan kepada karyawan yang purna tugas, Mbak Sarah?" Rini balik bertanya pada Sarah.


    "Biasanya langsung kita transfer ke rekening yang berhak, Ibu Rini. Jika Ibu Rini nanti menghendaki untuk ditransfer ke rekening, maka akan kami masukkan ke rekening Ibu Rini." jawab Sarah yang menyampaikan umumnya penyerahan dana pensiun.


    "Kalau begitu, besok tolong ditransfer saja ya, Mbak Sarah. Biar aman dan tidak ribet." kata Rini pada Sarah.


    "Baik, Ibu Rini. Besok kalau sudah ada berita dari perusahaan tentang pencairan dana purna tugas, Ibu Rini akan kami kabari. Dan tentu kami akan meminta nomor rekening Ibu Rini. Memang sebaiknya ditransfer, Ibu .... Karena jumlah uang itu cukup besar, Ibu. Setidaknya biar lebih aman dalam simpanan. Bila perlu besok didepositokan saja, Ibu .... Lumayan bunganya agak besar." kata Sarah menjelaskan pada Rini.


    "Terima kasih, Mbak Sarah, atas semua nasehatnya .... Sekali lagi mohon disampaikan ke pimpinan, kami mohon maaf dan mohon dimaafkan pula salah dan khilaf  dari Pak Hamdan." kata Rini pada Sarah.

__ADS_1


    "Iya, Ibu .... Bapak orang baik, kok ...." sahut Sarah.


    "Dan, terima kasih ..., rezeki yang diberikan kepada kami hari ini." kata Rini sambil memeluk Sarah dan cium pipi kanan pipi kiri.


__ADS_2