
"Barang yang akan dibawa pindah ke Jogja yang mana saja, Ibu ...?" tanya Mang Udel pada Rini.
"Kita kasih tanda dahulu ya, Mang .... Ini pakai kertas label ditulisi. Yang akan dikirim ke Jogja tempeli tulisan 'Jogja'. Yang nanti akan di bawa ke rumah Silvy, kasih tulisan 'Silvy'. Begitu dulu, Mang .... Besok kalau sopir dan kernet truk sudah nyampai, baru diangkat bereng-bareng." kata Rini pada Mang Udel.
"Iya, Ibu .... Ibu tunjukkan, barang yang akan dibawa ke Jogja dan ke tempat Mbak Silvy lebih dahulu. Nanti biar ditempeli tulisan, terus saya geser-geser agar nyaman dan mudah." usul Mang Udel.
"Iya, Mang .... Meja makan ini untuk Silvy. Meja makan dan kursinya, ya ...." kata Rini mulai memilih. Tentu ia ingin anaknya punya meja makan yang bagus. Meja makan dari kayu jati yang diukir dari Jepara.
"Iya, Ibu .... Ini saya tempeli tulisan, 'Mbak Silvy'. Biar jelas waktu nanti mengangkut." kata Mang Udel yang langsung menempeli tulisan dan menggeser meja kursi makan itu ke dekat pintu garasi. Tentu bersama Mak Mun.
Rini masih memilih lagi. Melihat barang-barang yang pantas dan bisa diletakkan di penginapannya yang ada di Nirwana Homestay. Tentu yang tidak terlalu besar dan bermanfaat saat dibawa ke Jogja. Lantas Rini melangkah ke kamarnya. Ia melihat ada keseraman dalam kamar itu. Ia pun memutuskan tidak akan membawa barang-barang yang ada dalam kamarnya. Itu sangat menakutkan. Tetapi saat ia menengok ke atas, Rini melihat lukisan-lukisan yang terpasang di kamarnya. Lukisan-lukisan itu akan ia bawa. Ya, lukisan kenangan dari Yudi.
"Mang Udel ...!" teriak Rini memanggil.
"Iya, Ibu ...." Mang Udel yang dipanggil langsung berlari mendekat.
"Yang di kamar saya, tolong ambil lukisannya saja." kata Rini menunjukkan lukisan yang diminta untuk dibawa pindah.
"Dipan, lemari, sama meja riasnya tidak, Ibu ...?" tanya Mang Udel.
"Tidak usah, Mang .... Di sana tidak ada tempatnya. Biar saja dipakai oleh saudara-saudaranya Bapak." sahut Rini.
Lantas Rini melangkah ke ruang kerja suaminya. Rini langsung membuka laci meja. Barang yang diambil pertama kali adalah dokumen keeper. Tentu berkas-berkas dokumen penting keluarganya. Salah satunya adalah sertifikat tanah dan rumah yang ia tempati saat ini. Rini mengambil sertifikat itu. Membuka dan melihat isinya. Ada rasa sedih dan tentu akan kehilangan barang itu. Rini berencana akan menyerahkan sertifikat itu kepada kakak dan adik-adik iparnya, setelah ia siap pindah meninggalkan rumah itu. Setelah mengambil sertifikatnya, lantas memasukkan dokumen keeper ke dalam kopernya. Besok koper itu yang akan dibawa ke Jogja.
Lantas Rini membuka laci yang satunya. Tempat di mana ia kemarin mengambil dompet suaminya. Rini hafal suaminya menaruh dompet. Maka kini, Rini mengambil dan membuka dompet itu. Melihat identitas suaminya masih utuh. SIM dan KTP serta kartu-kartu penting lainnya masih utuh di dompet itu. Tidak ketinggalan, ATM dan kartu kredit juga masih ada. Rini juga melihat, dalam dompet itu masih ada lembaran uang ratusan ribu rupiah, beberapa lembar. Di selipan yang lain ada lembaran uang Euro. Ada lembaran seratus, lima ratus dan seribu Euro. Kalau dirupiahkan pasti jadi jutaan. Rini langsung memasukkan dompet suaminya itu ke dalam kopernya.
Setelah mengambil dompet, Rini memeriksa lagi barang lainnya. Ia menemukan buku rekening bank. Rini mengambil buku rekening tersebut. Lantas membuka dan melihat isinya.
"Ya ampun .... Ternyata suamiku masih punya tabungan cukup banyak ...." kata Rini dalam hati.
Ya, dalam buku rekening itu, Hamdan masih punya tabungan lebih dari lima ratus juta. Pasti Rini tidak pernah tahu itu, karena memang Rini bukan wanita matre yang selalu menghitung harta suaminya. Rini langsung memasukkan buku rekening itu ke dalam kopernya.
Tangan Rini kembali mengambil map plastik tebal warna biru. Lantas ia membuka map itu. Tentu sangat ingi tahu isinya.
"Masyaallah ...." Rini lebih terkejut. Matanya terbelalak melihat isi map tersebut.
__ADS_1
Ternyata di dalam map itu berisi surat deposito. Ada dua surat deposito. Yang satu atas nama Rini dan yang satu lagi atas nama Silvy. Masing-masing surat deposito itu berisi dana simpanan sebesar satu miliar. Di dalam map itu juga ada buku tabungannya, dua buah. Yang satu atas nama Rini, dan yang satu lagi atas nama Silvy. Pasti buku tabungan ini dipakai untuk mentrasfer bunga deposito setiap bulannya.
Rini duduk terdiap di sudut ruang kerja suaminya, sambil mendekap map plastik warna biru tersebut. Air matanya menetes membasahi pipi.
"Mas Hamdan ..., kamu terlalu baik untuk kami. Tapi kenapa dirimu terlalu cepat meninggalkan kami ...?" gumam Rini yang merasa sangat kehilangan kebaikan suaminya.
"Yang mana lagi, Ibu ...?" tiba-tiba suara Mang Udel membuyarkan lamunan Rini.
Rini langsung memasukkan map biru itu ke dalam kopernya. Untuk sementara koper itu ia gunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharga.
"Iya, Mang Udel .... Yang ini." kata Rini menjawab Mang Udel.
"Mana, Bu ...?" tanya Mang Udel yang sudah sampai di ruang kerja Hamdan.
"Meja kerja Bapak ini ya, Mang .... Sekalian dengan kursinya." Kata Rini yang sambil memegang mejanya.
"Iya, Ibu ...." jawab Mang Udel yang langsung menempeli tulisan 'Jogja'.
"Eh, tas Bapak biar masuk ke koper saya. Itu ada laptopnya, nanti kalau naik truk bisa rusak." kata Rini yang langsung mengangkat tas kerja suaminya dan memasukkan ke dalam koper.
"Ayo makan dahulu ...!" teriak Mak Mun mengajak makan siang.
"Iya, Mak Mun .... Ayo Mang Udel ..., makan dahulu, biar kuat ngangkat-ngangkatnya." kata Rini mengajak Mang Udel.
Lantas Rini dan Mang Udel pun bergegas menghampiri hidangan yang disediakan Mak Mun.
"Makannya di mana, Mak Mun?!" tanya Rini yang mencari makan siang.
"Di ruang keluarga, Ibu ...." sahut Mak Mun yang masih menenteng baskom isi sayur sop.
"Wee alah .... Meja makannya sudah dipindah, ya ...." kata Rini yang kaget dengan ruangannya yang sudah berubah.
"Betul, Ibu .... Rencananya yang akan dibawa ke rumah Neng Silvy, besok diantar. Mumpung Mas Yayan dan Neng Silvy libur." jelas Mang Udel yang sudah menggeser-geser barang.
"O, ya sudah .... Ayo makan ..., di mana saja tidak masalah. Yang penting rasanya enak dan nikmat." kata Rini yang sudah masuk ke ruang keluarga.
__ADS_1
"Jelas enak, Ibu .... Nasi hangat, sayurnya sop tetelan, lauknya tempe goreng, dikasih sambal. Nikmat, Ibu ...." kata Mak Mun yang pamer masakannya.
Mereka bertiga kembali makan bersama. Seperti tadi pagi saat sarapan. Tentu terasa sangat nikmat, karena perutnya memang lapar setelah kerja keras, dan yang jelas Rini sangat akrab sekali dengan para pembantunya.
"Ibu ..., nanti habis makan siang, saya mau pesan truk untuk mengankut barang-barang yang akan dibawa pindahan." kata Mang Udel yang masih punya beban sewa truk.
"Iya, Mang Udel .... Yang penting besok mengangkut barang yang akan dibawa ke rumah Yayan. Jangan lupa, membawa tenaga untuk angkat junjung." pesan Rini pada Mang Udel.
"Ya, Ibu ...." jawab Mang Udel.
Dan setelah makan siang, Mang Udel pergi untuk mencari pesanan truk. Tentu sudah diberi uang oleh Rini untuk ongkos sewanya.
Mak Mun memberesi tempat makan. Mencuci piring dan gelas, serta menata sayur serta sisa makanan lainnya.
Sedangkan Rini, kembali mengamati perabotan rumahnya. Tentu ingin memilihkan yang pantas untuk diberikan anaknya. Mata Rini tertuju pada lemari kaca yang berisi pernik-pernik aneka cendera mata. Ya, barang-barang oleh-oleh khas dari berbagai daerah yang pernah dikunjungi oleh Hamdan maupun Rini. Baik dari luar negeri maupun daerah-daerah di wilayah Indonesia.
"Itu kenang-kenangan saat berkunjung ke daerah. Saya ingin lemari itu tetap terjaga. Biar nanti saya tawarkan ke Silvy. Kalau dia mau, akan saya berikan padanya. Tapi kalau Silvy tidak mau, biar dipindah ke Jogja." gumam Rini sendirian.
"Waah .... Lemari hias yang ini bagus banget, Ibu .... Sayang kalau hilang." kata Mak Mun yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Iya, Mak Mun .... Maksud saya akan diberikan ke Silvy. Tapi kalau Silvy tidak mau, akan saya bawa ke Jogja." sahut Rini.
Lantas tangan Rini mencoba membuka lemari itu. Ia tertarik dengan mainan semacam kotak harta karun. Ya, kotak harta karun mini yang berukuran sekitar sepuluh senti kubik, dengan bentuk khas kotak milik bajak laut yang sangat indah, lengkap dengan gemboknya. Kotak harta karun itu dihiasi dengan manik-manik warna-warni. Indah sekali. Rini yang tertarik, langsung mengangkat kotak harta karun itu. Ada anak kunci yang menempel di bagian bawahnya. Rini mengambil anak kunci itu, lantas membukanya perlahan.
"Astaga .... Mak Mun ..., ini harta karun beneran apa palsu ...?!" kata Rini yang sangat kaget, setelah melihat isi kotak harta karun tersebut. Ada berbagai macam perhiasan. Gelang, kalung, anting, cincin, serta berbagai permata yang indah dan menarik.
"Ya ampun .... Benar ini, Ibu .... Ini benar-benar harta karun .... Ini asli, Ibu .... Waah .... " Mak Mun lebih heran. Tentu ia merasa kaget dengan adanya harta karun sebanyak itu dalam kotak indah tersebut.
Rini mengamati dalam kotak itu. Ada kertas yang tersimpan di bagian bawah kotak itu. Rini mengambil salah satu kertasnya, lantas dibaca. Benar, semua harta karun itu adalah asli. Kertas yang ada di dalam kotak itu adalah surat pembelian perhiasan-perhiasan yang ada dalam kotak harta karun itu.
Lantas Rini mengambil kertas yang lain, yang berwarna merah jambu. Ia membuka kertas yang dilipat rapi tersebut. Kemudian membaca tulisan yang tertera pada kertas merah jambu tersebut, "Kupersembahkan harta karun ini untuk istri dan anakku."
Itu tulisan Hamdan. Rini tahu persis tulisan tangan suaminya.
"Ah, sungguh beruntung, saya punya suami Mas Hamdan. Tanpa bicara, tanpa memberi tahu, ternyata dia sangat mencintaiku. Memberikan banyak harta dan kekayaan pada Kami. Mak Mun .... Ini benar-benar tidak aku sangka, ternyata Bapak itu kelewat baik buat kami. Saya tidak menduga ada rezeki sebanyak ini. Ya Allah, kami bersyukur pada-Mu. Engkau berikan rezeki yang sangat berlebih kepada kami. Ajari kami untuk selalu berterima kasih pada-Mu, ya Allah ...." kata Rini yang benar-benar tidak menduga akan mendapat rezeki dari suaminya yang sangat berlimpah. Itulah balasan dari Yang Maha Kuasa, ketika kita ikhlas untuk memberikan apa saja yang diminta oleh orang lain. Banyak rezeki tak terduga yang akan dikucurkan oleh Allah.
__ADS_1