
Setelah bercerita tentang sakitnya, Rini merasa, memang penyakit yang dialami ini berasal dari pikirannya. Ya, setiap kali ada pikiran yang berhubungan dengan Yudi, Rini langsung lemas tak berdaya. Dan akhirnya, Rini jatuh pingsan. Entah itu karena apa, yang jelas pikiran Rini sangat kuat dalam memendam berbagai rasa tentang Yudi. Entah itu rasa kasihan terhadap Yudi yang hingga tua tidak menikah. Entah itu yang rasa penyesalan karena sudah bersalah pernah memberikan harapan cinta kepada Yudi. Atau juga membiarkan cinta Yudi yang tidak terbalas, bahkan sudah ditinggal menikah. Bahkan terakhir kali, Rini cemburu dan marah-marah pada Yudi, hanya gara-gara Yudi bekerja bersama gadis Jepang yang cantik. Mengapa juga Rini cemburu, kalau dahulu dirinya pernah meninggalkan Yudi begitu saja. Dan yang terakhir, Rini merasa bersalah lagi saat menyesali lukisan yang belum pernah dilihatnya itu dibakar oleh Yudi, hanya alasan agar lukisan itu tidak dilihat oleh Hamdan maupun Yuna.
Itulah kira-kira yang menyebabkan pikiran Rini dibebani banyak persoalan. Dan akibatnya, Rini mengalami beban psikis yang terlalu berat. Dampaknya, fisik yang lemah itu langsung pingsan.Setidaknya, Rini selalu sakit-sakitan.
Tentu Handoyo yang dokter ahli, dengan jabatan sebagai kepala rumah sakit, paham tentang penyakit yang diderita oleh Rini. Dari penjelasan Alex, Handoyo langsung mengambil kesimpulan, bahwa Rini mengalami depresi. Dan dua laki-laki sahabat Rini itu pun paham apa yang dialami oleh Rini, yaitu memikirkan sahabatnya yang sudah tua belum menikah, yaitu Yudi. Itu baru kesimpulan sementara. Namun dokter Handoyo tetap berusaha untuk mencarikan jalan. Maka pada sore hari, waktu yang diperkirakan suami Rini sudah berada di ruang inap rumah sakit menunggui istrinya, dokter Handoyo mencoba menelepon Rini, dengan harapan ingin bicara dengan suaminya.
"Tuloliing ..., tuloliliing ...." HP Rini berdering. Ada panggilan.
"HP Mamah, bunyi ...." kata Hamdang yang memberi tahu pada istrinya.
"Tolong ambilkan, Pah ...." kata Rini meminta tolong.
"Ini .... Panggilan dari siapa?" kata Hamdan yang menanyakan orang yang memanggil.
"Dokter Handoyo ..., teman Mamah waktu SMA dulu .... Tadi pagi Mamah konsultasi tentang sakit saya ini." jawab istrinya. Rini langsung mengangkat teleponnya.
"Halo, dokter Handoyo ...." sambut Rini saat mengangkat panggilan teleponnya.
"Hai, Rini .... Bagaimana perkembangan kesehatanmu?" tanya dokter Handoyo menjawab sapaan Rini.
"Bagaimana saya menjawab ya, Han .... Ini masih terasa lemas. Terutama kepala masih kurang enak, terasa sakit jika dipakai duduk atau berdiri." jawab Rini yang masih kurang sehat kondisinya.
"Rini banyak istirahat, ya .... Kalau boleh, saya mau bicara sama suami Rini." kata dokter Handoyo yang ingin menyampaikan sesuatu.
"Iya, terima kasih, Han ...." kata Rini menerima nasehat dokter Handoyo. "Pah, ini dokter Handoyo mau bicara ...." sambung Rini yang langsung memberikan HP kepada suaminya.
Hamdan menerima HP istrinya, lantas berbicara dengan dokter Handoyo.
"Halo ..., dokter Handoyo ...." kata Hamdan dalam telepon.
"Selamat sore, Pak Hamdan .... Bagaimana kabarnya?" kata dokter Handoyo memberi salam.
__ADS_1
"Baik, dokter .... Semoga dokter Handoyo diberi kesehatan." sahut Hamdan.
"Terima kasih, Pak Hamdan .... Maaf Pak Hamdan, jika boleh mohon teleponnya jangan di handsfree, agar Ibu Rini tidak dengar. Karena ini ada yang ingin saya sampaikan terkait sakitnya Ibu Rini." kata dokter Handoyo.
"Baik ..., iya bagaimana untuk sakit istri saya, dokter?" tanya Hamdan.
"Begini, Pak hamdan ..., Ibu Rini kemungkinan besar terserang demensia anxiety disorders. Saya khawatir, penyakit Ibu Rini ini termasuk jenis skizofrenia. Ini jenis penyakit kejiwaan yang menyebabkan gangguan kecemasan dari sebuah ingatan. Gejalanya yang terjadi adalah halusinasi, perubahan suasana hati yang tiba-tiba, muncul rasa takut, panik dan cemas, memiliki perasaan bersalah, dan terlalu sensitif terhadap banyak hal yang ada di sekelilingnya. Terutama tidak bisa percaya dengan kejadian atau peristiwa yang menimpanya. Penyakit ini sangat mudah muncul jika Ibu Rini mengalami kelelahan dan kurang tidur. Akibatnya bisa memengaruhi gangguan tidur dan detak jantung meningkat." jelas dokter Handoyo.
"Oo ..., seperti itu, ya .... Tapi dokter di rumah sakit ini mengatakan kalau Rini menderita jantung. Makanya saya sangat khawatir." kata Hamdan.
"Gangguan jantung hanya sebagai akibat. Tetapi penyakit yang sebenarnya adalah kecemasan otak." kata dokter Handoyo.
"Terus, cara pengobatannya bagaimana, dok?" tanya Hamdan.
"Jika diizinkan, kami, saya dan Alex, sahabat Ibu Rini masa SMA, akan mengajak Ibu Rini ke Jogja. Kami akan bawa untuk bertemu dengan Yudi. Dahulu kami berempat adalah sahabat karib, sangat akrab dan selalu saling bantu serta tolong menolong. Jika boleh, kami berempat ingin mengurai masalah yang sedang menimpa Ibu Rini. Semoga dengan cara ini, kami bisa menguatkan kembali ingatan-ingatan Ibu Rini yang mungkin saat ini sedang mengalami skizofrenia. Itu jika Bapak Hamdan tidak keberatan." jelas dokter Handoyo.
"Apa tidak ada obat yang bisa untuk menyembuhkan?" tanya Hamdan.
"Obat hanya untuk menenangkan, bukan untuk menyembuhkan. Bahkan dampaknya akan lebih parah jika terlalu banyak minum obat. Tidak baik terlalu banyak minum obat. Kasihan nanti fisiknya justru akan rusak." jelas dokter Handoyo.
"Penyakit seperti yang dialami Ibu Rini ini, mestinya ditangani oleh psikiater, dokter ahli psikiatri, yang mengetahui diagnosis dan perawatan yang bisa dilakukan untuk kondisi psikologis pasien yang mengalami gangguan bipolar dan skizofrenia. Ini kami hanya mencoba cara alternatif." jelas dokter Handoyo.
"Jika memang harus begitu, saya ngikut sarannya dokter Handoyo. Bagaimana baiknya, jika itu untuk kebaikan dan kesembuhan istri saya, saya pasrahkan pada dokter Handoyo." jawab Hamdan.
"Baik, Pak Hamdan .... Namun untuk menyampaikan ke Ibu Rini, kami mohon jangan untuk berobat, melainkan kami akan mengajak reuni persahabatan. Biar pikiran Ibu Rini tidak takut dengan penyakitnya." kata dokter Handoyo.
"Tidak masalah, dokter .... Yang penting bagaimana baiknya, istri saya bisa sehat kembali." jawab Hamdan.
"Terima kasih, Pak Hamdan, atas pengertian Bapak." kata dokter Handoyo.
"Saya juga berterima kasih, dokter Handoyo .... Rencana kapan mau berangkat?" tanya Hamdan.
__ADS_1
"Biar Ibu Rini pulih tenaganya lebih dahulu, Bapak .... Sambil mengatur waktu kami, untuk cari kalender yang pas." jawab dokter Handoyo.
"Baik, dokter Handoyo .... Terima kasih untuk segala bantuannya." kata Hamdan.
Hamdan, suami Rini, setuju dengan cara pengobatan yang akan dilakukan oleh dokter Handoyo. Yaitu sistem pengobatan dengan cara merefres pikiran Rini, dengan mengadakan pertemuan sahabat-sahabat lama, yang biasa disebut Empat Sekawan HARY. Ya, mengadakan Reuni Sahabat, yaitu Handoyo, Alex, Rini dan Yudi.
Memang aneh, tetapi itulah cara yang bisa dilakukan oleh para psikiater dalam menyembuhkan pasien-pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Setidaknya bisa mengurai dan melepas beban pikiran yang terlalu berat.
"Bagaimana, Pah?" tanya Rini pada suaminya setelah selesai telepon dengan sahabatnya.
"Yah ..., ada baiknya Mamah mengikuti cara pengobatan dokter Handoyo. Kata dokter Handoyo, Mamah harus refresing, biar tidak penat." sahut Hamdan sambil menaruh HP istrinya di meja pasien.
"Refresing bagaimana? Obat kok refresing ...." sahut Rini.
"Kata dokter Handoyo, sakit jantungnya Mamah itu hanya sebagai akibat. Bukan yang permanen. Kemungkinan besar itu terjadi kalau Mamah kecapaian. Makanya harus sering refresing. Hehe ...." sahut suaminya.
"Lha, terus ...?" tanya Rini.
"Besok mau diajak jalan-jalan sama Pak Alex dan dokter Handoyo ke rumahnya Yudi." kata Hamdan.
"Asyiik .... Kapan, Pah?" tanya istrinya, yang tentu senang mendengar berita itu.
"Nanti ..., nunggu waktu senggang dari dokter Handoyo." jawab suaminya.
"Papah bolehkan? Mamah boleh diajak refresing oleh dokter Handoyo?" tanya Rini pada suaminya.
"Jika itu memang bisa dijadikan obat alternatif, Papah setuju-setuju saja. Yang penting Mamah cepat sembuh, pulih kesehatannya dan bisa happy-happy lagi." kata Hamdan.
"Iih ..., Papah ...." sahut Rini memanja.
"Eh, Mah ..., Besok kalau ke Jogja, sekalian tengok bangunan kita, ya .... Hehe ...." kata suaminya yang meminta pada istrinya.
__ADS_1
"Iya .... Itu namanya berobat sambil bisnis. Kayak pejabat saja .... Hehe ...." sahut Rini.
Ternyata, hanya dengan seperti itu saja, suaminya baru menyampaikan pergi ke Jogja untuk refresing bersama sahabat-sahabatnya, Rini langsung terlihat segar. Langsung senang. Langsung sembuh. Berarti memang benar yang dikatakan oleh dokter Handoyo, jika Rini sedang mengalami skizofrenia. Rini sedang mengalami gangguan pikiran yang agak tegang. Semoga saja dengan diajaknya Rini ke Jogja bersama teman-temannya atau lebih tepatnya sahabatnya, Rini bisa sembuh, bisa pulih kesehatannya seperti sedia kala. Aamiin ....