
Yudi baru saja terbangun dari jatuhnya, dering HP berbunyi lagi. Ada panggilan masuk. Bergegas mengambil HP yang terlempar saat terjatuh. Lantas ia duduk di kursi kerjanya kembali. Yudi mengamati panggilan HP. Silvy yang mnelepon.
"Halo, Silvy .... Ada apa, Sayang?" ucap Yudi menerima panggilan.
"Papah Yudi .... Gimana kabarnya, Pah?" tanya Silvy membalas.
"Baik, Sayang ...." jawab Yudi.
Mendengar Yudi telepon, teman-temannya yang masih dekat di mejanya, terutama di tempat temannya yang jatuh, tentu pada ribut meledeki Yudi.
"Iiih ..., terima telepon dari cewek .... Cie ..., cie ...." celoteh teman yang satu.
"Walah, pakai sayang-sayangan segala, ik ...." sahut yang lain.
"Ayu, Yud ..., segera dinikah! Jangan kelamaan!" sahut yang lain pula.
"E ..., e ..., e .... Kalian semua diam dulu. Ini telepon penting." kata Yudi menyuruh teman-temannya diam, tidak mengganggu.
"Halah .... Paling-paling juga gak berani .... Hahaha ...." teman yang lain masih saja meledek.
Ya, memang Yudi ini selalu jadi ledekan teman-temannya kalau tentang persoalan wanita. Pasalnya sudah hampir lima puluh tahun dia belum mau menikah. Teman-temannya bilang, Yudi ini takut didekati cewek. Tapi saat mendengar Yudi telepon pakai kata sayang-sayang, tentu teman-temannya langsung mengejek. Ya, begitulah punya teman banyak di kantor. Kadang menyenangkan, kadang pula menyebalkan. Tetapi Yudi cuek saja. Tidak pernah sakit hati maupun marah pada teman-temannya. Itulah, maka teman-temannya juga senang dengan Yudi.
"Halo ..., Silvy, maaf ya, ini di kantor suasananya ramai. Banyak yang ribut." kata Yudi di telepon.
"Gak papa, Pah. Silvy juga masih di kantor kok." sahut Silvy.
"Memang ada apa, Sayang?" tanya Yudi pada Silvy.
"Iih, Papah kok gitu, sih? Ada apa, Sayang ...? Ada apa, Sayang ...? Ya kangen lah, Pah ...!" kata Silvy.
"Masak baru kemarin hari diantar pulang, sekarang sudah kangen. Kecepeten, Sayang ...." ledek Yudi.
"Iya, Pah .... Kangen banget, tahu. Eh, Pah, ini Silvy mau cerita." kata Silvy.
__ADS_1
"Cerita apaan?" sahut Yudi.
"Tentang Mamah Rini ...." kata Silvy.
"Mamah Rini kenapa?" tanya Yudi.
"Mamah bilang begini, Silvy jangan panggil papah sama Mas Yudi, gak baik. Kalau panggil Pak Yudi boleh, tapi kalau papah, jangan. Begitu kata Mamah Rini." cerita Silvy.
"Lha terus, Silvy bilang apa?" tanya Yudi.
"Ya aku langsung bilang, Papah Yudi saja boleh, kok. Masak Mamah melarang?" kata Silvy.
"Terus?" tanya Yudi.
"Mamah jawab, pokoknya gak boleh. Panggil pak saja, itu untuk orang Jogja. Kalau papah itu untuk orang Jakarta. Untuk Papah Hamdan. Begitu Pah. Terus enaknya Silvy bagaimana, Pah?" kata Silvy.
"Lha sekarang saya tanya, Silvy maunya bagaimana? Mau panggil pakai apa?" tanya Yudi.
"Kalau Silvy sih, penginnya panggil papah. Tapi kalau nanti mamah marah, ya panggil pak saja. Kasihan mamah, nanti sakit lagi." kata Silvy.
"Kalau nggak ada mamah, Silvy mau panggil pah. Tapi kalau pas adamamah, Silvi panggilnya pak .... Habis lebih mesra kalau panggil pah, deh." kata Silvy.
"Iya, terserah Silvy saja ..., anak manja ...." sahut Yudi.
"Iih ..., Papah kok gitu, sih?! Manja-manja anaknya siapa? Anaknya Papah, kan?" protes Silvy.
"Mamahnya siapa?" tanya Yudi.
"Mamah Rini .... Eh, Pah ..., kalau misalnya Mamah Yuna, gimana?" tanya Silvy.
"Ih, kok Mamah Yuna? Mis Yuna itu sama Silvy hanya selisih lima belas tahun .... Terlalu muda untuk punya anak sebesar Silvy ...." Yudi membantah.
"Pah, Silvy mau bilang, tapi Silvy minta maaf dulu, ya ...." kata Silvy.
__ADS_1
"Mau bilang apa?" tanya Yudi.
"Papah kan masih lajang .... Mis Yuna juga masih lajang .... Kalau Papah menikah sama Mis Yuna, bagaimana?" kata Silvy yang menusuk hati Yudi.
"Silvy ..., saya kan sudah tua ..., apa pantas menikah?" tanya Yudi balik.
Sebenarnya Yudi merasa seperti dihantam, karena Silvy memintanya untuk menikah. Tidak dengan Rini, tetapi dengan Yuna. Menjadi tanda tanya besar bagi pikiran Yudi. Apakah kata-kata Silvy ini jebakan atau memang benar-benar tulus. Yudi jadi teringat dengan dua wanita yang pernah menanyakan cinta yang ada dalam hatinya. Ingat tentang kepedihannya saat ditinggal menikah oleh Rini. Ingat tentang cinta yang dipertanyakan oleh Yuna saat berada di stupa atas Candi Borobudur.
"Pah, cinta itu tidak memandang usia. Cinta itu tidak hanya milik anak muda. Cinta itu milik semua orang, Pah .... Papah jangan ragu, jangan takut untuk menyatakan cinta .... Papah harus berani. Ungkapkan cinta Papah kepada Mis Yuna. Silvy senang, Pah .... Silvy mendukung. Biar hidup Papah lebih bermakna, biar hidup Papah lebih bahagia." tutur Silvy.
"Silvy ..., saya tidak berani bilang. Saya takut. Takut kalau cinta itu menyakitkan. Takut kalau ditolak. Silvy sudah lihat sendiri kan, bagaimana seriusnya Mis Yuna kalau bekerja. Saya tidak berani mengganggu, Silvy." kata Yudi.
"Pah, wanita tidak mungkin mengunggkapkan cintanya langsung kepada laki-laki. Wanita itu menunggu kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki. Silvy yakin, kalau Papah mau mengungkapkan cinta kepada Mis Yuna, pasti Mis Yuna bersedia menerima." tutur Silvy.
"Silvy ..., saat ini Mis Yuna itu partner saya, yang akan membantu masyarakat di kampung saya, yang akan membiayai pembangunan obyek wisata di Kampung Nirwana, lha kalau saya mengatakan seperti itu, ternyata Mis Yuna tidak berkenan, hancurlah proyek saya. Gagal semuanya." kilah Yudi.
"Saya paham, Pah. Dalam waktu dekat saya akan balik Jogja. Kalau Papah Hamdan sudan setuju, saya akan langsung ke Jogja. Silvy yang akan membujuk Mis Yuna. Tenang Pah, Silvy jago merayu .... Hehe ...." kata Silvy lagi dengan nada bersemangat dan gembira.
"Silvy ..., jangan jatuhkan kredibilitas saya pada orang lain, ya ...." kata Yudi memohon.
"Tenang, Pah. Papah Yudi berdoa saja. Semoga Papah Yudi dapat Jodoh. Dah, Papah, Silvy mau kerja lagi ...." kata Silvy mengakhiri teleponnya.
"Iya, jaga diri Silvy baik-baik ya ...." sahut Yudi.
Yudi langsung termenung. Anak dari orang yang ia cintai, kini akan mencarikan orang lain untuk dicintai. Yudi tidak bisa berkata apa-apa. Baru tadi pagi ia ditelepon oleh Rini, untuk menjaga kerahasiaan hubungannya, agar anaknya tidak tahu, agar anaknya tidak kecewa, agar anaknya tidak menjadi frustrasi. Dan setelah itu, Silvy meneleponnya juga dengan maksud ingin menjodohkan dirinya dengan Yuna. Apa-apaan ini?
Yudi teringat, betapa sakit hatinya dulu tatkala ditinggal menikah oleh Rini, tanpa bicara apa-apa. Rini yang saat sebelum kelulusan begitu dekat, begitu lekat, bahkan menempel terus kayak prangko, ke sana-kemari selalu berdua, tentu membuat Yudi penuh harap untuk bisa mencintai Rini. Bahkan ciuman Rini yang menempel di pipi Yudi, walau dengan cara mencuri-curi tatkala mengerjakan PR, itu sudah membuat hati Yudi tidak bisa berkutik. Itu adalah cinta pertama Yudi. Ciuman itu tidak bisa terlupakan. Mulai saat itu, Yudi selalu membayangkan bisa hidup berdampingan dengan Rini. Meski mereka berdua tidak pernah mengikat janji, meski mereka tidak pernah mengucap kata cinta, tetapi hati mereka berdua sudah terikat oleh perasaan.
Namun cerita itu berubah, tatkala setelah lulusan SMA, Rini tiba-tiba saja menikah dengan laki-laki lain. Bahkan di pesta pernikahan Rini, Yudi tidak diundang maupun diberi tahu. Seakan Rini melupakan dirinya. Yudi menjadi sakit hati. Frustrasi. Untuk membuktikan ketulusan cintanya itu, Yudi memutuskan tidak akan menikah, jika tidak berdampingan dengan Rini.
Kemarin, sebelum Silvy datang ke rumahnya, saat Rini sudah tidak mau lagi dihubungi, saat Yudi hampa mengharap kehadiran Rini, tiba-tiba muncul kata cinta yang membisik di telinganya dari gadis cantik asal Jepang. Tentu Yudi menjadi
Kini, dua masalah cinta membayang di depannya. Memilih cinta, antara keteguhan mempertahankan kata-kata setia tak tergantikan, atau membuka lembaran baru untuk menutup sejarah kelam. Tentu keduanya membawa resiko sendiri-sendiri. Jika Yudi mempertahankan kesetiaannya pada Rini, maka sampai mati dia tidak akan menikah. Tetapi jika ia mau membalas pertanyaan cinta yang dikemukakan Yuna, dan mau menikah dengan Yuna, berarti Yudi sudah mengkhianati kesetiaannya.
__ADS_1
Tetapi bukankah Rini juga sudah mengkhianati dirinya?
Sebuah PR cinta bagi Yudi. Sanggupkah Yudi menyelesaikan permasalahan cintanya dengan rumus-rumus seni kemesraannya?