KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 167: CINTA MEMBARA


__ADS_3

    Hari sudah kelewat pagi. Matahari sudah meninggi. Kicau burung ramai di atas dahan, mencari perhatian dari pasangannya. Ayam jantan berlarian mengejar babon betina. Yudi terlalu nyenyak tidurnya. Semalaman ia begadang, mengisahkan berbagai cerita indah. Saat ia terbangun, masih berat rasanya, karena di dadanya masih ada Yuna yang terbaring tidur.


    Sebenarnya, Yudi ingin segera bangun. Seperti biasa, setiap pagi sebelum matahari terbit, Yudi bangun dan menyiapkan sarapan. Tetapi, pagi ini, saat Yudi menyaksikan istrinya yang berada di atas dadanya, masih terlelap tidurnya, tidak tega rasanya untuk membangunkan Yuna. Yudi pasrah, menjadi kasur sebagai tempat tidur, menjadi bantal sebagai sandaran kepala, dan menjadi guling yang dipeluk erat oleh Yuna. Maka Yudi, saat ini tidak ingin bergerak untuk bangun, takut membangunkan istrinya. Yudi tetap ingin menjaga istrinya nyenyak tidur di dadanya.


    Di luar ruangan kamar Yudi, Simbok sudah sibuk sendiri memanasi lauk untuk sarapan pagi bersama suaminya, yaitu ayahnya Yudi.


    "Pak ..., Yudi sama Yuna belum bangun .... Mau dibangunkan untuk diajak sarapan bersama apa tidak?" tanya Simbok pada lakinya.


    "Jangan .... Biarkan saja sampai mereka bangun sendiri. Kita tidak boleh mengganggu pengantin baru." jawab suaminya.


    "O, ya sudah .... Biar kita cepat punya cucu, ya .... Hehe ...." sahut Simbok sambil nyengenges.


    "Malah sebaiknya, kita tinggal jalan-jalan .... Biar mereka tidak terganggu." kata sang suami.


    "Bila perlu, kita masuk kamar lagi, terus tiduran lagi ya, Pak .... Hehe ...." kembali si Simbok nyengenges.


    "Hus ...! Jam segini tiduran di kamar itu mau apa? Kepingin, Ya ...?!" sahut sang suami.


    "Hehehe .... Tua-tua keladi ..., makin tua makin menjadi." kata Simbok yang tentu sambil tertawa.


    "Wis, ayo ..., sarapan .... Habis ini kita jalan-jalan." ajak sang Bapak.


    "Ya ...." Simbok menuruti kehendak suaminya.


    Benar seperti yang disampaikan ayahnya Yudi. Setelah makan pagi, ayah dan ibunya Yudi langsung keluar rumah, jalan-jalan sambil menyambangi tetangga sekitar. Tentu sekalian menyampaikan ucapan terima kasih sudah banyak dibantu pada acara pernikahan anaknya. Satu persatu. Mereka berdua menemui para tetangga, dari rumah ke rumah.


    Cukup lama Yudi berbaring menjadi bantal dan guling bagi istrinya. Hingga akhirnya, Yuna menggeliat. Pertanda istrinya akan terbangun.


    Jemari tangan Yudi langsung mengelus rambut Yuna yang menjuntai di dada Yudi. Kemudian kembali memeluk tubuh istrinya, sambil membenarkan posisi tidur Yuna agar nyaman. Jika Yuna masih akan terus tidur, Yudi sudah siap untuk membiarkan dirinya kembali menjadi kasur.


    Namun Yuna ternyata mulai bergerak. Tangan Yuna sudah menggapai kepala Yudi. Lantas mengelus rambut suaminya. Selanjutnya, kepala Yuna sudah diangkat. Tatapan matanya yang ceria, memandangi Yudi. Lantas bibir mungil Yuna tersenyum manis. Senyuman manja yang meminta untuk dicium suaminya.


    "Eh ..., sudah bangun, Sang Permaisuri?" kata Yudi menyambut istrinya yang menatap lekat pada dirinya.


    "Hehmmm .... Selamat pagi Pangeranku ...." ucap Yuna yang tangannya sudah mencolek hidung Yudi.


    "Ei ..., ei ..., eit .... Mau mulai ini ...?!" telunjuk Yudi sudah membalas mencolek hidung Yuna.

__ADS_1


    "Kita mulai sekarang ...?! Malam pertamanya ...?!" tanya Yuna yang sudah kembali membenamkan kepalanya di dada Yudi, serta memeluk erat suaminya.


    "Malam ...?! Ini sudah siang, Sayang ...." sahut Yudi.


    "Hah ...?! Sudah siang ...?!" Yuna terkaget.


    Dan tentu, Yuna langsung melepas pelukannya, lantas bangun dan turun dari tubuh Yudi. Selanjutnya berdiri, melangkahkan kaki, menengok jendela. Benar, hari sudah siang.


    "Ya ampun, Yudi .... Sudah terang benderang. Bahkan matahari sudah cukup tinggi. Kok rumah kita sepi? Orang-orang para tetangga tidak kemari? Simbok sama Bapak bagaimana? Eh ..., Chichioya .... bagaimana?" Yuna mulai bingung. Terutama saat ingat ayah ibunya serta pamannya yang pulang ke Jepang pagi ini.


    Yudi ikut bangun. Melangkah mendekati istrinya. Yudi memeluk istrinya dari belakang. Pelukan mesra, lantas memberikan ciuman yang lembut. Ciuman seorang suami kepada istrinya.


    Lantas Yudi membuka gorden jendela.Lalu katanya, "Ini semua karena kita tidur terlalu terlelap, sehingga kita bangun kesiangan."


    "Maafkan saya, Sayang .... Ini semua gara-gara saya mengajak cerita sepanjang malam ...." kata Yuna yang tentu merasa menyesal.


    "Yuna tidak salah .... Ini semua gara-gara kita semalaman menikmati malam kedua bersama-sama. Jadi ..., salah kita berdua ...." sahut Yudi.


    "Iya ..., iya ...." Sahut Yuna.


    "Iya, Sayang ...." kata Yuna yang langsung membuka pintu, mau keluar.


    "Lhoh ..., mau ke mana?" tanya Yudi yang tahu, kalau istrinya pasti akan ke kamarnya yang kemarin.


    "Mau mandi .... Katanya di suruh mandi ...." jawab Yuna.


    "Mandinya di kamar sini ...! Kamar Yuna sekarang sudah jadi satu dengan saya .... Masak suami istri mandinya di kamar yang terpisah." kata Yudi mengingatkan istrinya, kalau kamarnya sudah menjadi satu dengan kamar Yudi.


    "Hehehe .... Lupa ...." sahut Yuna sambil tersenyum malu. Lantas ia membalik kembali dan masuk ke kamar mandi yang ada di ruang Yudi.


    Yudi keluar ruangan. Menengok kamar ibunya, sudah sepi sunyi. Bapak dan Simbok sudah tidak ada di kamar. Lantas Yudi ke ruang makan. Di meja makan, sarapan sudah disiapkan. Tentu ibunya yang menyiapkan. Dan rupanya bapak dan ibunya sudah makan pagi. Terlihat dari wastafel yang basah bekas ada cucian gelas dan piring.


    "Kemana Simbok dan Bapak ...?" tanya Yudi pada dirinya sendiri.


    "Ah, paling-paling cari udara pagi sambil jalan-jalan." Yudi menjawab pertanyaannya sendiri.


    Ya, itu adalah kebiasaan bapaknya kalau di Kampung Nirwana. Setiap pagi jalan-jalan dan ngobrol sama tetangga. Maka saat itu pun Yudi mengambil kesimpulan yang sama. Hanya kali ini mengajak ibunya.

__ADS_1


    Selang sesaat, Yuna datang, menyusul ke tempat makan. Tentu sudah mandi keramas. Terlihat dari rambutnya yang masih basah. Yuna hanya mengenakan daster kamar, yang pendek seperti kaos oblong yang kepanjangan, sehingga hanya sampai menutup separo paha.  Dengan warna putih dan agak tipis. Tanpa mengenakan BH. Tentu hal itu membuat Yudi terbengong.


    Melihat suaminya terbengong, Yuna justru tersenyum menggoda.


    "Kenapa terbengong ...?" tanya Yuna pada suaminya.


    "Eh ..., ee .... Anu ...." Yudi bingung untuk mengatakannya. Tetapi mata laki-laki Yudi, tetap tidak mau melepas indahnya gambar pemandangan yang sedang dilihatnya.


    "Kenapa, sih ...?!" Yuna masih tersenyum-senyum bingung dengan tatapan suaminya.


    Lantas Yudi mendekati istrinya yang masih berdiri di pinggir meja makan. Kemudian tangan Yudi yang kanan menggandeng tangan Yuna, sedangkan tangan kirinya, sudah memeluk pinggang istrinya.


    "Sarapannya ..., nanti saja, ya ...." kata Yudi yang sudah membalikkan tubuh istrinya, dan mengajak melangkah kembali ke kamar.


    "Lhoh, kenapa ...?!" tanya Yuna yang bingung.


    Yudi diam tidak menjawab. Tetapi ajakan langkah kakinya, sudah menuntun Yuna kembali masuk kamar.


    "Kamu kenapa, Sayang ...?!" kembali Yuna bertanya pada suaminya.


    Yudi masih diam. Tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ada ketegangan dalam dirinya. Ketegangan yang susah untuk dikatakan.


    Setelah masuk ke ruangan, sambil masih memeluk istrinya, Yudi menutup pintu dan menguncinya. Lantas menyeret gorden jendela agar tertutup rapat.


    "Kamu ini ada apa, Sayang ...?!" kembali Yuna bertanya, saat melihat suaminya yang menutup ruangan rapat-rapat.


    Yudi tetap diam. Tetapi dua tangan Yudi sudah membopong tubuh istrinya. Lantas merebahkan tubuh Yuna di atas kasur.


    Yuna diam, memejamkan mata. Menurut apa saja yang akan dilakukan oleh suaminya. Pasrah untuk cinta yang sedang membara. Pasrah, dan pasrah.


    Yudi yang tetap membungkam mulutnya itu, semakin tegang. Saat melihat istrinya yang terpejam diam di atas kasur, ketegangan Yudi semakin menjadi. Terus dan terus tegang.


    "Le ...! Yudi ...! Sudah bangun apa belum, Le .... Ini sudah beduk, lho ...! Sudah siang ...!" Terdengar suara Simbok yang ada di depan ruang Yudi. Bahkan juga terdengar suara pintu yang dioglek-oglek, mau dibuka. Simbok bersama Bapak, sudah kembali.


    "Simbok, itu lho .... Senangnya kok mengganggu anaknya .... Mbok jangan mengganggu pengantin baru ...!" kata sang Bapak yang berusaha melarang Simbok.


    Di dalam kamar, Yudi dan Yuna tidak menjawab seruan Simbok. Bahkan mungkin tidak mendengar, walau suara Simbok cukup keras. Ada pekerjaan besar yang hampir selesai, dan harus segera diselesaikan. Hanya kurang sedikit saja. Dan akhirnya, Yudi mendesah panjang. Demikian juga Yuna yang merintih bahagia. Lantas mereka berdua sudah telentang berjejeran tanpa daya. Lemas, lelah, lunglai. Menaklukkan cinta yang membara.

__ADS_1


__ADS_2