KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 219: CINTAKU TIDAK PERNAH LUNTUR


__ADS_3

    Kedekatan Rini dan Yudi sudah bukan rahasia lagi. Setiap orang sudah tahu. Bahkan para karyawan dan penjual-penjual di Taman Awang-awang, setiap kali ketemu Yudi, langsung menanyakan tentang Rini, dan kapan akan menikah dengan Rini. Tentu Yudi bingung untuk menjawab. Tidak dapat menjelaskan dengan alasan-alasan pribadinya. Yang mereka tahu, Yudi sudah ditinggal istri, dan Rini sudah janda ditinggal mati suaminya. Jadi tidak ada lagi alasan bagi Yudi atau Rini untuk menikah.


    Hari itu, pada saat makan malam, Rini ditanya oleh Silvy. Tentu terkait masalah pribadi mamahnya.


    "Mah ..., memang benar Mamah mau menikah dengan Papah Yudi ...?" tanya Silvy.


    Rini terdiam. Ia menghentikan tangan yang sudah memegang sendok saat akan masuk ke mulut. Lantas meletakkan sendok itu kembali di piring. Rini tidak marah, tapi justru tersenyum.


    "Silvy ..., Mamah itu apa sih .... Mamah kamu itu statusnya janda. Bukan anak perawan lagi. Dan janda yang sudah tua, sudah berumur lima puluh tahun. Jadi ..., apalah artinya menikah bagi seorang janda tua ...." jawab Rini yang tentu masih menyimpan rahasia masa lalunya.


    "Tapi kata Mas Trimo, para tetangga sudah pada tanya-tanya kapan pernikahan Mas Yudi sama Ibu Rini .... Begitu, Mah ...." timpal Yayan menantunya.


    "Memang Mas Trimo bilang begitu?" tanya Rini pada anak-anaknya.


    "Iya, betul ..., Mah ...." sahut Silvy.


    "Malah Mas Trimo cerita kalau Mamah itu memang cocok sama Papah Yudi .... Jadi kalau kami memanggil Papah Yudi, kata mereka itu sudah pas. Sudah cocok. Tinggal nunggu pernikahannya." tandas Yayan.


    "Tapi kalau misalnya itu beneran, Mah ..., kami setuju kok. Papah Yudi itu orangnya sangat baik, Mah .... Tidak ada ruginya menikah sama Papah Yudi. Betul, Mah ...." kata Silvy yang meyakinkan.


    "Saya juga setuju, Mah .... Tidak ada alasan untuk menolak Papah Yudi menjadi suami Mamah." timpal Yayan.


    "Yayan ..., Silvy .... Bukannya Mamah tidak mau .... Tapi Mamah itu perempuan. Tidak baik untuk meminta atau bilang cinta .... Mau menikahi atau mengatakan cinta, etisnya adalah dari pihak laki-laki. Ibarat kata, wanita itu yang dilamar, bukan mengejar-kejar ...." jelas Rini pada anak-anaknya.


    "Oo ..., gitu ya, Mah ...." kata Silvy yang paham dengan penjelasan ibunya.


    "Jadi kalau misalnya Papah Yudi melamar, atau mengatakan cinta kepada Mamah, atau mengajak menikah


Mamah ..., berarti Mamah siap bersedia, ya ...?!" tanya Yayan ingin meminta kepastian dari ibu mertuanya.

__ADS_1


    Rini terdiam. Tentu malu untuk menjawabnya. Tidak pantas bagi seorang wanita untuk menjawab secara fulgar. Namun dalam hatinya, ia sangat mengiyakan kata-kata menantunya itu.


    "Kok Mamah diam ...?! Kata Pak Lurah itu artinya Mamah mau dan bersedia .... Hehe ...." ledek Silvy.


    "Biarlah semua itu berjalan sesuai waktu .... Kita manusia hanya bisa menjalani sesuai titah dari Yang Maha Kuasa." jawab Rini menenangkan anak-anaknya.


    Walau sebenarnya, dalam hati Rini pun menggebu untuk dapat hidup bersanding dengan Yudi. Tetapi ia harus menunjukkan kebaikannya di hadapan anak-anaknya. Ibu adalah contoh bagi mereka. Rini ingin mengajarkan kebaikan. Maka ia pun bertekat menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.


*******


    Sore itu, sengaja Silvy ingin ngobrol berdua bersama Yudi. Seperti yang telah dikatakan oleh Silvy yang meminta kepada Yudi, ingin ngobrol di Taman Awang-awang. Setidaknya sambil menikmati indahnya pemandangan Pantai Selatan. Maka sambil menunggu menghilangnya senja, Yudi mengajak Silvy duduk di tepi pagar tebing, menyaksikan alunan gelombang yang selalu berkejaran tiada lelah.


    "Memang ada masalah apa, Silvy ...?" tanya Yudi yang heran, anak Rini itu mengajaknya berduaan saja.


    "Bukan masalah, Pah .... Tapi Silvy ingin tahu sesuatu saja ...." jawab Silvy yang menatap Yudi dengan penuh selidik.


    Yudi yang sudah tua usia maupun pikirannya itu tidak terlalu risau dengan apa yang bakal ditanyakan Silvy. Ia sudah siap untuk menjawab.


    "Ada banyak pertanyaan yang ingin saya sampaikan .... Yang pertama saya ingin tahu cerita masa lalu Mamah dan Papah Yudi ...." kata Silvy penasaran.


    "Silvy .... Tidak ada yang akan saya sembunyikan. Untuk apa menyimpan rahasia yang toh nanti justru akan menyiksa jiwa. Terus terang, dahulu Mamah Silvy adalah sahabat dekat saya. Kami sangat akrab. Itu karena komitmen kami untuk tidak saling mencinta. Tetapi Mamah Silvy rupanya tidak sanggup menyembunyikan perasaan, hingga akhirnya hati saya mulai berubah. Ada getaran dalam hati, setiap kali saya bertemu Rini. Hingga akhirnya saya melukis beberapa lukisan tentang Mamah Silvy, sebagai pengungkapan rasa cinta saya. Namun sayang, Rini menikah dengan laki-laki lain tanpa memberi penjelasan apapun kepada saya. Saya pun frustrasi, dan berniat untuk tidak menikah." kenang Yudi yang terlihat kecewa.


    "Berarti Mamah jahat ya, Pah ...." kata Silvy yang ikut sedih dan kecewa.


    "Jangan bilang begitu .... Itu semua karena keadaan. Papah kamu orang kaya, wanita mana pada zaman itu yang tidak mau dinikahi oleh laki-laki mapan dan kaya." kata Yudi memberi alasan.


    "Papah Yudi tidak marah?" tanya Silvy lagi.


    "Tidak ada yang perlu dimarahi. Tuhan sudah menakdirkan setiap orang, dengan jalannya sendiri-sendiri." kata Yudi yang tetap tanpa ekspresi marah atau emosi.

__ADS_1


    "Pah ...?" Silvy ingin bertanya lagi.


    "Apa lagi ...?" sahut Yudi sambil menoleh memandang Silvy.


    "Sekarang Mamah sudah menjadi janda .... Apa Papah Yudi mau menerima Mamah Rini?" tanya Silvy


pada Yudi, yang tentu penuh harap agar Yudi mau menerima kembali mamahnya.


    Yudi diam sejenak. Tentu ingin memberikan jawaban yang paling tepat dan enak didengar oleh perempuan


yang sudah menganggap dirinya sebagai papahnya.


    "Silvy ..., ada hal yang sulit dipahami oleh masyarakat. Karena hal itu dianggap tidak wajar dan tidak umum, maka masyarakat menganggapnya salah atau keliru. Sebagai contoh misalnya, kenapa orang harus menikah? Padahal kalau tidak menikah juga tidak masalah. Kamu lihat para biara .... Mereka tidak menikah, dan tidak masalah kan ...? Justru mereka lebih rajin dalam berbakti kepada Tuhan. Tapi ketika saya tidak menikah ..., semua ribut. Padahal saat saya belum punya istri, saya juga rajin dan sanggup memberdayakan warga di sini. Kini giliran saat istri saya pergi dan tidak kembali, mereka ribut lagi. Padahal itu hal biasa. Nah, sekarang ..., saat saya dekat dengan Rini, Mamah kamu ..., mereka ribut lagi agar saya menikah saja dengan Rini .... Seperti ini lho ..., yang bikin saya pusing .... Tapi ya ..., maklum .... Universalnya pemikiran mereka ya baru sampai segitu. Kalau kita tidak bisa menerima dengan yang dianggap umum oleh mereka, maka sebaiknya kita pergi, jangan kumpul mereka. Tetapi kalau kita masih mau berkumpul, maka sudah semestinya kita mengikuti universalnya pemikiran mereka." kata Yudi menjelaskan kepada Silvy.


    "Papah Yudi mau pindah dari kampung ini apa tetap di sini?" tanya Silvy yang mencoba mengukur sikap Yudi.


    "Saya sudah menjadi bagian dari mereka. Bahkan pekerjaan mereka adalah buah-buah pemikiran saya. Kalau saya pergi, pasti kampung ini akan sepi lagi, seperti saat pertama saya datang ke kampung ini." kata Yudi yang tentu akan kasihan kalau meninggalkan Kampung Nirwana yang sudah dibangunnya.


    "Jadi Papah Yudi akan mengikuti universalnya anggapan warga Kampung Nirwana, kan?" tanya Silvy menegaskan umumnya kebiasaan orang-orang Kampung Nirwana.


    "Saya tahu arah pembicaraan kamu, Silvy .... Kamu ingin saya menikah sama Mamah kamu, kan ...?" Yudi sudah tidak sabar untuk menebak harapan Silvy.


    "Betul, Pah .... Saya merindukan punya Papah yang baik seperti Papah Yudi .... Saya merindukan kebahagiaan keluarga Mamah yang penuh dengan kebaikan. Terus terang setelah Papah Hamdan selingkuh, kehidupan Mamah berantakan. Mamah sering kena marah. Bahkan Mamah dituduh selingkuh dengan Papah Yudi. Makanya saat Papah Yudi mau menikah dengan Mis Yuna, kami senang. Itu membuktikan bahwa Mamah tidak selingkuh sama Papah Yudi. Terus terang setelah Mamah reuni dan ketemu Papah Yudi, Papah Hamdan sudah curiga dan cemburu. Dan yang paling tragis adalah saat Papah pergi ke Jerman. Itu puncak kehancuran keluarga Mamah. Makanya jika Papah Yudi mau menikah sama Mamah, kami akan sangat senang. Terutama untuk membangkitkan kembali gairah hidup Mamah." kata Silvy yang mencoba meminta pengertian Yudi.


    "Seperti itu, ya ...?" Yudi menjadi merasa kasihan dengan keadaan Rini.


    "Kalau Papah Yudi mau tahu yang sebenarnya, Papah Hamdan itu meninggal karena ditusuk sama selingkuhannya. Mamah yang menunggui di rumah sakit, menangis terus setiap hari. Sudah dalam kondisi sedih seperti itu, Mamah masih diteror oleh keluarga Papah yang menuduh Mamah selingkuh. Ini keterlaluan, Pah .... Cobalah Papah Yudi mengerti keadaan Mamah Rini. Kalau dia bukan wanita yang tangguh, pasti Mamah sudah jatuh sakit dan tidak bisa berusaha seperti sekarang ini." jelas Silvy lagi.


    Lagi-lagi, Yudi merasa bersalah. Karena pertemuan dengan Rini pada saat reuni itulah yang menyebabkan segalanya ini terjadi. Tapi apa boleh dikata, semuanya sudah terjadi. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana bisa memperbaiki kebahagiaan Rini. Dalam hati Yudi mengatakan, hanya ada satu jalan untuk membuat Rini bahagia, yaitu hidup bersama Rini membangun rumah tangga bersama.

__ADS_1


    "Silvy .... Seandainya saya mau menikah dengan Mamah kamu, itu bukan karena saya kasihan dengan Rini. Saya tidak mau memberi harapan karena rasa belas kasihan. Tetapi seandainya saya kelak menikah dengan Rini, itu karena cinta. Mungkin tidak saat ini, meskipun goresan cinta antara Mamah kamu dengan diri saya masih membekas dalam hati. Tolong sampaikan ke Mamah kamu, Papah Yudi minta maaf. Saya akan beri tahu, jika nanti memang harus menikah dengan Mamah kamu. Bilang saja, cinta yang ada dalam hati Papah Yudi tidak pernah luntur." kata Yudi memesan kepada Silvy.


__ADS_2