
Setelah tahu jika lukisan indahnya yang memuat dirinya dan Yudi sudah dibakar, Rini terus merenung. Ada bayang-bayang hitam yang selalu menghantui pikirannya. Ya, bayang-bayang cinta Yudi yang ikut terbakar dalam lukisan itu. Halusinasi Rini selalu membayangkan saat lukisan yang dianggap sebagai lukisan cinta itu dibakar oleh Yudi. Seakan Rini menyaksikan Yudi yang sengaja membakar lukisan itu, menumpahkan cinta-cintanya ke dalam api yang menyala. Yudi sengaja membakar cintanya, yang katanya tidak mungkin tergantikan itu. Tetapi dalam halusinasi Rini, ia melihat bongkahan-bongkahan cinta yang dijatuhkan ke dalam api. Lantas bongkahan cinta itu langsung tersulut api dan hangus terbakar. Seperti itukah yang terjadi pada cinta Yudi?
Berkali-kali Rini menghela napas. Ia mulai tersengal-sengal. Dadanya terasa panas dan sesak. Jantungnya berdebar keras. Lantas ....
"Mak Mun ...!" Rini berteriak memanggil Mak Mun.
"Iya, Ibu ...." sahut Mak Mun yang langsung menuju ke kamar Rini.
"Mak Mun ..., aku tidak kuat ...." kata Rini yang tersengal hendak pingsan.
"Walah, Ibu ...! Mang Udel ...! Tolong ...!!" teriak Mak Mun yang kaget melihat majikannya berbaring sakit lagi.
Mang Udel yang mendengar teriakan Mak Mun, langsung berlari ke arah suara. Di kamar majikannya. Yah, Ibu Rini sudah tergeletak lemas.
"Cepat telepon Mas Jo, suruh pulang, nganter Ibu ke rumah sakit. Sekalian pesan suruh ngasih tahu ke bapak, kalau Ibu sakit lagi." kata Mak Mun menyuruh Mang Udel.
"Iya ..., iya ...." jawab Mang Udel yang langsung berlari menuju meja telepon di ruang keluarga.
Sementara Mang Udel akan menghubungi Mas Jo, Mak Mun sudah menata posisi tidur majikannya, memijit kaki dan tangannya. Bahkan juga membuatkan minuman hangat untuk melegakan sesak yang dialami Rini.
Sementara itu, Mang Udel sudah mengangkat telepon, memanggil Mas Jo, sopir pribadi kesayangan Hamdan. Seperti yang dipesan oleh Mak Mun, Mang Udel meminta agar Mas Jo memberi tahu Bapak, dan segera pulang ke rumah untuk membawa Ibu ke rumah sakit. Tentu, Mang Udel sudah paham itu, karena majikannya sudah mengajari jika saat-saat mendesak harus bisa mengambil keputusan untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan.
"Halo, Mas Jo ..., ini Ibu Rini sakit lagi. Mas Jo sampaikan ke Bapak, terus pulang mengantar Ibu ke rumah sakit." kata Mang Udel saat menelepon Mas Jo.
"Waduh ...! Iya, iya .... Saya sampaikan Bapak dahulu, nanti langsung balik ke rumah." jawab Mas Jo.
Mas Jo langsung berlari masuk ke kantor, menuju ruang Pak Direktur, Hamdan.
"Maaf, Bapak ..., barusan Mang Udel telepon, Ibu sakit. Mohon ijin saya antar Ibu ke rumah sakit, atau bagaimana, Bapak?" Mas Jo laporan pada bosnya.
"Waduh .... Ya sudah, Mas Jo cepetan pulang antar Ibu ke rumah sakit. Nanti saya langsung nyusul ke rumah sakit. Tidak usah dijemput, biar diantar sopir yang lain." jawab Hamdan.
"Baik, Bapak .... Siap ...." Mas Jo langsung keluar, dan pulang untuk mengantar Ibu Rini ke rumah sakit.
Tentu Mas Jo ngebut, walaupun hanya sekadar berjarak beberapa kilo saja. Tetapi ini karena ia harus mengurus orang sakit. Ia harus segera sampai di rumah. Melintasi jalan Jakarta yang ramai, sengebut-ngebutnya Mas Jo, tetap tidak bisa secepat kalau melintas di jalan tol. Namun setidaknya sudah bisa lebih cepat.
Di rumah keluarga Hamdan, Mang Udel sudah membuka pintu gerbang. Jika Mas Jo sampai rumah, bisa langsung masuk ke garasi dan segera membawa Ibu Rini ke rumah sakit.
Sementara itu, di kamar sambil menunggu datangnya Mas Jo, Mak Mun sudah menata pakaian ganti majikannya ke dalam tas. Rini masih tiduran di kasurnya. Kepala rasanya berputar-putar. Ada bayang-bayang hitam yang masih menghantui pikirannya. Entah apa itu, tidak jelas bentuk dan wujudnya. Tetapi bayangan hitam itu selalu mendekati dan seakan mau menutup wajah Rini. Bayangan hitam itu seakan-akan mau menyelimuti kepala Rini. Entah apa itu. Rini takut untuk menutup matanya. Sebab jika ia menutup matanya, bayangan hitam itu semakin mendekat. Namun jika Rina membuka mata, saat melihat langit-langit rumah, seakan bayangan hitam itu sudah menutupi seluruh atap rumahnya. Rini ketakutan.
"Aku takut, Mak Mun ...." kata Rini yang mengeluh ketakutan.
"Sabar ..., Ibu ...." sahut Mak Mun menenangkan majikannya.
"Mak Mun .... Mas Jo sudah datang ...!" kata Mang Udel yang langsung menuju kamar majikannya untuk membantu.
"Ini, tas pakaiannya dibawa. Saya akan menuntun Ibu." kata Mak Mun yang sudah menuntun Rini berjalan menuju depan, untuk masuk ke mobil.
Mang Udel langsung membawa tas berisi pakaian ganti untuk majikannya itu, dan menaruh di mobil. Sementara itu Mas Jo sudah membuka pintu belakang, dan membantu Ibu Rini masuk ke jok tengah. Lantas menyetir menuju rumah sakit langganan keluarga Hamdan.
Di rumah sakit, Mas Jo langsung memasukkan mobilnya di depan instalasi gawat darurat, tempat penerimaan pasien pertama. Dua orang suster langsung membantu, mamapah tubuh Rini dan membantu menaikkan ke bed pemeriksaan. Seorang dokter langsung menghampiri dan memeriksa Rini.
__ADS_1
Setelah memarkir mobilnya, Mas Jo langsung kembali ke IGD, untuk mengetahui hasil pemeriksaan, dan tentu juga mengurus administrasi pemondokan di ruang rawat inap.
"Sini, Mas ..., sama saya." seorang suster bagian administrasi meminta Mas Jo untuk mengikutinya.
"Iya, Sus ...." Mas Jo langsung mengikut di belakangnya.
"Menginap, kan?" tanya suster itu, setelah mereka berdua duduk berhadapan di meja administrasi IGD.
"Bapak pesannya begitu. Kalau bisa di kamar yang biasa dipakai Ibu." jawab Mas Jo.
"Oke .... Ini sementara langsung ditangani dokter IGD. Nanti sore dokter jantung baru datang memeriksa." kata suster tersebut.
"Waduh, Ibu sakit jantung?" tanya Mas Jo.
"Iya ..., ini dari riwayat medis yang lama juga sudah ada. Tidak usah khawatir, itu paling hanya kelelahan biasa. Nanti kalau sudah hilang capainya juga sembuh." kata suster itu.
"Oo .... Gitu, ya ...?!" Mas Jo mengiyakan saja.
"Tunggu dulu, ya .... Biar kamarnya disiapkan." kata suster itu setelah menghubungi bagian kamar.
"Ya ...." jawab Mas Jo.
"Administrasi umum nanti ada di depan. Biasanya langsung Bapak Hamdan sendiri, kan ...." kata suster itu.
"Iya, Sus .... Paling sebentar lagi sampai sini." jawab Mas Jo.
Sebentar saja menunggu. Dua orang suster sudah memindahkan Rini ke bed lain, ada tiang penyangga infus. Tangan Rini sudah dimasuki cairan infus. Selanjutnya Rini yang tergeletak di atas bed pasien tersebut di dorong menuju kamar inap.
"Halo, Mas Jo .... Bagaimana?" tanya Hamdan saat menerima telepon Mas Jo.
"Siang, Bapak .... Ini Ibu Rini harus rawat inap. Sudah diurus semua, tinggal nanti Bapak menandatangani administrasi." jawab Mas Jo menjelaskan kondisi Ibu Rini.
"Oh, Iya .... Terima kasih, Mas Jo .... Terus, kamarnya?" tanya Hamdan.
"Iya, Pak .... Ini di kamar yang kemarin dipakai Ibu. Kebetulan kosong dan bisa, Pak ...." jawab Mas Jo.
"Alhamdulillah .... Nanti setelah selesai rapat,saya langsung ke rumah sakit. Tidak usah di jemput, ya ..., Mas Jo nunggui Ibu di rumah sakit saja, sampai saya datang." kata Hamdan pada Mas Jo.
"Iya, Bapak. Siap .... Ini tadi dari perawat mengatakan dokternya Ibu akan memeriksa nanti sore." kata Mas Jo.
"Baik Mas Jo .... Nanti saya akan temui dokternya. Terima kasih." balas Pak Hamdan.
Mas Jo duduk di sofa kamar rawat inap, menunggui majikan perempuannya. Tentu dengan rasa sedih. Pasalnya, dalam beberapa waktu yang tidak lama, Rini masuk rumah sakit sudah tiga kali. Mas Jo ingat betul, dahulu waktu menjemput Ibu Rini di bandara, majikannya itu pingsan. Selang beberapa hari pulang dari rumah sakit, Ibu Rini itu juga pingsan lagi di kamarnya. Dan kini, belum genap tiga bulan, majikan perempuannya itu balik lagi harus menginap di rumah sakit yang sama. Mas Jo jadi kepikiran, sakitnya Ibu Rini ini apa parah? Apakah sakitnya bisa disembuhkan? Dokternya bisa memberi obat yang manjur apa tidak? Setidaknya, obat yang diberikan oleh dokter itu ampuh apa tidak?
"Mas Jo ...." Rini sudah bangun, walau lemas langsung memanggil Mas Jo.
"Iya, Ibu .... Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mas Jo pada majikan putrinya.
"Bapak ke sini kapan?" tanya Rini.
"Mungkin sebentar lagi, Bu .... Tadi bilang mau menyelesaikan meeting dulu." jawab Mas Jo, sopir yang setia kepada majikannya itu.
__ADS_1
"Oo, ya sudah. Silvy sudah dikasih tahu, kalau saya masuk rumah sakit lagi?" tanya Rini.
"Belum, Ibu. Tadi saya fokus mengantar Ibu, belum sempat menghubungi Mbak Silvy. Pikir saya, toh Mbak Silvy masih kerja, takut mengganggu." jawab Mas Jo.
"Minta tolong di WA saja, jangan ditelepon. Nanti kalau Silvy sudah sempat baca biar tahu." kata Rini meminta Mas Jo kirim pesan melalui WA kepada anaknya..
"Iya, Ibu .... Segera saya WA." sahut Mas Jo yang langsung mengambil HP-nya dan menulis pesan WA untuk Mbak Silvy.
"Mas Jo sudah ketemu dokternya?" tanya Rini.
"Belum, Ibu .... Kata suster tadi dokter akan memeriksa nanti sore. Bapak juga mau ketemu sama dokternya kok, Bu ...." jawab Mas Jo.
"Kata suster tadi saya sakit apa, Mas Jo?" tanya Rini lagi.
"Katanya kecapaian. Kalau nanti capainya sudah pulih, ya sehat lagi .... Begitu katanya." jawab Mas Jo yang menjelaskan apa yang disampaikan oleh suster tadi.
"Tapi kok perasaan saya tidak enak ya, Mas Jo ...." kata Rini.
"Tidak enak bagaimana to, Ibu Rini ...?" tanya Mas Jo.
"Dalam pikiran saya itu, seolah-olah ada bayang-bayang hitam yang selalu mengejar-kejar saya. Saya takut, Mas Jo." papar Rini pada Mas Jo, tentang yang dirasakan.
"Itu mungkin hanya halusinasi Ibu Rini saja ...." jawab Mas Jo.
"Mungkin seperti itu, Mas Jo .... Tapi firasatku mengatakan lain. Seperti ada sesuatu yang selalu membayang-bayangi diriku, Mas Jo." kata Rini lagi.
"Firasat apa, Ibu?" tanya Mas Jo.
"Entahlah, Mas Jo .... Ada sesuatu yang aneh, ada bayang-bayang hitam yang datang menghantui pikiranku. Saya punya firasat yang tidak baik. Firasat buruk, Mas Jo ....?! Uhuk-uhuk ...." Kata Rini, yang kemudian menangis seperti ketakutan.
"Sabar ..., Ibu .... Sabar .... Tawakal, Ibu ..., semoga senantiasa mendapat pertolongan dari Yang Kuasa." kata Mas Jo.
"Iya, Mas Jo .... Terima kasih sudah di hibur." kata Rini, yang masih terlihat sedih.
Ada suara pintu diketuk. Ternyata Pak Hamdan yang masuk. Tentu dengan senyuman, untuk menyemangati istrinya.
"Gimana, Mamah ...? Tadi kecapaian, ya ...?" tanya Hamdan setelah mendekat istrinya dan memegang tangannya.
"Nggak, Pah .... Saya nggak ngapa-ngapain, kok ...." jawab Rini.
"Yah, kita syukuri .... Pasti ada hikmah di balik musibah. Santai saja, Mah .... Gak usah mikirin yang macam-macam." hibur Hamdan pada istrinya.
"Hanya firasat saja, kok ...." kata Rini.
"Firasat ...?! Firasat apa, Mah?" tanya Hamdan yang penasaran dengan kata-kata Rini.
"Ah ..., enggak, Pah .... Nggak apa-apa ,,,," kata Rini yang merasa keceplosan pada suaminya.
"Mamah ini lho .... Ngomong firasat, ditanyai malah nggak-nggak ...." sahut suaminya.
Ya, Rini memang sedang kepikiran dengan firasat buruk dari lukisan yang dibakar oleh Yudi. Itulah yang menyebabkan pikiran Rini selalu diselimuti bayang-bayang menakutkan. Mungkin itu pula yang menyebabkan Rini jatuh sakit.
__ADS_1
Semoga saja Rini cepat sehat, dan firasat yang dibayangkan oleh Rini tidak menjadi kenyataan. Firasat cinta Yudi yang terbakar tidak menjadi kenyataan.