
Kesedihan tidak lagi dapat disembunyikan, baik oleh Yudi, ibu mertua, maupun ayah mertuanya. Apalagi ibu dan ayah mertua, yang benar-benar kehilangan anak kandungnya, yaitu Yuna. Ini adalah peristiwa yang sangat menyakitkan dan menyedihkan.
Setelah mereka saling duduk, dan tentu mertuanya memberi minum serta makanan kepada anak menantunya. Yudi pun segera minum dan makan makanan yang disuguhkan oleh ibu mertuanya. Tentu karena lapar. Ya, karena hanya fokus mencari istrinya, maka Yudi lupa untuk makan.
Sebelum diberi tahu, Yudi sudah menduga kalau pihak otoritas yang membawa Yuna, sudah datang ke rumah mertuanya dan meminta informasi terkait keberadaan Yuna. Terlihat dari tangis yang mertuanya. Itu pertanda orang tua Yuna sudah tahu permasalahannya. Jika memang belum tahu, melihat kedatangan Yudi, mestinya bahagia, gembira, senang, disambut dengan senyum. Tapi ini, menantunya datang malah disambut tangisan. Artinya, mereka berdua juga mengalami hal yang sama dengan Yudi, yaitu sedang bersedih atas hilangnya Yuna.
Belum ditanya, ibu Yuna sudah menyampaikan cerita kepada Yudi, kalau anaknya, Yuna, istri Yudi, dicari berkali-kali. Ada pihak yang menyebut dirinya sebagai utusan dari otoritas keamanan, mencari Yuna. Mereka mengatakan kalau Yuna itu aset negara yang dilindungi, tidak boleh pergi dan menetap ke luar negeri. Bahkan diceritakan pula, pernikahan Yuna dengan Yudi dianggap ilegal dan melanggar peraturan tata kenegaraan.
Yudi termenung. Diam tanpa bisa berkata apa-apa. Seperti yang disampaikan oleh pejabat konsulat di Jakarta yang ia temui tempo hari. Yang mengajak pulang Yuna ke Jepang adalah pihak otoritas yang tidak bisa disebutkan oleh siapapun. Termasuk pihak kedutaan besar. Ini kewenangan khusus dari lembaga rahasia. Tidak seorang pun boleh tahu permasalahannya. Bahkan Yudi disarankan agar tidak perlu mencari Yuna. Itu yang dikatakan oleh pihak konsulat. Namun saat Yudi memaksa untuk mencari tahu ke Jepang, pejabat itu hanya mengatakan agar Yudi segera datang ke rumah Yuna, menemui orang tuanya.
Itulah, makanya Yudi segera pergi ke Jepang, tidak sekadar mencari Yuna di apartemen, tetapi langsung menemui mertuanya yang ada di Kota Sakai. Itu berdasarkan anjuran dari pejabat konsulat. Tentu ini ada maksud tertentu. Paling tidak, Yudi akan mengerti cerita yang sesungguhnya, dari mertuanya.
"Chichioya ..., Yuna ga yukue fumei .... Yuna ga yukai sa reta .... Huk ..., uh ..., huk ...." Yudi menyampaikan kepada mertuanya, jika Yuna hilang, Yuna dibawa pergi oleh orang yang tidak diketahui. Lagi-lagi, Yudi menangis. Sedih memikirkan istrinya yang hilang.
"Hai, shitte imasu ...." ayah mertuanya mengatakan sudah tahu permasalahan yang dialami. Sudah tahu kalau Yuna ditangkap. Bahasa pasnya, diamankan oleh pihak rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Lantas ayah mertua Yudi juga menceritakan kalau pihak rahasia itu sudah mendatangi juga ke rumahnya, menanyakan keberadaan Yuna. Karena tekanan dari orang yang datang ke rumahnya, dan tentu ini terkait dengan sebuah rahasia keamanan negara, yang akhirnya, mertuanya memberi tahu keberadaan Yuna, yaitu di Yogyakarta Indonesia.
"Watashi wa sō wa omowanai ..., Yuna to Yudi no kekkonshiki wa dai sanji ni narimasu." kata mertuanya yang menceritakan bahwa pernikahan Yudi dengan Yuna tidak diperbolehkan. Alasannya, Yuna adalah aset negara. Yuna tidak diizinkan untuk menjadi warga negara lain. Yuna tidak boleh mendapat hak dari kewarganegaraan asing. Yuna adalah aset negara yang harus dilindungi.
__ADS_1
Itulah sebabnya, ketika Yuna menikah dengan Yudi, lembaga otoritas keamanan langsung berusaha membawa Yuna kembali ke Jepang. Tentu, Yuna tidak boleh kembali ke Indonesia. Apalagi kembali menjadi istri Yudi. Hal ini akan membahayakan sebuah rahasia.
"Yudi .... Watashi wa totemo kanashi, osoraku nidoto Yuna ni au koto wanaidarou ...." Mertua Yudi mengatakan, jika kemungkinan besar, Yudi sudah tidak bisa menemui Yuna. Bahkan keluarganya juga tidak boleh menemui anaknya. Yudi harus sabar. Tentu karena masalah ini terkait dengan permasalahan sebuah bangsa, permasalahan dalam negeri dari sebuah negara. Yudi adalah warga negara Indonesia, tidak punya hak di Jepang. Walaupun sudah pernah menjadi suami dari perempuan Jepang.
"Nande? Kekkon shita bakari ...." Yudi tentu bingung, menanyakan nasib dirinya yang baru saja menikah. Mengapa harus dipisahkan. Bulan madu belum selesai. Ibarat kata, seorang anak baru saja dibelikan mainan baru. Tentu ia sangat senang dan ingin terus memainkannya. Bahkan tidur pun akan dibawa dalam pelukan dan mimpinya.
Tetapi, Yudi baru seminggu menikah dengan Yuna, mana kala Yuna sedang ditinggal bekerja, baru saja suaminya berangkat ke kantor, ada orang yang menculiknya. Istrinya sudah diambil tanpa sepengetahuan suaminya. Tentu Yudi sangat kecewa. Kenapa tidak ada pemberitahuan, kenapa tidak ada dialog, kenapa tidak ada pesan apapun? Yudi benar-benar bingung.
"Chichioya .... Yuna ni aemasu ka? Ima doko ni arimasu ka, Yuna?" kata Yudi kepada mertua laki-lakinya, menanyakan keberadaan Yuna saat ini, dan bagaimana apakah bisa menemui Yuna.
Tentu Yudi ingin tahu keberadaan istrinya, dan juga keadaannya. Yudi ingin menemui istrinya. Setidaknya, ia ingin memastikan keselamatan istrinya, ingin memastikan kesehatan istrinya, dan yang pasti, ingin melepas rasa rindunya.
"Watashi no musuko, yudi .... Anata wa ukeireru koto ga dekinakereba narimasen .... Jinsei wa sakura no yōna monodesu." kata ibu mertuanya, sambil memeluk menantunya. Ia menasehati Yudi, agar bisa menerima kenyataan. Hidup itu bagai bunga sakura. Untuk berbunga saja, harus menunggu musim semi tiba. Saat berbunga, banyak orang yang berdatangan menyaksikan keindahannya. Banyak orang yang memuji. Banyak orang yang senang. Namun itu hanya sesaat. Setelah bunga-bunga itu berguguran, tak seorang pun yang menghiraukan. Tak seorang pun yang datang untuk memungutnya. Tetapi orang-orang yang lewat, orang-orang yang melintas, malah menginjak-injak dan mencampakkannya. Lantas datang tukang sapu, yang menyibakkan kuntum-kuntum sakura yang berserakan itu, lantas membuangnya ke tempat sampah. Sakura yang tadinya dipuja, sakura yang tadinya indah, di akhir ceritanya hanya dibuang, karena sudah tidak punya arti lagi.
Indah itu hanya sementara. Mertuanya menyampaikan pesan kepada Yudi, agar tabah, agar bisa menerima kenyataan pahitnya hidup, dan agar bisa merelakan kepergian Yuna, untuk menunaikan tugas negaranya.
"Anata no tsuma no tame ni inori o sasagemasu." kata mertuanya, yang juga meminta agar Yudi memberikan doa kepada istrinya. Tentu, doa itu penting. Apalagi orang tua Yuna yang lebih dekat dengan kehidupan kuil di kampungnya. Tentu senantiasa memanjatkan doa untuk keselamatan anaknya.
__ADS_1
Yudi sebagai orang Jawa yang masih sangat lekat dengan ajaran kejawen, tentu juga paham tentang arti penting sebuah doa. Maka tidak salah, jika ia juga harus mendoakan istrinya, agar selamat dan tidak terjadi apa-apa. Harapannya hanya doa yang bisa dipanjatkan, agar Tuhan Yang Maha Kuasa, bisa memberikan pertolongan kepada Yuna.
"Yudi .... Anata wa genjitsu o ukeirenakereba narimasen .... Kenjitsude seijitsu." kata ibu mertuanya, sambil mengelus kepala Yudi. Ibu mertuanya mengatakan kalau Yudi harus bisa menerima kenyataan, harus tabah dan ikhlas, dengan masalah yang dihadapinya.
Tentu, mau tidak mau Yudi harus rela. Yudi pasrah. Harus belajar ikhlas. Yudi harus bisa menerima kenyataan, bahwa filosofi hidup bagi orang Jawa adalah laku. Laku harus dilakoni. Apapun yang terjadi, apapun yang ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, harus dilakoni. Yudi harus bisa menerima titah dari Yang Maha Memberi. Yudi harus bisa menjalani suratan takdir yang diberikan oleh Tuhan yang telah membuat garis hidup manusia. Yudi harus ikhlas menerima kenyataan hidup.
Hari sudah larut malam. Tentu mertuanya merasa kasihan dengan Yudi yang jauh datang dari Indonesia, pasti lelah dan capai. Maka mertuanya, meminta kepada Yudi agar tidur di rumahnya. Yudi disuruh tidur di kamar, di kamar Yuna, di mana pada masa kecil hingga remaja, Yuna lebih sering menghabiskan waktu dalam kamar itu.
"Koko de neru .... Yuna no heyadesu ...." mertuanya menunjukkan kamar, yaitu kamar tidur Yuna. Mereka menyuruh Yudi untuk tidur di kamar Yuna.
Meski bisa merebahkan diri di kamar Yuna, Yudi tidak sanggup memejamkan mata. Pikirannya tetap berada jauh mengembara, membayangkan keadaan istrinya. Bagaimana keadaan Yuna? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana makannya? Apakah saat ini ia bisa tidur? Dan, apakah Yuna juga memikirkan keadaan suaminya? Akhirnya, Yudi pun tertidur.
Pagi Hari, setelah terbangun dari tidur, Yudi kaget, karena sudah ada ibu dan ayah mertuanya, duduk di dekat tempat tidur Yudi. Sontak, Yudi langsung turun dari tempat tidurnya, segera menghampiri mertuanya.
"Yudi ..., sugu ni kitaku .... Kokode wa anzende wa arimasen." kata ayah mertuanya, yang meminta kepada anak menantunya, agar Yudi segera pulang. Permasalahannya, pasti nanti akan menjadi perhatian pihak pemerintah. Dan tentu, Yudi akan diawasi. Yang pasti, keberadaan Yudi untuk saat ini tidak baik berada di rumah mertuanya.
Maka, Yudi langsung bergegas mandi dan ganti pakaian. Setelah menikmati makan pagi dari mertuanya, ia pun memeluk dan mencium kedua mertuanya, dan langsung pergi meninggalkan rumah mertuanya.
__ADS_1
"Harus ikhlas ...." begitu gumam Yudi.