
"Gimana suasana rumah Kakek dan Nenek di Magelang?" tanya Rini pada anak-anaknya, saat makan malam di rumah Yudi. Ya, kali itu dua anaknya datang diundang makan malam oleh Rini. Tentu Rini kangen dengan anak-anaknya untuk makan bersama. Apalagi sekarang sudah ada papah baru, yaitu Yudi.
"Waah .... Itu kampung yang luar biasa asri dan alami, Mah .... Ada pohon-pohon besar, bisa mendengar lenguh angsa, suara ayam, bahkan juga ada kambing dan kerbau. Sangat menyenangkan. Kapan-kapan saya mau tidur di rumah nenek." jawab Yayan yang diangguki oleh Silvy.
"Ya .... Besok kalau semua bangunan sudah beres." sahut ibunya.
"Mah ..., rumah saya yang di Jakarta kalau dijual sekalian, bagaimana?" kata Yayan meminta kepada mertuanya.
"Kenapa harus dijual?" justru Yudi yang kaget dan bertanya lebih dahulu.
"Mah ..., Pah ..., kami butuh motor untuk ke sana kemari .... Tidak enak minta diantar sama Mas Trimo terus." jawab Silvy, yang memang merasa butuh motor untuk sarana bepergian, meski tidak jauh, paling-paling hanya ke warung.
"Berapa sih, harga motor ...?" tanya Rini ingin tahu kebutuhan anaknya.
"Maksud saya sekalian biar nggak ngurusi rumah yang di Jakarta lagi, Mah ...." sahut Yayan.
"Harga rumah itu semakin lama semakin naik .... Sayang kalau dijual. Apalagi rumah kamu ada di tengah kota. Itu sangat strategis. Nanti kalau sewaktu-waktu pengin ke Jakarta, kan bisa dipakai untuk menginap, daripada sewa hotel yang harganya pasti mahal." Yudi memberi pengertian.
"Tapi di sana tidak ada yang merawat, Pah ...." kata Yayan yang kembali beralasan.
"Kalau seperti itu, mending kamu sewakan atau dikontrakkan. Lumayan dapat uang sewa." kata Yudi lagi, memberi alternatif kepada anak-anaknya.
"Iya, Yayan ..., Silvy .... Mending rumah kamu itu di kontrakkan saja. Besok pesan truk untuk ngangkut barang kalian, dipindah ke Jogja. Terus, rumahnya disewakan atau dikontrakkan. Jadi yang merawat ya yang kontrak. Lumayan bisa untuk tambah-tambah keuangan kalian." sahut Rini yang juga memberi masukan.
"Terus untuk beli motornya, bagaimana?" tanya Silvy yang masih mikir keuangan.
"Biasanya rumah di daerah perumahan kalian kalau dikontrakkan laku berapa?" tanya Yudi.
"Ya, antara sepuluh sampai dua belas juta, Pah." jawab Yayan.
"Kamu kontrakkan saja, nanti untuk beli motornya, sementara dipinjami uang Mamah." kata Yudi memberi solusi.
"Gitu, ya ..., Mah ...?" tanya Silvy yang tentu sambil tersenyum.
"Ya ..., boleh .... Mamah masih punya uang, kok ...." jawab Rini yang menyenangkan anak-anaknya.
"Oh, iya .... Masih ada lagi, Mah ...." kata Yayan tiba-tiba.
"Apaan ...?" tanya Rini ingin tahu.
"Mobil yang saya suruh si Andy teman kerja saya, aku suruh mbayar sekalian bagaimana?" kata Yayan yang ingat pada mobilnya.
"Nah ..., itu yang penting .... Masak mobil dipakai orang tanpa ada kompensasi." jawab ibu mertuanya.
__ADS_1
"Lhah, terus ..., kalian pakai mobil apa?" tanya Yudi.
"Itu, yang fortuner Papah nanti saya balik nama. Lebih baru tahunnya dan mesinnya juga lebih besar." sahut Yayan.
"Ya, sudah .... Besok saat mau bayar pajak sekalian dibalik nama." sahut ibunya yang juga setuju.
"Itu mobil kita yang dipakai Mas Andy, kira-kira mau dibayar berapa?" tanya Silvy yang tentu ingin tahu.
"Besok saya telepon Andy dahulu, dia berani bayar berapa. Yang penting bisa bermanfaat, baik bagi Andy maupun kita." jawab Yayan.
"Itu diurus besok lain waktu .... Yang penting, besok pagi Yayan pergi ke showroom sepeda motor, suruh ngantar Mas Bagas. Beli motor dahulu, biar bisa untuk wira-wiri ...." kata Yudi langsung to the point, tidak pakai lama.
"Yudi ..., uangnya mana?" tanya Rini pada Yudi.
"Pakai uang Rini dahulu ..." sahut Yudi.
"Uang saya kan di bank .... Kita belum boleh pergi-pergi kalau belum sepasar .... Itu pesan Simbok, lho .... Tidak boleh dilanggar, ora ilok ...." kata Rini.
"Kan bisa pakai e-bangking ...." kata Yudi lagi.
"O, iya ..., ya .... Memang Yudi tidak punya uang tunai di rumah?" tanya Rini mencoba tahu uang Yudi.
"Uang saya tidak laku untuk beli motor ...." kata Yudi sambil membuka dompetnya, lalu katanya, "Ini .... Gambarnya saja Kaisar Jepang ...." kata Yudi yang menunjukkan dompetnya berisi uang Yen dari Jepang.
"Mau ...? Nih, buat kamu .... Nih, buat Mamah .... Yayan kemarin sudah saya kasih, kan ...." kata Yudi yang memberi dua lembar uang kertas sepuluh ribuan yen Jepang kepada Silvy, dan lima lembar kepada Rini.
"Lhah ..., punya saya kemarin diminta Silvy selembar, Pah ...." sahut Yayan yang tidak mau rugi.
"Sudah ..., tidak usah ribut .... Ini, Yayan ..., Mamah kasih selembar lagi." kata Rini yang memberikan selembar uangnya kepada menantunya.
"Terima kasih, Mah ...." sahut Yayan sambil menerima selembar uang dari mertuanya.
"Ini kalau dijual ke rupiah laku berapa, Pah ...." tanya Silvy.
"Kurs yen terhadap rupiah, saat ini sekitar seratus sepuluh .... Berarti sepuluh ribu yen ini nilai rupiahnya sekitar satu juta seratus ribu rupiah." kata Yayan yang paham dengan dunia bisnis valuta asing.
"Kamu kok punya uang yen Jepang banyak sekali, Yud ...? Dapat dari mana? Katamu di Jepang dirimu diungsikan agar tidak ditahan ...?!" tanya Rini curiga.
"Waktu di kuil, saya tidak boleh ke mana-mana. Bahkan keluar kuil saja tidak boleh. Saya sedih .... Saya bingung .... Saya merasa terkungkung .... Beruntung ada pendeta yang baik, mau menolong saya membelikan peralatan gambar. Untuk mengisi kebosanan saya itu, maka saya melukis. Awalnya hanya melukis pemandangan di kuil. Lukisan-lukisan tentang kuil itu dipajang oleh para pekerja kuil pada tepian bangunan. Ternyata banyak yang membeli lukisan-lukisan itu. Uang hasil penjualannya saya minta untuk dibelikan peralatan gambar lagi. Lukisan-lukisan saya terjual lagi. Namun selanjutnya bukan sekadar pemandangan kuil yang saya lukis, melainkan banyak tamu yang minta dilukis. Termasuk orang-orang kaya yang dirinya ingin dilukis di kuil itu. Dari lukisan-lukisan itu saya dapat uang banyak. Bahkan saya juga diminta untuk mengajari anak-anak menggambar. Yah ..., semua saya lakukan demi hidup. Namun orang yang terakhir saya lukis itulah, yang mengajak saya balik ke Indonesia. Ya, yang kemarin datang melihat anggrek kamu itu, Rin .... Dia yang menyelamatkan saya bisa keluar dari Jepang. Dia kaya raya, maka lukisannya dibayar dengan harga yang sangat tinggi. Itu uang hasil kerja saya menjual lukisan." kata Yudi yang menceritakan kisahnya saat mendapatkan uang di Jepang.
"Orang Jepang kalau beli lukisan berani bayar mahal ya, Pah ...?" tanya Silvy.
"Tidak juga .... Tetapi yang pecinta seni, dia tahu arti lukisan ..., maka dia berani bayar tinggi." jawab Yudi.
__ADS_1
"Kok Papah Yudi tidak tinggal di Jepang saja ...? Biar lukisannya laku banya ...." kata Silvy yang tentu tergiur dengan penghasilan Yudi sebagai pelukis.
"Kalau saya masih berada di Jepang, saya tidak jadi Papah kalian ...." jawab Yudi sambil melihat atap, mengejek Rini.
"Iih ...! Jahat ...!" kata Rini sambil mencubit pinggang Yudi.
"Terus ..., besok Papah Yudi di Jogja ingin melukis lagi?" tanya Yayan penasaran.
"Yayan ..., Papah sekarang ini pengangguran .... Papah sudah diberhentikan dari pekerjaan. Papah tidak kerja lagi. Padahal sekarang saya punya istri baru. Kalau tidak punya uang ..., pasti Papah ditendang ...." kata Yudi yang terhenti oleh Rini.
"Ih, siapa juga yang mau nendang .... Dari SMA saya tahu hidupmu itu cuman melukis ..., melukis ..., dan melukis .... Itu terus .... Sampai cinta saja kamu tidak tahu, Yud ...." Rini mengejek Yudi.
"Melukis itu jalan hidup Papah. Kalau tidak dibolehkan melukis lagi oleh Mamah kalian, itu artinya sama dengan membunuh Papah ...." sahut Yudi menjelaskan kepada anak-anaknya.
"Iya ..., iya .... Besok silakan melukis setiap hari. Tapi jangan lupa ..., lukis istrimu dahulu .... Hehehe ...." kata Rini sambil menepuk pundak Yudi.
"Saya usul, Pah .... Nanti lukisannya di jual di Taman Anggrek." kata Silvy.
"Iya ..., saya setuju." timpal Yayan.
"Nanti Papah Yudi mau buat galeri sendiri .... Pasti galerinya akan dibuat menjadi objek wisata yang unik .... Bukan begitu, Yud ...?" kata Rini sambil senyum-senyum memotivasi suaminya.
"Ide yang bagus itu .... Yah, Papah harus buat galeri yang sensasional .... Besok mulai kita rancang, Mah ...." kata Yudi yang gembira karena diberi ide oleh istrinya.
"Saya setuju, Pah .... Saya dukung untuk membuat galeri seni yang unik dan sensasional. Pasti akan menarik." sahut Yayan.
"Nanti Mamah yang menjaga galerinya .... Hehehe ...." ledek Silvy pada ibunya.
"Iih ..., ngejek Mamah, ya .... Awas kamu, ya ...." Rini langsung menuding anaknya.
"Yah ..., nanti sambil jalan .... Sambil Papah mngumpulkan lukisan-lukisan dahulu. Yang penting membangun galeri itu ada lukisannya." kata Yudi yang tetap tersenyum karena sudah mendapatkan ide untuk memperoleh kesibukan. Pasti dirinya tidak akan menganggur.
"Terus ..., uangnya untuk beli motor besok bagaimana?" tanya Yayan yang tentu masih bingung.
"Yayan mau beli motor apa? Harganya berapa?" tanya Yudi pada Yayan.
"Motor matic biasa saja .... Jangan yang terlalu besar. Yang penting nyaman untuk dinaiki. Coba lihat harga di HP, Vy ...." kata Yayan, dan meminta istrinya melihat harga dari ponselnya.
"Ada yang seperti ini .... Hanya tujuh belas jutaan .... Yang seperti ini, delapan belas jutaan ..." kata Silvy sambil menunjukkan HP-nya.
"Ya sudah ..., pakai uang Papah dahulu. Dari pada ribet. Nanti malam saya siapkan, besok biar dibawa Mas Bagas. Nanti sambil pilih-pilih motor apa yang akan dibeli. Besok tinggal berangkat sama Mas Bagas. Gitu, ya ...." kata Yudi yang lagi-lagi menjadi orang baik di mata istri maupun anak-anaknya.
"Terima kasih, Pah .... Terima kasih, Pah ...." Silvy dan Yayan langsung menyalami Yudi dan mencium tangannya. Angan mereka untuk punya motor bakal keturutan.
__ADS_1