
Setelah mendapat persetujuan dari Hamdan, suami Rini, Handoyo langsung mencoba untuk menghubungi Yudi. Terutama terkait rencana akan melaksanakan reuni persahabatan. Handoyo langsung menelepon Yudi.
"Kriiing .... Kriiing ...." HP Yudi berbunyi. Ada panggilan.
Yudi mengambil HP dari sakunya. Mengamati nomor yang memanggil. Tidak ada nama kontak pada nomor yang memanggil. Yudi mendiamkan saja, tidak mengangkat panggilan tersebut.
"Kriiing .... Kriiing ...." HP Yudi berbunyi lagi. Nomor tadi memanggil lagi.
"Siapa sih, ini ...? Mengganggu orang kerja saja." gerutu Yudi mendengar panggilan.
Yudi masih mendiamkan saja panggilan tersebut. Tidak diangkat lagi. Lantas kembali memasukkan HP dalam kantong sakunya.
"Kriiing .... Kriiing ...." HP Yudi berbunyi lagi untuk yang ketiga kali. Masih nomor yang sama.
Akhirnya Yudi kalah. Pada panggilan ketiga, ia mengangkat telepon tersebut. Menjawab panggilan.
"Halo ..., siapa ini ya?!" kata Yudi saat mengangkat telepon.
"Halo, Bos .... Ini Handoyo .... Sombong amat ditelepon tidak diangkat. Haha ...." sahut dokter Handoyo dari suara telepon.
"Eh, maaf Pak dokter .... Sori, Han ..., semua nomor kontak hilang. HP-ku waktu itu hilang. Ganti HP tidak punya kontak teman-teman sama sekali." sahut Yudi minta maaf.
"Wah ..., wah ..., wah .... Bos yang satu ini semakin sibuk saja." kata dokter Handoyo yang sengaja mencari waktu ingin menelepon Yudi secara serius.
"Eh, Han ..., maaf, saya matikan sebentar teleponnya, saya naik ke puncak bukit dahulu, ke tempat yang nyaman, biar tidak terganggu suara para pekerja." kata Yudi yang ingin mencari tempat yang nyaman untuk bertelepon dengan sahabatnya.
Lantas Yudi mematikan teleponnya, berlari menuju puncak. Setelah sampai puncak bukit, sambil duduk di tangga berundak, sambil memandang indahnya gelombang Samudera Hindia, Yudi menelepon sahabat lamanya itu.
"Halo, Yudi .... Bagaimana kabarnya?" tanya Handoyo yang segera menerima panggilan dari Yudi.
"Baik, Pak dokter .... Harapan saya Pak dokter sekeluarga juga sehat selalu. Dapat nomor teleponku dari siapa? Maaf, HP-ku hilang, jadi tidak punya kontak siapa-siapa." jawab Yudi membalas sapaan dokter Handoyo.
"Saya maklum, Yudi .... Maaf mengganggu kerjaanmu, ya ...." kata Handoyo.
"Tidak mengganggu ..., ini saya malah cari tempat yang nyaman untuk telepon sama Pak dokter yang hebat. Hehe ...." balas Yudi yang membanggakan Handoyo.
"Ah, gak usah seperti itu .... Kita semua sama-sama hebat, tentu di bidangnya sendiri-sendiri." sahut Handoyo.
"Ada kabar apa, ini ..., kok kelihatannya ada yang penting?" tanya Yudi kepada Handoyo.
"Hehe .... Tidak penting, Yud .... Cuman ada masalah sedikit, dan saya perlu bantuan Yudi." sahut Handoyo.
"Aah ..., Pak dokter ini kok selalu merendah .... Justru saya yang harusnya minta bantuan Pak dokter ...." sahut Yudi.
"Yudi, ini saya serius. Terkait sahabat kita. Kita harus membantu." kata Handoyo mulai bicara serius.
"Ada apa, Pak dokter? Siapa?" tanya Yudi.
__ADS_1
"Rini ..., Yud ...." jawab Handoyo.
"Rini kenapa? Ada apa?" tanya Yudi.
"Yudi ..., kamu harus tahu, saat ini Rini mengalami skizofrenia, semacam penyakit kejiwaan di mana pikirannya mengalami kecemasan yang berlebihan. Tentu dia akan sering mengalami rasa ketakutan." jelas Handoyo.
"Masak, sih ...? Barusan beberapa minggu yang lalu, mungkin sekitar satu bulan yang lalu, Rini datang ke kampung saya bersama keluarganya. Mereka enjoi ..., tidak ada masalah. Rini juga happy saja, bahkan ngobrol lama dengan saya." sahut Yudi yang merasa bahwa Rini dalam kondisi baik-baik saja.
"Sekitar dua minggu yang lalu Rini baru saja masuk rumah sakit. Alex yang saya suruh jenguk, sambil tanya gejala sakitnya. Lantas saya telepon juga ke Rini dan suaminya. Kesimpulan hasil diagnosis saya seperti itu, Yud .... Rini kemungkinan menderita skizofrenia." kata Handoyo menjelaskan sakit yang diderita Rini.
Yudi terdiam. Ia merasa bersalah. Pasti ini ada kaitannya dengan dirinya.
"Yudi ...?! Halo, Yud ...! Kamu masih dengar saya, Yud?!" tanya Handoyo dalam telepon, karena Yudi terdiam tidak berkomentar.
"Eh, maaf, Pak dokter .... Saya agak khawatir. Benarkah seperti itu?" tanya Yudi pada Handoyo.
"Iya .... Itu kalau berlanjut bisa berbahaya. Saya tidak ingin menceritakan bahayanya kalau parah. Tetapi saya ingin, kita sebagai sahabat-sahabat wajib menolong secepatnya agar penyakit yang diderita Rini ini bisa segera teratasi, dan Rini segera sembuh." kata Handoyo menjelaskan.
"Terus, caranya bagaimana, Pak dokter ...?!" tanya Yudi yang khawatir.
"Makanya ini saya telepon dirimu, dalam rangka ingin mencari cara. Pengin saya, kita empat sekawan itu kumpul di rumah Yudi, untuk menyembuhkan otak Rini yang agak terganggu." kata Handoyo.
"Lhoh, kok di rumah saya ...?!" tanya Yudi setengah protes.
"Eh, Yud ..., mau saya tembak apa bagaimana?! Ini kamu harus bertanggung jawab. Kamu yang bikin masalah, masak mau mengelak?!" Handoyo langsung bicara tegas pada Yudi.
"Waah .... Yudi, kamu ini ternyata payah! Saya tahu, Rini ada masalah dengan dirimu. Kamu harus selesaikan masalah ini, Yud ...!" kata Handoyo.
"Lhoh, kok saya yang disalahkan ...?! sergah Yudi.
"Lha terus mau salahkan siapa? Kamu mau menyalahkan saya? Yang membuat Rini sedih, pikiran cemas dan ketakutan, itu kamu, Yud ...." bantah Handoyo.
"Iya ..., ya ..., ya .... Baik, Han ..., saya tahu, saya yang salah. Tapi saya minta tolong, jangan sekarang." kata Yudi.
"Memangnya ada apa? Kenapa?" tanya Handoyo.
"Maaf, Han ..., saat ini saya sedang ada tamu. Tamu yang mungkin tidak bisa menerima kehadiran Rini." kilah Yudi.
"Ah, dasar kamu, Yud ...." kata Handoyo.
"Benar, Han .... Ini masalah wanita." sahut Yudi.
"Siapa? Memangnya ada apa tidak bisa menerima Rini?" tanya Handoyo.
"Maaf, Han ..., sebenarnya ini masih rahasia, tapi mengingat kita bersahabat, saya percaya padamu. Saat ini di rumahku masih ada calon mertuaku. Jadi di rumahku kamarnya penuh. Kita tidak mungkin ngobrol di rumah." jawab Yudi.
"Wuah .... Jadi sahabat baikku ini mau menikah, ya .... Selamat, Yudi .... Saya merestuimu. Kapan pestanya?" kata Handoyo yang ikut senang mendengar pengakuan Yudi.
__ADS_1
"Aah, tunggu saja nanti. Pasti sahabat-sahabatku akan saya undang semua." jawab Yudi.
"Dapat orang mana? Gadis apa janda? Haha ...." tanya Handoyo lagi sambil berkelakar.
"Besok kamu tahu sendiri. Tidak perlu saya ceritakan dulu, nanti malah tidak jadi surprise ...." jawab Yudi.
"Wah ..., gitu ya .... Padahal dugaan saya pasti yang di Palembang itu .... Haha ...." kata Handoyo menggoda.
"Yang itu buat Pak dokter saja .... Hehe ...." sahut Yudi berkelakar menggoda sahabatnya.
"Waah ..., pasti wanita ini yang bikin Rini sakit .... Haha ...." kata Handoyo.
"Kamu jadi dukun, apa?" sahut Yudi.
"Lhah, terus ..., bisanya kita kumpul bareng kapan?" tanya Handoyo.
"Kalau satu bulan lagi, bagaimana?" jawab Yudi.
"Kelamaan, Yud ...." sahut Handoyo.
"Maksud saya, saat itu nanti, sekitar akhir bulan Juli, ada momen yang baik buat kita semua. Warga di Kampung Nirwana rencananya akan meresmikan Taman Awang-awang. Ada perayaan dan hiburan. Paling tidak suasana di Kampung Nirwana sangat meriah. Jadi kita bisa menyaksikan acara peresmiannya. Yang kedua, bangunan homestay milik Rini kemungkinan besar sudah jadi dan bisa ditempati. Saya juga undang keluarganya Rini. Dan tentu, nanti Pak dokter beserta keluarga, Alex juga dengan keluarganya. Pokoknya kita nikmati kemeriahan Taman Awang-awang. Bagaimana?" papar Yudi.
"Hah ...?! Memang Rini membangun homestay di kampungmu?" tanya Handoyo yang kaget mendengar berita tentang homestay milik Rini itu.
"Pak dokter mau pesan? Masih ada dua unit." kata Yudi menawarkan.
"Harganya berapa?" tanya Handoyo.
"Cuman lima M." jawab Yudi.
"Hah, cuman lima M?! Cuman ....?! Duwitnya siapa, Yud?" kata Handoyo.
"Ya uang Pak dokter, lah .... Kepala rumah sakit, kok ...." sahut Yudi.
"Yud, kalau misal pertemuan kita seminggu lagi tidak bisa?" tanya Handoyo terkait rencana reuni sahabat.
"Bagaimana, ya?" Yudi jadi bingung.
"Masalahnya saya ingin segera menyembuhkan Rini. Saya khawatir, Yud ...." kata Handoyo.
"Kalau dua minggu lagi bagaimana? Setidaknya Taman Awang-awang sudah bisa dilihat. Nanti kita ngobrolnya di puncak bukit. Ada tempat yang indah untuk menyaksikan keagungan Sang Pencipta." Yudi memberi masukan.
"Ya, oke .... Saya setuju. Nanti akan saya sampaikan ke Rini dan Alex. Acaranya reuni sahabat." jawab Handoyo yang menyetujui rencana Yudi.
"Oke, Pak dokter .... Akan saya agendakan." jawab Yudi.
Handoyo mengakhiri telepon dengan saling mendoakan. Ya, mereka berdua memang sahabat yang baik. Meskipun ada rahasia, mereka tidak pernah mengungkit maupun membuka aib dari masing-masing sahabatnya. Tetapi yang paling baik, mereka saling mengerti, saling memahami, saling tolong menolong dan saling membantu. Mereka akrab sejak SMA, dan keakraban itu kini terbangun lagi, setelah ada reuni.
__ADS_1
Kini, saat Rini sakit, sahabat-sahabatnya ini tetap setia, ingin membantu dan menolong untuk menyembuhkan, memberikan pengobatan. Berkumpul kembali, itu yang mungkin bisa menyembuhkan sakit yang diderita oleh Rini.