KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 225: JENGKEL TAPI SENANG


__ADS_3

Sejak hari Sabtu pagi, HP Rini terus berdering. Teman-temannya SMA pada menelepon, tentu mereka sudah bersiap menuju Jogja. Ya, seperti yang dijanjikan sebelumnya, teman-teman SMA Yudi dan Rini akan datang, mau hepi-hepi merayakan pernikahan Yudi dan Rini yang sudah berlangsung seminggu yang lalu.


    "Rini .... Ini aku sudah sampai Jogja .... Baru turun dari kereta di Stasiun Tugu." telepon dari Anik yang sudah datang.


    "Iya, Nik .... Langsung saja ke Taman Awang-awang, naik taksi minta diantar ke Nirwana Homestay. Nanti kita ketemu di sana." jawab Rini yang tentu akan mengatur teman-temannya untuk menginap.


    "Sudah disiapkan penginapan ya, Rin ...?" tanya Anik, yang tentu ingin kepastian penginapannya.


    "Ada, Nik .... Sederhana tidak apa-apa, ya .... Yang penting dekat dengan tempat acara." sahut Rini lagi.


    "Oke, Rin .... Terima ksih, ya .... Sampai ketemu nanti." jawab Anik yang terus menutup HP-nya.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” baru saja mati, HP Rini berbunyi lagi. Panggilan dari Alex.


    "Halo, Lex .... Sampai mana?" Rini yang menerima telepon langsung bertanya.


    "Sudah masuk Jogja ini .... Saya langsung ke Nirwana Homestay, ya ...." jawab Alex.


    "Iya .... Ini Anik juga sudah menuju Nirwana Homestay .... Hati-hati, ya ...." kata Rini menjawab Alex.


    Yudi masih berada di dalam ruang administrasi Nirwana Homestay. Ia memesankan penginapan-penginapan teman-temannya. Tentu karena itu hari Sabtu malam Minggu. Biasanya Nirwana Homestay banyak tamu. Maka Yudi harus antisipasi bagi teman-temannya yang akan menginap agar dapat kamar. Tiga unit penginapan sengaja dipesan. Milik Rini, milik Silvy dan milik Yudi. Berarti Yudi sudah menyiapkan dua belas kamar.


    Rini dan Silvy sudah tidak memakai ruangnya di penginapan untuk keperluan pribadi. Semua kamar yang ada di penginapan diperuntukkan bagi tamu. Tentu karena sudah ada kamar yang ditempati secara pribadi, yaitu di Taman Anggrek Nirwana. Makanya yang di Nirwana Homestay semuanya dipakai untuk penginapan. Tidak repot dan tidak terganggu oleh para tamu yang menginap.


    Sampai sore, sudah ada enam teman yang datang di Nirwama Homestay, yaitu Anik yang datang bersama suaminya, Alex sekeluarga, Jojon datang bersama istrinya, ada Yayuk yang jauh-jauh datang dari Palembang, serta teman-teman lain yang juga ikut datang dan menginap di Nirwana Homestay. Sudah ada yang berkeliling menyaksikan keindahan wisata di Jogja, ada juga yang hanya berkeliling naik mobil wisata, mengunjungi objek-objek yang ada di Kampung Nirwana.


    Yudi dan Rini masih berada di Nirwana Homestay. Tentu untuk menunggu dan mengatur teman-temannya yang pada berdatangan. Hingga lepas malam, urusan teman-teman yang menginap dipasrahkan kepada Anik yang sanggup membantu.


    "Anik ..., saya minta tolong dibantu ngurusi teman-teman yang datang, ya .... Nanti tolong kalau ada teman kita yang datang lagi, kamarnya di penginapan Unit tiga, empat dan lima." kata Rini meminta bantuan kepada Anik.


    "Ya, Rin .... Nanti akan kami bantu .... Tidak usah khawatir ...." jawab Anik yang tentu siap sedia. Memang Anik itu teman SMA yang paling supel dan lincah untuk mengatur teman-temannya.


    "Terima kasih, Anik .... Saya mau mandi dahulu .... Nanti untuk makan malam, saya sudah panggil mi tek-tek. Kalau yang jualan mi tek-tek datang, langsung saja teman-teman diajak makan, milih sesukanya." kata Rini yang juga berpesan untuk makan malamnya.


    "Mi tek-tek kas sini ya, Rin ...?" tanya Anik.


    "Ya .... Tapi pilihannya macam-macam, kok .... Ada nasi gorengnya juga." sahut Rini memberi tahu Anik.


    "Ya, beres .... Sudah, sama kalian mandi dahulu ...." kata Anik yang tentu siap.


    Yudi dan Rini pulang ke rumah. Tentu untuk mandi dan merebahkan tubuhnya sejenak. Dari pagi sampai masuk malam belum istirahat. Tentu di Nirwana Homestay setiap temannya datang, langsung diajak ngobrol. Terus dan terus. Makanya, sebenarnya Yudi dan Rini tubuhnya cukup lelah dan capek. Maka setelah mandi, Rini langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Orang Kampung Nirwana menyebut dengan istilah "ngeluk boyok".


    Gantian Yudi yang mandi. Walau dibilang sebagai laki-laki perkasa, tetapi kenyataannya Yudi juga merasa kelelahan saat menemani teman-temannya ngobrol seharian di Nirwana Homestay. Maka setelah ganti pakaian, Yudi menyusul istrinya yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur. Inginnya hanya sekadar merebahkan badan sejenak. Namun ternyata, dua orang itu sudah mendengkur, tertidur pulas.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …! Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!”berkali-kali HP Rini derdering.


    Rini geragaban mendengar bunyi panggilan di HP. Sontak ia bangun dari kasur dan mengambil HP-nya yang ditaruh di meja kerja Yudi. Namun belum sempat diangkat, panggilan itu sudah berhenti.


    Rini melihat jam di meja itu, sudah pukul sebelas malam.


    "Ya ampun ...!!" Rini kaget. ia sudah tidur cukup lama. Ia memerhatikan Yudi, yang ternyata tadi juga tertidur di sisinya. Rini tidak sadar hal itu. Bahkan Rini juga tidak tahu kapan Yudi naik ke atas tempat tidur. Berarti dua orang itu sudah tertidur sangat pulas. Pasti karena kelelahan.


    Lantas Rini mengambil HP, membuka panggilan-panggilan yang ada di HP-nya. Ternyata sudah sangat banyak panggilan yang muncul di HP-nya. Ada panggilan dari Anik, Handoyo, bahkan Handoko.


    "Yudi .... Bangun sebentar ...." Rini mencoba membangunkan suaminya.


    Yudi menggeliat, lantas membuka matanya.


    "Ada apa, Rin ...?" tanya Yudi.


    "Kita perlu menengok teman-teman ke Nirwana Homestay, apa tidak?" tanya Rini meminta pertimbangan.

__ADS_1


    "Jam berapa ini?" tanya Yudi yang nyawanya belum genap.


    "Jam sebelas lebih ...." sahut Rini yang sudah kembali duduk di samping suaminya.


    "Uuhh .... Capek, Sayang .... Sekalian besok pagi saja, ya ...." kata Yudi sambil memeluk pantat istrinya yang duduk di dekatnya.


    "Ya, sudah .... Kalau begitu kita tidur lagi." kata Rini yang langsung menyelonjorkan tubuhnya di depan Yudi.


    Pasti, Yudi yang didesak oleh istrinya, tidak mau beralih. Tetapi malah sengaja memasang tangannya yang pas pada lekukan bagian tubuh Rini. Dan tangan itu saat tertindih tidak diam saja, melainkan justru jemari tangan Yudi bergerak seperti mau memainkan gitar.


    "Katanya mau tidur ...." kata Rini yang tentu menggoda suaminya.


    "iya ...." sahut Yudi yang ogah-ogahan.


    "Tidur kok tangannya gerayangan tidak bisa diam ...." kata Rini lagi menegur Yudi.


    "Hehe .... Enak, kok ...." sahut Yudi yang malah seperti diperintah oleh Rini untuk main-main.


    "Mau ...?" tanya Rini yang sudah memepet kepala Yudi dengan dadanya.


    "Hehe ...." tentu Yudi tidak bakal menolak saat ditawari yang enak-enak.


*******


    Pagi itu, di Nirwana Homestay sudah siap sepuluh mobil wisata antik, VW kuno, yang akan mengantarkan teman-teman Yudi dan Rini ke Taman Awang-awang. Warna-warni mobil menambah semaraknya suasana. Tentu para alumni teman Yudi dan Rini akan merasa senang dengan arak-arakan mobil antik ini.


    "Ayo teman-teman ...!! Kita berangkat ...!!" Anik berteriak memanggil teman-temannya agar segera siap berangkat.


    "Iya ..., siap ...!!!" sahut teman-temannya yang langsung pada keluar dari penginapan.


    "Wao .... Luar biasa ...." suami atau istri teman-teman Yudi yang belum pernah ke Kampung Nirwana tentu heran dan kagum menyaksikan barisan mobil-mobil wisata yang antik tersebut.


    Tentu para tamu teman-teman Yudi dan Rini ini berdandan seperti layaknya mau kondangan. Ada yang mengenakan baju batik, ada yang memakai gaun indah. Yang jelas mereka berdandan bagus dan cantik. Terutama yang wanita, mereka berdandan cantik-cantik. Dan tentu suasananya senang dan gembira.


    "Sudah siap semua, ya ...?!" tanya Anik yang memimpin.


    "Sudah ...!!" sahut teman-temannya.


    "Pak Sopir ..., ayo berangkat ...!" kata Anik memberi aba-aba.


    Sepuluh mobil antik penuh warna warni itu berbaris beriringan, melaju dari Nirwana Homestay, menuju puncak bukit ke Taman Awang-awang. Tentu suasananya sangat meriah. Semua penumpang beramai-ramai tertawa dan bergembira. Tidak ketinggalan, HP mereka terus menerus memotret suasana itu. Lantas di posting ke WA grup Alumni. Ada sekitar dua puluh lima orang yang ikut ramai-ramai memeriahkan acara bersama Yudi.


    Tidak begitu lama, hanya sekitar sepuluh menit, itu pun mobil-mobil wisata berjalan lamban. Mereka sudah sampai di puncak bukit, masuk halaman Taman Awang-awang.


    "Bapak Ibu ..., kita Sudah sampai di Taman Awang-awang. Untuk sarapan pagi, silakan masuk ke Food Hall, sudah disiapkan menu untuk sarapan pagi." kata salah seorang sopir wisata yang memberi tahu kepada para tamu Yudi. Tentu sopir ini sudah dipesan oleh Bagas yang mengatur acaranya.


    "Iya, Pak Sopir .... Terima kasih ...." sahut para tamu.


    "Bapak Ibu, jika nanti acara sudah selesai, kami akan menjemput kembali di sini. Nanti kita bisa melanjutkan wisata ke Taman Anggrek Nirwana. Ibu Bapak bisa belanja anggrek yang bagus-bagus." kata Sang Sopir itu lagi.


    "Ada taman anggrek ...?! Ya ..., ya .... Nanti kita mampir ke sana." sahut orang-orang itu.


    Lantas para tamu masuk ke Food Hall. Di pintu masuk, mereka sudah disambut oleh para pelayan, langsung ditunjukkan tempat yang disediakan khusus untuk tamu Rini dan Yudi. Mereka pun duduk seperti yang telah diatur oleh para pelayan di Food Hall tersebut.


    Menu sudah disediakan. Para pelayan langsung mempersilakan tamu-tamu itu untuk menikmati hidangan sarapan pagi yang sudah disediakan. Tentu suasananya ramai dan meriah.


    "Lhah, Yudi sama Rini mana ...?!" tanya beberapa teman yang tentu tengak-tengok mencari Yudi.


    Bagas yang ada di tempat itu langsung menjawab, "Mas Yudi dan Ibu Rini sudah berada di ruang pertemuan. Bapak Ibu setelah selesai sarapan pagi, langsung berpindah ke ruang pertemuan yang ada di Gedung Minka, di bangunan yang berbentuk rumah adat Jepangm berada di sisi utara dari Gedung Piramid."


    "Oo ..., ya .... Siap ...." sahut para tamu yang segera mempercepat makan pagi.

__ADS_1


    Benar .... Di Gedung Minka, bangunan dengan arsitek Jepang tersebut, Yudi dan Rini sudah menunggu. Suasana ruang pertemuan itu tertutup dengan jendela-jendela persis layaknya rumah adat tradisional di Jepang. Namun ruangan itu cukup luas dan sangat menarik. Dahulu pernah dipakai pertemuan Empat Sekawan saat menyidang Rini dan Yudi. Kini dipakai untuk memeriahkan pertemuan dengan teman-teman alumninya, tetapi Rini dan Yudi sudah terikat oleh pernikahan. Rini dan Yudi sudah menjadi suami istri.


    "Halo ..., Yudi .... Halo ..., Rini .... Wah ..., wah ..., wah .... Payah kalian berdua ini ...." kata dokter Handoyo yang langsung menuduh Yudi dan Rini sebagai teman yang payah. Tentu semalam ditelepon tidak diangkat.


    "Kok Payah ...??!" sahut Rini menanggapi kata-kata dokter Handoyo.


    "Ini ..., yang namanya teman makan teman ...." kata Jojon dengan wajah lucu, langsung menuding Yudi dan Rini.


    "Tidak makan teman, ya .... Ini saling tolong menolong .... Memenuhi kebutuhan." kata Rini yang tidak mau dituduh makan teman.


    "Yang makan teman siapa?" tanya yang lain.


    "Yudi ...!!!" kompak teman-temannya menjawab.


    "Aku nggak makan, kok .... Cuman menjilat sedikit .... Hehe ...." sahut Yudi sambil nyengenges.


    "Ih, ternyata Yudi sekarang pandai bergurau .... Pasti yang ngajari Rini." Anik menyahut.


    "Tidak, ya .... Itu dilatih sama dokter Handoyo ...." kata Rini langsung menuduh.


    "Lhoh, kok aku dikambing hitamkan ...?!" dokter Handoyo protes.


    "Hahaha .... Nggak usah diajari ..., aslinya Yudi sama Rini itu sudah lebih pandai dari kita-kita ...!" sahut yang lain.


    "Kok bisa ...?!" tanya Yudi yang tentu ingin membantah.


    "Ya, iya ..., lah .... Yudi sudah kawin dua kali .... Rini sudah punya suami dua kali .... Nah, kan ...! Lebih berpengalaman siapa, coba ...?!!" tentu Jojon blak-blakan membuka kartu Yudi dan Rini.


    "Waah ..., parah ini ...." kata yang lain lagi.


    "Sebentar .... Saya mau tanya .... Dahulu, sebelum Yudi menikah, kan yang posting foto bersama Yudi itu si Yayuk ..., kenapa sekarang malah ditubruk Rini ...?!" kata salah seorang teman lagi.


    Tentu Yayuk langsung gelagapan. Pipinya langsung memerah. Malu kalah sama Rini.


    "Habis, Yayuk kelamaan .... Begitu suaminku meninggal, ngapain nunggu lama-lama .... Sebelum diterkam Yayuk, mendingan saya tubruk duluan .... Hahaha ...." kata Rini sambil tertawa yang juga ikut-ikutan menggoda Yayuk.


    "Yudi, sih .... Jadi duda nggak ngomong-ngomong. Coba aku tahu, pasti duluan aku yang dapatin Yudi ...." bantah Yayuk yang tentunya juga agak kecewa, karena Yudi diambil duluan oleh Rini.


    "Kalau aku jadi Yudi ..., pasti dua-duanya saya ambil jadi istri .... Hahaha ...." Jojon meledek lagi.


    "Ya, aku gak mau, lah ..., Jon .... Memangnya aku mau dimadu ...?! Nggak, lah yao ...." sahut Rini yang langsung emosi.


    "Aku juga nggak mau ...." sahut Yayuk.


    "Aku juga tidak akan menikahi dua wanita sekaligus." sahut Yudi tiba-tiba.


    "Halah ..., Yudi sok alim .... Hahaha ...." sahut salah seorang teman.


    "Kalau aku ..., jangankan dua .... Tiga sekaligus juga mau ...." Jojon lagi-lagi meledek.


    "Apa kuat ...?!" teman-teman perempuannya meledek ganti.


    "Rini ..., kamu kok mau to, dapat Yudi?" ada teman yang coba menanya.


    "Habis ..., gak ada laki-laki lain yang mau sama aku, sih ...." jawab Rini santai, mulai enjoi dengan godaan teman-temannya.


    "Sudah ..., sudah .... Sekarang saatnya kita senang-senang. Ayo siapa yang mau nyanyi ...?! Silakan tampil .... Mumpung kita kumpul bersama ..., kita harus hepi ...." kata Yudi yang langsung meminta player organ tunggal memainkan musiknya. Sengaja Yudi memesan pemain organ tunggal untuk memberi hiburan teman-temannya.


    "Asyiiik .... Ayo nyanyi-nyanyi ...!!" Jojon langsung memegang mic, untuk bernyanyi.


    Mereka pun bahagia bersama. Menyanyi bersama. Berjoget bersama. Penuh kemesraan dan sangat menyenangkan. Lagu demi lagu terus dilantunkan. Ada lagi gembira, ada juga yang nyanyi lagu sedih. Tetapi yang pasti, semuanya tetap bergoyang. Tentu, Yudi dan Rini ikut bergembira menyaksikan teman-temannya yang bersenang-senang. Meski terkadang gojekan-gojekan mereka juga menyakitkan. Tetapi meski jengkel, mereka tetap senang-senang saja.

__ADS_1


__ADS_2