KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 244: CEMBURU ITU PASTI ADA


__ADS_3

    Yudi duduk berdua bersama Rini, berada di atas gedung Louvre Museum. Di museum itu lukisan anaknya "RARE FLOWER BLACK ORCHID" sudah terpasang. Mereka berdua duduk di taman Musée du Louvre, sambil menyaksikan keindahan bangunan piramida kaca yang menjadi ikonik dari museum tersebut. Museum yang indah dengan arsitektur modern, dengan bangunan unik berupa piramida yang terbuat dari susunan kaca yang dirancang oleh arsitek legendaris IM Pei, yang dibangun pada tahun 1985, merupakan pekerja pertama di museum ini. Piramida kaca ini dibuat untuk menyerap sinar matahari, sehingga mampu menerangi ruangan bagian dalam museum tersebut. Dari bangunan arsitektur itu, Pei dianugerahi Pritzker Prize, sebuah hadiah karya arsitek terbaik. Karya Pei dinyatakan sebagai karya arsitektur dengan bentuk interior dan eksterior paling indah pada abad itu. Dari penghargaan tersebut, Pei menerima hadiah sebesar seratus ribu dolar Amerika. Namun, Pei tidak menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi, tetapi uang itu ia berikan sebagai beasiswa bagi anak-anak.


    Yudi menceritakan kebaikan IM Pei itu kepada istrinya, bahwa ternyata masih ada orang baik di muka bumi ini. Kehebatan arsitektur Pei tidak dijual murahan, tetapi justru harga yang mahal itu ia bagi-bagikan kepada anak-anak yang tidak mampu sekolah, sebagai beasiswa.


    "Rini ..., ada satu hal yang saat ini menjadi penyumbat aliran darah yang menuju jantungku." kata Yudi kepada Rini.


    "Kenapa, Yud ...? Adakah sesuatu yang bisa saya bantu?" tanya Rini pada suaminya.


    "Apakah Rini kemarin melihat lukisan anak dari Jepang itu?" tanya Yudi pada istrinya.


    "Iya, sepintas saja .... Tapi saya kan tidak paham tentang lukisan, Yud ...." jawab Rini, yang tentu mengaku tidak paham dengan lukisan.


    "Rini .... Lukisan anakmu dengan lukisan anak dari Jepang itu hampir sama, Yuni melukis dirinya dari bayangannya yang ada di cermin, sedang anak Jepang itu melukis Yuni hanya sepintas melihat Yuni. Tetapi, corak dan gaya lukisannya benar-benar sama. Mereka sama-sama pelukis naturalis. Gaya mereka semuanya sama." kata Yudi yang mulai menyamakan antara Yuni dan anak laki-laki dari Jepang itu.


    "Terus ...?" Rini tentu ingin tahu apa yang dimaksud oleh Yudi.


    "Sayangnya, anak itu hanya mengandalkan bakat alaminya. Kalau Yuni sedikit banyak sudah berkumpul dengan teman-teman seniman, tentu perkembangan Yuni lebih matang." kata Yudi lagi.


    Selanjutnya Yudi terdiam. Ingin menyampaikan sesuatu, tetapi terasa sangat berat. Bahkan hanya bergemuruh dalam dada. Takut jika Rini tidak bisa menerima apa yang akan dikatakan.


    "Kenapa diam, Sayang .... Katakanlah ..., aku tahu arah pembicaraanmu, Yudi .... Katakan saja, aku bisa menerimanya." kata Rini yang justru khawatir dengan suaminya.


    "Benarkah?" tanya Yudi ingin meyakinkan.


    Rini memeluk tubuh suaminya, ia ingin meyakinkan jika dirinya tetap sayang pada suaminya itu.


    "Dahulu aku pernah menyakitimu, saat kamu butuh diriku. Aku tidak akan menyakitimu lagi, Sayang ...." kata Rini yang semakin erat memeluk suaminya.


    "Rini ..., aku justru khawatir akan menyakitimu ...." kata Yudi sambil mengelus rambut Rini yang terburai oleh angin Kota Paris.

__ADS_1


    "Aku tidak percaya .... Yudi itu orang baik ..., tidak bakal menyakiti orang lain, apalagi menyakiti istrinya. Bahkan dengan cacing saja dirimu menaruh belas kasihan ...., apa lagi dengan manusia." kata Rini yang masih penuh manja.


    "Sayang ..., tapi ini lain ...." kata Yudi, yang tentu masih meragukan istrinya.


    "Tidak apa-apa, Sayang .... Aku lebih percaya sama kamu, Yudi .... Apapun yang akan kamu lakukan." kata Rini.


    "Kenapa?" tanya Yudi.


    "Karena Yudi adalah orang hebat yang sangat baik. Jangankan untuk istri, untuk masyarakat di Kampung Nirwana saja Yudi rela berkorban tanpa pamrih .... Jadi ..., tidak ada yang perlu saya ragukan lagi, Sayang ...." tutur Rini sambil mencolek hidung Yudi.


    Sayang mereka berdua sudah tua, sehingga hanya ciuman Yudi saja yang menempel di pipi Rini. Jika mereka masih muda, atau saat bulan madu, pasti akan terjadi hal yang lebih dahsyat.


    "Sayang ..., sebenarnya aku curiga dengan anak laki-laki dari Jepang itu." kata Yudi pada Rini.


    "Aku juga curiga, Sayang ...." sahut Rini.


    "Apa yang kamu curigai, Sayang ...?" tanya Yudi.


    "Kok ...?!" Yudi terbengong.


    "Aku tahu ..., pasti Papah menduga kalau anak Jepang itu pasti darah daging Papah ...." kata Rini yang tentu agak beda raut mukanya.


    "Mamah mulai cemburu ...." kata Yudi yang mulai ragu dengan kata-kata istrinya tadi.


    "Semoga saya bisa menerima kenyataan, Pah .... Saya tahu, dahulu kala Papah pulang dari Jepang, saya sudah berpikir Yuna pasti masih hidup, walau Papah tidak bisa menemukannya. Jika memang iya, apa Papah akan membiarkannya demi aku?" kata Rini yang mencoba menutupi rasa cemburunya.


    "Sebenarnya, awal saya melihat anak Jepang itu tidak berfikir tentang Yuna. Tetapi saya justru kasihan dengan anak itu, manakala anak seusia Yuni datang sendiri ke Prancis jauh-jauh dari Jepang. Sementara Yuni, kita antar berdua. Sangat jauh berbeda. Saat anak itu mengatakan tidak tahu orang tuanya, bahkan ia hanya tinggal dan dirawat di kuil, saya jadi teringat, bagaimana kehidupan di kuil. Kita tidak bisa melihat enak dan indahnya dunia. Saya kasihan dengan anak itu. Padahal anak ini mempunyai bakat yang luar biasa. Bahkan saya mengakui kalah dengan keahlian melukis anak ini. Bayangkan saja, baru sekali dan sepintas bertemu Yuni, ia sanggup melukis Yuni secara sempurna. Padahal dia hanya menggunakan peralatan dari panitia. Sayang anak ini tidak terfasilitasi seperti Yuni." kata Yudi yang tentu ingin memberikan pengertian kepada istrinya.


    "Iya ..., saya tahu, kok ...." kata Rini yang tanpa memandang suaminya, meski tangannya masih memeluk lengan Yudi.

__ADS_1


    "Mamah ..., kalau pun anak itu bukan anaknya Yuna, dia tidak punya siapa-siapa .... Apakah tidak selayaknya kalau kita menolong dia?" kata Yudi lagi-lagi memberi pengertian pada istrinya.


    "Pah ..., sayangnya Papah tidak punya perasaan yang sensitif seperti perempuan. Jika perasaan Papah sensitif seperti hati wanita, pasti Papah akan berkata lain ...." kata Rini yang juga ingin suaminya memahami dirinya.


    "Jika demikian, katakanlah ..., apa yang mestinya saya lakukan?" pinta Yudi agar Rini bisa memberi contoh.


    "Tidak, Pah .... Lakukan saja yang menurut Papah itu baik, dan yang benar .... Saya percaya dengan setiap keputusanmu ...." kata Rini yang pasrah dengan kenyataan dan apa yang akan terjadi padanya.


    "Sayang ..., tiga puluh tahun lamanya hatiku memendam cinta padamu. Aku kuat dan sanggup menjalani. Namun saat ketemu denganmu, dirimu justru memintaku untuk menikah. Dan kala itu, kamu bersama anak-anakmu, bahkan suamimu, memintaku untuk menikah dengan Yuna. Akhirnya saya berusaha menerima kenyataan, kalau diriku tidak mungkin memilikimu, dan yang pasti aku tidak mau merusak keluargamu. Saya menikah dengan Yuna. Itu sudah terjadi. Namun hidupku kembali frustrasi, manakala kami masih pengantin baru, Yuna diculik kelompok radikal. Dan saya tidak sanggup menyelamatkannya. Bahkan kedutaan juga tidak berani. Saya juga dicari oleh orang-orang yang menculik Yuna. Hingga saya disembunyikan di ruang belakang kuil. Waktu itu saya menderita. Enam bulan lamanya, hingga ada orang yang menolong saya bisa keluar dari Jepang dan kembali ke Jogja. Dan dalam penderitaanku itu, kamu hadir di hatiku kembali. Saya berterima kasih padamu, Sayang .... Tapi jika benar, anak itu adalah anak Yuna, berarti dia adalah anakku, Sayang ...." tanpa terasa, Yudi meneteskan air mata.


    Dan secara tidak sengaja, tetesan air mata Yudi jatuh di pipi Rini yang merebahkan kepalanya di bahu Yudi. Rini langsung terjingkat saat terkena tetesan air mata suaminya. Ia langsung mengusap air mata suaminya dengan jemari tangannya. Rini pun ikut menangis mendengar kesedihan suaminya.


    "Jangan menangis, Sayang ...." kata Rini, yang dirinya sendiri juga ikut menangis.


    Yudi memeluk istrinya. Sementara Rini sudah membenamkan kepalanya di dada Yudi. Dua orang enam puluh tahun itu, yang bisa disebut sebagai kakek nenek, saling berpelukan untuk melepas kesedihannya.


    "Yudi ..., jika Memang Yuna masih ada, aku mohon jangan tinggalkan diriku dan anakku ...." rintih Rini dalam isak tangisnya.


    Yudi menarik napas panjang, lantas katanya, "Yuni itu buah hatiku .... Rini adalah wanita yang sudah melahirkan anakku. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan orang-orang yang aku cintai? Saya tidak mungkin meninggalkan kalian, Sayang ...." kata Yudi membisik di telinga Rini.


    "Tapi ..., bagaimana dengan Yuna?" tanya Rini yang tentu akan merasa tersaing oleh wanita yang sejak pertama ketemu seakan sudah menjadi rival.


    "Sayang .... Bagaimana saya bisa menjawab ...? Ini semua belum jelas ...." kata Yudi, lagi-lagi bingung menghadapi sikap Rini.


   Rini kembali bersungut. Pasti mulai resah dengan kekhawatirannya. Itu dirasakan Yudi, karena sengal napas Rini yang mulai memburu. Demikian juga detak jantungnya, yang semakin cepat. Suhu tubuh Rini pun mulai meningkat, ditandai dengan keluarnya keringat.


    "Kenapa kamu selalu cemburu, Sayang ...?" tanya Yudi pada istrinya.


    Rini diam tidak menjawab. Hanya napasnya yang menghembus keras hingga mengeluarkan *******.

__ADS_1


    "Kita ini sudah tua .... Umur kita sudah enam puluh tahun. Anak kita sudah gede semua. Apa lagi yang dicemburukan?" kata Yudi yang tentu ingin menenangkan istrinya.


    "Pah ..., cemburu itu pasti ada dalam hati setiap wanita .... Tapi untuk kali ini, saya tidak harus cemburu. Apalah artinya cemburu, jika orang yang dicemburui itu orang yang baik." kata Rini yang semakin kuat memeluk suaminya, tanda tidak ingin ditinggalkan Yudi.


__ADS_2