KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 105: KEMBALI MEMBANGUN KAMPUNG


__ADS_3

    "Mas Yudi ..., ini ada surat dari kantor sapeyan. Berkali-kali dikirimi surat. Yang ngatarkan pegawai kantor katanya. Orangnya agak klowor. Setiap kali ngirim ke rumah ini, kan tutupan, pasti berteriak-teriak. Kayak orang urakan gitu .... Nih, ada tiga surat." Kata Bagas yang menyampaikan surat-surat dari kantor Yudi, setelah selesai mengantarkan tamu-tamu dari Jepang ke Bandara.


    "Sini duduk dahulu ..., baru bicara. Jangan ngomong sambil berdiri seperti itu. Kurang sopan." kata Yudi yang menyuruh Bagas untuk duduk di tempat makan.


    "Hehe .... Iya, Mas .... Maaf tergesa. Saking semangatnya .... Hehe ...." Bagas tersenyum nyengenges, tahu teguran Yudi sudah mengingatkan dirinya untuk berlaku sopan saat bicara dengan orang lain.


    "Sini duduk. Minum dahulu agar tenggorokannya tidak gatal. Ini ada kue, roti, dimakan dahulu untuk mengisi perut yang kosong." kata Yudi yang menawarkan minuman dan kue kepada Bagas.


    "Iya, Mas ..., terima kasih, Mas." Bagas langsung mengambil sepotong roti dan minum es sirup.


    "Enak, kan ...?" kata Yudi menggoda Bagas.


    "Enak, Mas ...." sahut Bagas.


    "Nah ..., begitu. Jangan datang-datang langsung teriak-teriak. Kayak anak kecil." kata Yudi lagi.


    "Hehe .... Maaf, Mas Yudi. Eh, iya ..., kabarnya Mbak Yuna bagaimana, Mas?" tanya Bagas pada Yudi.


    "Mbak Yuna di Jepang .... Tidak boleh balik ke Jogja." Jawab Yudi santai. Pasti agar Bagas tenang.


    "Lhah .... La terus, nanti bagaimana?" tanya Bagas yang tentu penasaran.


    "Besok ya dipikir besok ...." sahut Yudi yang tetap santai.


    "Mas Yudi tidak tinggal di Jepang saja? Nemani Mbak Yuna." kata Bagas.

__ADS_1


    "Kalau saya di Jepang terus, mau makan apa? Di sana harga-harga mahal, Gas ...." jawab Yudi.


    "Lah, tamu-tamu kemarin itu siapa, Mas Yudi?" tanya Bagas lagi.


    "Orang-orang Kyoto, dekat dengan apartemen Mbak Yuna. Mereka minta tolong diantar ke Gua Jepang untuk ziarah. Kalau saya mau ngantar, saya dibayari tiket pesawatnya. Lumayan bisa pulang gratis." jawab Yudi yang tentu sangat dipercaya oleh Bagas.


    "Wah ..., enak dong, Mas. Dia pasti orang kaya. Tadi waktu saya ngantar ke bandara, saya juga dikasih uang kok, Mas .... Ini uangnya, uang Jepang, Mas Yudi ...." kata Bagas sambil menunjukkan uang pemberian dari tuan muda mestinya.


    "Halah .... Lha kok malah kamu yang dikasih uang ...." sahut Yudi yang pura-pura iri.


    "Lumayan, Mas Yudi .... Ini, saya diberi sepuluh lembar uang Jepang. Hehehe ...." Bagas langsung memamerkan uang pemberian tamu-tamu yang diantarnya.


    "Mana surat-suratku ...?!" tanya Yudi sambil meminta surat yang dibawa Bagas.


    "Hehe .... Ini Mas, katanya Mas Yudi diberhentikan dari pegawai." kata Bagas sambil memnyerahkan tiga amplop surat.


    Ya, Yudi sudah diberhentikan sebagai pegawai pemerintah. Tidak apa-apa, memang harus seperti itu nasibnya. Yang penting sekarang ini Yudi bisa balik ke Indonesia saja sudah sangat senang. Mengingat kata-kata mertuanya kalau dirinya juga dalam bahaya. Apalagi saat berada di kuil, Yudi sampai tidak boleh ketemu orang lain. Para pendeta benar-benar menjaga kerahasiaannya. Walau akhirnya setelah cukup lama di kuil dia bisa melukis dan mengajari anak-anak untuk belajar menggambar. Yudi bersyukur ada orang kaya yang baik hati, yang bisa mengajak dirinya kembali ke Jogja.


    "Gimana, Mas?" tanya Bagas setelah Yudi selesai membaca semua surat-suratnya.


    "Ya ..., saya sudah diberhentikan dari kepegawaian. Memang harus seperti itu, karena saya memang tidak berangkat kerja sampai enam bulan." jawab Yudi.


    "Berarti Mas Yudi sudah tidak kerja lagi?" tanya Bagas.


    "Itu artinya saya disuruh fokus mengelola wisata di Kampung Nirwana, Gas .... Biar lebih fokus." sahut Yudi menenangkan gejolak pikiran Bagas. Maklum, di kampung tempat tinggal Bagas, yang namanya pegawai negeri ibarat kata seperti ningrat, seperti jabatan yang paling hebat. Walaupun sebenarnya gajinya kalah dengan pedagang dan pengusaha. Tetapi yang namanya pegawai negeri, sangat dihormati dan disegani. Makanya kalau ada apa-apa di kampung, pegawai negeri menjadi orang yang selalu dimintai pendapat dan nasehat.

__ADS_1


    "Betul juga, Mas Yudi .... Selama ditinggal Mas Yudi, masyarakat pada cuek dengan berbagai masalah di Kampung Nirwana. Bahkan Pak Lurah juga jarang menengok Taman Awang-awang. Malahan beberapa bulan yang lalu, Pak Lurah menjual tanah saudaranya itu, katanya untuk beli angkutan desa, agar keponakannya itu bisa kerja ngompreng. Ya, tanahknya yang dibeli oleh Ibu Rini itu, yang sekarang jadi Taman Anggrek Nirwana. Waktu itu bilang sama Ibu Rini katanya jalanyang menuju rencana pasar itu akan dibangun, namun kenyataannya sampai sekarang belum direalisasi. Sampai yang ke batas rencana bangunan pasar itu, Ibu Rini sendiri yang membangun." cerita Bagas yang tentu akan senang jika Mas Yudi akan menata lebih baik lagi obyek-obyek wisata yang ada di Kampung Nirwana.


    "Makanya, jangan sedih kalau saya diberhentikan dari pegawai negeri. Tidak masalah, Gas .... Bahkan sebelum ada surat ini, ketika saya di Jepang, sebenarnya saya sudah berniat berhenti menjadi pegawai. Makanya saat saya di Jepang, saya tidak khawatir dengan surat yang pasti akan datang diberikan ke saya." jelas Yudi pada Bagas.


    "Apa tidak enak di Jepang saja, Mas? Kan di sana uangnya lebih mahal." tanya Bagas yang jelas membayangkan kalau kerja di Jepang bayarannya lebih banyak.


    "Lah, saya kan sudah tua .... Sudah tidak laku cari kerja, sudah tidak produktif. Saya di sana cuman bisa melukis. Kalau lukisan saya laku, baru dapat uang. Kalau lukisan saya tidak laku ..., saya tidak bisa makan. Tidak punya uang. Makanya, sampai pulang ke Indonesia saja saya diongkosi oleh tamu-tamu kemarin itu." kata Yudi memberi pengertian kepada Bagas.


    "Iya, ya Mas .... Saya hanya membayangkan yang enak saja. Ternyata kerja di Jepang juga ada aturannya." sahut Bagas setelah paham dengan penjelasan Yudi.


    "Makanya ..., jangan hanya melihat orang lain yang uangnya banyak .... Tapi lihat kerjanya bagaimana agar dapat uang banyak itu, pasti kerjanya mati-matian." tambah Yudi memberi pengertian pada Bagas.


    "Iya, Mas Yudi .... Terus rencananya Mas Yudi nanti bagaiana?" tanya Bagas.


    "Saya mau menemui Pak Lurah dahulu .... Saya mau coba untuk menanyakan pembangunan Pasar Rakyat. Karena kalau Pasar Rakyat itu sudah dibangun, setidaknya warga Kampung Nirwana ini bisa bertambah baik perekonomiannya. Karena kunci ekonomi adalah pasar. Apa artinya bisa membuat kalau tidak bisa menjual. Begitu juga untuk memutar uang, harus ada jual beli, sarananya tentu butuh pasar. Dan jika Pasar Rakyat itu sudah dibangun, Kampung Nirwana semakin hidup, semakin ramai, dan semakin makmur." jelas Yudi kepada Bagas.


    "Betul, Mas Yudi .... Memang Pak Lurah itu sebenarnya gak bisa mikir. Kalau tidak Mas Yudi, siapa lagi yang bisa membangun kampung kita ini, Mas ...." kata Bagas yang mulai membombong Yudi.


    "Bukan saya .... Semua itu tergantung masyarakatnya. Kalau rakyatnya mau maju, ada yang menggerakkan, didukung oleh pejabatnya, pasti cepat berkembang dan maju. Tapi walaupun pimpinannya hebat, kalau rakyatnya menolak ..., pasti juga tidak akan jalan. Jadi, ya semua harus bekerja sama, saling mendukung." jelas Yudi lagi.


    "Betul, Mas Yudi .... Tapi di Kampung Nirwana, warga masih lebih percaya kepada Mas Yudi daripada Pak Lurah." sahut Bagas.


    "Ya sudah .... Sekarang kamu antar saya menemui Pak Lurah. Sekalian kamu ikut berembuk, biar nanti paham." kata Yudi mengajak Bagas menemui Pak Lurah.


    "Iya, Mas Yudi .... Siap ...." sahut Bagas yang langsung beranjak ke mobil.

__ADS_1


    Yudi bersama Bagas menemui Pak Lurah di Kantor Kepala Desa Kampung Nirwana. Siang itu terjadi diskusi yang sangat ramai. Tentu karena Pak Lurah yang kangen dengan Yudi karena enam bulan tidak ketemu. Demikian juga para pegawai kelurahan yang ikut nimbrung ingin mendengarkan cerita Yudi dari negeri matahari terbit tersebut. Hingga waktu terlupakan, mereka asyik saling tanya dan saling ingin tahu, hingga sore datang tak terasa.


    Namun satu hal, setelah menerima pemaparan gagasan Yudi tentang pembangunan Pasar Rakyat tersebut, akhirnya terjadi kesepakatan. Pasar Rakyat Kampung Nirwana diserahkan kepada Yudi.


__ADS_2