KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 162: CERITA LAIN


__ADS_3

    Rini masih setia menunggui suaminya di rumah sakit, yang masih tergeletak di ruang ICU. Tentu karena sangat khawatir dengan kondisi sakit yang dialami oleh suaminya yang sangat parah. Bahkan sampai tiga hari Hamdan masih belum sadarkan diri. Itu berarti luka dan sakit yang dialami oleh Hamdan sudah sangat terlalu parah. Walau capai, letih dan dan lelah, tapi demi cintanya kepada suaminya, demi rasa sayangnya kepada Hamdan, Rini tidak mau pulang.


    Setiap pagi, pada jam besuk, Mak Mun mengantarkan makan dan salin ganti pakaian untuk Rini. Tentu Mak Mun juga sedih melihat majikannya yang terlihat sayu di ruang penjaga pasien yang ada di ICU. Apalagi Mak Mun tahu, alhir-akhir ini majikan perempuannya itu mudah sakit dan sering keluar masuk rumah sakit. Bahkan terakhir kali, Rini pingsan di kamarnya, dan harus digotong Mang Udel untuk dibawa ke rumah sakit. Tentu Mak Mun merasa kasihan melihat Rini yang selalu mengalami cobaan terus menerus.


    Setiap sore, sepulang kerja, gantian Silvy yang datang ke rumah sakit, menjenguk bapaknya, dan tentu yang terpenting menemani dan menghibur ibunya. Terkadang Silvy membawakan rujak, untuk memberikan yang segar-segar kepada ibunya. Terkadang pula membawakan makanan yang dipesan oleh ibunya. Silvy menemani ibunya hingga suaminya yang pulang kerja datang menjemput.


    Siang itu, tidak hanya Mak Mun yang datang menemani Rini. Mas Jo, sopir perusahaan yang dahulu biasa mengantar jemput Hamdan, bahkan sering diajak keluarga Hamdan untuk mengantarkan bepergian ke luar kota, siang itu datang ke rumah sakit, untuk menjenguk mantan bosnya.


    "Selamat siang, Ibu Rini ...." sapa Mas Jo yang baru saja masuk ke ruang jaga pasien dan menemui Rini.


    "Eee ..., Mas Jo ...." sahut Rini yang langsung menyalami Mas Jo.


    "Mak Mun .... Gimana kabarnya?" sapa Mas Jo pada Mak Mun.


    "Walah, Mas Jo .... Baik, Mas .... Kok lama tidak kelihatan, Mas Jo?" kata Mak Mun yang dahulu setiap pagi pasti membuatkan sarapan dan kopi kepada Mas Jo.


    Ya, bagaimanapun juga, Mas Jo sudah sangat dekat dengan keluarga Hamdan. Apalagi dengan Rini, yang sering memberi oleh-oleh, dan tentu juga uang tambahan kalau diajak bepergian. Dan yang paling terkesan tentu Mak Mun, yang setiap pagi menyuguhi kopi dan sarapan pagi. Mas Jo sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Hamdan. Bahkan kalau ada keperluan di luar kantor, Mas Jo juga sering dimintai tolong untuk membantu. Apalagi saat Silvy masih kecil, belum bisa apa-apa, Mas Jo yang selalu mengantar ke mana-mana. Maka ketika Mas Jo mendengar kabar tentang kondisi Hamdan yang berada di rumah sakit, ia langsung menjenguk.


    "Bagaimana kabarnya Bapak Hamdan, Ibu ...?" tanya Mas Jo kepada Rini.


    "Huk ..., huk ..., huk .... Mas Jo ...." Rini menangis. Tentu sangat sulit untuk bilang kepada Mas Jo, terkait kondisi suaminya.


    "Yang sabar, Ibu ...." kata Mas Jo menenangkan Rini.


    "Iya, Mas Jo .... Mas Jo tahu dari siapa?" tanya Rini pada Mas Jo.


    "Maaf, Ibu ..., di kantor sudah ramai beritanya. Awalnya kami tidak percaya, tapi setelah ada berita Mbak Lina ditangkap Polisi, kami baru yakin kalau Bapak masuk rumah sakit. Terus kondisinya Bapak sekarang bagaimana, Bu?" kata Mas Jo yang kemudian menanyakan keadaan mantan bosnya.

__ADS_1


    "Bapak masih belum sadar, Mas Jo .... Itu, di dalam ..., masih tergeletak seperti itu, belum bergerak sama sekali." kata Rini yang mengajak Mas Jo melihat kondisi Hamdan dari jendela kaca. Memang meskipun sudah tiga hari di rumah sakit, Hamdan belum boleh di besuk. Hanya Rini saja yang boleh masuk untuk menunggui. Itu pun hanya beberapa menit saja, kalau pas dipanggil oleh perawat atau dokter.


    Mas Jo melihat mantan bosnya yang terbaring di bed rumah sakit itu dari balik jendela kaca. Tentu dengan rasa haru, saat melihat tubuh Hamdan yang tak berdaya. Tentu lebih seram saat melihat layar monitor yang menunjukkan aktivitas organ jantung, sebagai tanda bahwa Hamdan masih hidup. Dan tentu dengan rasa yang sangat khawatir.


    "Kok sampai parah seperti itu ya, Bu ...?" kata Mas Jo.


    "Saya tidak tahu, Mas Jo .... Waktu itu, hari Sabtu saya dan anak-anak ke Jogja ada acara resepsi. Bapak sudah diajak, saya mengajak, Mas Yayan juga mengajak, malah Silvy memaksa ..., tetapi Bapak tidak mau. Dia menolak. Rupanya dia sudah punya rencana yang tidak baik. Dan Tuhan rupanya tidak meridloi apa yang dilakukan Bapak.  Tuhan menunjukkan kesalahan Bapak. Waktu kami sampai di rumah, Bapak sudah dibawa ke rumah sakit." kisah Rini.


    "Saya ikut prihatin, Ibu Rini ...." kata Mas Jo, yag tentu ikut bersedih.


    "Lha, iya .... Kok bisa begini ini bagaimana to, Mas Jo ...?!" keluh Rini.


    "Maaf, Ibu Rini .... Saya benar-benar tidak tahu. Selama saya ikut Bapak, terus terang saya tidak pernah tahu kalau Bapak dekat dengan Mbak Lina. Dan di kantor, saya tidak pernah komunikasi dengan Mbak Lina. Cuman setelah peristiwa yang dibicarakan oleh orang-orang kantor, saya baru tahu yang namanya Mbak Lina itu, yang ternyata dekat dengan Bapak. Dan itu ternyata, orang-orang di kantor langsung pada maju ke direksi, Bu. Ya ..., semacam demo, gitu .... Soalnya, perusahaan ditegur oleh pihak yang dari Jerman, katanya pekerjaan di sana tidak beres. Makanya, para pejabat di perusahaan langsung memberi catatan merah." tutur Mas Jo.


    "Memangnya Mbak Lina itu siapa sih, Mas Jo ...?" tanya Rini yang tentu ingin tahu latar belakang Lina.


    "Kok katanya hamil dengan Bapak apa benar?" tanya Rini lagi.


    "Walah ..., paling-paling itu cuman karangan cerita Mbak Lina saja, Bu .... Orang dahulu juga pernah dekat dengan Mas Aryo, dia juga bilang begitu .... Tapi kenyataannya kan tidak hamil." kata Mas Jo.


    "Mas Aryo siapa?" tanya Rini.


    "Sudah lama, Bu .... Mas Aryo itu dulu pegawai bagian teknisi, sempat berpacaran dengan Mbak Lina beberapa saat. Tapi begitu Mbak Lina bilang hamil, minta tanggung jawab pada Mas Aryo, eee ..., Mas Aryo nya malah keluar dari perusahaan, melarikan diri dari Mbak Lina, tidak mau ketemu lagi dengan Mbak Lina." Kata Mas Jo yang menceritakan kisah Mbak Lina dan Mas Aryo.


    "Lha, terus ...?" tanya Rini yang penasaran.


    "Ya gagal, Bu .... Gak jadi nikah .... Orang Mas Aryo saja menghilang ke mana tidak tahu. Katanya, Mas Aryo ketakutan sama Mbak Lina, karena dikejar-kejar terus." kata Bagas.

__ADS_1


    "Lha, terus ..., setelah ditinggal Mas Aryo bagaimana?" tanya Rini lagi.


    "Setelah itu, tidak ada orang kantor yang mendekat. Tapi menurut cerita teman-teman, ada laki-laki, ya semacam om-om begitu, yang bersama dia. Terus, itu yang ngasih apartemen ya, om-om itu. Makanya, Mbak Lina uangnya banyak, pakaiannya bagus-bagus, makan-makan di restoran. Uang tinggal minta kok, Bu ...." cerita Mas Jo.


    "Lha kok bisa dekat dengan Bapak?" tanya Rini pada Mas Jo.


    "Lha itu, Bu .... Katanya, om-om yang dekat dengan Mbak Lina itu mulai menjauh. Pasti uangnya mulai berkurang, dan apartemennya mungkin juga akan ditarik balik. Tentu Mbak harus mencari tambahan lain. Setidaknya bisa dapat uang lagi, Bu .... Kan gaya hidup Mbak Lina itu kayak orang kaya ..., jadi duitnya harus banyak." kata Mas Jo.


    "Jadi, perempuan itu ..., lepas dari satu laki-laki, terus mencari ganti laki-laki lain, begitu?" tanya Rini yang tentu juga curiga.


    "Ya ..., kan cari uang, Bu .... Siapa yang mau memberi, ya dia terima." kilah Mas Jo.


    "Lhah, kok yang menjadi sasaran Bapak?" tanya Rini lagi.


    "Mungkin ada kesempatan, Bu .... Begitu lihat Bapak banyak uang, pasti Mbak Lina langsung mencoba mendekati. Kebetulan Bapak mau .... Mungkin lhoh, Bu ...." kata Mas Jo yang mengira-ira.


    "Ah, kamu itu sukanya ngarang ...." sahut Rini.


    "Hehe ...." Mas Jo nyengenges.


    "Lhah, kok ..., sampai Bapak juga dipecat dari perusahaan .... Padahal pensiunnya saja hanya kurang dua bulan." kilah Rini.


    "Wah, kalau itu saya tidak tahu, Bu .... Tapi menurut cerita orang-orang kantor, karena Bapak waktu di Jerman pekerjaannya tidak beres. Sedangkan Mbak Lina meng-upload foto-foto mesra bersama Bapak, dan itu mencemarkan nama perusahaan. Makanya, Bapak dan Mbak Lina, keduanya langsung dipecat. Perusahaan tidak mau berisiko. Padahal teman-teman kasihan sama Bapak. Bapak sudah dibela mati-matian, teman-teman sudah banyak memberi masukan, karena hanya tinggal dua bulan pensiun. Tapi alasan perusahaan, Bapak sudah menghancurkan hubungan perusahaan dengan klien." jelas Mas Jo.


    "Oo ..., begitu, ya .... Aah .... Mas Jo ...." Rini pasrah. Harapannya tinggal menunggui suaminya, agar ada kekuasaan dari Tuhan, suaminya bisa sadar lagi.


    Ya, nasi sudah menjadi bubur. Cerita sudah terjadi dan berlalu. Jika saja peristiwa bisa diputar ulang, cerita bisa dipilih menjadi menjadi legenda yang lebih indah dan menarik. Sayangnya, orang lebih percaya dengan takdir.

__ADS_1


__ADS_2