KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 119: GOOD IS NOBLE


__ADS_3

    Betapa riangnya hati Yuna bisa selamat dari jatuh di lembah jurang, serta terdampar di batu karang. Dan kini ketika ia sudah menginjakkan kaki di hamparan pasir putih, Yuna berjingkrak kian kemari, seakan menari merayakan keselamatannya.


    "Yuna ..., coba diam sejenak." kata Yudi menyuruh Yuna untuk diam.


    "Ada apa, Yudi?" tanya Yuna yang lantas mendekat ke Yudi yang terdiam di atas pasir.


    "Coba diam ..., dan pasang telinga ...." kata Yudi yang lantas membuka telinganya bersama Yuna. Tentu untuk mendengarkan sesuatu.


    "Iya, Yudi .... Saya mendengar ada suara, walau samar-samar. Mungkin karena jauh." kata Yuna yang sudah mendengar ada suara orang.


    "Iya .... Itu suara anak-anak bermain. Arahnya ada di sebelah sana, Yuna ...." kata Yudi sambil menunjuk ke arah daratan.


    "Iya, betul. Itu suara anak-anak yang sedang bermain." kata Yuna yang sudah jelas mendengar suara itu.


    "Yuna ..., cobalah maju ke arah daratan ..., berteriaklah sekeras mungkin, untuk minta tolong. Mudah-mudahan ada orang yang mendengar suaramu, lantas mereka akan datang kemari." Yudi menyuruh Yuna untuk berteriak minta tolong.


    Yuna menuruti kata-kata Yudi. Ia berlari menuju daratan, menjauhi pantai. Tentu ke arah suara anak-anak yang ramai bermain. Lantas Yuna berteriak keras.


    "Tolooong ...!!! Tolooong ...!!! Tolooong ...!!!" teriakan itu sangat keras.


    Namun sesaat Yuna diam, suara ramai dari anak-anak justru menghilang. Tidak terdengar lagi.


    "Yuna ...! Sekarang teriak lagi ...! Lebih keras!" Yudi berteriak menyuruh Yuna untuk berteriak lagi.


    "Tolooooong ...!!! Tolooooong ...!!! Tolooooong ...!!!" Yuna berteriak lebih keras.


    Dan tiba-tiba, Yuna terkejut. Ada banyak orang berlarian ke arahnya.


    "Di sana ...!"


    "Di situ ...!"


    "Ayo cari ...!"


    Ya, orang-orang kampung berdatangan mencari orang yang berteriak minta tolong.


    Yuna berlari menuju ke arah Yudi. Tentu masih berteriak minta tolong.


    "Yudi ..., mereka pada berdatangan. Itu mereka, Yudi .... Banyak sekali ...." kata Yuna yang sudah sampai di tempat Yudi yang masih bertengkurap di pasir pantai.


    Tentu Yudi lebih memilih tengkurap di pasir, karena sekujur punggungnya terluka parah. Dan tengkurap itu adalah posisi yang paling nyaman baginya. Tidak terlalu terasa menyakitkan.


    Beberapa orang sudah sampai di tempat Yudi merebahkan diri. Rata-rata laki-laki. Mereka orang-orang dengan pakaian sederhana, sesederhana hatinya. Yang tentunya, mereka adalah orang se kampung. Terlihat dari model pakaiannya yang hampir sama. Yang orang tua, banyak yang mengenakan kain sarung, dan juga pakai peci. Sedangkan anak-anak yang ikut mendatangi Yudi dan Yuna, adalah anak-anak kampung dengan pakaian sangat sederhana. Mengenakan pakaian seadanya.


    "Ada apa ini ...?" tanya salah satu orang yang berdiri di hadapan Yuna. Mungkin orang ini yang menjadi tetua di kampung mereka.


    "Tolong kami, Pak .... Kami terjatuh dari tebing dan masuk ke jurang, di puncak bukit Kampung Nirwana. Tubuh kami luka parah, Pak .... Aduuuh ...." rintih Yudi yang kesakitan.

__ADS_1


    "Kami naik rakit ini untuk menyelamatkan diri. Dan kami terdampar di sini. Mohon tolong kami." kata Yuna yang ikut memberitahu, dan tentu langsung menangis.


    "Waduh .... Iya, punggungnya luka parah." kata salah seorang yang mulai jongkok mengamati Yudi.


    "Walah ..., darahnya masih mengalir ...." sahut yang lain yang juga ikut mengamati.


    "Kalau begitu ayo dibantu, kita papah, kita bawa ke tempat yang lebih aman." kata orang yang pertama kali menanyai Yudi dan Yuna.


    "Maaf, Bapak .... Suami saya kakinya juga terluka, belum bisa dipakai jalan ...." kata Yuna ikut memberi tahu.


    "Lah, terus bagaimana ...?!" tanya salah seorang yang sudah berusaha mengangkat Yudi.


    "Kita gotong saja ...!"


    "Ya, kita gotong. Ini ada kayu .... Pakai kayu ini." sahut yang lain, yang sudah mengambil batang kayu yang tadi dipakai oleh Yuna dan Yudi untuk mengendalikan rakit batang pisang yang mereka tumpangi.


    "Caranya bagaimana?"


    "Kalau bapai tambang bisa."


    "Maaf, Bapak, jika tidak keberatan, mohon saya dimasukkan ke dalam sarung, nanti sarungnya yang digotong pakai kayu ini." Yudi mencoba usul.


    "Iya, bisa .... Tapi sarungnya siapa? Sarung siapa yang bisa dipakai menggotong?!" kata orang yang seakan pemimpin itu.


    "Jangan sarung saya ..., saya tidak pakai celana." sahut salah seorang yang hanya mengenakan sarung dan telanjang dada.


    "Ya sudah, pakai punya saya saja." kata salah seorang yang langsung membuka sarungnya. Kini orang itu tinggal mengenakan celana kolor pendek saja.


    "Punya saya juga boleh." sahut yang lain.


    Akhirnya dua buah sarung dijadikan satu. Yudi dimasukkan ke dalam sarung itu, tidur tengkurap dengan kepala berada di luar sarung. Lantas dua batang kayu di masukkan ke lubang sarung yang sudah ada tubuh Yudi. Dua orang menggotong Yudi yang terbujur di dalam sarung. Suara riuh ramai dari anak-anak dan orang-orang yang menolong, mewarnai jalannya penggotongan tubuh Yudi.


    Yuna ikut mendampingi di pinggir kepala Yudi yang berada di luar sarung.


    "Dibawa ke mana, ini?" tanya yang memikul.


    "Ke rumah Pak RT saja." jawab yang lain.


    "Apa langsung diangkut pickup, terus bablas ke rumah sakit?" ada yang lain usul.


    "Ke rumah sakit saja." Yuna langsung menjawab, tentu agar bisa mendapat perawatan medis.


    "Ya, ke rumah sakit saja." sahut yang lain.


    "Kalau begitu, pickup-nya Pak RW langsung dikeluarkan, bawa ke jalan agar cepat." sahut orang yang layak jadi sesepuh kampung itu.


    "Oke ..., siaap ...!" sahut seorang pemuda yang langsung berlari. Tentu akan ke rumah Pak RW untuk mengambil mobil pickup atau mobil bak terbuka yang dimaksud.

__ADS_1


    Hanya sebentar mereka menggotong tubuh Yudi dalam sarung, sudah sampai di jalan. Tubuh Yudi langsung dinaikkan ke bak mobil terbuka itu, tentu sambil dipangku oleh Yuna yang sudah naik lebih dulu. Sarung yang digunakan untuk menggotong Yudi, tetap diselimutkan menutupi badan yang tidak mengenakan baju itu.


    Dua orang laki-laki yang tadi memikul Yudi, ikut naik ke dalam bak mobil itu, ikut membantu menjaga dan memegangi Yudi. Sedangkan di depan, ada pemuda yang tadi berlari mengambil mobil, dan satu lagi yaitu laki-laki bertubuh gagah, yang menjadi sesepuh di kampung tadi. Awalnya, Yuna yang diminta untuk duduk di depan, tetapi Yuna lebih memilih memangku Yudi di bak belakang.


    Mobil bak bukaan itu pun melaju cepat menuju rumah sakit. Mengantarkan Yudi agar mendapatkan perawatan sebaik mungkin.


    Senja telah berlalu. Hari mulai gelap. Mobil pickup yang membawa Yudi masuk di pelataran Rumah Sakit Umum Daerah Saptosari. Sopir langsung menghentikan mobilnya di depan pintu instalasi gawat darurat. Dua orang yang ikut di bak belakang, langsung meloncat turun. Terus mengambil bed pasien yang bisa didorong, mendekatkan ke bak belakang. Lantas dua orang itu naik ke bak belakang lagi, dan membantu menurunkan Yudi dari bak mobil.


    Setelah Yudi diangkat, Yuna langsung turun, membantu menurunkan Yudi ke atas bed. Demikian juga laki-laki yang tadi duduk di depan mendampingi sopir, ikut membantu mengangkat tubuh Yudi.


    Yudi yang ditengkurapkan di atas bed pasien, menurut saja. Lantas bed pasien itu didorong masuk ke ruang IGD. Yuna ikut mendorong.


    Namun sebelum masuk ke pemeriksaan, Yudi membisiki Yuna, "Yuna, tolong mintakan kertas sama pulpen pada perawat." kata Yudi meminta tolong Yuna.


    Yuna paham apa yang dimaksud. Pasti Yudi akan menulis pesan untuk orang-orang yang sudah membantunya tersebut. Lantas Yuna meminta beberapa lembar kertas kepada perawat yang ada di ruang itu, serta meminjam pulpen. Segera Yuna menyerahkan kertas dan pulpen itu kepada Yudi.


    "Ini, Sayang .... Ada yang bisa saya bantu untuk menulis?" kata Yuna.


    "Biar saya tulis sendiri. Tolong panggilkan orang yang besar itu, akan saya beri pesan agar disampaikan ke Bagas dan Pak Lurah." kata Yudi yang langsung menulis sambil tengkurap di bed pasien.


    Laki-laki yang dianggap mumpuni itu, sudah mendekat ke Yudi. Yuna sudah menyampaikan kalau Yudi akan menitipkan pesan. Meminta tolong agar keluarga Yudi tidak ribut mencari.


    "Bagaimana, Mas?" tanya laki-laki gagah itu.


    "Begini, Pak .... Saat kami terjatuh ke jurang, keluarga kami belum ada yang tahu. Pasti mereka mencari dan mengkhawatirkan saya. HP saya hilang saat tercebur. HP istri saya juga hilang. Kami tidak bisa menghubungi mereka. Saya mohon bantuan Bapak ..., sekali lagi saya mohon bantuan, sudilah Bapak menolong kami untuk menyampaikan pesan ini kepada keluarga saya. Soal ongkos, nanti semua akan saya ganti. Bapak jangan khawatir. Kami janji. Kalau Bapak tidak percaya, ini di saku celana ada dompet saya, tapi pasti uangnya basah. Yuna ..., tolong ambilkan dompet saya ...." kata Yudi pada laki-laki yang sudah menolongnya itu, sambil memberikan kertas yang berisi catatan pesan.


    Dan tentu,Yuna yang diminta untuk mengambilkan dompet, langsung merogoh saku celana Yudi. Mengambil dompet Yudi yang basah karena tercebur ke laut bersama pemiliknya.


    "Tentu kami akan menolong. Jangan khawatir, Mas ..., kita ikhlas. Tidak usah bingung. Yang penting alamat keluarga sampeyan yang bisa saya hubungi." kata laki-laki itu.


    "Terima kasih, Pak .... Tidak usah malam ini. Hari sudah gelap, kasihan keluarga Bapak. Besok pagi saja, Bapak berangkat. Kertas yang ini, ada nama saya, nama orang yang bisa Bapak temui, di Kampung Nirwana, daerah Bantul. Sedangkan di kertas yang saya lipat, ada pesan saya, mohon disampaikan kepada orang yang bernama Bagas. Jika Bapak ke Kampung Nirwana, berhenti saja di lapangan parkir yang terdapat mobil-mobil wisata, langsung bilang kepada para sopir di sana, sampaikan jika Bapak mau bertemu Bagas atau Pak Lurah. Minta tolong diantar mereka, bilang saja yang menyuruh Mas Yudi. Gampang, Pak." jelas Yudi pada orang itu.


    "Iya, Mas .... Akan secepatnya saya bantu untuk menyampaikan pesan ini." jawab laki-laki gagah tersebut.


    "Maaf, Pak .... Ini ada uang untuk beli bensin. Tetapi mohon maaf, uangnya basah." kata Yudi yang memberikan beberapa lembar uang kepada laki-laki itu.


    "Wah, malah merepotkan. Terima kasih ya, Mas ...." kata laki-laki itu, yang menerima pemberian uang dari Yudi.


    "Saya yang berterima kasih sudah ditolong. Oh, njih, Pak ..., untuk sarungnya mohon disampaikan kepada yang punya, besok kalau saya sudah sehat akan saya ganti." kata Yudi yang ingat masih mengenakan sarung orang.


    "Walah, iya ..., iya .... Nanti akan saya sampaikan. Maturnuwun." kata laki-laki yang sudah menolong Yudi, lantas ia berpamitan pulang.


    Perawat rumah sakit langsung memeriksa Yudi. Ada dokter yang juga memeriksa. Berkali-kali dokter itu tanya tentang kecelakaan yang dialami Yudi. Tentu dokter maupun perawat merasa terheran, mendengar cerita Yudi yang bisa selamat saat tercebur ke jurang dan diterjang ombak Laut Selatan. Melihat lukanya yang sangat parah, pasti sangat sakit rasanya. Tetapi Yudi hidup, itu hanya laki-laki kuat saja bisa bertahan. Bahkan saat mendengar kisahnya naik rakit dari batang pisang yang diikat, sungguh sebuah keajaiban yang tidak bisa dibayangkan.


    "Anda benar-benar beruntung." kata dokter itu.


    Yuna bernapas lega. Yuna sudah menemukan orang-orang baik. Semua yang ia temui adalah orang-orang baik. Sudah dibantu oleh masyarakat yang sangat baik, yang sudah menemukan dirinya terdampar di pantai. Sudah dibantu diantar ke rumah sakit. Yudi sudah dirawat oleh tim medis yang baik. Mendapatkan layanan yang baik pula. Bahkan mendapatkan kemudahan. Hari itu Yuna sudah dibantu oleh banyak orang. Yuna sudah menemukan orang-orang baik. Yang Maha Kuasa sudah mendengar doanya, menyelamatkan Yudi dan Yuna.

__ADS_1


__ADS_2