KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 147: PERSIAPAN NIKAH


__ADS_3

    Kebenaran ditolak para tukang dari Kampung Karang, Yudi sudah hilang semua beban. Sudah tidak memikirkan orang-orang di Kampung Karang lagi, bahkan sudah tidak terbeban untuk memajukan masyarakatnya. Kini, pikirannya sudah lepas dan bebas.


    Pagi itu, Pak Lurah Kampung Nirwana menemui Yudi dan Yuna, di rumah Yudi, duduk di pendopo bersama.


    "Mas Yudi ..., ini sudah lewat pertengahan September. Awal Oktober hanya tinggal dua minggu lagi. Saya hanya ingin memastikan, bagaimana rencana pesta pernikahan Mas Yudi dengan Mbak Yuna?" tanya Pak Lurah yang semakin penasaran dengan rencana pesta pernikahan Yudi.


    "Lho ..., kan Pak Lurah yang jadi ketua panitia .... Yang punya ide pesta itu kan Pak Lurah .... Lha kalau saya, dari dahulu kan penginnya sederhana saja ..., saya ini perjaka tua yang dapat perawan tua ..., tidak ramai-ramai juga tidak apa-apa. Yang penting para tetangga dan sanak saudara ikut menyaksikan." jawab Yudi.


    "Lha, tapi ..., warga maunya ada ramai-ramai. Katanya sebagai ungkapan kegembiraan Mas Yudi mau menikah." sahut Pak Lurah.


    "Ramai-ramai yang dikehendaki warga itu seperti apa, Pak?" tanya Yudi.


    "Yaaa ..., ada hiburannya, begitu ...." kata Pak Lurah yang menyampaikan keinginan warga.


    "Lha iya ..., hiburannya itu apa?" tanya Yudi lagi.


    "Yudi ..., Pak Lurah ..., bagaimana kalau kesenian-kesenian tradisional yang ada di sini, itu kita tampilkan? Saya ingin menyaksikan kesenian tradisional di sini." kata Yuna yang usul.


    "Lhah ..., ini dia .... Kompornya meletup." sahut Yudi yang mendengar kata-kata calon istrinya.


    "Nah, betul itu, Mbak Yuna .... Maksudnya para warga seperti itu. Kita menanggap semua kesenian tradisional yang perlu dilestarikan." timpal Pak Lurah.


    "Tapi untuk menanggap semua kesenian tradisional itu, biayanya mahal, Pak Lurah. Coba Pak Lurah hitung, untuk menanggap wayang kulit dalang Warseno Sleng saja biayanya sudah mencapai lima puluh juta. Untuk menanggap wayang orang dari Sriwedari saja biayanya sudah lima puluh juta. Belum lagi untuk menanggap kethoprak, jathilan, reog .... Walah .... Berapa itu biayanya, Pak Lurah ...?!" kata Yudi yang tentu sayang kalau pesta nikah hanya buang-buang uang.


    "Iya, ya Mas Yudi .... Ternyata banyak juga, ya ...." Pak Lurah baru nyadar kalau biaya menanggap kesenian tradisional itu memang butuh biaya yang besar.


    "Eman-eman duitnya, Pak Lurah .... Mending untuk nyumbang bagi masyarakat yang membutuhkan, lebih bermanfaat dan bisa meringankan beban orang lain." kata Yudi yang ingin berlogika.


    "Lhah, kalau semua orang berprinsip seperti Mas Yudi ..., nasib kesenian kita tidak ada yang nanggap, Mas Yudi .... Lha nanti kalau sudah di klaim menjadi kesenian milik bangsa lain, kita baru kobongan brengos." kata Pak Lurah.


    "Itu urusan pemerintah .... Harusnya melestarikan kebudayaan itu tanggung jawab pemerintah. Jadi kalau ada kebudayaan kita yang diklaim oleh bangsa lain, itu yang salah pemerintah, kenapa pemerintah tidak ngurusi kebudayaannya. Coba Pak Lurah lihat di televisi, yang katanya media paling berpengaruh pada masyarakat, ada nggak siaran-siaran kebudayaan atau kesenian tradisional? Televisi lebih senang nyetel acara gombreng-gombreng, acara-acara yang tidak mutu, acara-acara yang tidak mendidik, acara yang membodohkan masyarakat, gojekan yang tidak karuan busuknya, bahkan acara yang menjelek-jelekkan orang lain. Kayak gitu kok pemerintah memberikan izin penyiaran .... Lha mbok, yang disiarkan itu wayang kulit, wayang golek, kethoprak, kesenian-kesenian daerah, lagu-lagu daerah .... kan lebih mengenalkan kebudayaan bangsa kepada anak-anak. Jadi anak-anak kita bisa kenal kebudayaan Indonesia dari Sabang sampai Merauke." kata Yudi yang iseng mengkritik.


    "Iya, ya Mas Yudi .... Acara TV kayak begitu, kok pemerintah tidak peka, ya .... Apa nilai positifnya, mana didikan untuk masyarakat, mana budaya bangsanya .... Nanti kalau anak-anak tidak kenal budayanya, yang disalahkan gurunya, katanya tidak mengajarkan budaya. Padahal televisi sebagai media sosial paling dekat dengan masyarakat saja malah ngajari yang tidak karuan." sahut Pak Lurah yang ikut-ikutan mengkritik.


    "Sudah .... Jangan ngritik pemerintah .... Tidak baik." kata Yudi mengingatkan kritikannya dan Pak Lurah.

__ADS_1


    "Kita tidak boleh ngritik, ya Mas .... Hehe ...." kata Pak Lurah yang langsung nyengenges.


    "Lhah, terus ..., kesenian yang mau disuruh pentas, apa?" tanya Yuna.


    "Iya, Mas Yudi .... Sebaiknya kita milih kesenian apa untuk acara hiburan nanti?" timpal Pak Lurah.


    "Yang paling banyak diminati masyarakat Kampung Nirwana .... Yang penting masyarakat senang." Kata Yudi.


    "Iya, Mas Yudi .... Nanti akan saya sampaikan ke warga, biar warga yang menentukan hiburannya." kata Pak Lurah.


    "Monggo, silakan ...." kata Yudi.


    "Yang penting ada kuda lumping yang bisa makan beling .... Haha ...." pesan Yuna.


    "Waah ..., boleh juga, Mbak Yuna .... Ya, nanti ada kuda lumping makan beling ..., gadis kulitnya mulus kuning, bikin tidak eling .... Hehehe ...." seloroh Pak Lurah.


    "Pak Lurah itu, lho .... Ada-ada saja ...." sahut Yudi.


    "Eh, iya Mas Yudi ..., nanti undangannya siapa saja ...? Maksud saya tamu yang diundang ...?" tanya Pak Lurah.


    "Yudi ..., kamu tidak undang Rini? Dia sudah berbaik menjodohkan kita ...." Yuna mengingatkan Yudi pada Rini.


    Yudi terdiam. Ragu untuk menjawab. Antara ya dan tidak. Apakah kehadiran Rini bisa diterima oleh Yuna. Bahkan Yudi juga khawatir, kalau kehadiran Rini justru akan mengganggu pesta pernikahannya. Maklum, Yudi paham persis, bahwa Rini masih mencintai dirinya. Dan dalam hati Yudi pun, masih ada sebersit cinta yang tidak mungkin bisa dihilangkan begitu saja.


    "Bagaimana, Yudi ..., Rini kamu undang apa tidak?" tanya Yuna yang mengagetkan lamunan Yudi.


    "Yuna ..., kalau Rini kita undang, nanti yang datang tidak hanya Rini dan keluarganya, tetapi pasti Rini akan cerita kepada teman-teman SMA yang lain, dan mereka semua akan berdatangan ...." kata Yudi yang berdalih, kalau Rini diundang maka tamu akan lebih banyak yang datang.


    "Justru bagus .... Kan lebih ramai ...." jawab Yuna di luar dugaan Yudi.


    Tentu, akhirnya Yudi pasrah, siapa saja yang akan diundang dipersilakan, "Baiklah, kalau begitu." kata Yudi.


    "Nah, begitu kan bagus .... Masak teman akrab, best friend kok akan dilupakan ...." ejek Yuna.


    "Tapi kita harus menyediakan makanan yang cukup, Sayang ...." sahut Yudi.

__ADS_1


    "Tidak usah khawatir .... Kalau sudah rezeki kita, pasti nanti akan ada. Katamu, burung pipit tidak pernah menanam padi di sawah, dia tetap makan. Bukan begitu, Yudi ...?!" kata Yuna.


    "Oke, Yuna .... Terima kasih sudah mengingatkan. Benar, Yuna ..., untuk apa kita hidup menumpuk harta. Sedikit berbagi, bisa menyenangkan orang lain itu lebih baik. Toh kalau kita nanti mati, harta kita juga tidak akan dibawa ...." kata Yudi yang sudah diingatkan kekasihnya.


    "Nah ..., begitu dong .... Saya kan juga kepengin tahu teman-teman Yudi yang lain .... Anggap saja sebagai reuni dengan teman-teman. Terus nanti bagaimana memberikan undangan ke teman-teman Yudi?" kata Yuna lagi.


    "Biar Bagas nanti yang telepon Rini." jawab Yudi.


    "Jadi ..., undangannya ada berapa, Mas Yudi?" tanya Pak Lurah.


    "Teman kantor saya ada sekitar lima puluh, Pak Lurah .... Kalau teman sekolah ada empat puluh." kata Yudi.


    "Hee .... Ada yang lupa lagi .... Pak Profesor dan teman-teman Yudi yang sering kumpul di Taman Budaya .... Itu teman berjuang Yudi, jangan dilupakan ...." kata Yuna mengingatkan lagi.


    "Oh, iya .... Tambah teman-teman seniman dari Jogja, Pak Lurah .... Ada sekitar lima belas orang ...." kata Yudi lagi.


    "Walah ..., cuman segitu banyaknya ..., kecil to, Mas Yudi .... Soto sak dandang saja masih sisa .... Jangan khawatir ...." sahut Pak Lurah yang jadi ketua panitia pernikahan Yudi.


    "Nggih .... Maturnuwun, Pak Lurah .... Tapi jangan lupa ..., nanti barang seminggu sebelum acara, kita harus kumpulan dahulu untuk mematangkan acaranya." kata Yudi.


    "Siaaap ...." sahut Pak Lurah.


    "Oh, ya ..., Sayang ..., tolong tamu yang dari Jepang didata, siapa saja ..., terus jangan lupa pesanan tiketnya. Pastikan keluarga Yuna bisa ikut menyaksikan pernikahan kita." kata Yudi mengingatkan Yuna.


    "Jangan khawathir, Yudi .... Tiket sudah dipesan .... Mereka akan bawa kimono untuk pakaian adat saya." jawab Yuna.


    "Terima kasih, Sayang .... Semoga pernikahan kita bisa berjalan lancar. Terima kasih, Pak Lurah .... Pokoknya saya pasrah pada Pak Lurah .... Tahu saya, acaranya beres." kata Yudi.


    "Siap ..., Mas Yudi .... Kami semua sudah banyak utang budi pada Mas Yudi ..., sudah sepantasnya kami membantu Mas Yudi di acara yang bahagia ini nanti. Kalau begitu, saya mohon pamit, dan nanti saya akan bicarakan dengan warga lain yang terlibat dalam kepanitiaan." kata Pak Lurah yang akan pulang.


    "Maaf, Pak Lurah .... Ini ada uang, tapi hanya sedikit, mohon Pak Lurah bawa, nanti bisa digunakan untuk persekot pesanan-pesanan acara besok." kata Yudi pada Pak Lurah, sambil menyerahkan amplop coklat tebal berisi uang.


    "Oh, nggih ..., Mas Yudi .... Kalau begitu semua pesanan akan saya persekoti dahulu. Terima kasih, Mas Yudi." jawab Pak Lurah sambil menerima amplop.


    Seperginya Pak Lurah, Yudi dan Yuna tersenyum. Penuh harapan, agar acara pernikahannya nanti berjalan lancar dan sukses.

__ADS_1


__ADS_2