
Hingga siang sudah terlewat,Yudi baru keluar dari ruang pejabat konsulat. Bagas yang menunggu di ruang tunggu sampai jenuh. Sangat lama, sendiri tanpa teman. Sampai matanya pedas membaca koran dan majalah yang dibolak-balik. Tentu karena jenuhnya rasa menunggu. Ingin tidur, takut dimarahi, ingin santai juga tidak berani. Ya tentu karena Bagas saat itu menjaga diri dari kesopanan dan tata krama.
Demikian juga Yudi. Saat ia berada di ruang pejabat, dia tidak mau mendikte, atau memaksa kepada pejabat untuk menuruti kehendaknya. Meski Yudi sudah memahami inti pembicaraan yang ada dalam rekaman yang diambil oleh Bagas, Yudi tidak mau memaksakan diri untuk menuntut pencarian istrinya. Setidaknya Yudi paham, bahwa setiap negara memiliki kebijakan dan aturan sendiri-sendiri. Karena kali ini, yang dihadapi adalah negara yang berbeda.
Yudi tentu memaklumi apa yang disampaikan oleh pejabat dari Konsulat Jenderal, yang ada di Kantor Kedutaan Besar Jepang yang ada di Jakarta tersebut. Kalau pihak negara Jepang memberikan perlindungan kepada setiap warganya, maka siapapun orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan kenegaraan, didak boleh ikut mencampuri urusan dalam negeri orang lain. Termasuk Yudi, meski ia adalah suami Yuna yang berkebangsaan Jepang, tetapi Yudi masih warga negara Indonesia. Bukan orang Jepang.
Maka, saat pejabat dari Konsulat Jenderal meminta Yudi bersabar, ia pun pasrah. Saat pejabat itu menyuruh Yudi agar segera berangkat ke Jepang, ia pun berusaha akan segera pergi ke Jepang. Meski harus bersusah payah, Yudi tetap akan berusaha menemui istrinya. Dalam kepasrahan itu, Yudi berjalan lemas, tak berdaya saat keluar ruangan.
"Mas Yudi ...!" teriak Bagas saat melihat Yudi sudah keluar.
Yudi langsung melambaikan tangan kepada Bagas. Tidak ceria. Terlihat sedih. Berarti tidak mendapatkan hasil. Tetapi Yudi tidak terlalu emosi.
"Bagaimana, Mas ..., hasilnya?!" tanya Bagas setelah bersama Yudi.
"Yuk, kita pulang. Kita makan siang di stasiun saja. Belum lapar banget, kan?" kata Yudi pada Bagas, yang terus mengajak Bagas keluar dari kantor kedutaan.
Setelah dua orang itu menyerahkan ID Visitor kepada petugas keamanan, dan Yudi menerima kembali KTP yang menjadi jaminan saat masuk kedutaan, mereka berdua, Yudi dan Bagas langsung keluar ke jalan dan mencegat taksi, naik taksi menuju Stasiun Gambir.
"Stasiun Gambir, Pak ...." kata Yudi saat masuk ke taksi.
"Ya, Pak." jawab sang sopir yang langsung melajukan mobilnya.
Yudi dan Bagas duduk jadi satu di jok belakang. Yudi diam saja. Sedangkan Bagas, melihat kota Jakarta di sepanjang perjalanan.
"Mas Yudi ..., saya sudah lapar." kata Bagas di dalam taksi, sambil memegangi perutnya.
"Sebentar lagi kita sampai di stasiun. Tahan dahulu, masak kayak anak kecil, lapar sedikit tidak tahan. Memalukan." kata Yudi yang mengejek.
"Lhah, masalahnya tadi tidak ada makanan sama sekali, Mas." sahut Bagas yang masih berdalih.
"Ya ..., ini loh, sudah sampai stasiun. Tidak usah masuk parkir, Pak ..., saya mau makan dahulu." kata Yudi.
Taksi yang ditumpangi Yudi dan Bagas sudah sampai di stasiun Gambir. Hanya berhenti di luar, tidak masuk ke parkiran. Sengaja Yudi minta turun di luar, untuk bisa langsung masuk ke warung makan. Dan keduanya, Yudi dan Bagas langsung masuk ke warung makan yang berjajar di pinggir stasiun.
"Ayo, sini ..., makan dahulu, biar tidak pingsan lagi." kata Yudi yang langsung mengajak Bagas duduk di warung makan. Sudah lewat jam makan siang, maka warung sudah tidak ramai. Bahkan warung yang dimasuki Yudi dan Bagas, kosong tidak ada pembeli. Hanya ibu penjual seorang diri.
"Walah, jangan ngisin-ngisinke saya to, Mas ...." sahut Bagas.
"Mau makan apa? Pilih sesuka kamu." kata Yudi yang sambil menunjukkan berbagai menu makanan.
__ADS_1
"Mau makan apa, Mas?" tanya ibu penjual nasi itu.
"Saya minta orek tempe, lauknya rendang ya, Bu. Minumnya teh hangat manis." kata Yudi kepada ibu penjual.
"Ya .... Ditambahi kuah, ndak?" kata sang penjual, tentu sambil meladeni.
"Kasih kuah rendangnya saja." jawab Yudi.
"Dikasih sambal apa tidak?" tanya ibu penjual itu, yang tangannya sudah memegang sendok sambal.
"Jangan, Bu .... Saya tidak suka pedas." jawab Yudi sambil tangannya mencegah ibu penjual mengambil sambal.
"Lhah ..., orang laki kok tidak suka sambal .... Tidak jos ...." ledek ibu penjual nasi, sambil memberikan piring bersisi makanan ke Yudi.
"Terima kasih, Bu ...." kata Yudi yang menerima piring, lantas menikmati hidangannya.
"Ini, Mas-e, mau makan sama apa?" tanya ibu penjual yang sudah mengambil sepiring nasi.
"Dikasih sayur lodeh, Bu .... Ditambahi sambal. Lauknya ayam goreng." jawab Bagas.
"Minumnya apa?" tanya ibu penjual, sambil menyerahkan pesanan Bagas.
"Es sirup." jawab Bagas.
"Tambah lagi, Gas .... Ini nanti perjalanan jauh, jangan sampai kelaparan." kata Yudi menyuruh agar Bagas menambah makannya.
"Iya, Mas ...." sahut Bagas, yang selanjutnya menyodorkan piring yang sudah kosong kepada ibu penjual, "Bu ..., saya tambah separo." begitu kata Bagas yang minta tambah.
"O, iya .... Siap." kata si penjual yang langsung meladeni.
Ya, Bagas memang sangat kelaparan. Apalagi tadi saat di kedutaan, mulutnya tidak kemasukan apa-apa. Maka begitu sekarang ada kesempatan makan, ia ingin makan sampai kenyang.
"Lauknya apa ...? Ayam goreng lagi?" tanya si penjual.
"Telur dadar saja, Bu." jawab Bagas.
Yudi sudah selesai makan. Kini tinggal melihat Bagas yang masih dokoh menikmati makan siangnya. Tentu ada rasa senang menyaksikan Bagas yang makan habis banyak. Setidaknya sudah membuat Bagas senang.
"Wah ..., kenyang, Mas ...." kata Bagas yang sudah menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"Kalau belum kenyang, boleh nambah lagi ...." sahut Yudi yang mencoba mengejek.
"Walah ..., memangnya perut saya karung apa?" jawab Bagas yang merasa diejek.
"Kalau sudah, kita masuk ke stasiun. Ngadem di dalam. Keretanya kan masih agak lama, jadi kita bisa memejamkan mata dahulu." kata Yudi mengajak Bagas masuk ke stasiun.
Setelah membayar semua yang dimakan, selanjutnya Bagas dan Yudi beriringan masuk ke stasiun. Duduk di ruang tunggu. Menunggu kereta yang akan berangkat jam tujuh malam.
"Mas Yudi ..., tadi kok di kedutaan lama sekali, apa sudah tahu dan ketemu?" tanya Bagas yang penasaran.
"Iya, kan harus menyampaikan peristiwanya. Kronologinya bagaimana. Semua harus jelas." jelas Yudi.
"Lhah, kok saya tidak diajak masuk, Mas? Kan saya yang tahu kejadiannya ...." tanya Bagas, yang tentu masih merasa kesal karena menunggu sendirian sampai lama.
"Prosedurnya begitu, Gas .... Tidak boleh sembarangan. Bahkan mau masuk ruangan saja masih diperiksa lagi, seperti waktu di pos keamanan tadi. Kalau memang akan ditanyakan saksi, ya kamu baru dipanggil dan diijinkan masuk. Tetapi tadi, dari pejabat konsulat sudah bisa menerima saya, karena saya sebagai suami Yuna. Itu saja banyak yang dipertanyakan." jelas Yudi pada Bagas.
"Terus ..., sudah ketemu?" tanya Bagas.
"Hhhh ...." Yudi hanya menghembuskan napas kencang, hingga terdengar oleh Bagas.
Bagas tahu artinya. Berarti Mbak Yuna belum ketemu. Bagas pun diam. Tidak berani melanjutkan pertanyaan. Khawatir menusuk perasaan Yudi yang sedang sedih.
Yudi juga terdiam. Bingung akan berkata apa. Faktanya, istrinya belum diketahui keberadaannya. Bahkan yang membawa siapa, pihak kedutaan tidak mau memberi tahu. Itulah yang dibingungkan. Ada apa sebenarnya, kok semacam ada rahasia yang berbahaya bagi negara.
"Bagaimana, Mas? Kita jauh-jauh datang ke Jakarta ini ada hasilnya apa tidak?" tanya Bagas, yang tentu agak emosi.
"Jangan sok menganggap gampang semua masalah .... Tidak semua masalah yang sepele itu mudah untuk dipecahkan. Bahkan justru kadang-kadang yang kelihatannya gampang itu sangat sulit menyelesaikannya." kata Yudi menasehati Bagas.
"Tahu begitu, kemarin orang-orang yang datang itu dibengoki maling, malah digebuki oleh warga .... Beres, Mas ...." kata Bagas yang menganggap enteng masalah penculikan.
Yudi diam tidak menjawab. Percuma menjelaskan kepada Bagas, paling-paling juga tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Maka ia memilih tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Sia-sia kita ke Jakarta, Mas .... Hampa." kata Bagas yang tentunya sangat kecewa.
"Bagas ...." kata Yudi.
"Iya, Mas Yudi ...." Bagas langsung memotong kata-kata Yudi yang belum selesai.
"Saya sudah sampaikan masalah ini ke keduataan. Biarlah mereka yang menangani, kita berdoa agar Mbak Yuna cepat ketemu." kata Yudi meminta agar Bagas sabar.
__ADS_1
"Walah .... Percuma, Mas ...." sahut Bagas yang tentu sangat kecewa.
Ya, hari itu memang sangat mengecewakan bagi Bagas. Demikian juga Yudi, yang sudah kehilangan istri. Jauh-jauh datang ke Jakarta, mengharap bantuan kepada pejabat-pejabat di kedutaan, namun usahanya hampa. Tidak membuahkan hasil.