
Hari Sabtu pagi, Rini bersama anak dan menantunya, berangkat ke Jogja, untuk menghadiri acara pernikahan Yudi. Meski acara resepsinya hari Minggu, tetapi mereka ingin datang lebih awal, dengan harapan bisa ikut membantu persiapan pernikahan sahabat dan papah angkat tersebut.
Hamdan tidak mau ikut. Meski sudah dibujuk berkali-kali oleh Silvy maupun Yayan, dia tetap tidak mau ikut. Alasannya mau menjaga rumah.
Demikian juga Rini, yang berkali-kali merayu suaminya untuk hadir di acara pernikahan Yudi dan Yuna, suaminya itu tetap tidak mau. Bahkan sampai digoda oleh Rini, tetapi tetap tidak mau ikut ke Jogja.
"Papah cemburu, ya ...?!" tanya Rini pada suaminya.
"Enggak .... Ngapain cemburu ...?! Dari segala hal, masih menang saya kalau dibandingkan dengan Yudi ...." jawab suaminya.
"Iya, tahu ..., Papah menang segalanya .... Tapi Papah cemburu, kan ...?!" ledek Rini lagi.
"Sudah ..., sana berangkat .... Keburu siang, jalannya macet." kata Hamdan menyuruh anak dan istrinya untuk segera berangkat.
"Oke lah ..., kalau begitu .... Kami berangkat duluan ya, Pah ...." istri dan anak-anaknya berpamitan, meninggalkan Hamdan.
"Ya ..., hati-hati di jalan .... Jangan lupa nanti kalau sudah sampai Jogja, sekalian tanyakan sertifikat homestay-nya kepada pengembang." kata Hamdan melepas kepergian anak dan istrinya.
Mobil fortuner putih itu pun melaju meninggalkan garasi, menyusuri jalanan Kota Jakarta, lantas masuk tol. Meninggalkan Kota Jakarta, menuju Kota Jogja. Yayan yang menyetir, didampingi istrinya yang duduk di depan. Sedangkan Rini, duduk di jok tengah sendirian. Jok belakang dilipat, ada koper dan kado besar yang ditaruh pada bagasi.
Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan tol trans Jawa, tentu dengan berbagai cerita yang bisa untuk menemani Yayan yang menyetir. Yang pasti diceritakan adalah suami atau ayahnya sendiri.
"Papah itu kok aneh ya, Mah ...." kata Silvy yang masih penasaran dengan sikap ayahnya.
"Aneh bagaimana ...?" tanya suaminya yang tetap melihat jalan. Maklum, menyetir di jalan tol pandangan harus tetap fokus ke jalan.
"Lhah, itu .... Sudah kita kasih tahu banyak hal tentang wanita pelakor itu, sudah kita tunjukin foto-foto, bahkan sudah kita tunjukin kasusnya ..., Papah tetap gak percaya. Malah kita yang kena marah." kata Silvy.
"Iya, ya .... Kok bisa-bisanya Papah kamu itu membela mati-matian wanita itu. Kayak ada yang nggak beres di otak Papah kamu ...." sahut Rini.
"Apa mungkin diguna-guna, ya ...?" Yayan yang menyetir ikut nimbrung.
"Nah ..., betul .... Mungkin saja Papah diguna-guna." timpal Silvy.
"Guna-guna bagaimana?" tanya ibunya.
"Itu, Mah ..., didukunkan .... Pakai guna-guna dari dukun ...." sahut Silvy.
"Ah, apa iya ...?" Rini meragukan.
"Bisa jadi, Mah .... Kalau orang-orang zaman dahulu, biasanya pakai jimat pemikat untuk menggaet orang. Ada yang istilahnya pakai susuk, biar kalau ada laki-laki yang melihat langsung kepencut. Begitu, Mah ...." jelas Yayan.
"Zaman modern gini apa masih ada dukun-dukun kayak gitu ...?" tanya Rini.
"Ya ada, lah ..., Mah .... Kalau gak percaya, nih ..., Silvy bukakan situs-situsnya yang dipasang di internet ...." kata Silvy, yang kemudian membuka HP-nya, menelusuri situs yang dicari.
"Ini, Mah .... Dukun pengasihan ..., siap pasang susuk. Nih ada lagi ..., dukun semar mesem penakluk pria kaya. Yang ini, jimat pengasihan wanita siap menaklukkan pria pujaan. Ini ada lagi, ajian jaran goyang, siap menaklukkan pasangan dalam waktu sekejap. Yang ini lagi, pelet sakti terbukti dalam sekejap. Banyak ini, Mah .... Zaman sekarang tidak ada yang rahasia, Mah .... Terbuka dan fulgar. Makanya si pelakor itu juga blak-blakan pasang status, pasang foto, upload video sesukanya. Yang penting bagi dia, dapat uang, Mah ...." jelas Silvy yang menunjukkan bukti-bukti perdukunan zaman sekarang.
__ADS_1
"Ih ..., ngeri juga, ya .... Jangan-jangan Papah kamu memang kena pelet itu ...." kata Rini yang akhirnya mulai curiga dengan sikap suaminya, yang mungkin terkena pelet.
"Bener, Mah .... Saya yakin. Pasti Papah kena pelet wanita pelakor itu. Lantas, nanti wanita itu akan memeras Papah, meminta uang setiap hari ..., malah bisa jadi nanti minta macam-macam." kata Silvy.
"Minta macam-macam bagaimana?" tanya ibunya.
"Ya ..., bisa jadi minta mobil, minta rumah ..., atau minta dinikah. Kalau sudah begitu, nanti harta warisannya dikuasai. Setelah menguasai harta warisan, terus dia minta cerai. Jadi, harta warisan Papah habis semua dibawa wanita pelakor itu ...." jelas Silvy.
"Iih ..., kok ngeri banget .... Memang bisa begitu?" tanya Rini lagi.
"Ya bisa lah, Mah .... Namanya saja cinta harta, bukan cinta papa ...." jawab Silvy.
"Bener, Mah ..., bisa .... Zaman sekarang, banyak wanita matre yang seperti itu ...." timpal Yayan.
"Benar juga, ya .... Soalnya, teman Mamah juga ada yang begitu." kata Rini.
"Teman Mamah laki-laki apa perempuan?" tanya Silvy.
"Perempuan .... Dia sudah menjanda berkali-kali. Kawin beberapa bulan, terus cerai. Habis gitu, kawin lagi, terus cerai lagi. Dan suaminya itu, rata-rata pejabat ...." cerita Rini pada anak-anaknya.
"Nah, begitu itu, Mah .... Memang modelnya begitu. Yang diincar itu laki-laki berduit. Tentu nanti akan dikuras uang dan hartanya. Kalau sudah kena ..., ya langsung minta cerai .... Kan tujuannya sudah tercapai." sahut Silvy.
"Untung Papah kamu langsung dipecat perusahaan. Kalau masih kerja, pasti akan berlanjut terus, makin bahaya." kata Rini.
"Paling-paling Papah sudah kena itu, Mah ...." sahut Silvy.
"Ya ..., semoga saja Papah cepat sadar, sehingga tidak menjadi korban." kata Yayan.
*******
Sementara itu, Hamdan di rumah, yang sudah berhari-hari disekap oleh istrinya, tidak boleh keluar rumah, serta disita HP-nya, tentu sangat jengkel dan bosan. Maka sepeninggal istri dan anak-anaknya, Hamdan berusaha mencari HP yang disembunyikan oleh istrinya. Hamdan mencari di setiap laci meja rias istrinya. Tidak ketemu. Lantas membuka lemari pakaian. Seluruh pakaian diobrak-abrik keluar. Tetapi HP miliknya juga tidak diketemukan. Bantal dan guling dibuka sarungnya. Kasur diangkat. Belum juga menemukan HP yang disembunyikan oleh istrinya. Seluruh ruang kamar sudah diperiksa, bahkan sampai belakang lemari pakaian, belakang kaca rias, serta lukisan-lukisan Rini yang dipajang sebagai kenang-kenangan dari Yudi, semuanya sudah diobrak-abrik hingga kamar menjadi berserakan. Namun, HP yang menyimpan banyak rahasia tentang dirinya dan wanita yang membuat istrinya marah-marah itu, tidak juga ditemukan.
"Huh ...!!!" Hamdan jengkel.
Hamdan tidak putus asa untuk mencari. Ia masuk ke kamar Silvy, anaknya. Hamdan mencurigai anaknya yang pernah ikut memarahi dirinya, pasti ikut-ikutan menyembunyikan HP miliknya. Maka Hamdan langsung mencari HP itu di dalam kamar Silvy. Seperti halnya pada kamarnya sendiri, Hamdan membuka semua laci meja rias, laci lemari, bahkan laci meja belajar zaman anaknya masih sekolah. Semua laci-laci dalam kamar Silvy sudah dibuka, tetapi HP miliknya yang dicari belum ketemu. Lemari pakaian Silvy tidak luput dari sasaran pencarian. Baju-baju anaknya, milik Silvy maupun Yayan, semua pakaian diadul-adul, diacak-acak, semuanya dikeluarkan dari lemari. HP tidak juga diketemukan. Tentu hal itu membuat Hamdan semakin jengkel.
"Mak Mun ...!!!" Hamdan berterian memanggil Mak Mun.
"Iya, Bapak .... Ada apa ...?" tanya Mak Mun yang langsung menemui majikannya, tentu dengan rasa takut karena Mak Mun melihat kamar Silvy acak-acakan.
"Mak Mun tahu, Ibu menyimpan HP saya di mana ...?!" tanya Hamdan dengan wajah yang menakutkan.
"Tidak tahu, Bapak .... Benar, saya tidak tahu ...." jawab Mak Mun.
"Sekarang bantu nyari HP saya ...!" kata Hamdan memerintah Mak Mun untuk mencarikan HP yang disembunyikan Rini.
"Cari di mana, Bapak ...?!" tanya Mak Mun yang tentu bingung.
__ADS_1
"Pokoknya cari ...!! Di mana saja .... Pokoknya cari ...!!" kata Hamdan membentak.
"Iya, Bapak .... Saya bantu nyari ...." kata Mak Mun yang ketakutan. Lantas ikut-ikutan mencari.
Mak Mun mengintip di setiap tempat, meja dan kursi yang ada di ruang tamu, ruang keluarga maupun ruang makan. Setengah hari mencari, Mak Mun belum juga menemukan.
Demikian juga Hamdan. Ia sudah mencari ke berbagai sudut. Belum juga menemukan HP yang menyimpan rahasianya itu.
"Bapak, mbok coba HP-nya ditelepon ...." usul Mak Mun pada Hamdan.
"Oh, ya .... Kok gak kepikiran, saya ...." sahut Hamdan yang langsung menuju meja tempat telepon rumahnya berada.
Hamdan mengangkat gagang telepon. Lantas menekan nomor telepon HP-nya. HP tidak aktif, tidak bisa dihubungi.
"Mati, Mak ...." kata Hamdan.
"Wealah .... La wong sudah lama tidak dicas, ya pasti baterainya sudah habis to, Bapak ...." jawab Mak Mun.
Masuk akal juga alasan Mak Mun. Hamdan terdiam di meja telepon rumah itu. Tiba-tiba ada sesuatu yang dia ingat. Hamdan akan menelepon seseorang. Lantas ia kembali menekan nomor telepon. Hamdan mencoba menghubungi nomor telepon yang masih diingat dalam memori otaknya.
Ya, Hamdan masih ingat nomor telepon Lina, wanita yang pernah memberikan kenikmatan pada dirinya. Hamdan menghubungi Lina.
"Halo ...." jawab orang yang ditelepon. Suara wanita.
Hamdan merasa senang. Pasti ini Lina, yang sudah mengangkat panggilannya. Ia bergegas menjawab telepon tersebut.
"Halo .... Apakah ini saya bicara dengan Lina?" tanya Hamdan yang menjawab sapaan wanita dalam telepon.
"Iya, betul .... Ini siapa, ya ...? Kok nomornya tidak ada dalam memori HP-ku." jawab si wanita penerima telepon tersebut.
"Lina ..., ini saya .... Hamdan .... Pak Hamdan ...!" Hamdan langsung berteriak keras dalam telepon, begitu tahu orang yang menerima telepeon itu adalah Lina.
"Pak Hamdan ...?! Ya ampun, Pak .... Kenapa lama tidak telepon saya ...? Saya rindu berat, Pak .... Saya kengen ...." jawab wanita dalam telepon itu.
Hamdan langsung tersenyum. Hatinya yang panas kini menjadi sejuk, bagai tersiram es. Hamdan langsung membayangkan wanita yang pernah ia puja, wanita yang pernah menenangkan amarahnya, wanita yang selalu membisikkan kedamaian. Hamdan langsung teringat, betapa Lina pernah menenangkan saat emosinya memuncak, meneduhkan saat ia marah-marah, bahkan Lina bisa dijadikan sebagai tempat pelampiasan kasih sayang yang tidak tersalurkan. Hamdan ingat semua kebaikan Lina. Bahkan angan-angannya langsung melayang, seakan ia bahagia lagi seperti saat bersama Lina, berdua dengan penuh kemesraan.
"Oh, Lina ..., kenapa kamu membiarkan diriku merana ...?" kata Hamdan yang mulai terbius bayang-bayang Lina.
"Merana bagaimana? Pak Hamdan dimarahi istri ...? Pak Hamdan dicaci anak ...?" tanya Lina, si wanita yang sudah membangkitkan semangat tua Hamdan.
"Tidak hanya itu .... Saya juga dipecat dari perusahaan." kata Hamdan mengenas.
"Sama dong, Pak .... Lina juga dipecat ...." jawab wanita itu.
"Dan kini, hidup saya sepi dan merana ...." kata Hamdan.
"Memang Pak Hamdan di rumah sendiri ...? Ditinggal anak istri ...?" tanya si wanita yang dipanggil Lina itu.
__ADS_1
"Iya .... Saya sendirian di rumah, ditinggal anak dan istri ...." jawab Hamdan.