KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 101: KOMITMEN PERSAHABATAN


__ADS_3

    Setelah asyik menyaksikan gemerlapnya langit malam di Taman Awang-awang, puas mengamati bintang yang seakan berada di jendela langit, senang mendengar penjelasan berbagai nama bintang beserta gugusan rasi bintang di jagad raya, kini para keluarga sahabat itu bebas menyaksikan keindahan Taman Awang-awang sesukanya. Mendengar gemuruh ombak Laut Selatan yang seperti konser alam tanpa lelah, menyaksikan gelapnya hutan di lembah hitam yang seakan bagai rumah para hantu, serta merasakan desir angin yang menghembuskan butiran-butiran air laut dari gelombang pasang. Semuanya sangat indah dan mengesankan.


    Maklum, malam itu adalah malam Minggu. Banyak remaja yang asyik menikmati suasana malam panjang dengan kekasihnya. Tentu nantinya, asyiknya bermalam Minggu di Taman Awang-awang ini akan menjadi saingan Pantai Parang Tritis.


    "Bapak, Ibu, Saudara adik-adik semua ..., kali ini kita berada di Taman Awang-awang. Taman ini adalah hasil karya yang maha hebat dari teman kita, sahabat kita, saudara kita, bisa juga disebut papa kita, yaitu Mas Yudi yang dibantu oleh Mis Yuna. Kita doakan semoga kerja sama Mas Yudi dan Mis Yuna tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi kami berharap Mas Yudi dan Mis Yuna bisa menjalin kerja sama dalam membangun rumah tangga." kata dokter Handoyo pada semua yang bergerombol di tangga berundak tersebut.


    "Aamiin ...." serentak yang lain mengaminkan kata-kata dokter Handoyo yang terakhir.


    "Perlu saya sampaikan bahwa kami, dahulu waktu SMA adalah sahabat karib. Kami disebut sebagai Empat Sekawan HARY, yaitu kelompok Handoyo, Alex, Rini dan Yudi. Kami semua anak-anak pintar dan anak-anak rajin. Maka hasilnya, semua menjadi orang yang berhasil, orang yang sukses. Oleh sebab itulah, malam ini, kami berusaha kumpul kembali untuk mengadakan reuni sahabat. Terus terang saya mohon maaf, untuk sementara waktu kami persilakan yang lain menikmati keindahan suasana malam Minggu di Taman Awang-awang. Kami berempat ingin berbincang sementara. Bisa dimaklumi, ya ...." jelas dokter Handoyo.


    "Ya, siap .... Kami bangga dengan Papi, Ayah, Mamah dan Papah. Kami akan berkeliling menyaksikan keindahan Taman Awang-awang. Kami akan senang menikmati malam ini." sahut Hamdan yang tahu maksud dari dokter Handoyo, yaitu ingin menyembuhkan sakit istrinya.


    "Ayo, kita jalan-jalan dulu ...." sahut yang lain.


    Mereka pun mulai jalan-jalan menyaksikan keindahan Taman Awang-awang. Tentu, Yuna yang menjadi rebutan diajak ke sana kemari. Terutama anaknya Alex yang masih SMA, begitu tahu kalau Yuna adalah orang Jepang, tentu ia ingin kenal dan dekat dengan orang Jepang itu. Sama seperti Silvy waktu pertama kenal Yuna. Dan yang lain pun mengikuti. Yuna yang menjadi pimpinan proyek Taman Awang-awang, paham semua yang ada di situ.


    Akhirnya, tujuh orang itu pun berjalan berkeliling bersama, sambil mendengarkan penjelasan dari Yuna yang menjelaskan bagaimana membangun Taman Awang-awang itu, dan tentu menunjukkan obyek-obyek yang sudah dia bangun. Terutama, Yuna menjelaskan gedung piramida dengan atap kaca, yang di dalamnya terdapat berbagai permainan tradisional yang dikemas dengan teknik digitalisasi. Tentu ini sangat menarik. Dan mereka, semua ingin mencoba bermain.


    "Apa kita bisa bermain?" tanya putrinya Alex. Dan tentu yang lain juga kepingin.


    "Kalau malam, game center ini kami tutup. Besok pagi kita akan main sepuasnya." jawab Yuna.


    "Asyik ...." semua terlihat senang, penasaran ingin tahu apa isi permainannya.


    "Ada mainan apa saja di dalam sana?" tanya Hamdan.


    "Ada berbagai macam mainan, saya tidak hafal namanya, karena memakai nama-nama permainan tradisional khas Indonesia. Tapi yang ramai, anak-anak senang bermain bom-bom dokar." jelas Yuna.


    "Hah ..., bom-bom dokar? Apa itu?" tanya istri Alex, tentu yang lain juga penasaran.


    "Ya, kalau yang biasa, permainannya bom-bom car. Tetapi di sini, jenis mobilnya kita ganti dengan model dokar. Jadi namanya ya kita ganti bom-bom dokar .... Hehe ...." Yuna menjelaskan dengan senyum karena merasa lucu.


    "Wao .... Ini luar biasa, membawa permainan tradisional menjadi bertaraf internasional. Sungguh mengagumkan." kata Hamdan yang terkagum.


    "Kapan kita bisa bermain?" tanya Silvy.


    "Besok pagi, Sayang .... Tempat permainan buka jam sembilan." sahut Yuna.


    "Uhft .... Rasanya sudah tidak sabar ingin segera mencoba permainan-permainannya." kata Silvy lagi.


    Sementara itu, Empat Sekawan HARY masuk ke ruang pertemuan, yang bangunannya mirip seperti rumah Jepang. Yudi membawa kuncinya, sehingga ia bisa masuk dan memanfaatkan ruangan itu. Mereka duduk di kursi melingkari meja, saling berhadapan, berbincang bersama.


    "Maaf Yudi, saya mengawali kata-kata lebih dulu." kata Handoyo pada teman-temannya.


    "Iya, silakan." jawab Yudi.

__ADS_1


    "Begini, sejak SMA kita adalah sahabat. Teman yang sangat akrab. Teman yang saling bantu, saling tolong menolong, dan saling melengkapi. Itu sangat indah dan menarik. Sehingga, kita berempat menjadi orang yang sukses. Kita bisa lulus SMA semua dengan nilai yang memuaskan." kata Handoyo, yang dari zaman SMA memang pandai menjadi pemimpin, termasuk menjadi ketua OSIS.


    "Iya, betul. Dan masa itu, kita benar-benar menjadi murid SMA yang sangat hebat. Walau kita ini bersahabat erat, tetapi tidak menyingkirkan teman yang lain. Kita tetap akrab dengan semua teman." sahut Alex.


    "Hooh, ya .... Aku jadi terkenang dengan masa-masa SMA kita." sahut Rini.


    "Dan tentu, kita selalu menjadi kesayangan para guru." tambah Yudi.


    "Iya. Oleh sebab itu, kita hari ini, malam ini berkumpul, saya berharap bahwa persahabatan kita akan tetap langgeng dan selalu memberi manfaat." lanjut Handoyo.


    "Maaf, dokter Handoyo ..., apakah ada hal yang perlu kita tambah perkuat lagi persahabatan kita ini?" tanya Alex.


    "Ya. Tentu ada. Teman kita yang perempuan ini, maaf Rini ..., akhir-akhir ini sering mengalami gangguan kesehatan." kata dokter Handoyo.


    "Iya, teman-teman ..., maaf saya sudah merepotkan kalian semua." sahut Rini.


    "Tidak apa-apa, Rini .... Tidak ada orang yang mau sakit. Kebetulan profesi saya adalah dokter. Jadi saya sedikit tahu tentang sakit yang menimpa Rini. Terus terang saya ikut prihatin." kata dokter Handoyo.


    "Terus, apakah sakit Rini bisa disembuhkan?" tanya Yudi.


    "Bisa .... Jangan khawatir." sahut dokter Handoyo.


    "Terus, caranya bagaimana?!" sahut Alex.


    "Ini tergantung Rini. Mau sembuh apa tidak ...." kata dokter Handoyo.


    "Maaf, Rini .... Masalahnya ini tergantung kamu." kata dokter Handoyo.


    "Memangnya bagaimana?" tanya Rini.


    "Rini, Yudi ..., ijinkan saya berterus terang. Ini hanya rahasia kita, tidak usah kita ceritakan ke siapa-siapa, termasuk keluarga kita. Alex mohon bisa memahami." kata dokter Handoyo.


    "Siap ...!" sahut Alex.


    "Begini, Yudi .... Sebenarnya saya sudah paham masalah kalian sejak SMA. Rini suka sama Yudi, benar kan?" tanya Handoyo pada Rini.


    "Ih, kok kamu tahu?" sahut Rini.


    "Ya iya, lah .... Saya juga punya perasaan, Rin .... Bisa menyaksikan apa yang kamu lakukan pada Yudi. Rini memberi perhatian khusus untuk Yudi." kata Handoyo.


    "Hehe .... Itu dulu, Han ...." sahut Rini.


    "Iya .... Tapi hari ini, kamu sudah berkeluarga, Rin .... Sudah punya suami, punya anak, punya menantu. Dan sebentar lagi mungkin punya cucu. Jadi ceritanya beda antara masa lalu dan sekarang." kata Handoyo.


    "Iya, Han .... Saya paham." jawab Rini.

__ADS_1


    "Tapi pikiranmu berubah, Rin .... Saat reuni akhir tahun kemarin, saat kamu ketemu lagi dengan Yudi, hatimu goyah." kata Handoyo.


    "Iya, betul .... Maafkan saya. Itu karena saya sangat kasihan dan khawatir dengan Yudi yang sampai tua belum menikah. Empati hati saya tidak bisa memungkhiri hal itu." kata Rini mulai menunduk. Kembali ada rasa bersalah dengan Yudi.


    "Tidak apa-apa, Rini .... Saya paham itu. Maafkan saya." Yudi ikut nimbrung bicara.


    "Saya maklum dengan sikapmu, Rin .... Memang saat reuni kita, Yudi belum menikah. Tetapi saat ini, teman kita ini kan sudah punya calon istri. Kita harus suport Yudi." kata Alex yang juga ikut nimbrung.


    "Iya, Han .... Jangan khawatir. Saya justru selalu mendorong Yudi untuk nikah kok. Tidak cuman saya, bahkan suami dan anak-anak saya juga memberi suport, kok." kata Rini yang merasa membantu Yudi untuk mendekati Yuna.


    "Nah, untuk hal-hal yang sangat pribadi, jangan sampai kita mengganggu privasi keluarga. Jangan sampai perkataan atau sikap kita menyinggung satu sama lain yang menyebabkan masalah dalam keluarga kita. Saya berharap, meskipun Rini pernah dekat dengan Yudi, atau Yudi pernah jatuh cinta kepada Rini, tetapi karena posisi kita saat ini berbeda dengan jaman SMA, maka jangan sampai hal itu kembali muncul dan mengganggu privasi keluarga, yang mengakibatkan suami atau istri kita jadi cemburu." kata Handoyo.


    "Iya, kami paham dan tidak ingin mengganggu privasi teman." kata Rini.


    "Terima kasih, Han ..., atas nasehatnya. Saya senang diantara kita saling mengingatkan." kata Yudi ikut merasa sedih.


    "Tapi kita tidak memutus hubungan, kan?" tanya Alex.


    "Ya, tidak lah .... Kita tetap bersahabat, tetap bersama, saling tolong, saling bantu, dan tetap mesra. Seperti keluarga. Begitu saja." sahut dokter Handoyo yang memang pantas jadi pemimpin.


    "Oke lah kalau begitu ...." sahut Alex.


    "Bila perlu, Alex beli homestay satu unit, Pak dokter juga beli satu unit. Pas ..., kita bisa bertetangga. Hehe ...." timpal Yudi yang tentu sambil promosi.


    "Eh, iya .... Betul. Jadi kita kalau reunian tinggal masuk ke penginapan milik kita sendiri-sendiri." kata Rini yang mendukung.


    "Tadi anakmu waktu ada bintang jatuh, minta agar papinya bisa beli homestay di Jogja, begitu Lex ...." timpal dokter Handoyo.


    "Kelihatannya, saya juga membaca pikiran Nyonya Handoyo juga mengatakan begitu. Hehe ...." Yudi meledeki dokter Handoyo.


    "Aah ..., kalian itu lho ...." sahut dokter Handoyo.


    "Iya .... Hahaha ...." sahut yang lain bersamaan sambil tertawa.


    "Oke ..., oke ..., oke .... Ini sudah larut malam. Kita sudah capek. Itu urusan besok. Yang penting malam ini, saya ingin menyampaikan kepada Rini, bahwa sebenarnya Rini ..., kamu mengalami sakit gangguan pikiran. Jika kamu mengingat pahitnya masa lalu, atau manisnya masa lalu, itu akan mengganggu pikiranmu. Demikian juga ketika kamu mengalami gembira atau senang yang berlebihan, sedih atau susah yang terlalu mendalam, maka syaraf otakmu akan terganggu. Dan itu akan menyebabkan tergangguna aliran darah ke otak, yang menyebabkan kamu mudah pingsan. Tidak hanya itu, tetapi dampak dari sakitmu itu, bisa berpengaruh pada jantung dan hati. Kalau berkelanjutan, maka jantungmu akan mengalami gangguan. Demikian juga dengan fungsi hati, kalau selalu mengalami hal seperti itu, nantinya hati akan mengalami sirosis. Jadi saya berharap, Rini harus bisa mengendalikan diri. Jangan terlalu cemburu atau terlalu memikirkan Yudi. Biarlah Yudi menjalani hidupnya sesuai dengan takdirnya. Dan Rini, kamu juga punya takdir sendiri." kata Handoyo menasehati Rini.


    "Terima kasih Pak dokter .... Ternyata sahabat-sahabatku ini orang baik-baik semua. Mohon bimbingannya agar saya bisa menjalani hidup yang normal." kata Rini.


    "Iya .... Kita harus saling mengingatkan." kata Alex menimpali teman-temannya.


    "Betul. Kita adalah sahabat. Jangan kotori persahabatan kita dengan hal-hal yang bisa menyakiti sahabat kita." kata Handoyo.


    "Terima kasih teman-teman. Nasehat yang luar biasa. Rini ..., saya mohon maaf, jika selama ini ternyata apa yang saya lakukan sudah keliru dan menyakitimu." kata Yudi pada Rini.


    "Sama-sama, Yudi .... Saya juga minta maaf, sudah keliru menilaimu." kata Rini yang langsung berdiri dan memeluk Yudi.

__ADS_1


    Yudi ikut berdiri. membalas pelukan Rini. Lantas Handoyo, juga ikut berdiri mendekati Yudi dan Rini, juga ikut berpelukan. Demikian juga Alex, ikut menimbrung, memeluk tiga orang yang sudah saling peluk itu. Mereka berempat saling berpelukan.


    "Semoga persahabatan kita ini, akan langgeng selamanya." kata mereka berempat secara bersamaan.


__ADS_2