KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 200: PELAJARAN TERAKHIR


__ADS_3

    Sementara Rini bersama anak-anaknya membangun Taman Anggrek Nirwana menjadi branded baru sebagai tujuan utama wisata ke Kampung Nirwana setelah Taman Awang-awang, di Kyoto, Yudi sedang memperjuangkan nasib dirinya agar bisa kembali ke Indonesia. Sudah enam bulan ia menyembunyikan diri di Kuil Shinto Kifune. Yudi sudah rindu dengan kampung halamannya. Ia selalu teringat dengan bapak dan simboknya yang sudah tua renta. Yudi sudah kangen dengan masakan-masakan tradisional bikinan para tetangganya. Yudi sudah ingin kembali memarahi Bagas saat melampiaskan kekesalannya. Ia ingin tahu keadaan Taman Awang-awang yang sudah dibangun bersama Yuna hingga tidak mengenal pedih dan perih karena lelah. Meski Yudi sudah pasti dipecat dari pekerjaannya sebagai pegawai pemerintah. Namun yang pasti, Yudi sudah pengin pulang kembali ke kampung halaman.


    Di Kuil Shinto Kifune, Yudi sudah menjadi bagian dari para pendeta dan pembantu-pembantu atau pekerja kuil. Bahkan Yudi bisa bertemu dan berbincang dengan tetua, Sang Pendeta Agung. Seperti pada malam itu, di awal musim semi, Yudi yang sedang duduk menyendiri di Batu Perahu Kuning, ia didatangi oleh Pendeta Agung yang masih mengenakan pakaian kebesaran Tetua Pendeta.


    "Koko de hitori de nani o shite iru no?" Pendeta Agung itu menanyakan tentang apa yang dilakukan oleh Yudi sendirian di situ.


    "Kono yō ni naranakereba naranai no ni, naze kami wa watashi o sōzō sa reta nodesu ka?" Yudi justru menjawab dengan pertanyaan, mengapa Tuhan menciptakan dirinya jika hanya akan seperti ini.


    "Kami wa airashī shimaenaga tori o sakusei shimashita, shikashi, shimaenaga no tori jishin wa, kare ga ningen ni airashī koto o shirimasendeshita." Sang Pendeta Agung mengungkapkan semacam kata-kata kiasan kepada Yudi. Sang Pendeta Agung menceritakan tentang burung shimaenaga, burung unik di Jepang, burung yang sangat kecil mungil dengan bulunya yang putih bagai kapas yang halus, serta memiliki ekor panjang yang unik. Tentu burung shimaenaga ini sangat menggemaskan bagi orang-orang yang melihatnya. Banyak orang yang ingin memegang burung shimaenaga itu karena lucu. Namun bagi burung shimaenaga itu sendiri, dia tidak menyadari jika ia digemari oleh banyak orang. Ia tidak tahu jika setiap anak yang melihatnya, ingin membelai bulunya. Ia tidak tahu kalau para wanita ingin mendekap dirinya. Ia juga tidak tahu kalau banyak laki-laki yang iri pada dirinya karena disenangi para gadis. Tentu karena burung tersebut tidak paham jika orang-orang pada menyukai dirinya.Burung itu tidak pernah menghiraukan apa yang dikatakan manusia. Bahkan burung itu memilih pergi jika ada orang yang akan memasukkannya ke dalam sangkar, meski sangkar tersebut terbuat dari emas.


    "Yudi, anata wa ōku no riten o motte iru yoi hitodesu .... Zen ni ikiru, Hokanohito ga nani o shite iru no ka o kangaeru hitsuyō wa arimasen." Sang Pendeta Agung menyampaikan kepada Yudi, kalau dirinya adalah orang baik, tidak perlu memikirkan apa yang orang lain katakan maupun lakukan pada dirinya. Yang terpenting lakukan kebaikan dan terus berbuat baik. Dalam berbuat baik tidak perlu menunggu dilihat orang, tidak usah butuh pujian, tidak harus mencari imbalan. Apalagi hanya untuk sebuah ketenaran. Hindari kata-kata orang yang akan menyanjung diri. Karena sebenarnya, sanjungan, pujian, imbalan, penghargaan, penilaian itu semua justru akan menyebabkan diri seseorang menjadi tidak baik, menyebabkan seseorang akan terpeleset dan jatuh. Bahkan hal-hal semacam itu justru akan menimbulkan iri dan dengki bagi orang lain, yang akibatnya akan menciptakan ketidak senangan. Tentu, hal itu akan menyebabkan kita punya musuh.


    Jadi, berbuat baik itu tidak perlu dipamer-pamerkan. Yudi sudah banyak melakukan hal yang tanpa ia sadari, sudah melakukan perubahan. Di Kuil Kifune, Yudi sudah banyak disenangi orang dan membuat orang senang. Yudi sudah membagikan ilmunya kepada yang mau. Yudi sudah mengajari kepada anak-anak untuk melukis. Yudi sudah banyak menghasilkan karya-karya lukisan yang dipajang di kuil. Bahkan Yudi sudah meladeni orang-orang yang berkunjung ke Kuil Kifune untuk diabadikan melalui lukisan. Tentu ia sudah membahagiakan banyak orang.


    "Hoka ni nani ga hoshīdesu ka?" Pendeta Agung bertanya kepada Yudi, apa yang sebenarnya diinginkan.


    "Indoneshia ni kaeritai." Yudi mengatakan jika dirinya ingin pulang ke Indonesia. Dia berfikir, jika di Indonesia pasti hidup Yudi akan lebih berarti. Banyak hal yang bisa dilakukan di Indonesia. Setidaknya, ia bisa memberikan makna lebih kepada masyarakat di sekitarnya. Tidak hanya sekadar membuat lukisan, tetapi bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kampungnya. Orang-orang di kampungnya lebih butuh pemikirannya bila dibandingkan dengan masyarakat Kyoto. Itulah mengapa Yudi punya kerinduan untuk pulang.


    "Ashita darekaga anata o tasukemasu .... Ima, anata wa nemuranakereba narimasen, ashita wa tōku made ikimasu." Pendeta Agung mengatakan kepada Yudi, bahwa besok akan datang seseorang yang mau menolong dirinya. Maka Pendeta Agung tersebut menyuruh Yudi untuk pergi tidur, karena besok ia akan pergi jauh.


    Yudi menuruti apa yang dikatakan oleh Pendeta Agung. Ia pun beranjak meninggalkan Batu Perahu tersebut, lantas tidur.

__ADS_1


*******


    Pagi itu, seperti biasa Yudi sudah menyapu halaman kuil. Saat Yudi menyapu di bagian pinggir sungai, tiba-tiba ia didatangi seorang laki-laki tua berusia sekitar delapan puluh lima tahun. Laki-laki itu terlihat bersih dan rapi, dengan pakaian setelan jas yang sangat bagus. Pasti ia berasal dari keluarga kaya. Laki-laki itu mengikuti Yudi dari belakang. Setiap langkah Yudi, ia ikuti.


    Tentu Yudi bingung. Mau apa sebenarnya laki-laki tua itu mengikuti dirinya. Untuk berdoa di kuil pun tentu masih terlalu pagi, walau yang namanya berdoa itu tidak mengenal waktu. Namun orang ini terlalu pagi datang ke kuil. Setiap kali Yudi menoleh, orang itu tersenyum sambil memperlihatkan giginya. Tapi, orang itu hanya tersenyum dan terus mengikuti setiap langkah Yudi. Tidak berkata apa-apa.


    "Nandeshou?" Yudi berhenti dan bertanya pada laki-laki tua itu, mau apa sebenarnya mengikuti dirinya terus.


    Laki-laki itu ikut berhenti. Lantas katanya, "Tasuke ga hoshī ...." Laki-laki tersebut berkata perlahan kepada Yudi, kalau ia akan meminta tolong.


    "Watashi ni nanigadekiru?" Yudi bertanya kepada laki-laki itu, apa yang bisa dibantu olehnya.


    Setelah berbincang dengan Yudi, laki-laki yang mendekati Yudi tersebut menceritakan kalau dia punya saudara. Pada zaman Perang Dunia ke dua, beberapa saudara dalam keluarganya ikut berperang melawan Sekutu Amerika di Indonesia. Hingga akhirnya saudara-saudara dari keluarganya itu meninggal di Indonesia. Laki-laki itu juga bercerita, jika di Indonesia ada Gua Jepang yang dikeramatkan, bahkan diberi sesaji oleh masyarakat setempat. Ia mendengar kalau Gua Jepang itu sering dikunjungi orang-orang Jepang yang berziarah untuk mengenang para pahlawannya yang gugur di medan laga saat berperang melawan musuh-musuh Jepang di Perang Dunia ke dua. Laki-laki itu ingin datang berziarah ke Indonesia.


    Yudi teringat kata-kata Sang Pendeta Agung semalam saat menemui dirinya di pinggir Batu Perahu, "Akan datang seseorang yang mau menolongmu." Inilah rupanya orang yang dikirim dewa agung tersebut. Maka tentu Yudi langsung menyambut baik laki-laki tua itu. Tentu ia sangat senang, teringat pada Gua Jepang yang sudah dibangun oleh Yuna, di lereng sisi barat dari Taman Awang-awang.


    Yudi pun langsung mengatakan jika memang mau pergi ke Indonesia, Yudi bersedia membantu. Tetapi Yudi juga menceritakan jika dirinya, menurut para pendeta, dia mengalami kesulitan untuk keluar dari Jepang. Jika memang laki-laki tua itu bisa mengajak dirinya keluar dari Jepang, apalagi ke Indonesia, Yudi bersedia mengantar laki-laki itu ke manapun yang ia ingin kunjungi di Indonesia. Yudi siap membantu laki-laki tua itu.


    Laki-laki itu merasa senang mendengar jawaban Yudi. Sambil menepuk pundak Yudi, laki-laki itu meminta agar Yudi bersiap untuk berangkat ke Indonesia. Laki-laki itu juga menyampaikan agar Yudi tidak perlu khawatir dengan semua biaya.


    Betapa gembiranya Yudi. Ia sangat senang mendengar ada orang yang akan mengajaknya ke Indonesia. Hatinya kembali bergairah mendengar ajakan laki-laki tua itu. Senyum ceria di wajah Yudi memancarkan rona kebahagiaan. Seperti bunga-bunga sakura yang saat itu mulai bermekaran di awal musim semi.

__ADS_1


    Malam itu, Yudi menemui Pendeta Agung. Tentu ia berpamitan, karena esok paginya Yudi akan berangkat bersama laki-laki tua yang meminta kepada Yudi untuk mengantarkan bepergian ke Indonesia.


    Yudi mengucapkan banyak terima kasih kepada Sang Pendeta, karena sudah dibantu dan ditolong selama berada di Kuil Kifune. Yudi juga berterima kasih atas semua kebaikan dari para pendeta dan pekerja-pekerja kuil tersebut. Bahkan Yudi diizinkan untuk melukis berbagai objek di tempat tersebut.


    Pendeta Agung tersebut berpesan kepada Yudi, agar senantiasa memaknai hidup sebagai cahaya yang dapat menerangi alam sekitar. Tentu ini pelajaran berharga bagi Yudi. Pelajaran yang tidak bisa dinalar dengan akal pikiran manusia, yaitu tentang keajaiban di luar kemampuan manusia.


    Pelajaran ini mengingatkan Yudi tentang ajaran Jawa, yaitu "sangkan paraning dumadi". Ajaran yang mengungkap masalah "dari mana dan ke mana" kehidupan manusia itu sebenarnya. Belum ada yang sanggup mengungkap jawaban tersebut. Namun hanya dari keyakinan saja. Yakin bahwa manusia itu diciptakan dan diatur hidupnya oleh Sang Yang Maha Kuasa.


    Maka Yudi pasrah dengan takdir dari Sang Maka Kuasa, yang dahulu oleh Yuna dikatakan kalau orang-orang Jepang tidak mengenal takdir. Kata Yuna, takdir itu hanya ada pada kemauan dan kerja keras manusia. Faktanya, apa yang dikatakan oleh Sang Pendeta Agung itu seperti "dukun" kalau di Jogja. Yudi mengamati setiap kata-kata Sang Pendeta Agung, ternyata benar-benar terjadi pada dirinya. Kini, Yudi sadar bahwa dirinya sudah digariskan oleh Sang Maha Kuasa, dan kata-kata Pendeta Agung itu adalah perantara dari Tuhan.


*******


    Pagi itu, sebuah mobil mewah, semacam limosin buatan pabrik mobil di Jepang, berhenti di pelataran depan kuil. Seorang sopir yang mengenakan pakaian model jas, keluar dari mobil. Mobil itu menjemput Yudi.


    Di aula tempat makan, Yudi berpamitan dengan semua pendeta, para pembantu pendeta, serta para pekerja kuil. Yudi menyalami semuanya, yang tentu sambil mebungkukkan badannya. Bahkan banyak juga yang memeluk Yudi. Karena mereka pasti akan merasa kehilangan. Apalagi bagi anak-anak yang senang belajar melukis bersama Yudi, pasti nanti akan bersedih, karena sang guru lukis itu sudah tidak ada lagi di Kuil Kifune.


    Sesaat sebelum Yudi pergi meninggalkan Kuil Kifune, Sang Pendeta Agung datang menghampiri Yudi. Tetua itu memberi sebuah buku dengan tulisan huruf kanji, sebagai kenang-kenangan. Lantas Sang Pendeta Agung itu menyampaikan kata, "Ai ga sonzai surunara, sonogo, nikushimi wa kiemasu, sonogo, jinsei wa tsudzuku." Maknanya adalah, jika cinta itu memang ada, dan rasa kebencian itu sirna, maka kehidupan ini akan langgeng. Sebuah pesan yang mengisyaratkan kepada Yudi, agar memberikan cinta kepada siapa pun, dan menghilangkan rasa benci kepada siapa pun juga, agar kehidupannya tenang, tenteram dan sentosa setiap saat.


    Kata-kata itu menjadi pelajaran terakhir bagi Yudi dari seorang Pendeta Agung di Kuil Kifune.


    Mobil mewah itu melaju meninggalkan Kuil Kifune, membawa Yudi menuju rumah majikannya.

__ADS_1


__ADS_2