
Pagi itu, Yudi datang ke Taman Anggrek Nirwana. Bukan sekadar menyaksikan bunga anggrek yang oleh Bagas dikatakan harganya mencapai ratusan juta. Tetapi Yudi ingin menemui Rini. Tentu untuk mengungkapkan rasa rindunya, bukan sekadar rindu pada Rini, tetapi juga ingin melepaskan beban penat dalam hatinya yang selama ini terpendam. Yudi ingin bercerita, agar hatinya bisa lega. Yudi ingin mengobrol untuk melepas rasa dongkol. Yudi mungkin juga ingin menangis untuk mengutarakan perasaannya yang teriris-iris. Setidaknya Yudi ingin melepaskan beban pikirannya yang selama ini ditahan dalam kesabaran.
Di Kampung Nirwana, tentu Yudi tidak bisa ngobrol enak mencurahkan isi hatinya. Belum ada orang yang bisa diajak untuk curhat. Yudi justru khawatir ceritanya tidak dipercaya. Yudi khawatir nasib dirinya justru akan ditertawakan. Masyarakat Kampung Nirwana terlalu menganggap Yudi sebagai orang super, justru menyakitkan dirinya jika ia mengeluh kepada orang-orang di kampungnya. Ada rasa tidak nyaman yang menyelimuti dirinya.
Hanya Rini yang oleh Yudi dipandang bisa untuk menumpahkan curahan isi hatinya. Yudi pernah dekat dengan Rini. Rini pernah menjadi sahatabtnya, setidaknya juga pernah menjadi teman dekat yang saling berbagi cerita. Bahkan Yudi pernah menaruh hati kepada Rini, hingga mengakibatkan dirinya menjadi frustrasi gara-gara ditinggal nikah. Dan kedekatan keduanya yang sudah terlupa selama tiga puluh tahun, terulang lagi setelah bertemu kembali dalam acara reuni alumni SMA di Jogja. Bahkan saat itu sempat sangat dekat sekali, hingga hampir membuat Rini lupa kalau dirinya sudah bersuami.
"Yudi ..., bagaimana kabar Yuna di Jepang?" tanya Rini saat mengajak Yudi minum kopi di sudut dapur rumah Rini. Tentu saat bertemu kemarin, meski sudah sempat berpelukan, namun belum sempat bercerita karena saat itu Yudi sedang mengantarkan tamu-tamunya dari Jepang.
Yudi menghela napas berkali-kali. Berkali-kali pula menunduk. Wajahnya terlihat sedih. Sulit untuk bercerita.
"Maaf, Yudi ..., jika pertanyaanku mengganggu pikiranmu." kata Rini yang melihat Yudi kurang senang.
"Iya, Rini .... Tidak apa-apa." kata Yudi mencoba menghilangkan rasa salah Rini pada dirinya.
"Apa ada masalah dengan Yuna?" tanya Rini lirih pada Yudi, dengan tangan yang sudah memegang pundak Yudi, serta wajah Rini sudah mendekat ke wajah Yudi. Rini memandangi lekat wajah laki-laki pujaannya itu.
"Iya, Rini .... Tapi saya belum tahu di mana Yuna." Yudi juga menjawab, dan tentu juga mendekat ke wajah Rini agar ia mendengar jawabannya yang lirih tersebut.
"Lhoh ...?! Bagaimana, sih ...?!" Rini kaget mendengar jawaban Yudi.
"Achh .... Entahlah .... Saya tidak tahu keberadaan Yuna. Saya belum menemukan dia." jawab Yudi dengan pandangan menerawang entah melihat apa.
"Terus ..., selama enam bulan kamu di Jepang, ngapain?" tanya Rini yang penasaran.
"Hehhhhh .... Sangat panjang ceritanya, Rini .... Beruntung saya masih bisa kembali ke Indonesia. Tamu-tamu kemarin itulah yang menjadi dewa penolong saya untuk balik ke kampung halaman." kata Yudi.
"Kok, bisa begitu?" Rini justru penasaran.
Karena Rini terus bertanya, akhirnya Yudi menceritakan kisahnya saat di Jepang. Tentu berbagai ceritanya adalah menyedihkan. Mulai dari di rumah mertuanya yang segera disuruh pergi karena untuk menghindari pencarian orang-orang yang menangkap istrinya. Kantas juga menceritakan kisahnya yang disembunyikan di kuil. Tentu kisah hidupnya sangat menyedihkan. Hingga akhirnya bertemu dengan orang kaya raya yang memintanya mengantar ke Indonesia untuk mencari makam saudara-saudaranya, barulah Yudi bisa pulang.
__ADS_1
Rini mendengarkan kisah Yudi yang mengenaskan itu dengan penuh empati. Hingga tanpa disadari air mata sudah mengalir di pipinya.
"Kasihan kamu, Yudi ...." kata Rini yang sudah memeluk lengan Yudi.
"Rini .... Jangan kasihani saya .... Tidak perlu iba dan simpatik pada saya. Mungkin itu sudah takdirku. Takdir dari Yang Maha Kuasa. Takdir untuk berpisah dengan Yuna." kata Yudi yang mencoba membuat Rini agar tidak ikut bersedih.
"Iya .... Tapi kenyataannya dirimu sangat menderita, Yudi .... Aku tidak tega melihat dirimu seperti itu .... Huk ..., huk ..., huk ...." sahut Rini yang justru membuat ia semakin bersedih, dan tidak kuat untuk menahan tangis.
Yudi memeluk Pundak Rini. Tentu dengan penuh kasih sayang. Dan tentu pelukan itu membuat Rini merasakan kehangatan yang berbeda.
"Seharusnya saya yang kasihan terhadap dirimu, Rini .... Kini kamu hidup sendiri dan berusaha mencari nafkah dengan susah payah seperti ini. Aku justru tidak tega melihat dirimu menderita." kata Yudi pada Rini.
"Ah ..., tidak apa-apa .... Aku senang kok seperti ini. Toh ada Yayan sama Silvy yang membantu mamahnya." sahut Rini yang melepaskan pelukan Yudi. Meski Rini sebenarnya ingin dipeluk terus, tetapi tidak enak jika nanti dilihat Mas Trimo atau tamu pelanggan yang akan beli anggrek.
"Ceritanya bagaimana sih, kok bisa begini jadinya?" tanya Yudi pada Rini, yang sambil mengajak Rini menyaksikan anggrek-anggrek yang sedang disiram oleh Mas Trimo.
Tentu, ketika Yudi menanyakan itu, Rini langsung bercerita banyak hal. Menurut Rini, hanya Yudi yang bisa menerima curhatan-curhatan Rini. Setidaknya, Yudi bisa memahami hati Rini.
"Hahhh .... Dulu ..., banyak yang seharusnya ingin saya keluhkan. Tapi rupa-rupanya, jika saya melihat kenyataan hidup, masih banyak orang yang lebih menderita dari saya. Artinya, ternyata hidup saya masih lebih baik dari orang lain. Termasuk lebih beruntung dari kamu .... Hehe ...." gurau Rini pada Yudi.
"Ih .... Ngejek ...." sahut Yudi yang tentu tersinggung saat diejek Rini.
"Maaf .... Sebenarnya nasib saya lebih tragis, Yud .... Waktu pernikahanmu itu, saya ditelepon Mak Mun berkali-kali, meminta agar saya segera pulang. Mak Mun tidak memberi tahu permasalahannya, pokoknya saya harus segera pulang. Sampai Yayan pun ngebut saat menyetir. Dan saat sampai di rumah, ternyata banyak polisi di sana. Tentu saya bingung, ada apa ini .... Saat saya dan anak-anak masuk rumah, polisi langsung menemui saya menyampaikan kejadian di rumah. Yang terjadi ..., Mas Hamdan ditusuk gunting pada bagian perutnya oleh wanita pegawai bawahannya, yang ternyata adalah selingkuhan Mas Hamdan. Hingga di rumah sakit berhari-hari sampai meninggal. Saya telepon Bagas, tapi katanya kamu ke Jepang, dan Bagas menceritakan masalah kamu itu. Ya sudah, saya maklum karena tugasmu lebih penting." cerita Rini pada Yudi.
"Maafkan saya, Rini .... Mungkin Tuhan tidak mengizinkan saya melihat Mas Hamdan yang terakhir." kata Yudi menyampaikan penyesalannya pada Rini.
"Nggak papa .... Toh kewajiban kamu lebih penting. Mungkin juga Yudi tidak diizinkan mengetahui pemakamannya." kata Rini tersenyum mengejek pada Yudi.
"Ah, keterlaluan ...." sahut Yudi sambil mengangkat pot anggrek yang kurus.
__ADS_1
"Aku malu, Yudi .... Kasusnya tidak baik untuk diceritakan ...." kata Rini yang tentu juga malu jika menceritakan kasus suaminya.
"Itu takdir, Rini .... Mungkin Allah punya rencana yang lebih baik." kata Yudi menenangkan perasaan Rini yang menyesali nasib suaminya.
"Tidak lebih baik, Yudi .... Kenyataannya lebih buruk. Setelah kematian Mas Hamdan, saudara-saudaranya menuduh saya bermacam-macam, setiap hari meneror saya, intinya mengatakan saya ini yang salah. Lantas mereka meminta semua harta peninggalan Mas Hamdan." kata Rini selanjutnya.
"Lantas ...?!" tanya Yudi ingin tahu cerita kelanjutannya.
"Yah ..., akhirnya ya ini .... Saya serahkan rumah peninggalan Mas Hamdan kepada kakak dan adik-adiknya. Disaksikan lurah dan para pejabat. Saya tidak mau ribut ..., mending mengalah meninggalkan Jakarta pindah ke Jogja .... Kan bisa dekat dengan Yudi .... Hehe ...." kata Rini sambil menggojeki Yudi.
"Lhah, terus ..., ini bisa membangun Taman Anggrek Nirwana?" tanya Yudi yang tentu ingin tahu.
"Saya bersyukur, Yudi .... Baru saja saya pindah ke Jogja, Pak Lurah menawarkan tanah saudaranya. Kebetulan saya ada uang. Lantas saya menemui Mas Wawan untuk membangunkan taman anggrek ini. Setidaknya bisa menempatkan anggrek-anggrek yang saya bawa dari Jakarta. Lumayan .... Yang penting saya punya kegiatan, agar tidak stres. Eh, ternyata ..., anak-anak malah tertarik pengin membantu mamahnya. Yah ..., saya senang." kata Rini.
"Loh, anak-anak mana?" tanya Yudi yang tentu penasaran saat Rini menyebut anak-anaknya ikut membantu.
"Hehe .... Yayan sam Silvy di Malang. Mereka belajar budidaya anggrek. Rencananya akan membuat laboratorium untuk budidaya anggrek, biar anggreknya lebih banyak." kata Rini yang menjelaskan kalau anak dan menantunya sedang belajar mengembangkan anggrek.
"Wao .... Keren banget." puji Yudi.
"Katamu hidup itu harus bermanfaat .... Ya, saya mencoba untuk bisa berbuat yang bermanfaat, lah ...." kata Rini yang mencuplik kata-kata Yudi.
"Ya ..., ya ..., ya .... Saya setuju." kata Yudi sambil tersenyum memandangi Rini.
Tanpa malu, Rini langsung memeluk lengan Yudi dan merebahkan kepalanya di pundaknya. Lantas katanya lirih, "Aku rindu di pelukmu."
Telapak tangan Yudi memegang memegang tangan Rini yang memeluk lenganya. Lantas Yudi pun berkata lirih, membisik di telinganya, "Adakah rindu itu untukku?" tanya Yudi pada Rini.
Rini tidak menjawab. Ia justru memejamkan matanya, dan semakin kencang memeluk lengan Yudi. Yah, tentu rindu dua orang itu sebenarnya sudah menggebu dalam hatinya. Jika rindu itu memang ada, akankah Rini mau mencurahkan kerinduannya itu pada Yudi? Dan akankah Yudi juga berharap bisa menyampaikan rindu-rindu dalam hatinya kepada Rini?
__ADS_1